
Jam 06.00 pagi, Zulfikar sudah selesai merapihkan segala kebutuhannya. Dia bergegas ke dapur untuk mengambil semangkuk bubur lalu berjalan menuju kamar utama rumah itu.
Dengan senyumnya yang selalu terlihat meneduhkan, ia menyapa seorang laki-laki paruh baya yang tengah tertidur di tempatnya.
"Selamat pagi, Pak Lukman," sapanya, "sarapan dulu ya! ... Saya udah buatin bubur buat Bapak." Zulfikar membuka tirai bermotif bunga tulip yang merupakan kesukaan almarhumah Hamidah. Ia kemudian duduk di samping Lukman dan mulai menyuapkan satu sendok bubur ke mulut lukman dengan sangat hati-hati.
"Hari ini, saya akan berangkat mengajar ... jadi saya minta maaf kalo ga bisa nemenin Bapak dulu." ucapnya lalu mengambil sendokan kedua buburnya.
Lukman mengerti maksud Zulfikar, dia mengedipkan matanya satu kali pertanda juga dia faham.
"Tapi bapak jangan khawatir ada Naysila ko di rumah."
Mendengar kata Naysila, tatapan mata Lukman melemah. Bagaimana mungkin putrinya itu mau merawatnya? Sepertinya dia harus bisa merawat diri sendiri walau sebenarnya tidak mungkin. Namun setidaknya jika dia lapar atau haus dia hanya perlu bersabar menunggu menantunya pulang. Anggap saja dia sedang puasa, pikirnya.
***
Zulfikar sudah siap berangkat, dia sudah menghidupkan mobilnya 5 menit yang lalu sambil merapikan beberapa berkas di dalam mobilnya. Dari luar pintu dia melihat istrinya membuka kulkas sepertinya sedang mencari makanan namun dia tidak menemukannya.
"Saya sudah membuatkan nasi goreng untukmu, itu ada di meja." Zulfikar hampir saja membuat Naysila jantungan karena kehadirannya yang sangat mendadak.
"Maaf cuma itu yang bisa saya buat, karena bahan masakan terbatas di kulkas ... saya berangkat mengajar dulu, Assalamualaikum."
Naysila menatap meja makan dan benar sudah ada sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, "sepertinya enak," gumamnya dalam hati.
"Terimakasih, Wa'alaikum salam." ucap Naysila yang membuat langkah kaki Zul terhenti.
"Sama-sama," sahut Zulfikar dengan senyuman lalu kembali melangkahkan kakinya.
Zulfikar sudah masuk ke dalam mobil avanza berwarna putih. Sederhana namun terkesan bersih yang mencerminkan kepribadiannya.
***
"Widiihhh, penganten baru auranya beda banget. Abis berapa ronde sih?" goda Andre ketika melihat temannya datang.
"Berisik." Zulfikar menatap gusar teman di sampingnya.
"Judes amat pak, apa jangan-jangan ... " ucapan Andre terhenti.
"Jangan-jangan apa?" tanya Zulfikar berbalik ketus.
"Jangan-jangan lu belum dapet jatah?" bisik Andre tepat di telinga Zulfikar, yang membuat mata Zulfikar mendelik tajam.
"Bisa diem?" Tatapan tajam Zulfikar membuat Andre kikuk.
"Sori, sori bro! Ah elah, serius mulu lu. Cepet tua nanti." Andre mengambil sepucuk mawar merah lengkap dengan note berbentuk hati yang menempel.
"Nih!" Andre menyodorkannya, "Biasa, paketan bunga dari mahasiswi teknik yang cantik."
"Buat kamu aja!" sahut Zulfikar datar, "Mulai sekarang kalo ada yang ngasih apa-apa ga usah di terima!" jelas Zulfikar.
"Loh kenapa? Sayang kan?" tanya Andre.
"Yaudah, kalo sayang kamu ambil aja!" Zulfikar mulai menyiapkan bahan materi dia untuk segera masuk ke kelas pertamanya.
__ADS_1
"Tapi kenapa, eh Zul!" teriak Andre saat dirinya mulai di tinggalkan temannya tanpa jawaban, "Hishh tuh orang udah kawin masih aja judes, ampun dah gue mah."
***
"Bete,Kesel." gerutu Naysila.
Pluk
Dia membuang tisu bekas lipstiknya ke keranjang sampah dan tepat masuk sasaran.
"Apa aku chat Hanifah aja ya buat nemenin?"
Naysila mulai membuka aplikasi chattingannya, dia melupakan sesuatu, "eh lupa, dia kan udah sibuk sama persiapan pernikahannya." Naysila menutup aplikasi itu kembali dengan bibir yang mengerucut.
Siapa ya?
"Nurul sama Nina, Yapss ga ada yang salah aku ngajak mereka. Sekalian reunian ah."
Langkah pertama yang dilakukannya adalah membuat sebuah grup Chatting, agar bisa lebih mudah berdiskusi.
Grup dengan nama "N3" selesai di buatnya dengan member Naysila dan Nurul.
Naysila : Nurul, tolong masukin Nina ke grup! soalnya aku gak punya nomornya.
Nurul : Ah, iya.
