
Malam ini adalah malam terakhir untuk mempersiapkan acara Ta'lim hari ahad besok. Semua remaja masjid sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang sedang merapikan kursi, membersihkan lantai, menghitung uang dan lain sebagainya.
Zulfikar sebagai ketua penyelenggara yang sedang sibuk memberikan arahan, melihat seorang laki-laki paruh baya menggotong banner untuk hiasan panggungnya.
"Pak lukman, biar saya saja yang pasang banner nya." Zulfikar meraih banner di tangannya namun langsung di tepis oleh si empunya.
"Gpp Nak, biar Bapak saja! ini mah gampang." Pak Lukman mengibas-ngibas tangannya.
Tak lama Zulfikar melihat Andre dan Farhan sedang menggotong karpet musholla sambil cengengesan
"Gue denger dari Tika, si Naysila lagi cuti loh seminggu ini." Ucap Andre.
"Ehh serius lu Ndre? Itu artinya besok dia bakal dateng dong ke acara kita?" Farhan terkejut bahagia bukan main, pasalnya dia sudah lama menaruh hati pada gadis bernama Naysila itu, namun cintanya selalu bertepuk sebelah tangan karena Naysila menganggap Farhan tidak lebih dari seorang teman.
"Kemungkinannya sih ya sekitar 80% lah." Cengir Andre.
"Wahh gue mesti gerak cepat nih." Farhan semakin semangat.
"Ndre, Han, abis gotong karpet tolong bantuin Pak Lukman pasang banner ya!" Teriak Zulfikar yang membuyarkan obrolan keduanya.
"Siapp pak bro." Jawab Andre dan Farhan kompak sambil mengangkat sebelah tangan posisi hormat.
Zulfikar tertawa kecil lalu beralih pada Bapak-bapak yang berusia sekitar 50 tahun di sampingnya. "Yaudah saya tinggal keluar dulu ya Pak, saya mau ketemu sama Pak Ustadz dulu."
"Ah baik Nak, silahkan."
Zulfikar memberikan senyum sambil menunduk memberikan hormatnya pada laki-laki yang sering ikut pengajian anak muda itu. Meskipun usianya sudah setengah abad tapi laki-laki itu sangat semangat mengikuti pengajian bukan hanya dengan orang tua seusianya tapi beliau juga tak segan mengikuti acara-acara yang di selenggarakan kaum muda mudi di tempatnya.
***
"Aisyah, apa kamu lihat Bapakmu? Ko dia belum pulang ya?" Hamidah berulang kali melirik jam di dinding berharap suaminya segera datang. Namun semakin malam, Lukman sang suami tak kunjung datang. Hamidah khawatir padannya.
"Ais, belum liat dari magrib, Bu. Mungkin bapak lagi di majlis, besok kan ada acara disana." Jawab Aisyah sambil menuangkan cairan pencuci piring pada spon.
"Oh iya ya, Ibu lupa. Tapi ini udah terlalu malam, Bapakmu kan sering sakit."
"Mungkin sebentar lagi pulang, Bu." Sahut Aisyah lalu melanjutkan aktifitas mencuci piringnya.
Naysila tiba-tiba muncul dari kamar dan mengambil minuman kaleng di dalam kulkas, "Yaudah si Bu, biarin aja Bapak! biar dia ada gunanya juga hidup di dunia." Naysila menenggak tandas minuman di tangannya.
__ADS_1
"Astagfirullah Naysila, jaga ucapan mu!" Aisyah yang mendengar adiknya berkomentar pedas langsung menghentikan kegiatannya dan beralih memegang pundak Ibunya berusaha menenangkan.
"Emang bener kok adanya." Sahut Naysila.
"Tapi kamu tidak berhak berbicara seperti itu dihadapan Ibu."
Naysila tidak menjawab ucapan Aisyah dan memilih pergi meninggalkan keduanya dalam posisi Ibunya yang berusaha menahan Aisyah untuk tidak membalas ucapan Naysila lagi.
"Sudah, Nak! sudah, biarkan saja! Ibu tidak apa-apa." Hamidah menahan tangan Aisyah.
"Tapi dia udah keterlaluan Bu." Aisyah geram dengan tingkah adiknya yang sama sekali tidak ada perubahan. Dia selalu saja bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain. Benar-benar tidak dewasa, pikir Aisyah.
