Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (011)


__ADS_3

Naysila menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan semua ini. Bukan hanya dia, Zulfikar juga dibuat tercengang dengan kenyataan ini.


Bagaimana mungkin semua ini terjadi secara kebetulan.


Uhuk-uhuk


Suara batuk Hamidah membuyarkan suasana hening di kamar itu. Semuanya segera memfokuskan diri pada Hamidah.


"Dada ibu sakit," Hamidah memegangi dada nya sesak.


"Sebentar, Bu. Ais panggilan dokter Bu." Dengan cepat Aisyah berlari keluar untuk mencari dokter, sementara Naysila mematung menatap wajah Ibunya yang sudah pucat pasi. Semua orang di sekelilingnya sudah panik melihat keadaan Hamidah, begitu juga dengan Lukman yang tak bisa diam di kursi rodanya. Melihat kondisi Istrinya seperti sekarang, Lukman merasa menjadi suami paling tidak berguna. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain hanya menonton.


Hamidah, bertahanlah!


Dengan perasaan yang tak karu-karuan, Zulfikar coba menenangkan Lukman yang ingin turun dari kursi rodanya, "Bapak yang sabar ya!" Zulfikar memegang tangan pak lukman.


Dokter yang datang langsung bergegas meminta perawat untuk memeriksa keadaan Hamidah.


"Saya minta semuanya keluar dulu!" semua orang bersiap untuk bergegas keluar kamar kecuali Naysila yang masih diam mematung. Membuat yang lain saling bertatapan heran.


"Nay, ayo keluar! Ibu harus segera di obati." Aisyah menarik lengan Naysila, tidak ada respon dari tubuh Naysila membuat semuanya bingung.


Terjadi keheningan beberapa saat sampai akhirnya Naysila membuka mulutnya.


"Nikahi aku sekarang!" Naysila berbicara sambil memejamkan matanya.


Zulfikar menatap heran.


Apa yang dia katakan?


"Nay. Kamu kenapa?" Aisyah memandangi adiknya, tidak percaya atas apa yang di ucapkan adiknya.


Naysila membuka matanya perlahan, lalu menatap tajam ke arah Zulfikar.


"Nikahi aku sekarang! apa kau tidak mendengarnya Zulfikar? ... Oh, atau kau ingin jadi manusia yang di benci Allah karena telah melalaikan sebuah amanah?" suara Naysila meninggi sambil menatap pekat laki-laki yang sedang mendorong kursi roda itu.


Zulfikar memandang Naysila dan yang lainnya bergantian tidak percaya, apa yang harus dilakukannya sekarang?


Oh, Allah. Apa yang harus hamba lakukan?


Lukman menggerak-gerakkan tangannya berusaha menarik perhatian Zulfikar.


Zulfikar, nikahi anak saya sekarang!


Zulfikar melihat air mata jatuh dari pelupuk mata Lukman seolah meminta agar Zulfikar melakukannya. Sontak saja hati Zulfikar bergejolak.


Ya Allah, apa yang harus ku lakukan sekarang? Hamba belum siap.


Batin Zulfikar benar-benar bergemuruh.


Saat sedang kalut, tatapan Zulfikar tiba-tiba tertuju pada gadis yang saat ini tak berkedip sedikitpun memandanginya, 'Nurul'.


Aku tidak bisa melakukan ini, aku hanya mencintainya.


"Lakukan apa yang ingin kalian lakukan sekarang! pasien butuh penanganan cepat," ucap sang dokter mengejutkan semuanya, "jangan salahkan saya jika terjadi apa-apa dengan pasien." Dokter membuyarkan suasana tegang itu.


Jangan, Zul! jangan lakukan itu. Aku mohon.

__ADS_1


Setetes air mata Untuk jatuh. Zulfikar bisa melihatnya dengan jelas. Nurul bahkan menggelengkan pelan kepalanya. Menatapnya, seolah meminta Zulfikar tidak melakukan itu.


Tapi harus mengambil keputusan. Ia menutup matanya dengan berat hati, Ia memberanikan dirinya mengambil akibat dari apa yang dia perbuat . Dia berjalan mendekati Pak Kyai lalu menunduk sopan.


