
"Kamu sudah pulang, Jordan!" Jeslyn langsung bangkit dari kursi taman dan menghampiri Jordan dengan mata berbinar "Evan mencarimu dari semalam."
Jordan mengangguk dengan tatapan dingin. Dia duduk di kursi panjang dan menunggu Jeslyn duduk di dekatnya. "Hari ini jadwal pengambilan sel induk kamu di Indo, kan."
"Dengar dulu, Jordan. Aku masih rutin meminum obat empat hari ini untuk meningkatkan sel indukku. Tetapi, aku menginginkan untuk pengambilan darah dilakukan di sini."
"Terima kasih, Jes, kamu jadi repot. Padahal, bisa darah itu diambil dari sana lalu rumah sakit yang mengirimnya."
"Tidak apa-apa kok, maka dari itu aku bergerak cepat agar tepat waktu sampai di sini." Jeslyn dengan bangga, berharap Jordan menghargai usahanya. Dia tidak peduli tentang siapa penerima donor itu, yang terpenting adalah mengambil hati pria tampan nan kaya ini.
"Aku ingin kita dinner bersama Evan."
"Iya, kita akan makan malam. Terpenting kita ke rumah sakit dulu."
*
Keesokannya Jordan menemui Dr. Dennis lalu bersama-sama mendatangi kamar Adam. Dr. Dennis menanyakan Adam ingin hadiah apa sebelum operasi dan katanya adalah naik 'Kapal Pesiar Mickey'.
Febi memperhatikan kepedulian Jordan. Namun, dia cemburu karena Dr. Dennis jauh lebih banyak menanyakan pendapat Jordan. Padahal, Febi merasa dialah yang paling berhak ditanyai.
"Nona Febi, tolong, temani saya pergi?" Tanya Jordan saat Febi akan pulang ke apartemen dan akan memesan taksi.
Febi mengernyitkan kening pada tatapan memohon Jordan. Dia ingin bertanya apa ada masalah karena Jordan tampak banyak pikiran, tetapi takut itu terlalu bersifat pribadi. "Memang kamu mau kemana?"
"Nanti kamu tahu, perjalanannya tiga jam. Namun, kita tidak bisa membawa Mia."
"Itu artinya kita pulang malam?" Febi yakin ini bukan hal sepele.
Jordan mengangguk pelan. "Tolong, Nona Febi?"
Febi berpikir sejenak. "Jadi, enam jam bolak-balik? Lama juga, ya. "
*
Mobil berhenti di dekat rumah Jordan. Ketika dua pelayan pria membuka pintu mobil, Febi keluar dengan terus terpaku pada helikopter. Dia terkejut saat dari belakang seseorang menggenggam tangan kanannya.
"Apa tiga jam perjalanan yang kamu maksud menggunakan heli!" Febi hampir teriak karena senang bercampur bingung.
"Iya." Jordan merangkul Febi dan rambut panjang itu berterbangan. Dia meminta agar Febi sedikit membungkuk lalu mengarahkan ke pintu heli. Dia berteriak di tengah suara bising mesin. "Hati-hati!"
Febi ternganga dan adrenalinnya meningkat begitu pintu heli ditutup dari luar, oleh orang yang memakai headphone. Suara bising pun sedikit berkurang.
Mata Febi beralih terpaku pada wajah sang pilot yang tampan. Untuk ukurannya yang jarang jelalatan, dia begitu tertarik pada pria berseragam pilot. Namun, mendadak pandangannya berubah gelap dan terhalang oleh telapak tangan berbau musk.
"Kenapa kamu memelototi orang itu sampai matamu mau keluar?"
Febi bergidik pada bisikan di telinga. Tangannya menarik tangan besar itu dan menjauhkan dari wajah.
"Jaga matamu!"
"Mmm?" Febi tidak berani menoleh karena sadar Jordan terus memandanginya dari samping. Dia benci napas berat itu.
__ADS_1
Tubuh Febi menegang saat tangan kiri Jordan itu menarik dagunya. Dia was-was dan tidak mau kejadian ciuman itu terulang.
