Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (005)


__ADS_3

Maka jagalah cintamu dengan baik dan benar, tak peduli kamu menikah karena saling cinta atau hanya cinta salah satunya, jikalau telah bersama dalam ikatan pernikahan maka sungguh kamu berkewajiban untuk saling cinta.


Sulit memaksakan hati untuk jatuh cinta? Belajarlah! karena dengan belajar semua akan menjadi mudah dan dengan belajar semuanya akan menjadi indah.


Lihatlah bagaimana kebaikannya, lihatlah bagaimana ketulusannya, dan lihatlah bagaimana dia memperlakukanmu dengan baik dan benar.


Intinya kalo sudah ada akad di antara aku dan kamu itu artinya kita harus mau di cintai dan mencintai.


Begitulah jawaban yang di berikan Ustadz Hanan Attaki kepada seorang penanya yang mempertanyakan, bagaimana caranya kita bisa mencintai pasangan kita jika kita menikah atas dasar keterpaksaan dan tidak di landasan dengan cinta.


***


Pengajian sore ini di tutup dengan do'a yang di pimpin langsung oleh Pak Kyai sebagai pimpinan majelis taklim.


"Ehh Kak Ais, dateng juga. Sendirian Kak?" sapa Farhan dengan senyumnya yang sangat ramah.


"Ngga, berdua sama Naysila. Ini lagi nyariin dia mau ngajak pulang, tadi katanya mau ngobrol sama Nurul dulu."


"Bilang aja lu modus, Han, Han," sindir Andre yang baru saja ikut bergabung.


"Apa sih lu, sirik bae Ndre, galau ya si Nina ga dateng."


"Kagak, orang si Nina ada ko," sahut Andre.


"Dimana, ko gue ga liat dari tadi?"


"Ya iyalah lu ga liat , orang Nina ada disini," Andre menyentuh dadanya dengan tangan kanannya sambil memejamkan matanya.


"Dihhhh dasar gelo maneh teh, Ndre. (dasar gila kamu, Ndre)."


"Lebih gila siapa sama kamu yang tiap hari ngaku-ngaku calon suaminya, Naysila?" Cibir Andre sambil memalingkan wajahnya pada Aisyah.


"Ehhh, tuh mulut bisa di rem ga sih?" Farhan menutup mulut Andre dengan tangannya, mengingat wanita yang ada di depannya adalah kaka dari wanita yang dimaksud Andre.


"Sudah, sudah! jangan bertengkar!" Ujar Aisyah, "yasudah kalo gitu, Kak Ais permisi dulu ya," pamit Aisyah.

__ADS_1


"Oh iya mari Kak, titip salam buat Neng geulis yah kak," Farhan menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir ala kuda.


"Gas terooossss .... Jangan kasih kendor shay," celetuk Andre, sementara Aisyah hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan Andre dan Farhan.


"Assalamualaikum," ucap Aisyah.


"Waalaikumsalam warohmatullah." jawab Andre dan Farhan serentak.


***


Naysila pov


Setelah selesai menghadiri pengajian bersama Kak Aisyah, aku tak sengaja bertemu dengan Nurul Azizah. Putri pemilik pendiri majelis taklim tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatku sendiri.


Selesai acara kami sudah membuat janji untuk ngobrol-ngobrol di taman majelis, mengingat kembali kenangan dulu saat kami saat mondok. Kami yang sering tidur ketika mendengarkan ceramah ustadz dan ustadzah sambil pura-pura menulis dengan buku di depan wajah sebagai penghalangnya. Kami yang sering pura-pura nyoret kitab gundul, padahal sedang menulis puisi.


Nyoret dalam bahasa indonesia adalah memberikan/menulis terjemahan


*Sedangkan Kitab gundul adalah Kitab kuning, dalam pendidikan agama islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam yang diajarkan pada pondok-pondok Pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq, tata bahasa arab, hadits, tafsir, 'ulumul qur'aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan


Jadi ... Nyoret kitab gundul artinya adalah (artiin sendiri ya ,jangan males lah 😂*)


"Nur, kayaknya aku harus pulang deh." Ucapku pada Nurul seraya terbangun dari kursi, "soalnya gak enak kalo, Kak Ais nunggu kelamaan." Aku pamit pulang pada Nurul walau sebenarnya masih merindukan dia, karena sudah lama kami merindukan momen-momen seperti ini.