"Pak kyai, tolong nikahkan saya dengan Naysila!" ucap Zulfikar dengan penuh keyakinan.


Ya Allah, semoga ini adalah keputusan terbaik.


Pak Kyai mengangguk, lalu menuntun Zulfikar mendekati calon Istrinya.


Mata Nurul membulat, air matanya menetes lagi. Tiak percaya, jika laki-laki di hadapannya akan menikahi wanita yang merupakan sahabat lamanya.


***


Syarat sah sebuah pernikahan sudah cukup bagi keduanya untuk melaksanakan akad nikah.


Calon mempelai laki-laki.


Calon mempelai wanita


Wali nikah


Penghulu


Saksi


Semuanya sudah hadir di tempat yang baunya semerbak khas dengan obat-obatan itu.


"Apa yang akan kau jadikan sebagai maharmu?" tanya Pak Kyai pada Zulfikar.


Zulfikar ingat sesuatu, dia memiliki sesuatu yang bisa di jadikan maharnya. Sesuatu yang selalu ia bawa kemanapun kakinya melangkah.


Zulfikar memejamkan matanya, dengan mantap ia mengucapkan sebuah sudah Al-quran, "Ar-rahman,"


Pak Kyai mengangguk setuju.


"Tapi itu terlalu lama," protes Naysila. Dia menatap kesal ke arah Zulfikar, "apa tidak bisa dengan uang saja? kau mau melihat ibuku sekarat menunggu selama itu?" kesal Naysila.


"Saya tidak membawa apapun, hanya itu yang saya miliki saat ini." jawab Zulfikar sambil memandang Naysila.


"Tidak apa-apa," suara Hamidah membuyarkan tatapan keduanya, "Ibu suka surat Ar-rahman ... itu surat yang sering Bapak bacakan saat menemani Ibu tidur." jawaban Hamidah membuat Naysila pasrah karena Hamidah memegangi tangannya sambil tersenyum.


Zulfikar mulai melantunkan surah Ar-rahman, semua hening dan terpana dengan suaranya. Suasana yang semula tegang, kini berubah seketika menjadi penuh haru dan khidmat, karena Zulfikar memang memiliki suara yang tidak diragukan lagi kemerduannya.


Kini tibalah saat prosesi inti.


"Saya terima, nikah dan kawinnya Naysila Putri, binti Lukman Permana dengan Mahar tersebut dibayar tunai," ucap lantang Zulfikar.


"Bagaimana saksi?" tanya Pak Kyai.


"Sah." Pak RT dan Pak RW mengangguk serentak.


"Alhamdulillah," jawab serentak kemudian di lanjutkan dengan do'a dari Pak Kyai. Semua mengangkat tangan penuh khidmat.


Ya Allah, dia kini telah menjadi suami sahabatku sendiri.


Air mata Nurul menetes setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, laki-laki yang dia harapkan akan menjadi pendamping hidupnya nanti kini mengikat janji suci dengan wanita lain. Walaupun bukan atas dasar cinta sama cinta, tetap saja hati Nurul sakit, sangat sakit rasanya.

__ADS_1


Sementara Nurul dengan perasaan kecewanya, Batin Naysila juga terus bergejolak dengan ketakutannya. Apakah keputusannya ini sudah benar? apakah ia tidak salah ambil langkah?


Naysila beralih menatap Ibunya yang tersenyum menatapnya, senyuman yang sangat hangat dan menyejukkan yang selalu di rindukannya.


"Terimakasih, Nak." Hamidah tersenyum penuh kebahagiaan.


Namun senyuman di bibir Hamidah perlahan memudar, berbarengan dengan matanya yang perlahan menutup.


Semua orang fokus berdo'a kecuali Naysila. Perasaannya tidak enak, kenapa sedari tadi Ibunya tidak membuka matanya kembali, sampai suara dari hemodinamik menjawab pertanyaannya. Alat itu mengeluarkan bunyi yang membuat semua mata tertuju pada Hamidah.


tiiiiiiiitt


"IBU ...." Naysila menjerit.


Dokter yang berada di samping Hamidah langsung mengambil alih pasien dengan memerintahkan suster menyiapkan alat setrum jantung. Semua di minta keluar, namun Naysila tetap bersikeras tidak mau keluar.