"Apa yang menarik dari pilot itu?" Jordan kesal mendapati Febi makin terang-terangan memandangi anak buahnya, ditarik dagu wanita itu. "Agggr!" Jodan meringis sambil menarik tangannya yang sakit akibat gigitan gigi kelinci! Dikibaskan tangan ke udara.
"Apaan si gigit-gigit?" Jordan berdecak lalu melirik Febi yang memeluk lengan sendiri.
"Biar tahu rasa! Kamu dilarang keras memegang wajahku mulai dari sekarang!" gerutu Febi dengan adrenalin yang tengah meningkat.
"Kamu juga dilarang memelototi pilot itu!"
"Kenapa?" Febi kini memeluk tas di pangkuannya.
"Karena dia adalah anak buahku!" Jordan duduk lebih tegak dan melipat tangan di depan dada.
Kemudian satu sudut bibir pria itu terangkat sampai membentuk seringai. Sejak kapan orang cemberut menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya.
Belasan menit berlalu ketika Febi terus melihat keluar jendela tanpa menoleh dan membuat Jordan gatal. "Kamu bisa sakit, loh, lehernya?"
"Enggak, tuh!"
Jordan pindah ke kursi di depan, yang menghadap Febi. "Manis," panggilnya dengan suara seperti anak kecil setengah menggoda. "Apa kamu tidak mau bertanggung jawab?"
"Untuk apa?" kata Febi ketus sambil melirik sesaat ke depan lalu membuang muka lagi.
"Gara-gara kamu, dua malam ini aku tidak bisa tidur?" Jordan semakin gatal untuk tidak menggoda karena pipi memerah nan cemberut itu. Dia jadi senyum-senyum sendiri.
"Itu urusanmu."
"Loh, urusanmu juga? Karena kamu yang bikin aku jadi hilang kontrol," katanya dengan sedikit menyindir. Jordan menarik satu bungkus permen lalu disobek ujungnya. Diulurkan permen berwarna kuning ke ujung mulut Febi.
Dia menghisap rasa manis, dirasa-rasa seperti permen kesukaannya. "Apa kamu juga suka permen ini, Jo?"
"Kenapa, Febi! Kamu mulai penasaran denganku, pasti?"
"Biasa saja," kata Febi dengan bmalas. Dia mengamati dari bentuk hidung dan bibir pria itu yang mirip sekali dengan Adam.
"Seandainya kita menikah, kamu setuju, tidak?"
"Ha?!" Bahu Febi bergetar. "Saya tidak berminat." Pandangan Febi meredup. Sakit hatinya pada Mike kembali timbul ke permukaan.
"Nona Febi, penting bagi anak laki-laki untuk melihat model perilaku laki-laki yang tepat. Betapapun kerasnya seorang ibu menjadi sosok ayah, dia tidak bisa menjadi seorang ayah sungguhan."
Febi mengernyitkan kening. "Ya, aku tahu."
"Absennya laki-laki dalam keluarga ... menyebabkan kurangnya keseimbangan, loh." Jordan menyindir.
"Hih?" Febi menekuk bibirnya. "Eh, ada Logan, kok!"
"Tapi, kalau anak laki-laki menerima terlalu banyak energi 'perempuan' dalam perhatian, perwalian, dan pandangan hidup. Itu juga nggak bagus."
Kabin pesawat mendadak sesak bagi Febi. "Mr. Jordan, setiap keluarga itu berbeda. Beberapa anak tinggal bersama kakek dan neneknya; beberapa anak tinggal di panti asuhan; dan beberapa anak mempunyai dua ayah dan tidak memiliki ibu sama sekali, begitu juga di posisiku."
__ADS_1
"Jadi, Anda menerima situasinya tetapi tidak peduli pada Adam? Dia jelas kehilangan seorang figur ayah di masa-masa kritis pertumbuhannya?"
"Aduh, bisa tidak, tolong diam?"
"Dia masih kecil? Pikirannya bisa terganggu? Harusnya, dia fokus pada kesembuhan atau mempersiapkan masa depan dia sendiri. Namun, Anda telah membebani putra Anda sendiri, padahal saya sudah bilang, kalau Anda bisa menangis di depan saya maka lakukan saja, jangan di depan Adam-"
"Permisi, itu masalah pribadi!" Febi tanpa sadar mencengkeram kedua lutut Jordan. "Berhenti, ikut campur dalam urusan keluarga saya. Anda sudah melewati batas, Tuan Jordan!"
