
Lantunan ayat suci Al-quran yang terdengar merdu menyadarkan Naysila dari mimpinya. Perlahan dia membuka matanya dan kali ini dia melihat dengan jelas pemilik suara indah itu. Samar-samar dia menyunggingkan senyum manisnya lalu memasang datar kembali mukanya setelah sadar apa yang dilakukannya.
"Ehh sudah bangun?" Sapa Zulfikar yang sudah menutup Al-Qur'annya pada gadis yang sekarang sudah merubah posisinya Menjadi duduk di atas kasur dan sepertinya dia sedang mencari sandal untuk mengambil wudhu ke kamar mandi.
"Ini." Zulfikar memberikan benda yang dicarinya sedari tadi.
"Terimakasih."
Baru saja berdiri tubuh Naysila sudah mau ambruk ke lantai jika saja tidak di pegangi Zulfikar, kini keduanya merasakan getaran yang begitu membingungkan, entah perasaan apa yang ada di hati mereka namun yang pasti jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kamu tidak apa-apa? Mau saya bantu?" Zulfikar memecah kesunyian antara keduanya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok." Naysila mencoba melepaskan tangan Zulfikar, perlahan dia melangkahkan kakinya namun naas tubuhnya kembali lemah dan secepat kilat Zulfikar langsung menopangnya kembali.
"Kali ini saya tidak menerima penolakan lagi!" Pasrah karena kondisi tubuhnya memang masih sangat lemah saat ini Naysila menerima bantuan dari Zulfikar.
Naysila sudah selesai menggosok gigi, mencuci muka kemudian mengambil wudhu. Setelah semuanya selesai dia membuka pintu dan ternyata Zulfikar masih setia menunggu di depan pintu.
"Loh masih ngapain?"
Tanpa menjawab pertanyaan Naysila Zulfikar mengulurkan tangannya pada Naysila.
"Tidak perlu, aku punya wudhu jadi kita tidak boleh bersentuhan!"
"Kamu bisa pegang lenganku saja, aku cuma khawatir."
"Terimakasih, tapi aku sudah lebih baik."
Naysila perlahan melangkahkan kakinya mengambil mukena dalam lemarinya lalu mulai mengenakannya, Zulfikar masih terdiam menatapnya berjaga-jaga jika tubuh istrinya kembali jatuh. Saat Naysila mulai mengucap takbir tak sadar senyum manis merekah dari sudut bibir Zulfikar.
"Ternyata dia tak seburuk yang ku bayangkan, dia seorang muslimah yang tak melupakan tanggung jawabnya." Merasa Naysila sudah baik-baik saja Zulfikar memilih keluar kamar untuk menyiapkan sarapan, rasa-rasanya dia ingin menyiapkan sendiri sarapan untuk istrinya.
Setelah setengah jam bergelut di dapur dengan Bi Marni, Zulfikar sudah menyelesaikan menu sarapan paginya untuk istrinya 'Naysila'.
"Bi, saya antar sarapan dulu ya, oiya itu rendangnya jangan lupa di bawa ke meja makan ya Bi! buat sarapan, dan tolong panggilkan, Kak Aisyah juga, nanti saya nyusul setelah mengantar ini."
"Iya, Tuan," sahut Marni sopan.
__ADS_1
"Ahhh jangan panggil saya Tuan, panggil nama saja!"
"Duhh, Bibi ga bisa, Tuan, gak enak."
"Tapi saya juga gak nyaman, Bi."
"Ntar lama-lama juga nyaman kok. Udah sana! tuan putri pasti udah nungguin."
Dengan senyum sumringah Zulfikar melangkahkan kakiknya menuju kamar.
Tok..tok..tok
Meskipun tidak ada jawaban Zulfikar tetap masuk, setidaknya dia sudah mengetuk pintu.
"Pagi" sapa Zulfikar pada gadis yang tengah duduk manis di pinggiran kasur dengan handphone di tangannya.
"Juga," jawab Naysila singkat tanpa menoleh ke sumber suara.
"Sarapan dulu ya! saya udah siapin." Zulfikar menaruh sepiring nasi dengan dua potong rendang dan beberapa menu lainnya di pinggirnya yang membuat ruangan kamar Naysila jadi harum semerbak khas rumah padang.
Naysila menoleh, "ngapain repot-repot? Aku bisa jalan sendiri kok."
Skak mat
Naysila terdiam menelaah dengan baik perkataan Zulfikar, memang benar sih apa yang dikatakannya, kalo dia sudah sakit semua orang jadi repot karenanya.
Diam-diam dia mendekati piring berisikan makanan yang harum itu.
"Kapan kamu masak rendang? Setauku masak rendang perlu waktu lama, kenapa kamu cepat sekali?" Tanya Naysila heran sambil mulai memotong sedikit rendang itu "enak banget sumpah," batinnya.