"Yah ... sayang banget ya. Padahal aku masih kangen banget loh sama kamu." Nurul sedikit kecewa karena aku terlalu terburu-buru, sebenarnya aku juga masih rindu tapi aku merasa tidak enak hati dengan Kak Aisyah kalau dibiarkan menunggu terlalu lama. Lagipula malam ini aku akan berangkat ke kota lagi karena senin besok jatah cuti-ku sudah habis dan aku harus kembali bekerja seperti biasanya.


"Iya Nur, aku juga sama. Lain waktu lagi ya kita kumpul, sekalian ajakin Nina juga nanti! Kangen banget aku sama dia," ucapku penuh harap, "ketawa sama cerewetnya dia, ahh sayang banget dia ga ada, yaudah aku balik duluan ya, titip salam buat Nina!" Lanjutku.


"Hmpp, oke deh." Balas Nurul.


Kami berpelukan lalu aku mulai meninggalkan Nurul sambil melambai-lambaikan tanganku sambil melangkah mundur sampai tak terasa tubuhku menabrak sesuatu yang lumayan keras.


Brugh


"Aww."

__ADS_1


Lenganku terasa sedikit ngilu, dan benar saja saat aku membalikkan badan aku melihat laki-laki sedang membereskan beberapa perkakas yang jatuh dari wadah nya.


"Kalo jalan tuh hati-hati dong, Mas!" Ujar ku penuh kekesalan. Bisa-bisanya dia menabrak ku, padahal jalanan di tempat itu masih sangat luas. Apa dia buta? pikirku.


"Nay, kamu tidak apa-apa?" Nurul yang melihat kejadian itu dengan jelas langsung berlari ke arahku. Melihat tanganku yang sedikit merah, "tangan kamu sakit ya?" lanjutnya.


"Aku gpp kok," jawabku sambil menatap ke arahnya, "dianya aja yang jalan ga pake mata. Heran, jalan seluas ini masih aja nabrak, matanya ga di pake kali."


Aku mengumpat kesal, menyumpahinya sumpah serapah namun tak ada balasan darinya. Apa dia tidak marah? kenapa dia tidak balik emosi padaku.


Dan aku sangat terkejut saat laki-laki yang ku sumpahi itu ternyata malah bertatapan intens dengan Nurul. Mereka saling bertatapan seolah sedang ada yang dibicarakan, tapi dalam diam. Aku memandangi keduanya, lumayan lama. Apa yang sedang mereka lakukan?


"Nurul, kamu gpp?" Aku menepuk pundak Nurul pelan. Nurul yang sadar langsung gelagapan dan laki-laki itu juga kembali merapihkan benda-benda yang masih berceceran.


"Gpp Nay, yaudah yu aku antar kamu keluar." Nurul yang gugup malah menggiringku pergi meninggalkan laki-laki menyebalkan itu.


"Kamu kenal sama dia Nur?" Tanyaku sedikit kepo. Ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka?


"Siapa? Laki-laki tadi?" Nurul balik bertanya.


"Iyalah siapa lagi," sahutku malas.


"Oh itu, dia cuma anak didik Abah."


"Oh .... Pasti orangnya nyebelin ya." Tanyaku kembali sambil mendekatkan wajahku di depan Nurul.


Hening


"Nur," aku melambai-lambaikan tanganku tepat di depan wajahnya.


"Hah?" Nurul kembali terkejut.


Sejak kapan Nurul jadi lola begini? Setauku dia sangat pintar dan sangat cekatan waktu sekolah dulu.


"Yaudah, Nur Lupain aja! itu Kak Ais udah di depan nungguin, aku balik dulu ya Assalamualaikum." Ucapku seraya berjalan menemui Kak Aisyah.

__ADS_1


"Oh iya, Waalaikumsalam warohmatullah," sahut Nurul seraya membalasnya dengan senyuman manis.


Senyuman yang selalu jadi candu bagi kaum Adam.


__ADS_2