Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (008)


__ADS_3

Malam itu, sesuai janjinya dengan Hamidah, Zulfikar datang bertamu. Entah ada urusan apa? Zulfikar juga belum tahu. Yang dia pikirkan mungkin itu ada urusannya dengan suami Hamidah yang berteman akrab dengannya, Pak Lukman.


Malam itu, Hamidah juga menjamu Zulfikar dengan beberapa makanan yang membuat Zulfikar sedikit kebingungan memilih makanan. Hamidah bahkan menyediakan banyak buah-buahan juga, sehingga membuat Zulfikar merasa jadi tamu spesial malam itu.


Setelah menjamu Zulfikar dengan makan malam, kini tiba saatnya mereka masuk ke acara inti.


Raut wajah Hamidah berganti serius menatap pemuda di hadapannya. Laki-laki yang rupanya menjadi pilihan suaminya untuk menjadi pendamping anaknya 'Naysila'.


"Apa kamu sudah tahu maksud saya mengundangmu kemari?" Tanya Hamidah memecah kesunyian.


"Belum, Bu. Maaf kalo boleh saya tahu, ada apa ya?"


Zulfikar menatap wajah Hamidah dan Aisyah bergantian. Mereka terlihat sangat serius menatapnya. Zulfikar memang belum tau maksud dan tujuan bu Hamidah mengundangnya.


"Suami saya sudah menceritakan semuanya tentang kamu ... sebenarnya bukan saya yang seharusnya menanyakan hal ini, tapi melihat kondisi suami saya seperti sekarang, sepertinya saya harus mempercepatnya." Tutur Hamidah.


Zulfikar semakin bingung, apa arti ucapan Hamidah itu.


"Apa suami saya pernah bilang kalau dia ingin kamu menikahi putri kami?"


Teg


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Hamidah, Zulfikar ingat kalau diapunya sebuah hutang pada Lukman, suami Hamidah. Zulfikar dulu pernah berjanji akan menjawab permintaan Lukman untuk menikahi putrinya itu. Tapi seiring berjalannya waktu, seakan pura-pura lupa, keduanya tidak pernah lagi membahasnya.


"I-iya, Bu. Pernah," jawab Zulfikar gugup.


"Baguslah, jadi saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan," ujar Hamidah, "lalu bagaimana keputusanmu?"


Hati Zulfikar dibuat bimbang setengah mati, dalam hatinya dia masih mencintai Nurul tapi bagaimanapun juga Nurul sudah bersuami, dzalim baginya jika masih mengharapkan istri orang


"Maaf, Bu. Boleh saya minta waktu 1 minggu." Pinta Zulfikar, "jika minggu depan saya datang sendiri, itu artinya saya belum bisa menerima amanah dari pak Lukman. Tapi jika saya datang bersama orang tua saya, itu artinya kedatangan saya adalah untuk melamar putri Ibu."


Hamidah menatap anak di sampingnya, dan Aisyah seolah mengerti dengan menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawabannya.


"Baiklah kalau begitu. Saya mewakili keluarga menunggu kehadiran, Nak Zul minggu depan." Kini Aisyah angkat bicara.


Zulfikar mengangguk paham.


"Maaf sebelumnya, boleh saya bertanya?" kata Zulfikar.


"Iya, silahkan." Aisyah mempersilahkan dengan senang hati.


"Bagaimana dengan putri Ibu? apa dia sudah tahu tentang ini semua ... ah, maksud saya, apa dia menyetujui perjodohan ini?" tanya Zulfikar sedikit canggung.


Aisyah tersenyum menatap Zulfikar, lalu kembali menjawab pertanyaan Zulfikar.


"Insyaallah," jawab Aisyah, "urusan Naysila itu biar jadi urusan saya dan Ibu," Aisyah menggenggam tangan Hamidah.

__ADS_1


"Betul, Nak Zulfikar. Nanti biar kami yang membicarakan hal ini dengannya." sahut Hamidah.


"Oh, begitu. Baiklah, kalau sudah tidak ada yang di bahas lagi, saya permisi pamit dulu, Bu. Masih ada janji dengan Pak Ustadz." Zulfikar berdiri dari tempat duduknya.


Ketiganya berjalan menuju pintu keluar.


"Zul," panggil Hamidah.


"Iya, Bu Hamidah," sahut Zulfikar membalikkan badannya.


Hamidah menatap lekat mata Zulfikar, "Saya minta maaf, kalau kamu harus terseret dalam masalah keluarga kami."


"Tidak apa-apa Bu. Ini sudah menjadi ketentuan Allah, kita sebagai hambanya hanya bisa menjalani skenarionya saja, tapi saya minta waktu untuk memantapkan hati


saya." Zulfikar tersenyum sopan sementara Hamidah dan aisyah hanya saling bertatapan, "kalau begitu saya permisi, assalamualaikum."


Zulfikar pamit pulang pada Hamidah dan Aisyah.


Aisyah dan Hamidah mengantar kepergian Zulfikar di depan gerbang pintu.


"Bu, apa ini tidak terlalu mendesak mereka berdua? Aisyah takut pernikahan ini hanya akan membawa petaka bagi mereka?"