"Aku ga mau keluar! Ibu ga boleh pergi ... Nay udah menuhin keinginan Ibu, sekarang Nay mau Ibu turutin permintaanku. Aku gak minta apa-apa. Aku cuma pengen Ibu nemenin Nay sampai Nay bisa bahagiain Ibu." Naysila terus berusaha melepaskan dirinya dari Aisyah yang coba menariknya.


"Bantu Kaka Zul!" pinta Aisyah. Kemudian dengan canggung, Zulfikar memegang tangan Naysila. Ini adalah kali pertamanya Zulfikar menyentuh tangan seorang wanita. Berat baginya, apalagi dia melakukan itu di hadapan wanita yang di cintanya.


Kini semuanya tengah panik di luar pintu menunggu dokter segera keluar.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang. Dokter keluar dengan seorang suster di belakangnya. Namun wajahnya muram dan tak bersemangat.


"Bagaimana keadaan, Ibu saya dok?" tanya Naysila panik.


"Maafkan kami! ... kami sudah berusaha sekuat tenaga tap...."


"Tidaaakkk! Ibu tidak boleh pergi." Belum sempat Dokter menyelesaikan ucapan itu, Naysila terlebih dulu menerobos masuk melewati suster yang masih berdiri di pintu.


Aisyah segera mengejar Naysila di ikuti Zulfikar dan yang lainnya.


"IBU! ... Ibu jahat! Kenapa Ibu ninggalin aku? bangun Bu, bangun!" Naysila terus menarik lengan Hamidah yang sudah dingin, "lihat Nay sudah menikah Bu, lihat!" Naysila menarik tangan Zulfikar begitu saja, "ini laki-laki yang Ibu mau kan? lihat ini Bu! dia sudah menikahi ku," Naysila menggoyang-goyangkan tangan Zulfikar di atas wajah Ibunya yang bahkan sudah tidak bisa membuka matanya lagi.


Aisyah menangis sambil memeluk laki-laki yang hanya bisa meneteskan air mata di atas kursi roda.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un." ucap Aisyah terisak sambil memeluk Lukman.


Dada Lukman terasa sesak sangat sesak. Istri yang paling di cintanya kini sudah tak ada lagi di dunia. Dia ingin sekali memeluk dan mencium untuk yang terakhir kalinya. Namun apa daya, untuk mengangkat tangannya saja dia tidak bisa, berat, semuanya berat, dia hanya bisa menjerit memanggil nama istrinya dalam hatinya


"Maafkan saya Hamidah." lirih Lukman dalam hatinya, "selamat jalan istriku."


"Bu ... bangun Bu! Nay ga bisa hidup tanpa Ibu." Naysila terus menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya yang sudah mulai dingin, Zulfikar tanpa sadar merangkul tubuh wanita di sampingnya yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.


"Sudah, ikhlaskan Ibu!" Zulfikar mengusap rambut Naysila. Dan entah kenapa, Naysila tiba-tiba saja luluh lalu membalas memeluk Zulfikar. Terasa nyaman berada dalam dekapan laki-laki itu, sampai ia tidak sadar jika ia pinsan di pelukan Zulfikar karena terlalu lama menangis.


"Astagfirullah al'adzim." Zulfikar menahan tubuh Naysila yang hampir ambruk ke lantai. Dengan cepat dia merangkul tubuh istrinya itu dan mengangkatnya ala bridal.


"Bawa kesini, Zul!" Aisyah memandu Zulfikar untuk menaruh tubuh Naysila di sofa yang ada di ruangan itu.


Melihat kejadian di depan matanya, Nurul tidak bisa menyembunyikan sakit di hatinya. Rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. Melihat Naysila diperlakukan seperti itu oleh laki-laki yang dicintainya, Nurul merasa sangat terluka.


"Nurul, kamu mau kemana?" Pak Kyai melihat Nurul mendadak pergi meninggalkan ruangan itu dengan mata yang berair.


Tak ada pilihan terbaik. Nurul memilih keluar dari ruangan itu dengan air mata yang tak henti menetes. Berlari dan beberapa kali menabrak orang yang sedang berlalu lalang.


"Kenapa aku sakit melihatmu memeluknya Zul?" lirih Nurul sambil terus berjalan setengah berlari meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2