"Sudah, tidak apa-apa." Cicit hamidah pelan sambil menepuk punggung tangan Aisyah.
"Ah, Ibu juga sih terlalu memanjakan dia. Jadinya begitu kan? semena-mena." Kesal Aisyah. Ibu dan Ayahnya itu memang terlalu memanjakan sang adik bungsu. Hingga pada akhirnya Naysila tumbuh menjadi anak pembangkang.
Baru saja Aisyah berniat melepaskan tangannya dari pundak Ibunya tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sepertinya terdengar panik.
Tok..tok..tok
"Assalamualaikum."
Tok.. Tok.. Tok
"Bu Hamidah, Assalamualaikum." Ucapnya lagi.
Aisyah saling bertatapan dengan Ibunya, "Wa'alaikum salam." Jawab keduanya serentak.
Hamidah melangkahkan kakinya, hendak membuka pintu. Namum Aisyah dengan sigapnya langsung mendahului.
"Biar Ais yang buka Bu!" Hamidah mengangguk, Kemudian Hamidah mengikuti langkah Aisyah dan berhenti di ruang tamu, dia duduk di kursi sambil menunggu Aisyah dan tamunya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara wanita berteriak yang tak lain dan tak bukan adalah suara Aisyah.
"Astagfirullah Al'adzim, BAPAK." Pekik Aisyah, "Bu, Ibu, Bapak Bu!" Hamidah langsung berdiri dan mengejar sumber suara itu . Setelah sampai di depan pintu, dia shock bukan main saat melihat keadaan suaminya yang tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir di kepalanya.
"Innalillahi Bapak," Tubuh Hamidah mendadak lemas, "langsung bawa masuk saja Nak, cepat!" perintah Hamidah pada Zulfikar dan kawan-kawannya. "Aisyah, kamu segera hubungi Dokter!"
"Baik Bu." Aisyah langsung mengeluarkan ponsel di kantong bajunya dan mengetik beberapa digit nomor. Sementara Hamidah sudah sangat panik melihat keadaan suaminya yang tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bawa masuk ke sini!" Perintah Hamidah yang diikuti anggukan oleh beberapa remaja itu. Mereka lekas membaringkan tubuh Lukman di atas kasur.
"Apa yang terjadi pada suami saya, Nak Andre?" Tanya Hamidah sambil mengelus-elus rambut Lukman.
"Anu bu, Anu." Ucap Andre terbata-bata. Andre rupanya tak kalah shock saat melihat Lukman bersimbah darah tergeletak dilantai lantai.
"Pak Lukman tadi jatuh sewaktu memasang banner di majlis bu." Jelas Zulfikar yang mengambil alih jawaban.
"Astagfirullah Bapak." Hamidah semakin histeris mendengar jawaban dari Zulfikar.
"Kenapa kalian membiarkan Bapak saya melakukannya?" Aisyah yang datang langsung memberikan pertanyaan itu.
"Zulfikar sudah melarangnya tapi, Pak Lukman_"
Belum sempat Andre melanjutkan ucapannya tiba-tiba Lukman sadar.
"Nay, Naysila. Maafkan Bapak Nak!"
Lukman menyebut-nyebut nama anak bungsunya berkali-kali sambil menggelengkan kepalanya yang berlumuran darah. Hamidah sesekali membersihkannya dengan handuk basah.
"Pak, sadar, Pak. Jangan bikin Ibu panik!" Ucap Hamidah penuh kekhawatiran. Air matanya terus menetes tak bisa ia tahan lagi.
"Nay, Naysila."
Setelah dua kali menyebut nama anak bungsunya itu, Lukman kembali kehilangan kesadarannya dan membuat semua semakin khawatir di buatnya.
"Ya, Allah, Bapak." Hamidah kembali histeris.
"Bu, " Aisyah memandangi Hamidah sementara Hamidah hanya mengangguk lalu Aisyah pergi meninggalkan kamar tersebut.
Tak lama kemudian Dokter dengan perawatnya datang dan langsung menangani keadaan Lukman.
"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lindungilah suami hamba ya Allah!" Pinta Hamidah dalam do'anya. Hamidah tak henti-hentinya mengucap do'a berharap agar hasil pemeriksaan Dokter sesuai dengan harapannya.
Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Maka datanglah kepadanya, memohon agar semua bisa kita lalui dengan sabar hati.
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu". (QS. Al-Mukmin :60
__ADS_1