
Malam ini, Naysila merasa lebih sunyi dari biasanya. Karena biasanya banyak suara orang tahlilan di rumahnya. Namun malam ini sudah tidak ada lagi, selain zulfikar seorang diri yang masih setia membacakan surah yasin dan dilanjut dengan do'a tahlil itupun selesai sebelum isya sepertinya.
Sudah jam 11 malam, dan Naysila belum bisa memejamkan matanya juga. Entah kenapa dia jadi penakut seperti ini sekarang?
Orang bilang mitosnya kalo orang meninggal belum 40 hari, katanya arwahnya masih berkeliaran di rumah.
Pikiran Naysila menerawang mengingat mitos-mitos yang sering dia dengar waktu bermain bersama teman-temannya dulu.
Saat tengah melamun, tiba-tiba terdengar suara perkelahian dua kucing yang membuat Naysila hampir saja jantungan.
"Astagfirullah, astagfirullah." Naysila mengusap dadanya perlahan, "Gpp, gpp. Nggak bakal ada apa-apa." Naysila berusaha tenang lalu perlahan menarik selimutnya sampai ke ujung pucuk kepalanya.
Lima menit kemudian saat hampir saja Naysila tidur dengan berusaha melawan segenap rasa takutnya, tiba-tiba sebuah benda jatuh tepat di atas selimutnya. Sontak saja dia langsung keluar dari kamarnya.
"Huaaaa," pekiknya. Dia melirik kiri dan kanan ruangan tengah rumahnya.
"Sudah tidak ada ibu, dan Kak Aisyah sudah pulang. Siapa lagi yang bisa menemaniku tidur?" Naysila menatap bingung di luar kamarnya.
Saat sedang dalam keadaan kalut, tiba-tiba Naysila teringat seseorang yang tinggal di sebelah kamarnya.
Dengan mengumpulkan seluruh energi dan mengenyampingkan gengsi yang terjunjung tinggi, demi bisa tidur malam ini, akhirnya Naysila coba mengetuk pintu di sebelah kamarnya
Tok-tok-tok
Tidak ada jawaban, sekali lagi.
Tok-tok-tok
Masih belum ada respon juga, Naysila melirik kiri kanan takut ada mata menyeramkan yang sedang menatap ke arahnya.
"Hey, kamu ... udah tidur belum?" cicit Naysila dengan ragu-ragu.
Perlahan terdengar suara kunci pintu terbuka. Laki-laki yang masih lengkap dengan sarung dan peci di kepalanya menatap naysila bingung.
"Loh, ada apa Nay?" tanya Zulfikar heran.
"Aku boleh minta tolong ngga?" ucap Naysila sambil terus menautkan jari jari tangannya.
"Boleh, apa?" sahut Zulfikar.
Hening beberapa saat terjadi, Zulfikar menautkan alisnya heran, sebenarnya apa yang diinginkan wanita di hadapannya ini.
Dengan segenap kekuatan yang ada Naysila menarik nafas dalam-dalam "Temenin aku tidur!" cicit Naysila.
Zulfikar menautkan kedua alisnya kembali heran.
Apa wanita ini mengigau?
Tapi tidak, sepertinya dia sadar akan ucapannya.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
__ADS_1
Tanpa pertanyaan lagi, Zulfikar meng-iyakan permintaan Naysila. Lagipula mereka kan memang sudah menikah. Jadi tidak ada salahnya juga tidur dalam satu kamar yang sama.
Setelah menyimpan sarung dan peci hitamnya, Zulfikar menutup pintu kamar lalu mengikuti langkah wanita di depannya. Sebenarnya kalau boleh jujur, Zulfikar canggung setengah mati jika harus menemani Naysila tidur malam ini. Tapi bagaimanapun mereka sudah bersuami istri bukan, jadi memang sudah seharusnya mereka tidur satu kamar.
Naysila membuka lemari lalu mengambil sebuah karpet bulu yang lumayan tebal. Dia langsung merebahkannya di atas lantai di samping kasurnya.
"Loh, itu untuk apa?" tanya Zulfikar heran. Naysila lalu beranjak mengambil satu bantal dan satu guling dari kasurnya
"Untuk tidur," sahutnya datar.
Zulfikar masih bingung, "Maksud kamu?"
"Sudah, kamu tinggal tidur saja di kasurku! jangan banyak tanya! ... berhubung aku yang minta tolong jadi aku yang tau diri." Naysila mulai merebahkan tubuhnya di atas karpet.
Baru saja Zulfikar membayangkan bagaimana rasanya tidur berdua layaknya pengantin baru, namun lagi-lagi perasaannya itu dipatahkan begitu saja ketika melihat istrinya memilih tidur di atas karpet. Apa yang ada di pikiran istrinya saat itu? Entahlah, hanya dia dan tuhan yang tau, pikir Zulfikar.
