Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (006)


__ADS_3

Malam ini menjadi malam terakhir Naysila menikmati masa liburan yang menurutnya tidak menyenangkan sama sekali, pasalnya Hanifah yang biasanya menjadi teman bermainnya kini sibuk mengurusi persiapan pesta pernikahannya. Wajar saja, Agus yang notabene-nya seorang pekerja di luar kota, tidak sempat mengurusi banyak hal untuk pernikahannya itu, sehingga Hanifah lah yang harus ekstra untuk semua kebutuhan mereka.


Saat Naysila memasukan baju ke dalam koper, ibunya, Hamidah masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu yakin akan tetap pergi, Nak?" Hamidah duduk di samping Naysila. Menatap nanar wajah putrinya.


"Iya Bu," sahut Naysila sopan.


"Apa tidak sebaiknya kamu berhenti kerja saja!"


Naysila menghentikan aktifitasnya sesaat lalu melanjutkannya kembali. "Nay sudah bilang Bu, Nay gak akan berhenti kerja sebelum mimpi Nay terwujud."


"Ibu paham, tapi apa kamu ga kasian sama Bapakmu? ... Mau sampe kapan kamu membencinya? Maafkan Bapakmu Nay!" ucap Hamidah penuh harap.


"Tidak semudah itu, Bu. Kalau saja aku bisa melakukannya sejak dulu, mungkin aku sudah melakukannya." Naysila menutup koper yang sudah penuh, lalu menyenderkannya di samping tempat tidur.


"Apa yang membuatmu begitu berat memaafkan kesalahan Bapakmu?"


Naysila diam kembali.


"Bisa kita bicara 4 mata? ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan." Ujar Hamidah.


Naysila menatap raut wajah wanita yang kulitnya mulai menunjukkan keriputnya.


"Baiklah"


***


Naysila pov


Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat menyayangi Bapak. Biar bagaimanapun, dia adalah sosok yang sudah membuat aku ada di dunia ini. Namun semenjak banyak perbedaan diantara kami, aku mendadak tidak begitu peduli lagi padanya. Apalagi semenjak kejadian waktu itu, aku sangat dan sangat membencinya, entah mengapa namun bagiku Bapak adalah orang tua terburuk di dunia yang pernah ada.

__ADS_1


8 tahun lalu


"Pokoknya Bapak tidak mengizinkan kamu kuliah di jakarta apapun alasannya!" Bentak Bapak.


"Tapi Pak, aku mau mengejar cita-citaku disana, lagipula kan disana ada Paman sama Bibi." Sahutku tak mau kalah.


"Tidak ada cita-cita, pokoknya Bapak tidak setuju."


"Bapak tidak punya alasan untuk melarangku pergi." Balasku dengan nada tak mau kalah tinggi.


"Oh, siapa bilang? alasan terbesar Bapak adalah karena kamu anak Bapak, kalo bukan anak Bapak, terserah! kamu mau pergi ke ujung dunia sekalipun, terserah!"


"Kalo Bapak memang Bapakku, seharusnya bapak mendukung aku untuk mengejar cita-citaku."


"Cita-cita itu banyak, bukan jadi designer saja. Lihat kakakmu, Aisyah. Dia nurut apa kata Bapak sama Ibu, sekarang dia sukses jadi motivator. Menikah dengan seorang PNS. Hidupnya tentram, damai. Apalagi yang kau inginkan?"


"Terserah," ucapku tak mau mengalah, "pokoknya apapun alasannya, aku akan tetap kuliah di kota dan ataupun tanpa persetujuan dari bapak."


Gubrakk


Suara pintu rumah yang di tutup paksa oleh bapakku terdengar sangat keras, dia pergi meninggalkan rumah entah kemana setelah terjadi perdebatan hebat denganku. Sementara aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan ibu ku


"Bu." aku meminta pembelaan padanya.


"Ikuti saja apa kata bapak mu, Nak!"


