
Ketiganya sudah sampai di kawasan perkantoran yang tak jauh dari pusat kota.
"Nanti sore saya jemput disini lagi ya," ucap Zulfikar sambil menatap kepergian Naysila dan Nina dari dalam mobilnya.
"Iya,terserah," jawab Naysila tanpa menatap Zulfikar, sementara Zulfikar hanya tersenyum miring sambil menatapnya penuh kehangatan.
"Ehh, Nay, kamu ga boleh gitu, biar gimanapun ya dia tuh suami kamu. Kamu harus taat dan patuh sama dia, eh apalagi ya dia tuh type cowok yang perfect sih menurut aku ya, udah ganteng, soleh, baik, penyayang, pinter, kaya
lagi duhh kalo aku yang jadi istrinya mah udah aku iket deh di kamar biar ga di gondol pelakor." Seperti biasa Nina bercerita seperti orang sedang orasi saja.
"Whatever."Mata Naysila mendelik malas, memang sih apa yang dikatakan Nina tidak semuanya salah tapi kalo Nina bilang Zulfikar kaya dia tidak setuju, "kaya dari mananya? Masih kayaan juga mantan aku, Aldo. Mobilnya Zulfikar aja ga ada apa-apanya di bandingkan koleksi mobil sport yang Aldo punya." Naysila terus menggerutu dalam hatinya membandingkan dua sosok laki-laki tersebut sampai tak sengaja dia melihat laki-laki yang ada di
pikirannya itu seperti terlihat jelas di depan matanya.
"Nay ayo buruan jalan! Lampunya udah ijo noh keburu merah lagi." Nina menarik tangan sahabatnya namun Naysila menahannya.
"Bentar Nin," Naysila menyipitkan matanya mencoba melihat dengan jelas laki-laki yang berada di dalam mobil menggunakan kacamata hitam, tak lama kaca mobil itu tertutup, "ah mungkin cuma perasaanku aja, lagian ga mungkin Aldo ada disini."
"Nay, liatin apaan sih?" Nina mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Naysila.
"Ah ngga ko, yaudah yu!"Naysila menarik tangan Nina segera sebelum lampu hijau itu benar-benarĀ berganti warna, sementara Nina yang bingung hanya pasrah begitu saja.
***
Naysila sudah duduk di meja kerjanya, sedikit lelah rasanya setelah sedikit berlari tadi karena takut terlambat absen.
"Hay, kenalin nama gue Cahyati, lu anak baru kan?" Seorang wanita dengan hijab ungu itu mengulurkan tangannya.
"Eh, iya mba, kenalin namaku Naysila." Naysila membalas uluran tangannya.
"Ga usah panggil gue mba, gue masih muda, panggil aja nama gue Cahya!"
"Oh iya mba .. eh Cahya." Naysila masih gugup rasa rasanya.
"Gue duduk disana," Cahya menunjuk meja kerja yang tak jauh dari tempat duduk Naysila. "Kaloada perlu apa-apa lu samperin gue aja!"
"Oh iya iya, thanks ya," ucap Naysila sambil tersenyum melihat kepergian Cahyati teman baru di kantornya "sepertinya dia lumayan ramah." Batinnya.
***
Bel istirahat sudah berbunyi dan sudah waktunya Zulfikar makan siang. "Aku solat duluan ya, Ndre. Tolong pesenin ayam bakar sama minuman biasa ya di kantin! ntar aku nyusul."
__ADS_1
"Siap, Bang bro." Andre menjawab.
Saat perjalanan menuju masjid Zulfikar sibuk mengecek hp nya, dia memeriksa beberapa pesan masuk dan sempat membalas beberapa pesan salah satunya dari Kak Aisyah.
Kak Aisyah : "Naysila ko ngga ada di kamarnya Zul? Kaka hubungi juga belum ada jawaban, dia ada bilang mau pergi kemana?"
Zulfikar : "Hari ini dia kerja Kak, maaf tadi pagi kami tidak sempat pamit dulu karena Naysila bilang buru-buru."
Kak Aisyah : "Kerja? Bukannya dia sedang sakit? Kenapa kamu mengizinkannya?"
Zulfikar : "Iya Zul minta maaf Kak , Zul sudah coba melarangnya tapi dia tetap keras kepala. Tapi Ka Ais jangan khawatir Zul sudah titip pesan pada Nina untuk segera menghubungi Zul jika terjadi apa-apa dengan Naysila."
Kak Aisyah : "Oh yaudah kalo gitu, kaka cuma khawatir aja."
Belum sempat Zulfikar membalas pesan Kakak iparnya tak sengaja Zul menabrak seorang wanita yang sedang membawa beberapa buku di tangannya.
Brukkkk
"Astaghfirullah, maafkan saya." Zulfikar segera memunguti buku-buku milik wanita itu yang berjatuhan, sementara pemiliknya hanya terdiam dan mematung tak percaya.
Zulfikar sudah selesai memunguti buku-buku itu kemudian berdiri untuk menyerahkannya kembali
namun dia terkejut ketika mendapati ekspresi wanita di depannya. "Halo, Mba, ini bukunya." Dia masih diam tak ada jawaban hingga Zulfikar bingung, oke sekali lagi "Mba ini bukunya."