Nurul Add Nina
Naysila : "Hallo Nin, ini aku Naysila. Kamu masih inget kan?
Nina : "Tunggu-tunggu! ... Naysila, yang dulu sering beli bakwan alias bala-bala di kantin bu siti, yang makan 5 ngakunya 2? Seriusan ini kamu?"
Naysila : "Ya elah, aib kali. Masih inget aja!"
Nina : "Inget lah, aku gitu loh, haaaaa. Apa kabar kamu? Gilaaa udah puluhan tahun baru ngabarin, kemana aja Bu?"
Naysila: "Miss drama lebay bener. Nanti lah di bahasnya. Ehh, btw kalian pada senggang ga? Ketemuan yu! aku kangen."
Nina : "Loh tumben, emang kamu udah ngga kerja lagi, Nay?"
Naysila : "Udah, nanti aku ceritain, ehh btw Nurul kemana? Kok ngga nongol-nongol?"
Nina : "Au tuh, yaudah ayo dimana?"
Nurul : "Eh maaf abis dari dapur. Boleh, dimana?
Naysila : "Yaudah gimana kalo di cafe deket mall, jam 2 ya."
Nina : "Oke."
Naysila : "Yaudah aku tunggu ya."
Nina : "Sip"
__ADS_1
Nurul : "☺️"
Ketiganya pun bersiap untuk menuju tempat yang sudah disepakati.
***
Setelah menyelesaikan jam di kelas teknik, Zulfikar langsung bergegas pulang. Sebelum keluar kelas, Zulfikar dikejutkan oleh seorang mahasiswi cantik yang memberikannya coklat berukuran lumayan besar. Sebenarnya Zulfikar sempat menolak, tapi wanita itu merengek agar dia menerima coklatnya. s
Sehingga dengan berat hati Zulfikar lagi-lagi harus menerimanya.
"Aku balik duluan ya! ini coklat buat kamu aja!" Zulfikar pamit pada Andre sambil menaruh coklat di meja kerja sahabatnya itu.
"Loh, kok buru-buru amat Zul? Ga ngopi-ngopi dulu apa kita?" sahut Andre.
"Gak bisa, aku ada perlu," teriak Zulfikar sambil keluar dari ruangan berukuran 10x10 meter itu.
"Iya dah percaya, penganten baru mah 'gak betah jauh-jauh." sahut Andre lagi.
Zulfikar sama sekali tidak menghiraukan perkataan sahabatnya. Dengan cepat ia berjalan ke parkiran kampus. Meskipun banyak yang mahasiswi yang memperhatikannya sejak tadi, ia tak bergeming sedikitpun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah segera pulang untuk menemui mertuanya, karena dia tak yakin jika Naysila akan merawatnya dengan benar.
***
Setelah mengambil beberapa baju dari kotsannya, Zulfikar langsung mengendarai mobilnya kembali menuju rumah mertuanya. Dia langsung masuk ke kamar Lukman untuk memastikan keadaan mertuanya itu.
Selama di kampus pikiran Zulfikar memang setengahnya terfokus pada mertuanya.
"Astaghfirullah Al'adzim Pak Lukman." Dia begitu kaget melihat mertuanya sudah tersungkur di lantai dan sudah tak sadarkan diri, "ya Allah."
Setelah menggendong mertuanya kembali ke atas kasur, Zulfikar langsung keluar kamar mencari orang yang sudah dia amanahkan untuk menjaga mertuanya itu.
"Nay, Naysila," panggilnya, namun tidak ada jawaban. Rumah itu sepertinya sepi sekali.
"Nay, Naysila." Masih tidak ada jawaban juga. Dia mendengus kesal. Akhirnya Zulfikar menghampiri kamar Naysila karena wanita itu tak kunjung juga menampakan dirinya. Namun ternyata pintunya terkunci.
Kemana anak itu pergi
***
Kini sudah ada Aisyah dan kedua anaknya di rumah Lukman. Satu jam yang lalu Zulfikar menghubungi Aisyah karena Zulfikar merasa Lukman membutuhkan perawat untuk merawatnya, dan dia harus meminta izin dari anak-anaknya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan tersebut.
Aisyah yang sudah punya rumah sendiri tidak bisa sepenuhnya mengurus bapaknya tersebut. Apalagi semenjak suaminya meninggalkannya, Aisyah mau tak mau harus bekerja jadi ibu sekaligus ayah untuk kedua anaknya.
"Mereka bilang, orang dari yayasan datangnya besok Zul." Aisyah menatap nanar wajah ayahnya sambil sesekali memijat tangannya.
"Yaudah ka, palingan besok saya ijin 'gak masuk kerja dulu."
Aisyah menatap adik iparnya dengan kekecewaan, "Maaf ya Zul, kamu jadi repot karena keluarga kami."
Zulfikar tersenyum dengan senyum yang menenangkan, membalas perkataan kakak iparnya itu, "tidak apa-apa, Kak. Keluarga KAK Ais, juga kan udah jadi keluarga saya." jawabnya dengan tulus.
Terlihat garis bibir Aisyah tertarik sempurna menatap Zulfikar.
Betapa beruntungnya, Naysila memiliki suami seperti Zulfikar.
__ADS_1