
Apartemen Chris.
Di pagi itu Rancy memegang kepalanya karena kesakitan.
Wanita beranak satu itu mengerang kesakitan sehingga keringat membasahi wajahnya.
"Aargh...," jeritan Rancy yang berubah posisi terlungkup.
Klek.
"Mama...," teriak Vicnez yang berlari dengan cemas menghampiri Rancy. anak itu mendengar jeritan mamanya dari kamar.
"Mama, apakah kepala mama sakit lagi?" tanya Vicnez.
"Sayang, ambilkan obat mama di laci kedua!" pinta Rancy yang berusaha bangkit.
"Iya, Ma!" jawab Vicnez yang membuka laci tersebut. anak itu mengambil sebotol obat serta gelas yang berisi air putih dan memberikan kepada ibunya itu.
"Terima kasih," ucap Rancy yang membuka penutup botol itu dan menuangkan beberapa butir obat dan ditelan dengan air putih.
"Mama, bagaimana kalau kita ke rumah sakit lagi hari ini?" tanya Vicnez yang khawatir dengan kondisi mamanya.
"Mama tidak apa-apa, Sayang!"
"Tapi, wajah mama sangat pucat, mana mungkin tidak apa-apa. papa tidak ada di sini. lebih baik kita menjumpai dokter saja, Ma!"
"Tapi, Vicnez--"
"Mama, pergi jumpai dokter sekarang juga, mama sangat pucat!" pinta Vicnez yang hampir menangis karena takut.
Rancy yang melihat putranya sedang memohon padanya, akhirnya ia pun hanya bisa menyetujui permintaan anak itu.
"Mama ganti baju dulu ya, setelah itu kita baru pergi!" kata Rancy.
"Benarkah, Mama akan pergi temui dokter itu?"
"Iya, Sayang. pergilah ambil jaketmu. jangan sampai kedinginan!"
"Baik, Ma!" jawab Vicnez yang berlari menuju ke kamarnya.
"Keberuntunganku memiliki anak yang berbakti," gumam Rancy.
Rumah sakit.
"Ambil obat ini dan minum dengan rutin!" ucap Dokter Jimz pada Vic.
"Baiklah!" jawab Vic.
"Apakah Anda tidak tidur dengan baik?" tanya Dokter Jimz.
"Iya, beberapa hari ini aku selalu saja bermimpi tentang Grace, tapi sayangnya aku tidak bisa mengingat wajahnya. Dokter Jimz, apakah aku akan selalu begini? tidak bisa ingat semua tentangnya?"
"Tentu saja tidak, Anda pasti akan sembuh. apa saja yang Anda ingat tentangnya?"
"Hanya suaranya saja yang aku ingat, selain itu tidak ada lagi," jawab Vic dengan kecewa.
"Dibawa santai saja, jangan memaksakan diri Anda, Tuan, kejadian yang menimpa istrimu adalah hal yang paling sulit bagimu untuk menerimanya. oleh sebab itu Anda butuh waktu dan kesabaran!"
"Bagaimana mungkin aku bisa bersabar lagi, sementara aku tidak tahu bagaimana dengan dia di luar sana. perasaanku tidak akan salah. dia pasti masih hidup dan dalam kesulitan," ujar Vic dengan sedikit emosi.
"Kenapa Anda bisa merasa bahwa istri Anda masih hidup?"
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan beradaannya, walau aku tidak ingat tentang dia. tapi aku yakin karena perasaan kami . sehingga aku bisa merasakan dia sedang mencariku," jawab Vic.
__ADS_1
Di sisi lain Rancy dan Vicnez mendatangi rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Jimz.
Vicnez berlari dengan cepat sehingga membuat Rancy harus mengejarnya.
"Vicnez, jangan lari! kamu akan terjatuh...," panggil Rancy.
"Mama, cepat kita temui dokter itu!" jawab Vicnez yang sambil berlari.
"Iya, tapi jangan terburu-buru! cepat berhenti!" teriak Rancy yang mengejar langkah putranya.
Vicnez yang tidak mau berhenti berlari, ia menabrak seseorang hingga terjatuh.
Bruk...
"Augh...," jeritan Vicnez yang tersungkur.
"Hei! dasar bocah jahanam, apa kau buta ya?" bentak pria itu yang sedang emosi.
"Vicnez...," teriak Rancy yang menghampiri putranya.
"Bagaimana, apa kamu terluka?" tanya Rancy yang memapah putranya.
"Mama, lututku berdarah," kata Vicnez.
"Kurang ajar! aku sedang bicara denganmu, apa kau sudah bisu ya," bentak pria itu yang ingin menarik lengan Vicnez.
"Lepaskan tanganmu, jangan sentuh anakku!" bentak Rancy yang mendorong pria itu menjauh dari putranya.
"Dasar pelacur! anakmu sendiri tidak bisa kau awasi, malah berani melawan!" bentak pria itu.
"Paman, jangan bicara sembarangan! mamaku adalah wanita yang paling baik," kata Vicnez dengan kesal.
