Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (007)


__ADS_3

Sore ini Andre dan Zulfikar mampir di sebuah cafe sebelum pulang ke Kotsan, mereka tinggal di Kotsan yang sama dan tak jauh dari majelis tempat mereka belajar ilmu agama.


"Huh ... pusing gue." Andre mengacak-acak rambutnya frustasi setelah menutup telponnya dengan sang kekasih.


"Kenapa si? berantem lagi sama Nina?"


"Entahlah, pusing gue apa gue udahan aja kali ya?"


"Ko gitu, emang kenapa? Orang tua kamu masih belum ngasih restu?"


"Ya gitu lah, gue minta Nina sabar tapi dia mendesak gue terus buat ngasih kepastian, ya gue juga kan butuh waktu."


"Semua wanita itu sama. Mereka tidak suka menunggu dan mereka cuma butuh kepastian," jawab Zulfikar sambil memotong pisang coklat dengan lelehan keju di atasnya.


"Iya gue faham, cuma kan semuanya ga ada yang instant kecuali mie instan cup rasa cabe cabean!" Celetuk Andre.


"Tapi kamu udah coba ngomong belum sama bokap nyokap?" Tanya Zulfikar.


Andre tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya, membuat Zulfikar mendelik malas.


"Pantes aja Nina marah."


"Udahlah! gak usah bahas pacar gue, gue lagi males ... ehh tapi ngomong-ngomong soal pacar nih ya, lu ga niat punya pacar gitu, secara kan usia lu udah mateng nih ya, ibarat buah mah udah mengkeul, ya meskipun belum mau nikah tapi seenggaknya punya calon lah." Andre menatap pekat sahabat di depannya.


Zulfikar diam dan hanya membalasnya dengan senyuman.


"Gue butuh jawaban bukan senyuman lu keong racun," celetuk Andre.


Tak lama bunyi HP Zulfikar berdering.


"Hallo Assalamualaikum," ucap Zulfikar, "oh Iya baik Bu, insyaallah nanti saya kesana, "iya sama-sama, Bu. Wa'alaikum salam warohmatullah."


Telepon di tutup.


"Siapa Zul?" Tanya Andre.


Zulfikar hanya tersenyum lalu memasukkan handphone nya kembali ke dalam saku celananya.


"Lama-lama gue bisa jatuh cinta sama lu ya Zul, kalo tiap gue nanya lu jawabnya pake senyum kaya gitu, udah tau lu manis banget." Protes Andre sambil menyuapkan potongan pisang coklat miliknya.

__ADS_1


Zulfikar yang mendengar hanya kembali tersenyum sambil mengunyah pisang kejunya tanpa menjawab pertanyaan temannya itu.


***


Naysila memejamkan mata lalu merebahkan kepalanya di atas meja kerja.


Pekerjaanya sebagai asisten seorang designer membuatnya tidak terlalu banyak aktivitas hari itu selain menunggu instruksi dari atasannya saja.


Semalaman suntuk dia tak bisa tidur, setibanya di jakarta pikirannya terus melayang mengingat ucapan ibunya sore itu.


Flashback On


"Tadi pagi dokter datang untuk memeriksa Bapak, dia bilang kemungkinan Bapak untuk sembuh sangat kecil, Bapak mungkin akan lumpuh selamanya dan dia tidak akan bisa bicara lagi." Jelas Hamidah.


"Terus?" sahut Naysila seolah tidak perduli. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sangat terluka.


"Sebenarnya, sudah lama Bapakmu ingin menyampaikan ini padamu. Tapi dia terlalu takut untuk berbicara denganmu, dia tau kamu sangat membencinya."


"Baguslah kalo nyadar, aku juga males ngomong sama Bapak." Ucapannya terdengar semakin sewot.


"Sayang, dengerin ibu!" pinta Hamidah, "karena Bapak dalam kondisi seperti ini, terpaksa ibu yang harus menyampaikan ini sebelum semuanya terlambat ... sebenarnya ...."


Beberapa detik lamanya Hamidah menatap nanar wajah putrinya. Hamidah ragu jika putrinya itu akan menerima permintaan suaminya.


"Bapak ingin kamu menikah dengan laki-laki pilihannya."


"Apa?" pekik Naysila, "Bapak mau menjodohkan aku? Ibu gak becanda kan?" lanjutnya dengan mata yang membulat sempurna. Tentunya ini menjadi kabar yang sangat mengejutkan bagi wanita berkulit kuning Langsat itu.


