Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (009)


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullah,"


"Assalamualaikum warahmatullah."


Zulfikar mengusap wajahnya, lalu menengadahkan kedua tangannya sambil menitikkan air matanya. Memohon ampun atas segala kesalahan yang telah ia perbuat selama hidup di dunia yang fana ini, baik yang disengaja maupun tidak.


Tak lupa, ia juga memohon keteguhan hati agar dipermudah dalam urusan perasaannya yang kini menjadi semakin rumit pada kembalinya permintaan keluarga Lukman untuk menikahi putrinya.


"Ya Allah, sesungguhnya hanya engkaulah yang maha mengetahui apa yang tidak pernah kami ketahui. Maka dari itu, hamba memohon padamu, ikhlaskan hati hamba dalam menjalani segala skenario-mu, Ya Allah. Hamba yakin, kau pasti menginginkan yang terbaik untuk hambamu. Aamiin."


Setelah selesai sholat magrib, Zulfikar melanjutkan dengan membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Kegiatan ini sudah rutin ia lakukan. Selain dikenal karena kepintaran dan ketampanannya, Zulfikar juga dikenal sebagai pemuda yang sangat taat terhadap agama. Sehingga tak sedikit kaum hawa yang jatuh cinta kepadanya, baik teman-temannya, mahasiswi, bahkan beberapa dosen wanita pun pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada laki-laki beralis tebal itu. Namun karena di hatinya hanya tertulis nama Nurul, lagi-lagi dia tidak bisa menerima membalas perasaan wanita manapun.


*Shadaqallahul adzim." Zulfikar menutup Al-Qur'an lalu menciumnya beberapa detik. Tak lupa ia juga menyisipkan sebuah do'a disana.


tok-tok-tok


"Zul,"


Zulfikar membuka matanya, lalu ia menyimpan Al-Qur'an itu di atas nakas.


tok-tok-tok


"Zul, buka pintunya!" teriak seorang laki-laki di luar kamar Zulfikar.


"Iya, tunggu sebentar!" sahut Zulfikar yang melipat sajadahnya terlebih dahulu.


Suara laki-laki tidak asing di telinganya 'Andre' iya itu suara Andre, sahabatnya. Zulfikar sudah yakin sekali.


Setelah melepas pecinya, Zulfikar segera membuka pintu, "ada apa sih Ndre? heboh banget kayaknya?"


Andre terlihat berkeringat.


Ada apa dengannya, pikir Zulfikar.


"Nu_Nurul Zul.. Nurul," ucap Andre terbaru-bata.


Zulfikar terkejut ketika mendengar Andre menyebutkan nama wanita itu, "ada apa, Ndre. Ada apa dengan Nurul?" tanya Zulfikar penasaran.


"I_itu Zul, suami Nurul, Luthfi, kecelakaan. Dia meninggal dunia."

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un," ucap Zulfikar tak percaya, "yang bener kamu, Ndre?"


"Iya, Zul. Gue gak bohong."


"Ya Allah, kasihan sekali Nurul," batin Zulfikar.


Tanpa pikir panjang dia segera mengunci pintu kamarnya "Ayo, Ndre. kita segera ke rumahnya."


Andre mengangguk lalu segera mengikuti Zulfikar masuk ke dalam mobil menuju menemui rumah Pak Kyai yang juga merupakan tempat tinggal Nurul.


Sepanjang perjalanan, hati dan pikiran Zulfikar terus bergelut, memikirkan bagaimana keadaan Nurul saat ini? wanita itu pasti sangat hancur.


Zulfikar dan Andre sudah sampai di parkiran majlis. Beberapa mobil juga sudah banyak berjejeran di sana. Sepertinya kabar meninggalnya suami Nurul sudah meluas ke saudara-saudaranya. Terlihat kini rumah Pak Kyai sudah mulai dipadati para pelayat.


Zulfikar berjalan masuk lewat pintu samping karena tidak memungkinkan lewat depan yang begitu ramai. Namun dia dikejutkan kala melihat Nurul sedang berdiri di pojokan sambil terus memandangi jenazah Almarhum suaminya. Tiba-tiba saja perasaan Zulfikar berkecamuk antara sedih melihat keadaan Nurul yang seperti sekarang namun tersirat juga bisikan iblis di hatinya untuk bahagia karena memiliki kesempatan untuk memiliki Nurul sepenuhnya.


"Astagfirullahaladzim," Zulfikar mengusap wajahnya lalu berjalan menghampiri Nurul, "saya turut berduka cita ya, Nur," ucap Zulfikar.


Nurul memandang wajah Zulfikar penuh arti, air matanya menetes dan sungguh itu membuat hatiĀ  Zulfikar terasa di sayat-sayat. Wanita yang bertahun-tahun mengisi relung hatinya kini meneteskan air mata, sungguh dia tidak tega, jika boleh ia ingin sekali menggantikan kesedihannya.