"Ibu dan anak sama saja, awasi anak haram ini dengan baik, jangan sampai aku melihatnya lagi," ketus pria itu.
Plak...
"Berani sekali kau menghina anakku!" bentak Rancy.
"Keterlaluan," bentak pria itu yang ingin melayangkan tangannya dan ditahan oleh seseorang dari belakang.
"Aarrghh...," jeritan pria itu yang kesakitan karena tangannya digenggam dengan erat hingga ke belakang.
"Paman...," teriak Vicnez dengan girang. anak itu melihat Vic sedang menahan tangan pria itu hingga menjerit kesakitan.
"Bos!" panggil Jacky yang menghampiri bosnya.
"Mulut pria ini terlalu banyak bicara, bawa dia keluar!" perintah Vic yang melepaskan tangan pria itu.
"Lepaskan aku!" bentaknya pada Jacky yang menahan tangannya.
"Diam!" ketus Jacky yang menarik pria itu pergi dari sana.
"Vicnez, mama akan membawamu temui dokter ya," ucap Rancy dengan cemas.
Tatapan Vic langsung fokus pada Rancy yang mencemaskan putranya.
"Mama, jangan cemas! Vicnez tidak sakit dan hanya masalah kecil," jawab Vicnez.
"Paman sangat hebat karena bisa mengusir paman itu," ujar Vicnez dengan senyum sambil bertepuk tangan.
"Kakimu terluka, paman akan membawamu menjumpai dokter," ujar Vic yang mengendong Vicnez.
"Biar aku saja yang mengendongnya!" kata Rancy.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku saja!" jawab Vic yang melangkah pergi menemui dokter.
"Paman, kenapa ada di sini?" tanya Vicnez.
"Paman ada urusan, bagaimana dengan kakimu, apakah sakit?"
"Tidak sakit! Vicnez adalah anak laki-laki hanya terluka bagian luar, jadi tidak masalah," jawab Vicnez.
"Anak ini kenapa bisa begitu akrab dengan pria ini?" batin Rancy.
Rancy yang berjalan di belakang Vic, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. wanita itu melihat punggung pria itu dan muncul sebuah bayangan dalam ingatannya.
"Vic," batin Rancy.
"Apa aku sudah gila, kenapa aku malah menganggap dia adalah Vic, sedangkan dia saja tidak mengenalku. hanya punggung saja yang sama bukan berarti orang yang sama," gumam Rancy.
"Mama, kenapa diam saja?"tanya Vicnez yang melihat wanita itu yang sedang berdiri diam di sana.
Vic menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rancy.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Vic yang menghampiri wanita itu.
"Aku...baik-baik saja," jawab Rancy.
"Apakah kamu tidak sehat? kamu kelihatan pucat."
"Mama sakit kepala lagi, dan tidak bisa tidur dengan nya---" jawab Vicnez yang dipotong oleh Rancy.
"Vicnez, obati lukamu dulu!" kata Rancy.
"Apa kamu yakin sehat-sehat saja?" tanya Vic yang menyentuh pundak wanita itu.
"Iya," jawab Rancy yang melangkah pergi menemui salah satu dokter untuk mengobati luka putranya
"Paman, mama tidak baik, dia selalu berbohong karena tidak ingin kita khawatir," bisik Vicnez yang di telinga Vic.
"Apakah mamamu sering sakit?" tanya Vic.
"Kalau sedang tidur mama sering mengalami sakit kepala dan mimpi buruk," jawab Vicnez.
"Bukankah papamu adalah dokter, kenapa tidak mengobati mamamu?"
"Papa sering menjaga mama selama ini, papa adalah pria yang paling baik terhadap mama," jawab Vicnez.
"Kelihatannya kalian sangat bahagia," ucap Vic yang sambil ikuti Rancy.
"Iya, papa dan mama saling mencintai, tapi sekarang papa pergi ke turki merawat pasien di sana," kata Vicnez.
"Bukankah di sana sedang terjadi gempa? apakah papamu sedang membantu para korban?"
"Iya, papa Vicnez sangat suka membantu hingga tidak takut menghadapi bahaya," jawab Vicnez.
"Lalu, bagaimana denganmu, kalau mamamu sedang sakit?"
"Vicnez bisa jaga diri sendiri," jawab Vicnez dengan senyum.
"Pintar sekali," ucap Vic yang mencium pipi anak itu. tanpa di sadari Vic telah menyayangi Vicnez yang adalah putra kandungnya sendiri. pertemuan mereka telah mengikat mereka sehingga sulit dipisahkan.
Vicnez yang dikenal sangat dingin dan hanya akrab dengan Chris selama ini. kini ia juga sangat akrab dengan Vic yang baru dia kenal.
Di hari itu Vicnez sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya pada ketua mafia itu. saat dokter mengobati lukanya ia sedang memeluk tubuh Vic dengan erat.
"Vicnez, apakah kamu bisa lepaskan tanganmu dulu," kata Rancy.
__ADS_1
"Aku tidak mau! kalau lepaskan tanganku nanti paman langsung pergi," jawabnya.
"Biarkan saja! tidak apa-apa!" ujar Vic dengan senyum.