"Iya, Nak. Bapakmu ingin menjodohkan mu." Jawab Hamidah lalu menundukkan kepalanya, dia juga sebenernya berat mengatakan ini. Tapi biar bagaimanapun, anaknya itu harus segera mengetahuinya.


Naysila mendnelik malas. "Ini pernikahan loh Bu, bukan untuk main-main dan aku tidak mau salah memilih seperti Kak Aisyah."


"Ibu tau ini sangat berat buat kamu, Nak. Tapi Ibu mohon lakukan ini demi Bapakmu, sekali ini saja!" pinta Hamidah dengan penuh harap sambil memegangi tangan putrinya.


"Ini bukan perkara mudah Bu, ini urusan perasaan. Aku masih mencintai Aldo,ibu tau itu kan? lagian untuk apa aku melakukan ini semua demi Bapak?"


"Biar bagaimanapun dia Bapakmu, ingat Nak! tanpa ada dia kamu tidak akan ada di dunia ini."


"Tapi aku juga tidak berharap terlahir menjadi anaknya."

__ADS_1


"NAYSILA!!! Ibu tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi anak yang durhaka." Sorot mata Hamidah memancarkan kekecewaan atas ucapan frontal dari mulut anaknya.


Suara Hamidah terdengar sangat tegas, tidak tinggi namun sangat menekkan, tersirat kemarahan yang sangat besar dalam hentakannya.


Naysila dibuat terkejut, sejak kapan Ibunya itu bisa mengeluarkan kata-kata setegas itu? setau dia, Hamidah adalah sosok Ibu yang sangat lemah lembut. Lantas apa yang membuatnya begitu marah pada Naysila?


"Buu." Gumam Naysila lirih.


Dia meraih tangan Ibunya, mencoba meminta maaf jika ada kata-katanya yang menyakiti hatinya, sungguh dia sangat menyayangi wanita yang tak pernah melepas hijabnya itu, Naysila tidak ingin ada yang membuatnya sedih apalagi itu karena ulahnya sendiri.


Sejatinya seorang ibu, Hamidah kembali meluluh, dia memeluk Naysila erat dan tiba-tiba saja menangis.


"Bu, maafin aku! aku gak berniat buat ibu sedih." Naysila menghapus air mata Hamidah dengan perlahan, dia tidak mau melihat air mata wanita itu mengalir. Hatinya ikut terluka jika itu terjadi. Dan kini Naysila merasa sangat bersalah padanya.


Hamidah kembali menggenggam erat tangan putrinya. "Ibu mohon Nak, jika kamu tidak bisa menerima amanah ini karena Bapak, maka lakukanlah ini demi Ibu! anggap saja ini permintaan terakhir Ibu." ucap Hamidah penuh harap sambil menatap lekat wajah gadisnya.


Naysila menggeleng-gelengkan kepalanya, ada rasa kecewa dan takut yang hadir dalam hatinya secara bersamaan.


Di satu sisi, dia tidak mau menikah dengan laki-laki lain karena dia masih mencintai mantan kekasihnya, tapi di satu sisi dia juga tidak mau melihat ibunya terluka.


Bagaimana bisa aku menolak permintaan Ibuku, dia adalah malaikat tak bersayap ku, tapi bagaimana dengan masa depanku? aku juga tidak bisa menerima permintaan Ibuku begitu saja, ini terlalu sulit.


"Mau ya?" Hamidah kembali merayu. Membuat Naysila tak bisa menolaknya begitu saja.


"Beri aku waktu, Bu!" pinta Naysila.


Hamidah tersenyum lega, meskipun belum sepenuhnya pasti, setidaknya dia berharap seiring berjalannya waktu, anaknya itu mau memenuhi permintaannya.


"Tentu sayang, Ibu akan menunggumu semampu Ibu." Ucap Hamidah seraya memeluk Naysila.


Flashback off


"Wey! ngelamun mulu lu, ayam gue kemaren mati gara-gara ngelamun mulu. kenapa sih lu?" karyawati super cerewet bernama Dea itu datang membuyarkan lamunan Naysila sore itu.


"Eh, Dea." Jawab Naysila yang terkejut mendapati teman satu kantornya itu.


"Yaudah, balik yuk! udah jam 5 nih." ajak Dea.


Naysila menatap jam di tangannya, "hmpp. Ayo deh!"

__ADS_1


Naysila pun bergegas membereskan beberapa dokumen di mejanya lalu pulang bersama Dea.


__ADS_2