
Jam menunjukkan pukul 07.30 terdengar langkah kaki Naysila menujur dapur.
"Udah bangun, Neng," Sapa Bi Marni yang sedang mencuci piring di wastafel.
"Iya, Bi," jawab Naysila singkat lalu meneguk segelas air putih, bukan sudah bangun lebih tepatnya Naysila terjaga semalaman sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya yang menyeramkan pikirnya.
Selepas shalat subuh pagi ini tak terdengar lantunan Ayat suci Al-Qur'an yang merdu dari kamar sebelah.
"Kemana dia pergi sebenarnya?" Batin Naysila. Seperti biasa, dia tidak bisa tidur semalaman suntuk karena traumanya yang masih membekas, tak bisa dibohongi Naysila bisa tidur nyenyak jika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang tak lain dan tak bukan berasal dari kamar suaminya, Zulfikar.
"Masyaallah itu mata udh kaya kantong kangguru, Neng,"
"Masa sih Bi?" Naysila segera meraih ponsel di sakunya dan menatap wajahnya dengan layarnya. Ah iya, benar kata Bi Marni. Mata pandanya sangat jelas terlihat setelah beberapa hari ini kurang tidur dan semalam benar-benar tidak bisa tidur.
Naysila membuka tutup saji, namun tidak ada masakan yang tersedia. Akh jujur saja dia menginginkan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Maaf ya, Neng, Bibi belum sempet buatin sarapan buat Neng, soalnya Bibi kira Neng bakalan bangun siang kaya kemaren, jadi Bibi cuma buatin bubur buat Bapak dulu tadi."
"Ah iya gpp Bi, aku juga ga laper banget kok."
"Yasudah, kalo gitu Bibi buatin sarapan dulu ya, Neng."
Naysila mengangguk lalu meninggalkan dapur namun langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering.
📲 Nina memanggil
"Hallo, assalamualaikum, ada apa, Nin?" Raut wajah Naysila seketika berubah, "Seriusan, yaudah aku siap-siap sekarang deh," jawabnya penuh semangat, "oke oke, ketemuan di lokasi langsung ya! yaudah assalamualaikum."
Telepon di tutup.
"Bi, gak usah buatin sarapan buat aku ya!" pinta Naysila setengah berteriak.
"Loh kenapa, Neng?" Bi marni menatap Naysila heran.
"Gpp Bi, pokoknya ga usah!" Naysila melenggangkan tangan dan kakinya seirama masuk ke dalam kamarnya dengan penuh gembira.
💦💦💦
Jam 11.00 (siang hari)
Zulfikar sudah bersiap untuk kembali pulang setelah urusannya dirasa cukup.
"Apa tidak bisa pulangnya nanti saja? Nenek masih kangen loh sama kamu," rengek Luna.
Zulfikar tersenyum lalu memberikan pelukan hangat pada neneknya, "Zul sekarang udah bukan anak lajang lagi ,Nek. Zul 'gak bisa lama-lama disini, ada seseorang yang harus Zul jaga disana."
"Nenek iri padanya, dia bisa setiap hari bertemu denganmu dan tidur bersamamu, sedangkan Nenek harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk melihat wajahmu."
Keadaan sebenarnya tidak sama seperti yang Luna ucapkan, "andai Nenek tahu," batin Zulfikar.
"Jadi kapan kamu akan membawa istrimu kesini? Nenek ingin tahu gadis mana yang sudah berhasil mencuri hati cucu nenek yang paling tampan ini?"
Zulfikar diam, dia tidak tahu kapan dia akan bisa memperkenalkan Naysila pada keluarganya, jika sifat dan perilaku istrinya itu sangat mengkhawatirkan.
"Zul," tangan luna mengibas-ngibas.
"Ehh iya, Nek."
__ADS_1
"Kapan?" Ulang Luna.
"Secepatnya." jawab Zulfikar singkat.
"Apa hubungan kalian baik-baik saja?" Luna sepertinya memiliki firasat tidak baik saat melihat ekspresi Zulfikar,
"Tentu Nek."
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Sangat Baik." Tanpa pikir panjang Zulfikar langsung menjawab pertanyaan neneknya walau harus berbohong, dia hanya tidak ingin menambah beban pikiran Luna.
"Yasudah kalo begitu, kamu hati-hati ya! kabari Nenek kalo udah sampe! Tadi ayah dan kakakmu titip salam, maaf mereka tidak bisa mengantarkanmu, ada urusan dengan kliennya."
Zulfikar mengangguk dan memberikan senyum manisnya, senyum yang selalu membuat Luna ingin menjadi gadis usia 20an kembali dan tidak memiliki hubungan darah dengan Zulfikar supaya mendapat kesempatan untuk menjadi istri Zulfikar (Hahaa lebayyy, cuma Saking gantengnya Zulfikar kali ya).
💦💦💦
Jam 01 siang
Zulfikar sudah sampai di bandara Soetta Jakarta, dia menyempatkan diri terlebih dulu untuk shalat lalu kemudian langsung beralih mengendarai mobil yang sudah di titipkan sebelumnya di parkiran. Zulfikar tidak langsung kembali ke rumahnya, ada sesuatu yang harus dia urus di Jakarta sehingga kepulangannya ke rumah sepertinya akan sampai larut malam.
