Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (017)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi hari. Seorang laki-laki baru saja masuk dan duduk di samping mertuanya.


"Sarapan dulu ya Pak," Zulfikar menyuapkan satu sendok bubur dengan sangat telaten.


"Insyaallah, hari ini seseorang akan datang untuk menjadi perawat Bapak," ucap Zulfikar, "jadi saya bisa lega ninggalin bapak sendiri di rumah."


Lukman yang merasa bahagia hanya mampu menarik lekukan kecil di bibirnya, "terimakasih Nak, aku tidak salah memilihmu sebagai menantuku." Gumam Lukman dalam hatinya.


Sementara di kamar lain seorang wanita masih tertidur pulas di kamarnya, setelah semalaman tidak bisa tidur karena masih trauma pasca kepergian ibunya. Naysila baru bisa tidur setelah shalat subuh rupanya.


Benar apa yang di katakan Zulfikar, tak lama perawat yang sudah di janjikan yayasan akhirnya datang juga. Zulfikar menyambut wanita dengan usia sekitar 35 tahun itu, namanya Marni. Begitu kata wanita itu saat memperkenalkan dirinya.


"Baiklah kalo begitu, Bi. Saya ada urusan di luar, saya titip Bapak ya!" Marni hanya mengangguk, tidak butuh waktu banyak bagi Zulfikar untuk menjelaskan tugas tugas yang harus di kerjakan Marni.


"Oh iya, Bi. Itu kamar yang di depan," Zulfikar menunjuk kamar Naysila "itu kamar istri saya. Dia masih tidur sepertinya. Nanti kalo sudah bangun, bilang saya sudah buatkan sarapan untuknya di bawah tutup saji itu dan bilang padanya saya ada urusan dan mungkin akan pulang besok malam."


Marni tertegun mendengar setiap inci kalimat yang keluar dari bibir Zulfikar. Laki-laki itu menunjukkan karisma yang sangat luar biasa bagi Marni.


"Masyallah, ko bibi jadi iri ya sama perlakuan Tuan sama Istrinya." Baru hari pertama Marni sudah di buat kagum oleh Zulfikar, pasalnya Zulfikar adalah sosok suami idaman di mata Marni.


"Bibi bisa aja, yaudah saya permisi ya, Bi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam wa rahmatullah."


Karena sudah terlanjur meminta Cuti, hari ini Zulfikar memutuskan untuk menemui keluarganya. Sudah hampir 3 tahun dia tidak pulang dan sepertinya ini momen yang pas untuk berkunjung. Sekalian dia memberitahu keluarganya tentang pernikahannya dengan Naysila. Sebenarnya ini cukup berat bagi Zulfikar, tapi bagaimanapun juga Zulfikar harus memberitahukan keluarganya.


Memang, selama satu minggu lebih pernikahannya dengan Naysila hanya paman dan bibinya yang mengetahui perihal itu, karena semenjak SMP Zulfikar memang tinggal dengan Paman dan bibinya sebelum akhirnya memilih tinggal di kotsan ketika sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari hasil menjadi guru privat di beberapa tempat. Zulfikar memang siswa cerdas. Tak begitu susah baginya untuk menghasilkan uang.

__ADS_1


Seharusnya Zulfikar membawa Naysila untuk dikenalkan pada keluarganya, tapi melihat sikap dan perilaku Naysila, Zulfikar sepertinya harus menunda mempertemukannya dengan keluarganya sampai gadis itu benar-benar bisa diajak kerjasama dan mau menghargai keberadaannya.


Zulfikar sudah berada di bandara, dia memilih pesawat agar tidak terjebak macet dan bisa segera pulang kembali, mengingat dia hanya mengambil cuti 2 hari, jadi akan melelahkan baginya jika perjalanan di tempuh dengan jalur darat.


"Silahkan, Pak!" Seorang pramugari memberikan jamuan makanan pada Zulfikar. Zukfikar hanya membalasnya dengan senyuman, tak berniat menyentuh makanan itu. Entah kenapa perasaannya sejak tadi tidak enak hati. Memikirkan sekelumit permasalahan yang terjadi, antara dirinya dengan kehidupannya.


***


Andre, sahabat karib Zukfikar, terpaksa menunda keberangkatannya ke kampus setelah mendapat tamu tak di undang. Tamu yang seharusnya tak berkunjung ke kamarnya. Entah dia 'tak ingin mengungkit ini hari apa, namun dia merasa sangat sial setelah tadi pagi sikat giginya nyemplung ke dalam kloset dan dia tidak punya ganti yang baru. Lalu sekarang dia di hadapkan dengan masalah besar di hadapannya.


"Apa yang harus gue lakuin?" batin Andre seraya menggigit bibir bawahnya. Dia tak tahu lagi harus berkata apa pada tamunya itu.


Pembicaraan antara keduanya awalnya berjalan tenang, namun semakin lama Farhan tak bisa mengontrol emosinya.


"Seharusnya, kalo emang dari awal dia mikirin perasaan gue dan nganggep gue temen. Dia 'gak bakalan nerima gitu aja permintaan orang tuanya Naysila, Andre," tukas Farhan, "udah jelas dia tuh bukan teman yang baik, dia temen yang wajahnya bak malaikat tapi hatinya bangs_t." Farhan murka di kosan Andre setelah mendengar cerita dari Nina tentang pernikahan Zulfikar dengan Naysila, wanita yang sangat di cintanya.


