
Will mengendarai mobilnya dan berhenti di jalan yang di mana tempat Vic dan Grace bertemu pertama kali.
"Bos, di sinilah tempat Anda dan nyonya bertemu. saat itu seorang gadis yang tidak dikenal langsung masuk ke mobil kita," kata Will.
Vic melihat sekitaran jalan itu dan berusaha ingin mengingat kembali masa lalu.
"Ma-maaf, aku tidak bisa keluar, kalau mereka melihatku, aku akan ditangkap. tolong bantu aku!"
"Untuk apa aku harus menolongmu?"
"Aku menolongmu dan kau harus patuh dengan perintahku!"
"Perintahmu? apakah aku harus menjadi pembantumu?"
"Tidak!"
"Jadi, aku harus menjadi apa?"
"Menjadi wanitaku."
"Ternyata kau lebih menakutkan dari pada mereka, aku mulai menyesal karena masuk ke mobilmu."
"Kenapa hingga saat ini aku masih belum bisa ingat dengan wajahnya," batin Vic.
"Bos, bagaimana? apakah ingat sesuatu?"
"Aku hanya ingat saat itu seorang gadis masuk ke mobilku, dan aku ingin dia setujui syaratku. setelah itu aku baru menangkap mereka yang sedang mengejarnya," jawab Vic.
"Bos, ini adalah awal yang baik, karena setidaknya bos bisa ingat pertemuan itu," ujar Will
"Aku ingin bertemu dengan Harry Shorters!" kata Vic.
"Baik, Bos," jawab Will yang menghidupkan mesin mobilnya.
Mansion Harry.
Siang itu Harry sedang menyirami bunga dengan mengunakan selang air. wajah pria itu semakin menua dan menampakan lipatan pada kulit wajahnya.
__ADS_1
"Tuan, ada yang ingin bertemu," ucap seorang pria paruh baya yang adalah asistennya.
"Usir saja kalau wanita itu datang lagi!" jawab Harry.
"Bukan mereka, Tuan. tapi, tuan Vic Andrianez, menantu Anda!" jawab asistennya.
Harry langsung terdiam saat mendengar nama pria itu.
"Apakah ingatannya sudah pulih?" gumam Harry.
"Persilakan dia masuk!" perintah Harry pada anggotanya.
Setelah beberapa saat kemudian Vic menemui sang mertuanya. Harry menyambut menantunya itu dengan gembira dan sedih. mereka kemudian duduk bersama dia ruangan tamu.
"Vic, tidak ku sangka kamu akan datang, sebenarnya ada masalah apa?" tanya Harry dengan ramah.
"Maaf, karena selama ini aku melupakan semuanya, hingga saat ini aku baru menyadari bahwa aku telah menikah dan masih memiliki seorang mertua," ucap Vic
"Vic, apakah kamu sudah ingat semuanya?"
"Tidak! selama ini aku merasa ada sesuatu yang sudah ku lupakan, saat di Los Angeles, aku baru menemui dokter Jimz. dan beliau telah memberitahuku kalau aku hilang ingatan," jawab Vic.
"Aku hanya ingat beberapa hal, tapi aku masih tidak bisa ingat dengan wajahnya," jawab Vic.
"Lupakan saja! karena semua sudah berlalu!" ucap Harry.
"Apakah Anda bisa melupakan Angelina yang telah meninggal?"
"Angelina adalah seorang istri yang sudah bersamaku selama belasan tahun. aku tidak bisa melupakan dia," ujar Harry.
"Aku ingin memahami Grace lebih jauh, apakah Anda bisa memberitahu semua tentangnya?"
"Vic, lima tahun telah berlalu, kenapa kamu masih tidak lepaskan saja. kejadian itu bukan salahmu juga. itu adalah sebuah kecelakaan," kata Harry
"Bagiku itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, walau aku tidak memiliki kenangannya. akan tetapi aku tetap merasa sakit karena harus kehilangan," ujar Vic.
