
Sudah ada Aisyah bersama kedua anaknya di meja makan, tak lupa juga Bi Marni yang sedang menata beberapa hidangan di meja makannya.
"Udah nunggu lama ka?" Sapa Zulfikar lalu mengambil tempat duduk di sebelah Rizky.
"Ngga kok, barusan banget malah. Yaudah, yuk kita makan!" Aisyah mulai mengambil nasi untuk kedua anaknya kemudian beralih mengambil piring Zulfikar.
"Ehh, gak usah Ka! biar saya saja!" Zulfikar menahan piring yang hendak di ambil Aisyah, Bi Marni yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.
"Oh yasudah." Aisyah melepaskan piring Zulfikar lalu berganti menatap anak kecil yang sangat menggemaskan di samping kirinya.
"Beby mau makan sama apa sayang? ... Udah taro dulu mainannya, makan dulu ya!" Aisyah mulai menawarkan beberap menu makanan sementara Feby terus-menerus menggelengkan kepalanya, "terus kamu mau makan sama apa? Jangan manja ya! kita lagi bertamu di rumah kakek loh."
"Beby 'gak mau makan." Jawabnya sambil memasang muka merenggut.
"Dih bodo amat, kalo ga mau makan yaudah, biar kelaperan terus badannya kurus kering." Rizky yang tengah asyik makan ikut-ikutan menyambar.
"Rizky, udah kamu makan aja, ga usah usil sama adek kamu!" Aisyah menempelkan kedua tangannya di pipi gadis mungilnya "terus Beby maunya apa?".
"Beby maunya dedek bayi lucu dari Om sama Aunty." Jawabnya tegas.
Aisyah mengela nafas panjang lalu menatap orang yang di maksud, "Maafin Feby ya, dia cuma kebawa perasaan gara-gara kemaren liat temennya punya adek jadi minta yang aneh-aneh."
"Iya gpp ka, namanya juga anak kecil." Zulfikar tersenyum pilu, sebenarnya bukan permintaan Feby yang aneh hanya saja Zulfikar terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang sedikit berbeda dari yang lainnya sehingga akan sulit mengabulkan permintaan tersebut.
💦💦💦
Zulfikar sudah siap dengan setelan kemeja warna biru muda lengkap dengan dasi hitam dan celana dasar yang senada dengan dasinya, ketika Aisyah datang tiba-tiba Zulfikar memang tidak sempat mengambil apapun di kamarnya, hanya satu setelan baju yang di bawa saat dia menginap di rumah orang tuanya yang ada di ransel berwarna hitam itu.
__ADS_1
"Kemana dia?" Setelah selesai sarapan dengan Kakak ipar dan keponakannya Zulfikar memang tidak melihat keberadaan istrinya, perlahan Zulfikar mendengar ketukan langkah dari arah pintu yang tak asing lagi di telinganya, samar-samar dia melihat seorang gadis dengan rambut terurai panjang mengenakan setelan kemeja warna merah muda dengan rok berwarna hitam di atas lutut yang sedikit ketat dan tentunya sepatu high heels yang tidak terlalu tinggi yang mungkin ditaksir sekitar 10cm.
"Kenapa? Aneh banget ya liat cewek cantik?" Tanya Naysila ketus sambil menggandeng tas berwarna pink di atas nakas.
Zulfikar menggelengkan kepalanya saat dia sadar dari lamunannya. "Oh ngga," lalu kembali membetulkan dasinya "ngomong-ngomong kamu mau kemana?".
"Aku mau kerja, oiya aku lupa bilang, kemarin aku di terima kerja di salah satu perusahaan dekat pusat kota." Ujar Naysila
"Kamu kerja dengan pakaian seperti ini? Pekerjaan apa yang sebetulnya kamu lakukan?" Tanya Zul heran saat melihat tampilan tak biasa dari istrinya, bukan hari ini saja sebetulnya kemarin dia sudah ingin bertanya namun dia lupa karena lebih fokus pada keadaannya.