Aku menggeleng lalu pergi ke kamarku , ibu sama saja dengan Bapak, pikirku. Tak ada satupun yang mendukungku. Tapi tekadku sudah bulat, aku akan pergi ke kota besok pagi dengan uang tabungan yang selama ini ku persiapkan. Disana aku bisa tinggal dengan Paman dan Bibiku, setidaknya aku bisa tidur dan makan gratis untuk sementara waktu, tinggal mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kuliah ku sendiri.


4 tahun kemudian berlalu, aku lulus dengan nilai yang lumayan tinggi dengan IPK 3,6. Lumayan tinggi diantara yang lainnya.


Yang menyakitkan pada saat wisuda aku hanya di dampingi Ibu, ka Ais dan suaminya, sedangkan bapak entah dimana? Dia hanya bilang pada ibu ada urusan. Jahat sekali bukan?? Oke Lupakan.

__ADS_1


Ijazah S.Ds yang ku punya akhirnya meloloskan ku dengan mudah di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang fashion di jakarta.


Benar saja selama kuliah bapak tidak memberiku uang sepeserpun, tapi untungnya Paman dan Bibiku sangat baik sekali, aku di pekerjakan di salah satu toko baju milik temannya dan gajinya pun sangat lumayan besar malah lebih besar dari UMR jakarta saat itu. Sehingga aku bisa membiayai kuliahku dengan lancar tanpa hambatan.


Selain dari gajiku saat itu, pacarku juga membantu biaya kuliahku. Pacar tampan yang nyaris sempurna di kalangan wanita.


Namanya Adrial Refaldo, atau yang akrab dipanggil Aldo. Dia kakak kelasku di kampus, seorang ketua BEM yang berparas tampan dan menawan. Yang selalu jadi pusat perhatian para mahasiswi ketika tak sengaja berpapasan. Keluarganya juga terbilang kaya raya, sehingga dia tidak akan miskin jika hanya membiayai kuliahku atau membelikanku sebuah mobil toyota camry.


Saat itu hidupku terbilang sangat mewah karena apapun yang ku mau, Aldo selalu membelikannya. Keluarga Aldo juga sangat baik kepadaku sampai-sampai aku merasa jadi wanita paling beruntung memiliki Aldo.


Sampai suatu hari, semua itu berakhir saat aku mengenalkan Aldo pada keluargaku.


Bapakku kembali berulah. Dia menolak mentah-mentah kehadiran Aldo. Jangankan untuk merestui hubungan kami, Aldo bahkan di usir saat belum sempat menghabiskan makan malamnya.


"Jangan pernah berhubungan dengan anak saya lagi! Karena saya tidak akan merestui hubungan kalian sampai kapanpun, silahkan pergi dari rumah saya!" Pekik Bapak.


Siapa yang tidak sakit hati dengan perlakuan orang tua seperti Bapakku?


Semenjak kejadian itu Aldo hilang kontak, nomornya sudah tidak bisa di hubungi dan apartemen yang ditempatinya sudah kosong. Bahkan lebih parahnya lagi Aldo menarik semua fasilitas yang dia berikan seperti mobil dan apartemen yang saat itu ku tinggali.


Hidupku kembali normal, tak ada kemewahan dan kembali bekerja sebagai penjaga toko baju, juga kembali tinggal di rumah kontrakan bersama Paman dan Bibiku.


Dan orang yang menyebabkan itu semua adalah Bapak ku.


Iya, dia adalah Lukman Permana. Laki-laki yang pernah ku pergoki bertemu dan berpelukan dengan wanita selain ibu ku beberapa tahun lalu, dan untuk masalah itu hanya aku yang tahu. Cukup aku yang mengetahui kebejatan Bapakku, aku tidak mau Ibu dan Kak Aisyah terluka, cukup aku.


Bagi yang tidak tahu sifat asli Bapakku, mungkin akan menganggap dia adalah manusia yang sangat menjunjung tinggi Budi pekerti, sopan santun dan juga selalu peduli terhadap sesama. Sedangkan bagiku, dia tidak lebih dari sebuah mesin penghancur. Yang setiap saat tugasnya hanyalah menghancurkan dan memusnahkan semua harapan dan mimpi-mimpi ku.


Jika kalian ingin tahu alasan seberapa besar kebencian ku padanya itulah alasanku


Naysila Putri

__ADS_1


__ADS_2