Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (015)


__ADS_3

Aisyah yang tidur di samping kasur Lukman tersadar dari tidurnya. Dia menatap jam di tangannya sambil mengucek-ucek matanya.


"Eh, udah jam 8 malam," ucapnya. Sudah lebih dari satu jam dia tidur setelah solat magrib. Aisyah yang sedikit kelelahan setelah acara seminar di salah satu kampus tak kuasa menahan kantuknya, sementara kedua anaknya di momong Zulfikar untuk menonton film kartun di laptopnya.


Aisyah berjalan menuju ruang keluarga, karena mendengar keseruan kedua anaknya yang sedang asyik menonton film kartun bersama adik iparnya.


"Naysila belum pulang juga Zul?" Tanya Aisyah.


Zulfikar menggelengkan kepalanya.


"Keterlaluan." Aisyah mengeram lalu sedetik kemudian ia meraih ponselnya untuk menghubungi adiknya itu. Namun sayang, rupanya nomor yang di tuju tidak bisa dihubungi.


***


"Thanks ya, buat hari ini. Duh, aku ga tau deh kalo ngga ada kalian." Ucap Nina seraya memelul kedua sahabatnya bergantian.


"Sama-sama Nin," sahut Naysila, "besok-besok kalo makan hati-hati ya! ... jangan sampe kejadian hari ini terulang lagi. Untung aja lagi sama kita-kita, coba deh kalo kamu sendiri," cerocos Naysila menasehati Nina yang baru saja masuk rumah sakit gara-gara terlalu semangat makan bakso isi cabe rawit sampe muntah-muntah dan akhirnya pingsan.


Sebenarnya Nina dari dulu memang sudah tergila-gila dengan yang namanya pedas, segala macam makanan pedas sudah dia coba namun tidak pernah berdampak sampai separah ini.


Tak sengaja, Naysila melihat jam di tangannya.


Sudah jam 20.15. Astaga ... sudah berapa lama aku pergi?


"Nur, Nin, kayaknya aku balik duluan deh. Soalnya udah malem." Ucap Naysila seraya memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Yaudah gpp Nay! Lagian bentar lagi bapak sama ibuku, dateng ko. Thanks banget ya udah nemenin." Ucap Nina.


"Iya ... Yaelah kaya sama siapa aja?" Naysila menarik kerudung Nina yang sudah tidak se rapih biasanya.


"Ish berantakan tau." Nina mendengus kesal.


"Nur, mau balik bareng apa masih mau nemenin Nina disini?" Tanya Naysila pada Nurul.


"Aku nunggu orang tua Nina dulu deh nanti baru pulang." jawab Nurul di ikuti dengan senyuman manis yang bisa membuat laki-laki kikuk.


"Yaudah, kalo gitu aku balik ya Nin, cepet sembuh sayang! assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam warahmatullah." Jawab Nurul dan Nina serempak.


Nina dan Nurul menatap kepergian Naysila dibalik punggungnya.


"Gak nyangka banget ya, Zulfikar yang dulunya naksir sama kamu, eh nikahnya ternyata sama temen kita sendiri." Nina bersuara dan berhasil membuat hati Nurul terenyuh, "ya, walaupun pernikahan mereka karena amanah dari orangtuanya Naysila ... jodoh emang rahasia ilahi banget ya, Nur?"


Merasa tak ada respon dari sahabatnya itu, pandangan Nina beralih pada Nurul. Dan yang di ajak bicara masih terus memandangi pintu meski sudah di tutup rapat-rapat oleh Naysila.


"Nur, Nurul!" Nina mengibas-ngibas tangan di depan wajah Nurul.

__ADS_1


"Ehhh i_iya kenapa, Nin?" sahut Nurul terbata-bata. Rupanya Nurul masih terbayangkan kejadian seminggu lalu, saat Zulfikar resmi memperistri Naysila.


"Nur, jangan bilang kalau kamu masih menyimpan hati pada Zulfikar?" tanya Nina penuh penekanan. Dia melihat ada sirat kegelisahan di wajah Nurul.


"Astaghfirullah Nina, kuburan suamiku masih merah kamu udah ngebahas masalah itu." Nurul mencoba menghilangkan gugupnya dengan memperbaiki selimut Nina yang hampir turun sebagian, "lagian nih ya, dulu itu kan kita cuma cinta monyet, apa sih berkesannya." lanjut Nurul.


"Ya, kali-kali aja kan." mata Nina mendelik.


"Kali apa? Kalideres apa kalijodo?" sahut Nurul, "eh tapi ngomong-ngomong, jangan sampe Naysila tau ya masalalu aku sama Zulfikar!"


"Loh .. kenapa? Kan kamu bilang cuma cinta monyet?"


"Bukan gitu, ya aku cuma ga enak aja sama Naysila, takutnya dia mikir yang enggak-enggak lagi tentang kami."


Nina hanya manggut-manggut sambil ber oh ria, "ohhh gitu, oke deh." sahutnya diikuti dengan senyumnya.


***


Naysila yang baru saja membuka knop pintu terkejut melihat kakaknya yang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang sedikit menyeramkan dari biasanya.


"Ehh ada ka ais, udah dari tadi ka?" Naysila mencium tangan kakaknya, sementara Aisyah masih menatap wajah adiknya penuh dengan kekecewaan. Bagaimana Aisyah tidak kecewa adiknya itu telah meninggalkan Bapaknya seorang diri dengan kondisi yang memprihatinkan. Selain itu Naysila juga sudah melupakan hak dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Bukan masalah bagi Zulfikar jika dia harus merawat dirinya sendiri, tapi bagi Aisyah adiknya itu telah melanggar norma sebagai seorang istri.