"Loh kenapa? Apa yang salah dengan pakaianku?" Naysila memperhatikan sendiri tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala, sepertinya tidak ada yang salah pikirnya.
"Sebaiknya kamu ganti rok mu itu! Minimal gunakan rok yang melewati lekuk lututmu, atau kalo perlu pakai celana kan lebih sopan di lihatnya."
Mata Naysila mendelik malas, "kamu fikir aku mau pergi bertamu sampai harus berpakaian sopan seperti itu, ya aku juga bisa menyesuaikan lah."
Merasa ucapannya tidak akan di dengar akhirnya Zulfikar mengalah, mungkin dia harus memikirkan cara lain agar istrinya itu mau memperbaiki penampilannya kembali. Padahal waktu SMP dulu dia pernah menggunakan hijab walau hanya sekedar saat mengaji dan sekolah saja namun semenjak kuliah dan bekerja di Jakarta entah kenapa style berpakaiannya berubah drastis?, begitulah sedikit cerita yang dia dengar dari Lukman saat dia masih sehat dan karena alasan itu juga Lukman berharap Zulfikar bisa merubah kembali prilaku putri tercintanya 'Naysila'.
"Mau pergi sama Nina? Naik motor?" Tanya Zulfikar heran.
"Iya, emang kenapa?"
"Saya tidak mengizinkannya."
"Dih emang kamu siapa? Sok-sokan ngatur hidup aku."
"Saya suamimu, dan saya berhak atas itu, lagipula kondisimu belum sepenuhnya fit apa tidak bisa libur dulu?"
__ADS_1
"Ga usah lebay deh, inget perjanjian kita di awal kalo kita akan mengurus hidup masing-masing, lagian juga aku kerja cuma duduk doang, ga bakalan capek banget."
"Yaudah kalo gitu saya yang antar kamu!"
Mata Naysila terbelalak saat mendengar Zulfikar akan mengantarkannya kerja, "ga mau, aku mau berangkat naik motor aja sama Nina." Naysila segera pergi meninggalkan Zulfikar di dalam kamar sebelum akhirnya tas yang di gandengnya di rebut paksa oleh Zulfikar, "ih apa-apaan sih, balikin tas aku!".
"Saya yang antar atau kamu pergi kerja tanpa hp dan make-up?" Tanpa pikir panjang Zulfikar segera meninggalkan Naysila dengan muka merahnya, dia sangat tau jika istrinya itu tidak bisa lepas dari kedua benda itu, dengan percaya diri Zulfikar segera masuk ke dalam mobil menunggu istrinya menyusul.
Dengan berat hati Naysila harus mengalah kali ini "Nin, motor kamu masukin aja ke rumah aku!" Ucap Naysila pada sahabatnya yang sudah menunggu di depan pagar rumahnya.
"Loh kenapa? Kita kan mau berangkat, ayo udah siang nih!" Nina menatap jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 08.30 itu artinya setengah jam lagi mereka harus sudah sampai di kantor.
"Udah.. masukin aja dulu motornya!"
"Lah terus kita berangkatnya gimana?"
"Si lebay noh, maksa mau nganterin kerja. Padahal aku udah bilang mau berangkat bareng kamu.l," ucap Naysila sambil manyun.
"Oh.. yaudah kalo gitu kamu berangkat bareng dia aja, aku berangkat sendiri gpp."
"Ih ga mau, ogah ih semobil berdua sama dia, si lebay si alay, plis temenin aku ya." Naysila memohon.
"Yaelah Nay dia itu kan suami kamu, masa sama suami aja kamu ga mau sih?"
"Ah pokoknya aku males, temenin aku ya, please!" Naysila memohon dengan merapatkan kedua tangannya di depan wajah Nina yang membuat Nina akhirnya pasrah.
"Yaudah yaudah, ah elah ribet banget sih."
__ADS_1
Nina pun akhirnya terpaksa mengikuti permintaan sahabatnya itu. Meskipun sejujurnya ini terdengar sangat konyol dan aneh sekali baginya. Mana ada seorang istri malas satu mobil dengan suaminya sendiri.
"Dasar Naysila."