Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (026)


__ADS_3

Sepertiyang sudah di sepakati. Zulfikar akan menjemput Naysila di tempat yang sudah di tentukan. Dari kejauhan Zulfikar melihat Naysila dan Nina sedang menunggu lampu hijau untuk menyebrang, namun pandangan Zulfikar


berpindah pada seorang laki-laki bertampang preman di samping mereka. Sepertinya laki-laki itu berniat tidak baik karena sedari tadi terus menatapi bagian bawah tubuh istrinya bahkan sampai lampu hijau menyalapum laki-laki itu terus mengikutinya dari belakang dengan jarak yang sangat dekat.


Dengansegera Zulfikar turun dari mobilnya saat melihat laki-laki itu semakin berlaku kurang ajar karena terus mendekatkan jarak antara keduanya.


"Ehh, mau ngapain kamu?" Naysila terkejut ketika mendapati Zulfikar tiba-tibamembuka jas nya kemudian mengikatkannya di pinggang rampingnya.


"Sudah diam!! ayo jalan!" Selesai mengikatkan jas miliknya Zulfikar segera menggandeng Naysila masuk ke dalam mobil meninggalkan laki-laki yang kini sudah membelokkan langkahnya.


Zulfikarbenar-benar mengantarkan Naysila sampai masuk ke dalam mobilnya dengan segera Zulfikar membuka kembali ikatan jas nya lalu mengalihkannya untuk menyelimuti tubuh Naysila.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget deh?" Tanya Naysila heran dengan sikap Zulfikar.


"Gpp." Setelah dirasa cukup Zulfikar keluar dari dalam mobil "yaudah Nin cepet masuk! kayaknya cuacanya mulai mendung deh nanti keburu ujan."


"Siap, Pak dosen." Dengan senyum manjanya Nina segera masuk ke dalam mobil, sejujurnya dalam hati Nina terbesit rasa iri melihat pemandangan di hadapannya karena itu membuat ia merindukan sosok laki-laki yang sudah


membuatnya menangis pagi ini.


Sepanjangperjalanan hanya suasana hening yang terjadi antara ketiganya. Zulfikaryang fokus mengemudi, Naysila yang memejamkan matanya karena merasa sedikit mual di perutnya efek mencium aroma parfum mobil terlebih dirinya sedang dalam kondisi belum fit dan Nina yang hanya memandangi kaca mobil di sampingnya menatapnanar keluar sambil sesekali meneteskanair matanya.


💦💦💦


Malam ini Aisyah dan Bi Marni sudah menyiapkan hidangan spesial untuk makan malam. Semuanya sudah hadir di meja makan tanpa terkecuali Naysila dan juga Zulfikar.


"Wah makan besar nih?" Tanya Zulfikar terkejut saat mendapati beberapa menu makanan yang lumayan banyak.


"Iya nih Zul, Kaka memang sebenernya sengaja datang kesini untuk ini."


"Maksudnya?" Tanya Zul heran.


"Iya, jadi hari ini tuh sebenernya ulang tahunnya Feby, jadi Kaka sengaja masak banyak untuk ngerayain ulang tahunnya dia."


"Ya ampun jadi hari ini tuh ulang tahunnya Beby sayang, maaf ya Aunty sampelupa." Naysila segera memeluk anak kecil menggemaskan di sampingnya.


"Selamat ulang tahun ya Beby, semoga jadi anak yang berbakti bagi bangsa juga agama dan terutama sama Bundanya." Zulfikar mengelus-elus puncak kepala Feby yang masih berpelukan dengan Naysila.


"Makasih Aunty, makasih Om. Tapi kadonya mana?"


Naysila melepaskan pelukannya, "emang Beby mau kado apa sih? Nanti besok aunty beliin."


"Emang bisa?" Tanya balik Beby.


"Bisa donk, apa sih yang ga bisa buat ponakan aunty yang paling cantik." Naysila benar-benar gemas dan mencubit kiri kanan pipi Feby berbarengan.


"Janji ya besok ada." Feby mengacungkan jari kelingkingnya.


"Emang Beby minta apa sih? Kok kayaknya serius banget?" Tanya Aisyah yang sedang sibuk membereskan makanan di meja.


"Yaudah Om sama Auntynya janji dulu!"


Naysila dan Zulfikar saling bertatapan heran kemudian keduanya tersenyum dan


mengacungkan jari kelingkingnya masing-masing bersamaan.


"Emang Beby minta apa sih kadonya?" Tanya Naysila kembali.


"Dede bayi." Jawab Feby singkat, namun ternyata jawaban singkat itu justru membuat suasana yang tadinya hangat jadi sunyi seketika.


