
"Mama, kenapa tidak ingin paman itu yang mengantar kita pulang?" tanya Vicnez.
"Vicnez, kita tidak boleh naik mobilnya, kita tidak mengenalnya, sayang!" jawab Rancy.
"Tapi, paman itu baik orangnya, Ma," kata Vicnez.
"Bagaimanapun kita jangan menyusahkan orang lain ya, kita naik taksi saja. sekarang kita temui papa dulu setelah itu kita baru pulang," ujar Rancy.
"Iya, Ma!" jawab Vicnez.
Setelah beberapa saat kemudian Rancy dan putranya menjumpai Chris yang berada di ruangan kantornya.
"Rancy, apa kamu yakin hari ini kamu akan pulang? bagaimana kalau Caine memeriksamu lagi," kata Chris.
"Aku sudah baikkan, dan tidak perlu diperiksa, percayalah aku tidak apa-apa!" jawab Rancy.
"Apakah kamu sudah membawa obatnya?" tanya Chris.
"Aku sudah membawanya, Chris, aku dan Vicnez pulang naik taksi saja. kamu lanjutkan saja kerjamu!"
"Aku yang akan mengantar kalian pulang," jawab Chris yang mengambil kunci mobil.
"Tapi, hari ini kamu mulai kerja, kami bisa pulang sendiri."
"Tapi, Rancy--"
"Pergilah lakukan tugasmu sebagai dokter, aku dan Vicnez menunggumu pulang," ucap Rancy dengan senyum.
"Apa kamu yakin pulang naik taksi?"
__ADS_1
"Iya, aku yakin. dan malam ini aku ingin menyediakan makanan kesukaanmu dan Vicnez," jawab Rancy.
"Kalau begitu sampai jumpa malam ini," ucap Chris dengan senyum.
"Papa, cepat pulang, Ya. malam ini Vicnez ingin menonton bersama papa," ucap Vicnez.
"Baik jagoanku, kita akan menonton sampai kamu ketiduran," jawab Chris yang mencium pipi putranya.
"He he he...," suara tawa Vicnez yang sangat gembira.
"Vicnez, ayo kita pulang dulu ya, sekarang papa sedang kerja," kata Rancy.
"Iya, Ma!"
"Papa, cepat pulang ya, bye...bye...," ucap Vicnez sambil melambai tangan mungilnya.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam Vic akhirnya sampai ke tujuannya.
Mansion Andrianez.
"Apakah di rumah ini tidak ada tersimpan barang miliknya?" tanya Vic yang melangkah masuk sambil melepaskan jasnya.
"Maaf, Bos," ucap Will dengan menunduk.
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Vic
"Karena tidak ingin bos mengingatnya, makanya aku membuang semua barang yang ada hubungan dengannya," jawab Will.
"Membuang semua barang miliknya?"
__ADS_1
"Iya."
"Sejak kapan kamu memiliki wewenang melakukan ini padaku? sejak kapan aku memberi kamu hak untuk ikut campur urusanku?" tanya Vic dengan ketus.
"Lalu, di mana rekaman?" tanya Vic.
"Rekaman?" tanya Will.
"Rekaman yang dipasang setiap sudut di rumah ini? keluarkan rekamannya sekarang juga! aku ingin melihatnya!" perintah Vic.
"Sudah ku bakar, Bos. maaf!" ucap Will yang berlutut di hadapan bosnya itu.
"Bakar? kenapa kau harus membakarnya? apakah aku memberimu izin?" tanya Vic dengan sangking kesalnya.
"Aku hanya tidak ingin bos semakin terluka, kejadian yang menimpa nyonya menyebabkan Anda koma selama dua bulan dan kemudian amnesia. dan aku tidak ingin bos mengingatnya lagi," ucap Will.
"Apakah karena aku memberimu kebebasan sehingga kau campuri urusan rumah tanggaku?" bentak Vic dengan nada ketus.
"Bos, beri kesempatan untuk Will menebus kesalahannya!" pinta Jacky.
"Menebus kesalahannya dengan cara apa? membuang barang milik istriku dan membakar satu-satunya kenangan yang tersisa. dan melalui rekaman itu aku bisa melihat siapa istriku. tapi sekarang aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah istri sendiri," ketus Vic.
"Aku sangat kecewa denganmu, aku tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini tanpa bertanya padaku dulu," bentak Vic.
"Bos, aku berjanji akan membantu memulihkan ingatanmu!" ucap Will.
"Dengan cara apa? aku ingin dengan cara yang cepat, aku sudah lama melupakan dia. dan sekarang aku ingin segera tahu siapa gadis yang pernah menjadi istriku," kata Vic dengan nada keras.
"Aku akan menunjukan Anda tempat pertemuan pertama, mungkin saja bisa membantu Anda ingat masa lalu," ujar Will.
__ADS_1