
"Paman Jordan!"
Jordan terkejut pada tepukan tangan Mia, dia mendapat tarikan dari anak kecil itu saat Febi sudah sampai di pintu bioskop. Diapun menggendong Mia untuk menyusul.
Dari pintu bioskop satu, Febi masih mengawasi Mia. Apa dia terlalu membiarkan anak perempuannya dekat-dekat dengan pria asing? Ketakutan akan pelecehan yang dialami anak-anak kecil mulai menghantui kepalanya. Apalagi kejadian tadi di ruang ganti membuatnya berpikir sedikit berlebihan.
Begitu keluar dari bioskop, Mia dan Febi ke kamar mandi. Jordan juga buang air kecil. Pria itu melirik ke samping pada Adam yang sedang buang air kecil. Anak kecil itu hanya meliriknya dan kembali pipis.
"Butuh bantuan, Boy?" Tanya Jordan melihat Adam berjinjit dan akan meraih kran, tetapi tak sampai.
Adam membulatkan mata saat dia digendong dan didudukan di meja westafel yang kering. "Terimakasih, Paman?"
"Kemarin Paman lihat kamu, tidak terlalu suka dengan mobil, ya? Apa mobil Paman kurang bagus? Atau Mamamu punya mobil yang lebih bagus?" Tanya Jordan sambil cuci tangan.
"Mobil Paman bagus-bagus, kok. Tapi Adam paling suka mobil mama."
"Oh Adam paling suka mobil mama? Tapi mobil yang mana, apa maksudmu mobil yang kita tumpangi kemarin saat Paman mengantarmu pulang?" Jordan berbinar begitu Adam menggelengkan kepala. Bukan mobil berwarna silver itu?"
Adam kembali menggelengkan kepala.
"Jadi, mamamu memiliki mobil lain?"
"Ya, mobil mama yang merah." Adam mengernyitkan kening pada Paman Jordan yang menganga kegirangan. Dia terkejut karena dirinya digendong mendadak, lalu diturunkan ke lantai. Ada apa Paman senyum-senyum sendiri?
Jordan bersiul saat keluar dari kamar mandi. Dia semakin yakin bahwa si poni itu adalah Mrs. Febi. Lalu mobil warna merah yang dimaksud Adam itu Ferrari, kan! Lelaki itu semakin tidak sabar lagi untuk segera mengaturkan niatnya pada Mrs. Febi.
Diberikan lembaran tisu kering kepada Adam kemudian mereka melangkah keluar.
Jordan baru menurunkan Febi di rumah besar itu. Dia melihat halaman yang hanya ada mobil Xenia terparkir. Dimana mobil merah itu? Kenapa tidak ada di sini, apa di dalam garasi?
Sebelum benar-benar jauh, Jordan melirik ke spion samping, tampak Febi menjinjing kantong plastik sambil menggendong Mia yang tertidur. Sedangkan, Adam berjalan lesu tampak mengantuk.
__ADS_1
Bagaimana cara aku memiliki mobil itu, sedangkan aku sendiri bingung cara mengatakan niatku pada Mrs Febby ?
Lelaki itu takut membuat wanita itu tersinggung. Atau kegeeran dan mengira dia sedang mendekati Mrs. Febi setelah semua kejadian tak terduga hari ini, terutama di ruang ganti.
*
Ketika Febi cuci muka setelah berganti piyama, dia melihat cermin dan wajahnya langsung memerah. Teringat ....
Febi tak kuasa menahan malu, setelah sadar Jordan melihat ke arah cermin pada pantulan dirinya. Dia tak berani mundur karena ruangan itu terlalu sempit. Berikutnya, Jordan terpejam, yang membuat Febi merasa sedikit lega.
Akan tetapi bagaimana pun ini, Jordan melihatnya dan dia ingin sekali bersembunyi di balik lubang kelinci. Wanita itu merasakan napasnya semakin cepat dari hidung karena gugup dan bekapan pria itu terasa mengendur, tetapi Febi merinding saat merasakan napas berat di pucuk kepalanya.
Ini kesalahannya. Febi melihat ke bawah pada celana trainingnya yang masih belum terlepas dari pergelangan kaki. Gara-gara itu pula dia kehilangan keseimbangan lalu oleng sampai tak sadar seseorang telah memegangnya. Semua itu begitu cepat, sebelum dia mengenal siapa penolongnya, dia melihat ke kiri pada suara perempuan dan laki-laki yang akan mendekat ke lorong ganti.
Saat Febi akan melepaskan diri, dia justru melayang dan sudah dalam bekapan seorang lelaki, terlebih pria itu ikut masuk ke dalam bilik kamar pas! Setelah tahu itu Tuan Jordan, rasanya dia mau mati saja!
Febi merasakan napas berat di belakangnya, dia akan bersuara takut bila anaknya sampai mendengar. Hal berikutnya. Perutnya justru dipeluk ... ah tidak sampai situ, ternyata tubuhnya di putar dan diangkat sehingga menempel di perut pria itu. Walau kemeja yang dipakai Jordan basah, tetapi justru dia merasakan hangat dari dada bidang dan kokoh yang menerawang dari balik kemeja basah itu.