"Mrs. Febi?" Jordan menarik napas dalam-dalam. "Mereka juga perlu mengandalkan figur ayah untuk memberikan rasa aman, tidak hanya fisik tetapi emosional."
"Oh, iya, aku sudah memperhatikannya dengan baik." Febi mengetukkan ujung sepatu ke plat besi merasa bosan pada ceramah Jordan.
"Seorang anak juga ingin membuat ayah mereka bangga, lalu jika tidak ada ayah, ke mana mereka akan mengadu?"
"Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa ketika ayah memberikan kasih sayang dan suportif, sangat memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak. Itu sama saja kita menanamkan rasa kesejahteraan dan kepercayaan diri secara keseluruhan."
"Lalu, aku harus bagaimana, ha? Aku sudah bercerai dengan seseorang yang sangat aku cinta, Mr. Jordan!" Febi ngos-ngosan dan merasakan panas di matanya.
"Jangan salah sangka," suara Jordan serak. "Hal terpenting bagiku adalah memberikan yang lebih baik untuk kehidupan."
"Anda bisa mengurus kehidupan anda sendiri." Febi menghadap Jordan dengan tangan melipat di depan dada.
"Tidak ada yang lebih penting selain memastikan tumbuh kembang ANAK-ANAK Ku dengan sempurna. Anak-anakku, Mrs. Febi, kau dengar?" Jordan dengan wajah garang melepaskan dasi dan menarik dari kerah.
"Ya, itu anak-anakmu tentu urusanmu," kata Febi terbata. Dingin menyelimuti tubuh Febi melihat Jordan yang merentangkan dasi biru.
"Anakku, ya urusan-ku. A-pa ini!" kata Febi meninggi bersamaan dengan satu bulir air mata yang jatuh ke pipi. Dia menggerakkan dua tangannya agar saling berjauhan, tetapi ikatan dasi pada tangannya terlalu kencang.
"Kenapa harus mengikatku?" Kebingungan dan ketakutan memenuhi wajah Febi.
Kabut mendung seakan menyelimuti Jordan. Dia pindah duduk dan kini berdampingan. "Biar kuberitahu yang sebenarnya."
Dengan syok Febi menoleh ke kiri pada pandangan kosong Jordan dan mulut pria itu berkomat-kamit. Dia mundur hingga menempel ke kabin untuk lebih jelas melihat wajah Jordan. Suara Jordan barusan begitu samar. "Kau bilang apa?"
"Adam dan Mia, anak kandungku." Jordan tersenyum dengan wajah sendu kemudian napas Febi berubah seperti asma.
"Bo-hong," suara Febi tercekik. Dengan tangannya yang terikat memukul bahu Jordan.
"Dr. Dennis memberitahumu, soal kebenaran kalau Adam bukan putramu. Dia begitu khawatir sehingga memintaku untuk memantau kamu. Namun, setelah aku mengikuti tes kecocokan sel induk ku, sulit ku percaya kalau Dr. Dennis memberitahu kalau Adam adalah putraku."
Lelaki itu meraih ponsel dari jas dan menggeser foto-foto. Begitu Jordan menunjukkan layar ponsel, pukulan Febi berhenti.
Kepala wanita itu menjulur ke depan, lagi-lagi sesuatu yang paling dia benci. Surat DNA yang selalu membuatnya trauma.
Warna mata, bentuk hidung bibir, rambut keriting Jordan yang mirip Adam dan Mia. Itu seperti hal paling mengerikan bagi Febi.
Wanita itu kira memiliki waktu banyak untuk bersama Adam dan Mia yang dibesarkannya. Namun, kini dia berpikir, Jordan akan membawa satu-satunya kekuatan terakhir dalam hidupnya.
Bahu Febi merosot, tubuhnya mendadak seperti kehilangan berat. Dia kehilangan keseimbangan. Pandangan matanya kabur oleh titik hitam. Titik gelap itu menyebar dan semua menjadi gelap.
...****************...
__ADS_1
Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.