Zulfikar kembali beristighfar dalam hatinya. Ia terlalu jauh memikirkan wanita yang baru saja kehilangan suaminya itu. Lebih baik dia segera pergi sebelum perasaannya makin berantakan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Nur." Zulfikar membalikkan badan untuk meninggalkan Nurul sebelum akhirnya terdengar suara Nurul yang lembut.


"Zul,"


"Apakah kau masih mencintaiku?"


Teg


Jantung Zulfikar terasa berhenti berdetak. Dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Nurul barusan. Hatinya bergejolak, keringatnya menetes mendengar pertanyaan itu, entah ini perasaan apa tapi rasanya perasaan ini tidak pantas muncul di saat keadaan yang masih berduka ini.


"Maaf, Nurul. Saya harus menemui Pak Kyai." Tanpa melihat wajah Nurul, Zulfikar segera pergi menjauhinya, dia takut perasaannya akan semakin menggila jika dia tidak segera menjauhkan diri dari Nurul.


***


Zulfikar POV


Sesampainya di kotsan aku terus terbayang-bayang wajah Nurul saat di rumahnya tadi. Bagaimana bisa Nurul menanyakan pertanyaan seperti itu, sementara Nurul tau jika selama ini aku sangat mencintainya.

__ADS_1


"Arghhh,"


Aku mengacak-acak rambutku frustasi, perasaanku terus berkecamuk memikirkan segala persoalan yang terjadi.


Aku masih sangat mencintai Nurul, sama seperti dulu tak ada yang berkurang sedikitpun. Namun di sisi lain aku juga tidak mau mengkhianati amanah dari laki-laki


yang sudah ku anggap orang tuaku sendiri. Terlebih beliaulah yang sudah membuatku melupakan Nurul waktu itu walau hanya sesaat.


Laki-laki itu adalah Pak Lukman.


Aku sangat ingat jelas saat pak Lukman menolongku yang tengah dalam keadaan terpuruk waktu itu, saat aku patah hati di tinggal Nurul menikah, pak Lukman inilah yang setiap hari memberikan motivasi agar aku tidak patah semangat. Dan dari awal situlah kekagumanku tumbuh pada laki-laki yang sering membantu biaya kegiatan di majelis itu.


Ada suatu cerita yang membuat kekagumanku tambah tinggi terhadapnya, yaitu perjuangan dia untuk melupakan cinta pertamanya sampai perjuangan dia untuk mencintai gadis yang sama sekali tidak dicintainya.


Aku sangat kagum padanya, dan dihatiku tersirat mungkinkah aku juga bisa mencintai putrinya melebihi cintaku untuk Nurul?


Hubungan kita melebihi hubungan teman mengaji pada umumnya, aku tak segan-segan menceritakan kisah pribadiku pada beliau begitupun sebaliknya, sampai suatu hari,


beliau memberikan sebuah permintaan yang menurutku sangat berat.


Bagaimana tidak berat? permintaan itu juga beliau anggap sebagai amanahnya terhadapku, amanah untuk menjaga putrinya.


"Saya mohon dengan sangat, nikahi putri saya, saya yakin hanya kamu yang mampu merubah semuanya!" pinta Pak Lukman padaku sambil memohon dan bersimpuh di hadapanku.


"Pak, jangan lakukan itu! bapak terlalu berlebihan padaku!" protesku sambil berusaha mengangkat kembali tubuhnya.


"Bapak tidak tahu lagi, tapi tolong sekali! bapak sangat menaruh harapan padamu, Nak," kata Pak Lukman melanjutkan.


Aku yang tidak bisa menolak permintaannya waktu itu hanya meminta waktu alih-alih berharap agar anaknya itu terlebih dulu menemukan pendamping pilihannya sendiri, sebelum aku mengiyakan permintaan Pak Lukman.


"Saya tidak bisa berjanji untuk itu pak Lukman , namun saya akan usahakan," jawabku ragu.


"Baik, Nak. Bapak harap, kamu akan mengabulkan permintaan, Bapak."


Waktu demi waktu terus berjalan , aku pikir pembicaraan kami waktu itu akan hilang seiring berjalannya waktu, namun ternyata aku salah. Saat melihat kondisi pak Lukman setelah terjatuh di majlis waktu itu hatiku seakan bergejolak, terlebih saat melihat kelakuan putrinya yang sangat tidak perduli pada beliau. Aku semakin mengerti kenapa pak Lukman begitu berharap lebih


padaku? Mungkinkah ia ingin aku untuk merubah sikap putrinya itu.


Terlepas dari semua rasa kagum dan terimakasihku pada Pak Lukman. Tapi ini sebuah pernikahan? aku hanya ingin menikah satu kali di sisa hidupku. Dan aku hanya ingin menikah dengan orang-orang yang benar kucintai , apakah pantas pernikahan ini ku pakai sebagai ajang percobaan? Gila, sungguh aku sudah gila di buatnya.

__ADS_1


Aku membenturkan kepalaku ke dinding tembok, rasanya kepalaku ingin meledak saja, Mana yang akan ku pilih?


Amanah atau cinta?


__ADS_2