Dengan satu tangan pria itu menahan tubuhnya, sementara tangan lain memberi kode untuk diam. Jordan membuka mata dan menunjuk tirai. Dia berusaha menurunkan tubuhnya tanpa suara tetapi Jordan menahannya.
Baru, setelah suara di luar bergeser agak menjauh, lalu Jordan menurunkannya tanpa suara.
"Aku bersumpah tidak mau bertemu lagi dengannya!" gerutu Febi dengan keyakinan penuh.
Badannya pegal saat bangun, Febi mau tidak mau bangkit dari tidur karena mendengar rintihan kesakitan. Dia terkejut melihat darah di wajah Adam.
Setelah tak sengaja menyingkap kaos Adam, dia terpaku pada memar. Diperiksa lebih teliti ada banyak memar dan bercak ungu dan merah di sekujur tubuh Adam.
"Mia, Mia bangun, Nak!" Febi dengan suara penekan. Dia secepatnya memasukan ponsel, dompet ke dalam tas gendong.
"Mama, Mia mau tidur," suara rengekan Mia di tengah suara rintihan Adam.
__ADS_1
"Kamu Mama tinggal di rumah ya, sama Bibi nanti ke sekolahnya."
"Mia tidak mau! Mia mau tidur!" rengekan putrinya diabaikan. Mia kini berbalik dan menghadap ke arah Adam. Lalu tertidur kembali dengan memeluk guling mini.
Febi menggendong tas di punggung, sedangkan Adam di depan. Dengan langkah cemas, dia pergi ke kamar pembantu. "Mbok Mar .... ! Mbok Mar?" Febi mengetuk pintu lebih intens di sela rintihan putranya.
"Iya Nyonya, tunggu!" Mbok Mar sambil mengikat rambut. Dia membuka pintu lalu terkejut mendapati wajah dan tangan Adam yang memar. Dia mengikuti Febi. Juragannya itu banyak meninggalkan arahan tugas untuknya, termasuk dalam persiapan Mia ke sekolah.
Perjalanan ke rumah sakit ditempuh 15 menit. Febi pun menelpon Oki saat dokter memeriksa putranya. Dia memberi tahu Oki kemungkinan pagi ini dia ijin tidak masuk kerja.
Menunggu hasil tes keluar, Febi kebingungan dengan masalah dana. Tabungannya hanya cukup untuk pengobatan sekitar tiga bulan dengan estimasi pengobatan normal. Kalau di California mungkin dia bisa meminjam sang teman. Tetapi bagaimana bila di sini lalu pengobatan biaya adam membengkak?
Apartemennya masih disewa orang. Apa bulan depan dia harus menjual apartemen atau mobil Ferarrinya? Mobil Ferarrinya kalau dijual jauh mengalahkan dari harga apartemennya. Lagipula, apartemennya akan ditinggali ke depan.
"Mengapa hidup menjadi sesusah ini, Ya Tuhan ..." kata Febi dengan kepala terlempar ke belakang dan membentur tembok berharap suara benturan itu menunjukan jalan keluar untuknya.
Bahu Febi loyo saat bersandar di kursi. "Apa Adam sakit gara-gara terguncang kemarin? Oh, Ya Tuhan, Adam, maafkan Mama yang tidak bisa melindungimu, Nak."
*
Ketika Febi pulang ke rumah, setelah menjemput Mia dari rumah Oki. Sore itu, dia dikejutkan oleh dua mobil operasional yang tidak ada di halaman.
"Maaf, Nyonya, dua mobil itu telah dibawa sopir suruhan Tuan Xander. Nyonya Andien juga membawa Mbok Mar dan Nona Sita, serta dua pembantu lainnya ke rumah utama."
Febi rasanya ingin menangis. "Apa, apa kau bilang tidak ada siapa-siapa lagi di rumah ini?" Dia merasakan otot-otot di wajahnya menegang.
"Ya, tinggal saya sendiri. Saya juga dilarang membantu Anda kecuali membuka dan menutup pintu gerbang. Anda juga dilarang membawa pembantu baru. Bahkan, Nyonya Andien memperingatkan kalau waktu anda di rumah ini tidak lebih dari seminggu atau Nyonya Andien akan datang sendiri." Security menyampaikan itu tepat di area tertangkap cctv.
"Saya tengah diawasi cctv, Nyonya Febi," lirih pria itu memastikan Febi mendengarnya.
"Ya, aku mengerti," kata Febi pasrah. Dia mengarahkan Mia masuk ke dalam rumah. Sampai dia mengabaikan semua pertanyaan Mia yang membuatnya semakin pusing dan ingin rasanya dia menjerit.
__ADS_1
Ya Allah, tidak adakah manusia yang bisa memberiku kelonggaran? Tidak hanya kedua mertua, suaminya, bahkan ayah sudah mengusir dari rumah masa kecilnya. Kini dia juga harus pergi dari rumah yang dia beli dengan Mike.