***
Alarm berbunyi, Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Naysila meraba-raba nakas mencari barang persegi itu.
Dapat
Naysila menarik slide di layar hp nya, agar suara itu berhenti, lalu menaruh kembali hp itu di asalnya. Dia mengucek-ucek matanya bergegas untuk mengambil wudhu ke kamar mandi.
"Lohh ko aku tidur disini?" Naysila terperanjat saat dia teringat harusnya dia tidur di karpet. Tapi karpet yang dimaksud itu sekarang sudah hilang entah kemana.
Kemana laki-laki itu pergi? dan dimana dia tidur tadi malam?
Samar-samar Naysila mendengar bunyi orang yang sedang memotong sayuran di dapur. Tapi siapa? Ibu? Astaga pikiran buruknya kembali datang.
"Bukan..bukan," Naysila menepis pikirannya lalu, "apa jangan-jangan Kak Ais? ... tapi mana mungkin dia datang sepagi ini?" batin Naysila. Karena penasaran, perlahan dia turun dari kasur dan keluar dari kamarnya.
Tak-tok-tak-tok
Bunyi pisau yang saling beradu itu rupanya dilakukan oleh seorang laki-laki.
"Eh, sudah bangun?" Zulfikar melihat kedatangan Naysila.
"Hmpppp," jawab Naysila seperlunya, kemudian ia duduk di kursi meja makan.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Naysila.
"Masak bubur buat Bapak."
"Ohhh," Naysila melirik bubur yang masih setengah jadi itu.
Emang dia bisa masak bubur?
Bagaimana rasanya?
Naysila bertanya-tanya karena dirinya saja belum pernah sekalipun membuat masakan yang bernama bubur itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Zulfikar yang menghentikan aktifitasnya sambil menatap wanita di sampingnya.
"Gpp," jawab Naysila lalu mengalihkan pandangannya.
"Sudah solat?" tanya Zulfikar seraya kembali memotong sayuran.
Naysila menggelengkan kepalanya, "Baru mau."
"Yaudah sana keburu siang!"
"Iya ... 'gak usah di kasih tau." Naysila membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya.
Namun sepanjang perjalanannya, ada yang mengganggu pikirannya. Dia melupakan niatnya untuk bertanya pada laki-laki itu. Akhirnya dia membalikkan badannya lagi.
"Hmpppp ehhh kamu," panggil Naysila, membuat si empunya menatap.
"Kenapa?... Mau nyobain?" tanya Zulfikar yang kembali fokus pada panci di hadapannya.
"Nggak." Naysila menarik nafas panjang sambil menatap punggung laki-laki yang masih sibuk mengaduk buburnya.
"Semalem kan aku tidur di ...."
"Oh itu, semalem hujan. Terus saya liat kamu kedinginan, jadi saya pindahin kamu ke atas. Maaf kalo 'gak sopan. Saya cuma nggak tega aja liat kamu menggigil," jawab Zulfikar jelas sebelum Naysila menyelesaikan pertanyaannya.
Oh, jadi seperti itu.
Naysila sama sekali tidak mengingat kejadian tadi malam. Tapi bagaimanapun juga dia harus berterima kasih pada laki-laki di hadapannya karena berkat kebaikan hatinya dia tidak masuk angin.
"Tapi tenang aja! saya nggak ngapa-ngapain kamu kok. Lagian saya juga nggak tidur satu kasur sama kamu." lanjut Zulfikar.
Dari awal Zulfikar memang tidak tidur di kasur seperti yang di perintahkan Naysila. Dia lebih memilih sofa di dekat jendela untuk merebahkan badannya sambil sesekali menatap wanita yang meringkuk di pinggir kasur itu. Zulfikar merasa gugup sampai-sampai dia tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang memikirkan banyak hal.
*Kenapa aku bisa menikahi wanita yang sama sekali tidak aku cintai?
Andai saja wanita di hadapanku ini adalah Nurul.
Andai saja kala itu aku lebih cepat mengungkapkan perasaanku pada Nurul. Mungkin saat ini, dia yang ada disini menemaniku*.
Andaikan dan andaikan.
Banyak sekali 'andaikan' yang menyelimuti pikiran Zulfikar malam itu, sampai-sampai dia tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi akhirnya dia memilih untuk mengaji sambil menunggu subuh.
"Ohhh ... Yaudah makasih," ucap Naysila seperlunya setelah mendengar jawaban DARI Zulfikar. Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan Naysila seperti :
Lalu kamu tidur dimana
Bagaimana caramu memindahkan tubuhku?
Dan lain sebagainya.
Namun melihat kesibukan Zulfikar sepertinya ini bukan saat yang tepat, lagipula dia harus segera menunaikan kewajibannya sebelum matahari terbit di ufuk timur.
__ADS_1