"Kamu masih muda, terimalah apa yang telah terjadi. jangan pikirkan masa lalu lagi!" ucap Harry.
__ADS_1
"Musuhku mencari masalah denganku sehingga menyebabkan Grace dan Angelina menjadi korban. maaf, kesalahan ini walau sampai kapanpun aku tidak bisa menebusnya," ucap Vic.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu, aku hanya bisa menyalahkan nasib sendiri. sekian lama aku tidak tahu bahwa aku memiliki seorang putri dan saat kami baru berkumpul aku harus kehilangan dia. senyumannya di hari pernikahan adalah kebanggaan bagiku sebagai orang tua. anak ini hidup sangat menderita karena ulah ibunya itu. aku masih belum sempat untuk menebus semuanya. Tuhan sudah membawanya pergi," kata Harry.
"Pa...."
"Vic, jangan lagi merasa bersalah, semua ini bukan salahmu. Grace dan Angelina sudah tenang di alam sana. aku juga sudah terima kepergian mereka. karena aku tahu...kalau saja aku masih tidak bisa menerimanya. maka mereka akan lebih menderita. kita juga harus menjalani hidup kita dengan baik. dan aku yakin kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan lagi!" kata Harry.
"Kebahagiaan? kebahagiaan yang ku miliki telah ikut lenyap di dalam ledakan itu," ucap Vic.
"Aku yakin kamu pasti bisa melaluinya, biarlah dia pergi dengan tenang. lima tahun sudah berlalu sudah saatnya kamu relakan," ujar Harry.
"Apakah Anda tidak memiliki fotonya?"
"Aku dan Grace baru berkumpul tidak lama, saat itu kami belum sempat foto bersama. tapi gadis itu tetap dalam hatiku sebagai orang tua. kami berpisah di saat dia masih dalam kandungan. selama dua puluh tahun lebih kami tidak bertemu. dan kami bersama baru hitungan hari. dan setelah itu kami berpisah kembali...."
"Vic, mungkin jodohmu dan Grace telah berakhir, kamu adalah pria yang baik dan tentu saja akan mendapatkan kebahagiaan lagi," ucap Harry.
"Aku akan tetap mencari kenanganku bersama Grace, aku sangat yakin kalau aku sangat mencintainya."
"Hilang ingatan terkadang lebih baik dari pada ingat semua masalah yang kita hadapi, saat aku kehilangan Grace dan Angelina. aku lebih memilih bisa hilang ingatan seperti dirimu. dengan begitu aku tidak akan begitu menderita," kata Harry.
"Aku akan menerima kehilangan dia, dan yang aku inginkan adalah mengingat semua tentang dirinya. aku akan menjalani kehidupanku dengan baik. tapi, aku ingin hidup dengan kenangan wanita yang telah menjadi istriku," ujar Vic.
"Kamu akan lebih menderita kalau kamu ingat kenangan kalian!"
"Tidak! setidaknya aku bisa tahu siapa gadis yang pernah ku cintai dan menjadi istriku, walau tanpa dia setidaknya masih ada kenangannya. hanya ini yang bisa ku lakukan sekarang," jawab Vic.
"Vic, aku tidak akan melarang keinginanmu, aku hanya berharap apapun yang kau ingat kembali semua telah berlalu. dan kamu harus menerimanya," ujar Harry.
"Iya, aku mengerti!" jawab Vic.
Setelah beberapa menit kemudian Vic meninggalkan kediaman mertuanya.
Harry menarik nafas panjang dan turut sedih dengan kondisi menantunya itu.
"Tuan, tidak sangka tuan Andrianez akan ingat tentang nona setelah lima tahun berlalu," ucap asistennya.
__ADS_1
"Putriku yang malang, senyuman bahagia di malam itu aku masih ingat dengan begitu jelas. dan hanya berselang selama beberapa jam semua menjadi sirna," kata Harry.