"Ah iya, terimakasih." Wanita itu menunduk hormat dan di balas senyuman oleh Zulfikar.
"Saya minta maaf ya, saya tidak sengaja."
"I.. iya pak gpp ko, yang salah saya, tadi saya jalan buru-buru jadi nggak lihat kalau ada Padosgan lewat."
"Kamu mahasiswi teknik?." Tanya Zulfikar.
"Kok bapak tahu?" Wanita itu malah bertanya balik.
"Iya, soalnya cuma anak-anak teknik yang manggil saya dengan sebutan Padosgan."
"Oh iya pak saya lupa, kenalin nama saya Irmayanti. Saya mahasiswi teknik semester akhir, mungkin bapak enggak akan ingat siapa saya karena mahasiswi teknik tidaksedikit, tapi saya berharap setelah pertemuan ini bapak akan ingat saya terus." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya, namun Zulfikar hanya menekuk tangannya di depan dadanya pertanda jika dia tak terbiasa bersentuhan dengan bukan mahramnya, dan dengan berat hati Irma menurunkan kembali tangannya.
"Oh tentu saya akan ingat, kamu punya ciri khas gingsul dan saya akan lebih mudah mengingatnya." Jawab Zulfikar yang sontak saja membuat Irma berbunga-bunga.
Mendengar ucapan Zulfikar hati Irma jadi berbunga-bunga, dia tidak pernah bermimpi akan di pertemukan dengan hari sebahagia ini, biasanya dia hanya bisa menatap Zulfikar dari jauh sekarang dia bisa menatapnya dari jarak yang kurang dari 1meter saja.
__ADS_1
"Yasudah kalo gitu saya permisi dulu ya, saya ke masjid dulu."
"Oh iya baik pak, hati-hati pak." Irma tersipu malu saat Zulfikar membalas ucapannya dengan senyum yang mampu memikat hatinya.
"Thanks God." Batin Irma.
Sedangkan di tempat yang berbeda Naysila sedang menunggu kedatangan sahabatnya Nina yang sudah
janji makan siang dengannya, sudah 10 menit menunggu namun Nina tak kunjung datang sampai tak lama kemudian perutnya terasa perih "ah aku lupa minum obat lagi." Naysila segera meraih sekotak obat pribadinya
yang wajib dia bawa dan dengan segera dia meminumnya.
"Loh, Nay lu kenapa? Sakit?" Cahya diam-diam memperhatikan Naysila saat meminum obatnya.
"Gpp ko, cuma sedikit melilit aja."
"Oh syukur deh, oiya btw lu ga makan siang? Bareng gue yu ke cafe depan makanannya enak-enak loh."
"Yahhh Kapan-kapan deh, soalnya aku lagi nunggu temen, udah janjian duluan." Jawab Naysila dengan nada kecewanya.
"Its ok gpp, yaudah gue duluan ya."
Baru saja Cahya berjalanbeberapa langkah tiba-tiba ponsel Naysila berdering. "Halo Nin, yaudah
aku ke depan." Naysila segera menggandeng tas pink miliknya lalu bergegas menemui Nina yang sudah menunggu di luar.
Baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba perutnya melilit kembali sampai-sampai dia berjalan sempoyongan dan akhirnya menabrak seseorang.
"Ah shit, jalan pake mata donk!" Wanita dengan pakaian yang sangat seksi dan rambut di Curly itu mengumpat kesal saat beberapa berkasnya jatuh berserakan, sementara Naysila mematung tak percaya jika ada orang yang membentak dia sekeras itu.
"Nay, lu gpp?" Tanya Cahya yang melihat kejadian itu, dia segera membereskan berkas-berkas milik wanita berambut pirang tersebut. "Maafin dia ya mba! Ini berkas-berkasnya!"dengan kasar wanita itu menarik berkas dari tangan Cahya.
"Lain kali bilangin ya suruh pake matanya!" Dengan mengumpat wanita itu pergi meninggalkan Cahya dan Naysila yang masih terkejut tanpa bisa berkata-kata.
Sumpah rasanya Naysila ingin menjambak rambut wanita songong itu jika saja keadaannya sedang tidak dalam kondisi seperti sekarang ini.
"Thanks ya." Cicit Naysila.
"Iya, yaudah yu gue antar" Cahya segera merangkul tubuh Naysila.
Baru saja Naysila dan Cahya sampai deoan pintu utama suara Nina sudah menggelegar "Nay, lu kenapaaaa?" Teriak histeris Nina saat mendapati sahabatnya di rangkul orang lain.
__ADS_1
"Aku gpp, oiya Cahya kenalin ini sahabatku namanya Nina!" Naysila mengenalkan keduanya, "Nin, ini temen baru aku di ruangan, namanya Cahya." Kemudian keduanya saling berjabat tangan dan di lanjutkan ngobrol sambil makan siang bersama di cafe yang tak jauh dari tempat kerja mereka.