Awalnya Farhan mengira jika Zulfikar masih tinggal di tempat itu, tapi ternyata semenjak menikah Zulfikar sudah tidak tinggal di kotsan itu lagi, alhasil Andre lah yang menjadi sasaran empuk Farhan atas kekecewaannya.


"Halaaah ... terus apa namanya? Dia udah tau sejak awal gua ngejar-ngejar tuh cewek, ehhh dia seenak jidat nikung gue di belakang, sakit ga lu kalo jadi gue, HAH?" Farhan menepuk-nepuk dadanya di depan Andre, sementara Andre hanya diam dan menunduk, dia paham betul bagaimana keadaan Farhan saat ini, tidak ada gunanya baginya jika harus membalas ucapan Andre.


"Lebih baik gue ngeliat Naysila hidup bahagia sama orang yang nggak gue kenal, Ndre. Dibanding gue harus ngeliat orang yang benar-benar gue sayang yang gue cinta hidup bahagia bersama sahabat yang udah gue anggap kaya sodara sendiri," lanjut Farhan. Dia tak kuasa menahan air matanya, lantas ia menyekanya.


"Han, lu tenang dulu!" Andre sudah kehabisan kata-kata menghadapi emosi sahabatnya.


"Diem lu, Ndre. Lu juga sama bangs_tnya kaya Zulfikar. Gue 'gak nyangka sumpah. Gue 'gak nyangka kalian setega ini sama gue. Gue kira kalian sahabat sejati gue ternyata gue salah." Farhan menatap penuh kekecewaan wajah Andre, sementara Andre tidak berani menatap balik dia hanya menunduk.


"Gue masih inget saat pertama kali, lu sama Zulfikar ngajak gue ngobrol dan main bareng. Saat 'gak ada satu orangpun di kelas yang mau deket sama gue karena gue miskin." Farhan mengulang memori masa lalu mereka, "asal lu tau, Ndre. Dunia gue yang awalnya kelam berubah jadi pelangi semenjak kehadiran lu berdua," Farhan tertawa sinis, "tapi sayangnya pelangi itu sekarang lenyap karena badai yang kalian buat terlalu kuat, dan gue gak bisa mempertahankan pelangi itu tetap bersinar di tengah badai, gue nggak sehebat itu."

__ADS_1


"Han, lu salah paham, lu dengerin gue dulu!" Andre kembali mencoba menjelaskan tapi nihil. Farhan sudah tersulut emosi, dia tidak memberikan sedikitpun kesempatan untuk Andre berbicara.


"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, Ndre. Gue paham ko. Gue sadar diri siapa gue. Gue cuma anak orang miskin yang ga bakal bisa setara sama kalian sampe kapanpun." Suara Farhan meninggi, "mungkin udah nasib suratan gue hidup kaya gini, di kecewakan sama orang-orang yang gue sayang." Farhan lagi-lagi menyeka air matanya, "thanks, Ndre. Thanks buat semua yang udah kalian lukis di hati gue. Gue 'gak bakal pernah lupa. Gue gak bakal lupain semua kenangan manis bareng kalian, dan gue juga ga bakal lupain penghiantan kalian ini."


Farhan membalikan badan dan segera meninggalkan Andre dengan rasa kekecewaan di hatinya.


"Bangs_t" farhan menendang pintu kotsan Zulfikar yang berada tepat di depan kamar andre. Seorang wanita yang melintas di sampingnya memperhatikan Farhan penuh makna. Farhan balas menatapnya. Mungkin wanita itu terkejut mendapati tingkah Farhan yang tiba-tiba menendang pintu kamar bekas Zulfikar.


***


Zulfikar menarik nafas dalam-dalam mendengarkan perkataan Andre lewat telepon. Setelah Farhan pergi, Andre memang langsung menghubungi Zukfikar.


"Yaudah, biarin aja dulu, Ndre. Dia memang berhak marah kok, Aku ngerti dia pasti kecewa banget. Nanti kalo waktunya udah tepat, aku yang bakal ngomong langsung sama Farhan. Thanks ya bro. Maaf udah bikin kamu jadi kena imbasnya."


"Maaf, Pak. Kita udah sampai." Suara supir taksi online membuyarkan obrolan keduanya lewat telepon.


"Eh sori ya, Ndre. Aku gue tutup dulu teleponnya." Zulfikar merapikan seikat bunga yang sengaja dia beli sebelumnya untuk seorang wanita yang sangat-sangat istimewa, wanita yang sangat di rindukannya dan selalu muncul dalam mimpinya beberapa hari ini. Tak sabar rasanya ia segera memberikannya.


"Yaudah assalamu'alaikum,"


Sambungan telepon terputus tepat saat mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. "Makasih banyak ya, Pak." ucapnya sopan setelah memberikan uang tips pada sang sopir.


Zulfikar sudah berada di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah. Dia menatap kiri dan kanan. Suasanya masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah, hanya saja rumput-rumputnya kini terlihat lebih kering mungkin karena kemarau panjang sepertinya.


Perlahan Zukfikar melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan. Bayangan kelam itu kembali menyelimuti dirinya, rasa bersalah itu kembali hadir seolah tak ingin dilupakan begitu saja.


Andai saja waktu bisa kurayu,

__ADS_1


Mungkin rasa sesal takkan sedalam ini menancap di relung hatiku :(


Zulfikar Wiratama


__ADS_2