Sementara di tempat berbeda, terlihat ekspresi yang beraneka ragam keluar dari puluhan pelamar di sebuah aula perusahaan swasta yang ada di Banten.
"Aku gagal sayang. huaaaaaaaa." (menangis)
"Belum rezekinya Pak." (Berusaha Tegar)
"Gila sumpah, orang se perfect gue di tolak mentah-mentah, nyari tipe yang kaya gimana sih ni perusahaan?" (Marah-marah)
"Aku di terimaaaaa." (Bahagia)
"Gimana hasilnya, Nay?" Tanya Nina, Nina memang menyempatkan waktu istirahatnya untuk menemani Naysila yang sedang melamar kerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa itu, bukan jurusan Naysila sebenarnya tapi setelah berbincang-bincang di cafe waktu itu, Naysila memang minta di carikan kerja pada Nina dan Nurul apapun profesinya asalkan halal, makanya begitu ada lowongan Nina langsung menghubungi Naysila.
Naysila menggeleng lemah "Nggak, Nin," jawab Naysila lemah.
"Yahhhh, yaudah deh next time lagi kita nyari, yaudah yuk aku anterin ke depan." Nina menggandeng tangan Naysila.
"Mau kemana?" Naysila melepaskan tangan Nina.
"Aku anter kamu sampai ke depan lah."
"Aku kan belum selesai bicara."
"Maksudnya?" Tanya Nina heran.
"Maksudnya, aku ngga di tolak mentah-mentah di perusahaan ini." Jawab Naysila sambil menyengir kuda.
"Jadi kamu di terima?"
Naysila mengangguk
"Yeee...." Sumpah demi apa, suara teriakan Nina bisa terdengar sampai ke lantai paling atas kayaknya, saking kencengnya. Suara 8,5 oktaf yang dia punya mampu menyaingi suara alarm kebakaran yang ada di gedung tersebut (lebay asli).
"Nin, udah dong! liat tuh kita di liatin orang-orang." Naysila menutup wajahnya dengan tas berwarna pink muda di tangannya.
"Heeeeee maaf, abis aku kesenangan, akhirnya kita satu kerjaan juga. Yaudah makan yuk! pokoknya kamu harus traktir aku!"
__ADS_1
"Yahhh, aku gak bisa Nin, HRD nya bilang sebentar lagi aku harus ikut dia. Dia butuh orang secepatnya banget, jadi mau gak mau hari ini juga aku udah harus kenalan sama sedikit kerjaannya," jelas Naysila
"Yahhhhh sayang banget dong ya," Nina kecewa.
"Tapi aku janji deh weekend nanti aku traktir kamu makan bakso beranak, Pak Kumis."
"Seriusan?" Nina berantusias sekali.
Naysila mengangguk.
"Dua mangkok ya?"
"Iya."
"Yaudah, kalo gitu gue balik dulu deh ke ruangan. Jangan lupa ya, nanti sore pulang bareng."
"Okee, santuy" jawab Naysila lalu mereka berpisah untuk sementara waktu.
💦💦💦
Sudah jam 18.00, sebelum pulang ke rumah, Zulfikar menyempatkan diri untuk shalat magrib di sebuah masjid.
"Baikla,h kalo gitu saya permisi pulang ya, Pakde."
"Iya, Nak Zul, hati-hati ya di jalan. Titip salam buat, Bapak."
Zulfikar mengangguk lalu mencium tangan laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun itu dan segera masuk ke dalam mobilnya, sepertinya dia akan sampai di rumah sekitar jam 09 malam kalo tidak terjebak macet.
Sepanjang perjalanan pikiran Zulfikar di buat takjub, pasalnya dia sedikit tidak percaya atas fakta-fakta yang baru saja di dapatnya, laki-laki yang barusan dia temui itu berwajah ramah dan menyejukkan, mustahil rasanya jika dia mengarang cerita, tapi apa benar itu semua terjadi?
Di jaman sekarang, rasanya sedikit mustahil, bagaimana ada manusia yang mengorbankan semua hidupnya hanya untuk membuat orang yang di cintanya hidup aman dan selalu bahagia tanpa menginginkan balasan apapun dari orang yang di cintanya.
Zulfikar merasa dirinya lemah dan tidak ada apa-apanya di Banding orang itu.
💦💦💦
Zulfikar sudah sampai di depan rumah mertuanya, dia melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah mertuanya dan dia tidak asing dengan mobil itu, Zulfikar turun dari mobilnya setelah di parkirkan terlebih dulu di garasi.
Dengan masih sedikit menerka-nerka siapa pemilik mobil itu, Zulfikar pun masuk ke dalam rumah.
Tok..tok..tok
"Assalamualaikum," Zulfikar mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam," seorang wanita cantik dengan hijab yang menjuntai membukakan pintu rumah itu dan itu membuat jantung Zulfikar tiba-tiba berhenti berdetak.
"Nurul"
.
.
.
Wahhhh kenapa tiba-tiba ada nurul?
Sudah tau lah ya perasaan Zulfikar kaya gimana?
__ADS_1
Kedatangan tamu special, seseorang yang dulu sering ia sebut di sepertiga malamnya 🤗 bukan hal yang mudah tentunya untuk menyembunyikan perasaannya.