"Beby sayang kita tiup lilin dulu ya, masalah kado besok kita omongin lagi, OK." Aisyah coba merayu Feby dan akhirnya Feby mengangguk setuju walau mukanya masih di tekuk.


Akhirnya acara ulang tahun Feby selesai dengan puncaknya mereka berfoto bersama.


💦💦💦


Sudah jam 07 pagi waktunya Zulfikar untuk bersiap-siap berangkat ke kampus, dia baru saja selesai mandi dan kini Zulfikar sudah mengenakan handuk setinggi perut sampai lututnya sehingga menampakkan perut sixpacknya,


dengan santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil dia berjalan keluar pintu kamar, baru saja tiga langkah diamendengar suara teriakan yang hampir saja membuat gendang telinganya retak.


"Huaaaaaaaaa" teriak Naysila sekencang-kencangnya saat mendapati tubuh Zulfikar terekspos begitu saja.


Tok..tok..tok


"Nay, kamu kenapa?" Tanya Aisyah di balik pintu.


Zulfikar yang khawatir Naysila salah bicara langsung membungkam mulut Naysila dengan tangannya.


"Gpp ka, tadi cuma ada kecoa doang kok." Jawab Zulfikar.


"Oh .. Kaka kira kenapa, bikin kaget saja, cepat keluar! Kita sarapan dulu." Suara Aisyah melemah di ikuti suara langkah kakinya yang juga ikut melemah sepertinya dia sudah kembali ke kamarnya.


Zulfikarmengehela nafas panjang bersyukur hari ini dia terbebas dari rentetan pertanyaan yang akan keluar dari mulut Aisyah jika saja dia tidak membungkam mulut Naysila, dan "Astaghfirullah" mata Zulfikar terbelalak terkejut melihat orang yang di maksud tengah membulatkan matanya lebar-lebar menatap lurus ke arah dadanya yang bidang dan terekspos begitu saja, sontak saja Zulfikar langsung menjauh dari Naysila serta menurunkan tangannya dari mulut gadis itu, sedangkan Naysila masih mematung beberapa detik sampai akhirnya dia sadar jika dia mulai menyukai lekuk tubuh pria di hadapannya.


"Jangan sesekali lagi berteriak seperti tadi! bikin malu saja, dan jangan menatap saya seperti itu! Nanti jatuh cinta bisa repot." Zulfikar berbicara sambil membalikkan badannya membuka lemari yang tak jauh di hadapannya, and damn Zulfikar lupa jika di dalam lemari tersebut tidak ada satu helaipun pakaian miliknya.


"Suruhsiapa keluar kamar mandi ga pake baju? Ya.. ya aku kaget lah." Naysila membela dirinya, padahal saat ini dia sedang bersyukur dalam hatinya bisa melihat pemandangan seindah ini di pagi hari.

__ADS_1


"Saya lupa kalo ini bukan kamar saya, oiya saya boleh minta tolong?"


"Apa?"


"Saya butuh baju ganti,"


"Terus?"


"Kamuini pura-pura bodoh atau memang beneran bodoh?" Zulfikar mendekatkan wajahnya ke wajah Naysila dan sontak membuat mata Naysila terbelalak "Ambilkan baju saya di kamar sebelah!".


"Aku ga mau." Naysila menggeleng.


"Yaudahkalo ga mau aku bisa ambil sendiri, terus abis itu kalo Ka Aisyah nanya-nanya aku tinggal jawab aja apa adanya," Zulfikar melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Kamungancem aku?" Tanya Naysila sambil berkacak pinggang. sementara Zulfikar hanya menaikkan sedikit bahunya dan mengangkat kedua tangannya.


"Okekali ini kamu menang." Suara Naysila sedikit meninggi dan membuat Zulfikar menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya dengan senyumsumringahnya.


"Apa saja yang kamu perlukan?" Wajah Naysila merenggut.


"Hmppppp......"Mata Zulfikar menerawang sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuk di otakkanannya dan itu membuat Naysila semakin kesal.


"Lama....."


"Banyak." Jawab Zul


"Yaudah sebutin! Kalo perlu catet di kertas!"


Melihatekspresi istrinya seperti itu Zulfikar malah tertantang untuk terus menggodanya "dia terlihat lebih manis jika sedang marah seperti ini," gumamnya dalam hati "oke kamu ingat baik-baik ya! Aku perlu celana dasarwarna hitam, kemeja putih polos, terus dasi warna hitam yang senada dengan celananya, terus...."