Hamidah menggeleng, "kita tidak punya waktu banyak, ibu cuma takut terlambat."


***


Hamidah mengajak suaminya itu untuk bernostalgia masa-masa dulu mereka.


"Bapak masih ingat tidak? disini adalah tempat pertama kali kita bertemu?" Hamidah


mendorong kursi roda sambil mengajak ngobrol suaminya, meskipun Lukman


sudah tidak bisa bicara namun Hamidah tau suaminya masih bisa mendengar dengan baik sehingga mengajaknya berbicara bukanlah hal yang sia-sia.


"Pertama kali ibu melihat bapak sedang menggendong bayi perempuan, kalo


di ingat-ingat bapak lucu sekali," Hamidah tertawa.


"Pandangan pertama ibu melihat bapak, Ibu langsung jatuh cinta, Bapak adalah sosok laki-laki yang penuh kasih sayang dan Ibu bisa melihat itu dari cara Bapak memandang anak itu," ujarnya.


"Setiap malam Ibu berdo'a agar Allah memberikan Ibu jodoh laki-laki seperti Bapak, dan ternyata Allah mengabulkan do'a Ibu lewat kejadian bapak yang menolong ibu saat ibu kecopetan di pasar waktu itu." Hamidah kembali tertawa sambil menahan sesak di dadanya.


"Apa Bapak tau? semenjak pertemuan itu sampai hari ini rasa cinta Ibu pada Bapak tidak pernah berkurang sedikitpun?" Tak sadar Hamidah meneteskan air matanya


sambil terus mendorong kursi roda.


Beberapa meter kemudian, Hamidah menghentikan kursi rodanya lalu beralih berjongkok di hadapan suaminya, dia memegang kedua tangan suaminya penuh kehangatan.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Pak. Sudah menjadi suami yang baik untuk Ibu," ucapnya penuh keharuan, "terimakasih sudah menjadi Ayah yang baik untuk Aisyah, dan terimakasih sudah menjaga kami semua, Ibu sayang


sama Bapak dan Ibu sangat bangga berada di samping Bapak."


Lukman terlihat meneteskan air matanya. Andai ia dapat bicara, mungkin dia akan berkata bahwa dia juga sangat bahagia bisa memiliki istri seperti Hamidah. Istri yang selalu menerima keadaannya dalam suka yang kebanyakan dukanya itu.


"Maafkan Ibu, karena selama ini belum bisa jadi istri yang baik untuk Bapak ... maafkan Ibu jika selama ini masih sering menyusahkan Bapak ... maafkan semua kesalahan Ibu


dari ujung kaki hingga ujung kepala Ibu Pak!"


Hamidah mencium kedua tangan suaminya dengan lembut kemudian Hamidah menyekka air matanya yang sudah jatuh berkali-kali, sementara Lukman yang tidak bisa berbuat


apa-apa hanya mencoba menggerak-gerakkan kepalanya seolah memberikan tanda supaya istrinya tidak menangis.


"Ibu akan selalu ada di samping Bapak dalam keadaan apapun. Bapak jangan khawatir, Ibu akan merawat Bapak dan menjaga anak-anak kita sekuat dan semampu Ibu, Ibu juga akan mewujudkan mimpi Bapak untuk menikahkan Naysila dengan laki-laki pilihan Bapak."


Lukman terlihat menarik sudut bibirnya mendengar ucapan istrinya, rasa bahagia dalam diri Lukman tak tergantikan memiliki Istri solehah seperti Hamidah.


"Yasudah ah, jangan sedih-sedihan lagi! yuk kita lanjutin jalannya Pak!" Hamidah kembali mendorong kursi rodanya untuk mengitari sekitar taman. Mencari udara segar yang tak bisa mereka dapat setiap saat.


Brugh


Hamidah terjatuh dan tersungkur saat mendorong kursi roda melewati trotoar pinggir taman, akibat di tabrak seorang pemuda yang bahkan tak meminta maaf padanya.


"Astagfirullahaladzim, pemuda jaman sekarang," Hamidah berusaha bangkit kembali, dan "dimana Bapak?"


Hamidah tak sadar jika kursi roda suaminya juga ikut terpental ke jalan raya, dia baru sadar ketika melihat suaminya itu kini sudah berada di tengah jalan.


"BAPAK!"


Mata Hamidah membulat sempurna saat melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba muncul dari kejauhan.


Brugh


Kecelakaan hebat itu tidak bisa di hindari lagi, korban yang terluka parah langsung di larikan ke rumah sakit terdekat.


***


"Kita di rumah sakit Harapan Indah, nanti Kaka kirim alamat jelasnya." Aisyah segera menutup telepon dengan masih terisak dan mengirimkan pesan dengan tangan yang


gemetar.


Jauh di tempat lain, Naysila sudah panik setengah mati di sepanjang perjalanan dia terus menangis menutup wajah dengan kedua tangannya, air matanya tak henti mengalir setelah menerima telepon dari Kakaknya Aisyah.


"kenapa Allah memberikan cobaan ini bertubi-tubi"


Naysila putri

__ADS_1


__ADS_2