"Darimana saja kamu?" tanya Aisyah datar, sementara Naysila menurunkan beberapa kantong belanjanya, setelah makan dari cafe tadi Naysila dan teman temannya tadi sempat mampir ke mall terlebih dulu.


"Oh, ini Kak, tadi aku abis ketemuan sama Nurul sama Nina juga." Naysila mulai curiga dengan tatapan Aisyah yang masih belum juga turun dari wajahnya.


Zulfikar yang hendak mengambil air putih di kulkas tak sengaja mendengar obrolan keduanya, dia hanya menarik nafas panjang lalu kembali masuk kamar Lukman, dia rasa belum saatnya dia ikut campur masalah ini, biarkan dua kakak beradik itu menyelesaikan masalah mereka.


Aisyah dan Naysila kini sudah berada di kamar Naysila, tanpa basa basi lagi aisyah langsung mengeluarkan segala unek-unek dan pertanyaan yang ingin dilontarkan pada adiknya itu.


"Apa yang kamu lakukan sampai pulang selarut ini?" tanya Aisyah yang mulai menginterogasi.


"Aku cuma makan terus belanja, udah ko itu aja ka. Cuma tadi Nina pingsan pas di mall, makanya aku sama Nurul nganterin dia ke rumah sakit dulu."


"Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan hari ini adalah kesalahan besar?"


"Maksud Kakak?"


"Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Bapak hari ini?"


Naysila menggeleng lalu memperhatikannya Aisyah yang bangun dari kasur lalu berjalan perlahan ke arah jendela.


"Zulfikar bilang saat dia pulang Bapak udah jatuh tersungkur di lantai dan tak sadarkan diri," jelas Aisyah, "kakak ga nyangka kamu setega ini sama bapak."


Mata Naysila membulat, meskipun dia sangat membenci ayahnya, tapi di lubuk hatinya dia masih menyimpan iba. "Tapi Nay gak bermaksud pergi lama ko tadi. Lagian, Nay ga tahu kalo kejadiannya bakal kaya gini ka."


Aisyah sama sekali tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari adiknya yang sudah membuatnya marah hari ini.

__ADS_1


"Oh iya satu lagi, Kakak mau nanya sama kamu." Aisyah kini sudah membalikkan badannya "apa benar kalian tidur di kamar terpisah?"


Teg


Naysila terkejut mendengar pertanyaan dari kakaknya. Apa yang akan dia jelaskan?


Kenapa juga laki-laki itu harus mengadukan ini pada Kak Ais?


Sungguh kekanak-kanakan.


"Aku ... aku belum bisa menerima kehadirannya, Kak." cicit Naysila pelan sambil menunduk.


"Apa? Belum?" tanya Aisyah dengan ekspresi penuh penekanan. "Naysila! ketika akad di ucapkan, itu artinya kamu secara tidak langsung sudah menerima dia dengan segala kekurangannya," tegas Aisyah dengan nada yang semakin tinggi "dan ingat! terlebih lagi kamu yang sudah memintanya untuk menikahimu. Jangan lupakan itu!" tambah Aisyah.


Aisyah benar, meskipun mereka menikah karena amanah orang tua Naysila, tapi Naysila terlebih dulu yang meminta Zulfikar untuk menikahinya waktu itu.


Tapi itu karena terpaksa, batin Naysila terus bergejolak, kalo bukan karena ibunya dia tidak akan meminta Zulfikar untuk menikahinya.


"Mulai malam ini, Zul akan tidur di kamar kamu. Dan lakukan tugas dan tanggung jawab kamu sebagai istri! Kalo kamu masih melanggar itu artinya kamu telah melalaikan amanah dan membuat ibu menangis disana."


"Tapi, Kak?"


Aisyah benar-benar tidak menerima penjelasan dan penolakan dari adiknya itu, dia langsung keluar dan mengambil anaknya yang masih seru menonton di kamar Zulfikar.


"Loh, Kakak mau pulang?" Tanya Zulfikar heran ketika Aisyah memaksa pulang Rizky dan Febi yang tidak mau di beranjak dari film kartun di laptopnya.


"Iya Zul, Kaka pulang dulu ya! Soalnya besok Kakak harus ngisi seminar di SMA. Jadi ada beberapa berkas yang perlu kaka siapkan." Aisyah mulai menggendong Feby dan menarik lengan Rizky yang masih merengut karena tontonan film kartunnya harus berakhir.


"Mau, Zul antar?" tawar Zulfikar.


"Tidak usah, Kakak udah pesan taksi kok."


"Oh yaudah hati-hati ya ka!"


"Iya ... Kakak pamit dulu ya! titip Bapak," ucapan Aisyah terhenti, wajahnya berubah muram, "Naysila juga ya Zul, Kakak titip dia. Dia masih sangat butuh bimbingan kamu." pinta Aisyah.


Zulfikar mengangguk, "insyaallah Kak, semampu Zul."


"Yaudah, Kaka pamit, assalamualaikum." Aisyah pamit meninggalkan rumah orang tuanya dan diantar Zulfikar sampai pintu depan.


Aisyah dan kedua anaknya sudah naik ke taksi online yang di pesannya. Feby dan Rizky melambai-lambaikan tangan pada Zulfikar. Taksi sudah melaju jauh sampai tak terlihat lagi, Zulfikaf menutup pintu lalu menguncinya.


Saat Zulfikar hendak masuk kamar, samar-samar zul mendengar isak tangis yang berasal dari kamar Naysila.


Apakah dia menangis?


Apakah dia menangis setelah Kak Aisyah menegurnya?

__ADS_1


Apakah aku harus menemuinya?


__ADS_2