"Mau ngajar apa mau kawinan sih? Formal amat?" Belum selesai Zulfikar menyebutkannya Naysila sudah berkomentar.


"Masih mau dengerin ga nih? Atau saya saja yang mengambilnya?".


"Yaudah cepet lanjut!" Ucap Naysila.


"Kaos dalam warna putih terus..."


"Kenapaharus sampe ke warna-warnanya juga di atur? Itu kan bagian dalem, kenapa ga warna kuning atau pink gitu? Lagian orang ga bakal merhatiin sampe kesitu-situ keles." Lagi lagi Naysila memotong ucapannya.


"Hah? Apa-apaan kaos dalam warna pink? mana ada?" Batin Zul.


"Udahkan itu aja, yaudah aku ambilin sekarang, kamu tunggu disini!" Naysila melenggangkan tangannya untuk membuka knop pintu sebelum tangan Zulfikarmenghentikannya, "apa lagi?" Tanya Naysila kesal.


"Satu lagi ada yang ketinggalan,"


"Itu."


"Itu apa? Ngomong yang jelas!"


"Huftttttt."Zulfikar menghembuskan nafasnya kasar, bagaimana caranya dia menyebutkan benda itu pikirnya, Celana dalam? Ahh terlalu frontal bukan,CD? Ah Nanti Naysila malah benar-benar mengambilkan koleksi CD


musiknya, lalu apa kata-kata yang pas untuknya?.


Setelah beberapa detik memikirkan akhirnya Zulfikar ada ide, dia membentuk gambar segitiga dengan kedua telunjuknya.


"Apaan itu? Kok Segitiga?" Tanya Naysila polos.


Zulfikar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana lagi dia harus menjelaskannya.


"Jangan bilang kalo kamu nyuruh aku mengambilkan itu kamu?" Dengan ekspresi yang mengejutkan Naysila membulatkan matanya.


Walaupun masih sedikit alibi namun Zulfikar lega akhirnya Naysila mengerti maksudnya, secepat kilat Zulfikar mengangguk.


"Enggak, pokoknya aku ga mau." Naysila melipat kedua tangannya.


"Yasudah kalo ngga mau biar aku saja yang mengambilnya." Zulfikar melenggangkan kaki dan tangannya seirama.


"Oke .. oke.. aku ambilkan, tapi warnanya terserah aku." Ucap Naysila sebal, sementara Zulfikar hanya tertawa sumringah.


Denganberat hati Naysila membawakan semua permintaan Zulfikar dari kamar sebelah dengan alasan pada Aisyah jika lemari miliknya terlalu sempit juga sudah penuh dan belum sempat menggantinya dengan ukuran yang lebih


besar.


"Nih!" Naysila menyodorkan semuanya dengan tampang jijik dan tanpa menatap wajah Zulfikar.


"Terimakasih manis." Dengan segera Zulfikar langsung masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Amit-amitdeh, dasar cowok ngeselin." Naysila terus mengumpatinya dengan sumpah serapah sementara orang yang di sumpahinya tengah tersenyum bahagia karena merasa dilayani seorang istri walau sebenarnya Naysila sangat terpaksa melakukan itu semua.


💦💦💦


...Naysila Pov...


Jam08.30 aku sudah sampai di kantor begitupun Nina, kami di antar Zulfikar berangkat lebih awal dari kemarin dan kebetulan juga hari ini jalanan sedikit lebih lenggang. Aku dan Nina pun berpisah menuju ruangan masing-masing.


"Pagi Nay, sudah baikan?" Sapa Cahya yang tiba-tiba saja muncul dari belakangku.

__ADS_1


"Ah, pagi juga, Ya, Alhamdulillah sudah lebih baik."


"Alhamdulillah, syukurlah."


Masih ada sisa waktu 30 menit lagi untuk mulai bekerja dan kami memanfaatkan waktu itu untuk saling mengenal satu sama lain.


"Selamat pagi semuanya." Suara lantang tiba-tiba terdengar dan membuyarkan obrolan hangat antara aku dengan Cahya.


Wanita itu, aku ingat sekali wanita berambut pirang itu adalah orang yang mencaci maki aku kemarin, siapa dia? Dan apa jabatannya di kantor ini? Kenapa saat dia berbicara semua orang yang ada di ruangan ini diam.


"Karena bulan depan adalah ulang tahun perusahaan, jadi kita akan mengadakan pesta perayaan."


"Yeeeeeeeeeeeeeee...." sorak teriakan bahagia terdengar di penjuru ruangan, semua ikut berbahagia dan hanya aku sepertinya yang biasa saja.