"Ohh itu, bukan saya yang masak kok. Saya cuma nyiapin aja."
"Lalu?" Tanpa sadar Naysila kembali memotong rendang dengan potongan lebih besar dari yang pertama, Zulfikar yang melihatnya tak kuasa menahan senyumnya.
"Itu, kemarin nenek kamu yang buatin."
Mata Naysila mendelik "Nenek?" Naysila berfikir keras dalam hatinya Nenek yang mana? Setau dia Nenek dia sudah meninggal dua duanya sewaktu dia masih duduk di bangku SD.
__ADS_1
"Kemarin aku pulang kampung, terus Nenekku masakin ini buat aku, eh buat menantunya juga sih. Dia itu Nenekku yang berarti nenek kamu juga kan? Gak salah donk kalo aku ngomong dia Nenek kamu?"
Astaga benar saja Zulfikar sedang bercanda pikir Naysila. "Sejak kapan keluargamu jadi bagian keluargaku?".
Zulfikar menghela nafas panjang, padahal dia berharap jika Naysilla bertanya perihal keluarganya di kampung tapi Naysila malah menanyakan hal semacam itu, 'oke lupakan' pikir Zulfikar, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu, mungkin lain kali Naysila akan lebih tertarik pada keluarganya.
"Di makan juga nasinya!" Zulfikar terkekeh kecil saat melihat Naysilla terus-terusan memasukkan potongan potongan rendang ke dalam mulutnya, sedangkan si empunya sontak saja menghentikan aktivitas memotongnya lalu kembali melihat layar di handphonenya.
"Loh ko ga jadi?" Tanya Zulfikar heran "masa gitu aja ngambek sih?"
"Apaan sih? Orang aku lagi bales chat temenku."
"Yaudah, kalo gitu saya pergi dulu nemenin Kak Aisyah dan anak2nya sarapan, kamu bisa sendiri kan?"
"Bisa lah." jawab Naysila sewot.
"Ya kali aja mau saya temenin, atau mungkin mau saya suapin?"
Naysila yang mendengar kata 'suapin' langsung mendelikan matanya ke arah si empunya.
"Yaudah yaudah saya keluar." Zulfikar terkekeh kembali setelah berhasil membuat Naysila kesal.
"Dih itu cowok ngeselin banget sih sumpah, tapi bodo amat lah yang penting rendangnya enak." Naysilla kembali memotong rendangnya tapi kali ini dengan nasinya karena dia tak mau jika hari ini maagnya kambuh kembali.
💦💦💦
"Dari awal emang orang tua kamu tuh ga pernah setuju sama hubungan kita, karena keluarga aku tuh tidak se-kaya keluarga kamu kan?" Nina berulang kali mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir sedari tadi.
"Ngga gitu yang, kamu jangan soudzon terus dong sama keluarga aku!" Andre menghela nafas panjang, entah dia jarus alasan apalagi pada wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama 6 tahun ini.
"Alaahhhhh, terus apa? Tiap kali aku tanyain keseriusan kamu sama hubungan kita, kamu cuma jawab 'iya nunggu waktu', mau sampe kapan? Sampe monas beneran pindah ke kalimantan?"
"Jangan ngawur kalo ngomong yang! Aku minta kamu sabar, aku yakin orang tua aku bakal luluh."
"Sampe kapan aku harus sabar hah? Udahlah Ndre, aku capek nangis terus dari tadi, kalo emang hubungan kita ga bisa di pertahanin yaudah." Nina memutuskan teleponnya sepihak saat Andre masih berusaha menjelaskan.
Nina melihat wajahnya kembali di cermin "Astaga maskaraku belepotan gara-gara cowok sialan itu," Nina mengambil kapas untuk menghapus sisa-sisa maskara yang menempel di sekitar matanya, "udah deh Nin, mulai sekarang kamu harus janji sama diri sendiri kamu, gak boleh nangis gara-gara andre sama keluarganya lagi, kamu harus move on, HARUS! kamu harus tunjukan ke mereka kalo kamu bisa mencapai semua mimpi-mimpimu tanpa mereka yang selalu ngerendahin kamu dan keluargamu!".
__ADS_1
Nina sudah selesai merapikan make-upnya, dia segera mengambil helm dan kunci motor untuk segera menjemput Naysila yang sudah janjian untuk berangkat kerja bareng dengannya, dengan semangat membara di dadanya dia sudah bertekad untuk mengejar mimpi-mimpinya, laki-laki seperti Andre sudah tidak pantas lagi di perjuangkan karena hanya menguras waktu dan air matanya saja pikirnya, walau sebenarnya hatinya tidak ikhlas melepaskan laki-laki yang sudah ia temani dari nol itu.
"Bukan tentang siapa yang menemani dari nol, tapi tentang siapa yang bertahan ketika masa paling sulit"