"Dengarkan saya dulu! Saya belum selesai bicara." Suasana hening kembali setelah wanita pirang itu mengeluarkan suaranya.


"Acara kita tahun ini akan di adakan di luar kota, jadi saya harap kalian segera membentuk Team untuk pelaksanaannya! Untuk ketua pelaksananya saya serahkan pada Pak Hendry dan sisanya silahkan di atur sendiri!"


"Baik Bu , saya akan urus secepatnya."


Seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 40tahun dengam kepala plontos itu berdiri dari kursinya, sepertinya laki-laki itu yang bernama Hendry.


"Baiklah kalo begitu, selesai membentuk Team segera datang ke ruangan saya."


Selesai bicara wanita itu keluar dari ruangan kami dan suasana kembali gaduh lebih gaduh dari biasanya.


"Nay, gue daftarin lu jadi Team konsumsi ya." Ujar Cahya.


"Hah?? Ngga ah, Ya. Aku ngga ikutan jadi panitia deh, belum tentu juga aku bisa ikut ke luar kota."


"Yah, ko gitu sih, udah ikut aja ya, tenang tiap tahun gue yang jadi koordinator konsumsinya, jadi lu tinggal ikutin arahan gue aja! Mau ya? Please!"


"Gimana ya?" Aku menimang-nimang kembali ucapan Cahya "Yaudah deh, tapi aku ga janji ya." Ucapku.


"Oke." Secepat kilat Cahya sudah pergi meninggalkanku dan ikut bergabung dengan kerumunan yang sedang menyelubungi Pak Hendry.


Sudah waktunya istirahat, siang ini hanya aku dan Cahya yang makan siang bersama karena Nina bilang dia sedang banyak kerjaan jadi tidak bisa ikut gabung.


"Ya, aku boleh tanya sesuatu?" Ucapku pada Cahya.


"Iya boleh, nanya aja!"


"Wanita yang tadi pagi itu siapa?"


"Yang mana?" Cahya menyipitkan matanya "oohhhh yang kemaren ngomel-ngomel gara-gara kamu tabrak?" Ucap Cahya.


"Hmm," Aku mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Dia sekretaris pribadi bos besar kita."


"Ohhh pantes." Aku baru mengerti kenapa sikap dan raut wajahnya begitu angkuh.


"Kenapa? Galak yah? Jangan kaget Nay! Rata-rata orang kalo udah ngerasa punya kekuasaan yang tinggi ya gitu." Ujar Cahya.


Benar sih apa yang dikatakan Cahya, wajar kalo wanita itu angkuh karena kekuasaannya sekarang, terlebih lagi wajahnya yang cantik juga sepertinya blasteran dan masalah body jangan tanyakan lagi soal itu.


"Satu hal Nay,"


"Apa?"


"Dia itu calon istri dari Bos muda kita, jadi kamu jangan sampe cari gara-gara sama dia, BAHAYA." ucapan Cahya penuh penekanan seolah memintaku untuk berhati-hati dengan wanita itu.


"Ohhhh." Aku hanya ber oh ria saja, mau dia calon istri bos muda atau calon istri anak presiden pun aku tidak peduli.


Obrolan kami berlanjut sambil menikmati menit-menit terakhir waktu istirahat kami sampai akhirnya aku mendengar ponselku berbunyi,


1 message received


Zulfikar :


"Assalamualaikum, Nay, maaf mengganggu waktu istirahatnya, barusan Kak Aisyah kirim pesankatanya sore ini mau pulang, kalo tidak keberatan pulang kerja nanti aku minta kamu temenin aku beli kado dulu buat Feby, soalnya aku tidak tahu barang yang cocok untuk di berikan pada anak wanita."


"Dih,bilang saja modus." Ucapku, tapi yasudah lah sekalian aku juga mau membelikan 1 kado juga. Tanpa fikir panjang aku langsung membalas chattnya.


Naysila : "Iya, tapi Nina harus ikut!"


Zulfikar : "Tidak masalah jika dia tidak keberatan."


Naysila : "Ok."


Zulfikar : " Yasudah, aku kembali ke kelas, Kamu jangan lupa makan ya!"


"Dih, so care banget nih anak, ga usah di ingetin juga gue udah inget kali." Umpatku malas melihat isi pesan dari laki-laki yang mendadak so perhatian padaku.


"Nay, ayo balik! Udah waktunya masuk!" Cahya membuyarkan tatapanku pada layar ponsel di tanganku.


"Oh iya Ya." Aku segera mengikuti langkah Cahya agar sejajar dengannya.

__ADS_1


__ADS_2