
Febi sepanjang perjalanan menceritakan pada Sekertaris Li, soal kecurigaannya saat melahirkan dengan dibius total. Dengan kemajuan saat itu seharusnya tidak diperlukan hal tersebut karena rata-rata pasien operasi cesar hanya dibius sebagian, tetapi karena ketidaktahuannya saat itu dia diam saja saat perawat menyuntikkan bius di infusnya.
"Apa keluarga Anda saat itu tidak ada yang mendampingi?" Sekertaris Li mengarahkan mobil ke parkiran rumah sakit di daerah Sacramento.
"Mike saat itu sakit, padahal dia sudah pesan tiket. Ayah juga datang terlambat karena saat itu sudah di Jepang bersama mama dan Kikan. Sedangkan, aku belum memberitahu keberadaanku di sini pada Donna dan Logan."
"Apa Anda mencurigai seseorang?"
Febi menggelengkan kepala. "Tidak ada." Dia keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan Sekertaris Li. Kemudian membiarkan Sekertaris Li berkerja, karena dia tidak handal dalam hal mencari tahu.
Akhirnya, mereka keluar dari rumah sakit dan selanjutnya, mendatangi rumah dari seorang perawat yang berjaga di waktu-waktu setelah Febi melahirkan.
Di sebuah rumah, Febi dan Sekretaris Li dipersilahkan masuk oleh seorang pria ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat seorang bayi berusia dua tahunan, yang sedang belajar makan sendiri.
Tidak lama kemudian, turun dari tangga seorang perempuan- yang diduga si perawat yang lalu tampak terkejut. Sekertaris Li menduga wanita itu tahu Febi, dia sadar saat sikap perawat yang telah berhenti bekerja itu tampak berusaha terlihat normal.
Suara gaduh dari sesuatu yang diletakkan Sekertaris Li di atas meja. Pistol itu membuat sepasang suami istri terkejut, termasuk Febi.
Sebuah foto ditarik dari dalam jas, Sekertaris Li menyodorkan foto si kembar yang berusia satu minggu, berasal dari Febi. "Nona Mona, Anda mengingat bayi kembar ini lima tahun lalu? Malam itu Anda bekerja dan setelahnya, seorang teman Anda mengungkapkan bila Anda tidak diketahui keberadaannya sejak jam tiga pagi?"
Semua orang terpaku pada mata Mona yang tampak gelisah dan sering melirik ke segala arah dengan wajah pucat. "Aku sakit jadi pulang terlebih dahulu," jawabnya dengan suara tertahan.
"Benarkah? Bukankah Anda di rumah sakit? Jadi, kenapa Anda tidak dirawat di sana mengingat fasilitasnya lebih lengkap. Anda bilang memilih pulang? Anehnya, tiga hari setelahnya Anda tidak masuk dan bulan itu juga Anda berhenti bekerja dari sana."
Suami Mona yang berambut pirang tampak kebingungan dan menatap tajam ke pria yang tidak mengenalkan diri, malah membuat istrinya ketakutan. "Ada apa ini sebenarnya, Anda tampak mencurigai istri saya?"
"Anda masih memiliki waktu untuk berkelit, tetapi tidak lagi saat kami menangkap pelakunya, dan Anda akan dianggap berkomplot dengan penjahat itu, Mrs Mona." Sekertaris Li dengan tatapan penuh peringatan dan menarik pistol otomatis, dalam gerakan cepat melepas tembakan ke atas sehingga suami istri refleks saling memeluk karena ketakutan.
Febi menggigit bibir bawah, melihat anak kecil yang terkejut hingga mainannya jatuh dari genggaman saat anak itu menghampiri ke mari.
"Saya tidak tahu!" jerit Mona dengan mata membulat. "Malam itu hanya ..." Mona berjongkok dan menggendong bayinya. Lalu menyerahkan ke sang suami.
"Saya perlu berbicara dengan mereka, bisakah kamu memberikannya susu di kamar?" pinta Mona dan suaminya mengangguk, lalu menggendong sang anak sambil membawa botol susu kosong.
"Malam itu, saat saya kembali ke ruang bayi, saya merasa aneh saat menjumpai seseorang pria malam-malam dengan memakai masker dan tudung jaket, yang berdiri di pintu. Saya terus melangkah, dan mata saya terkejut saat menoleh ke kanan, dari balik kaca ada dua orang dengan masker dan tudung di kepala. Satu orang itu menggendong dua bayi.
Saya pikir mereka akan mencuri bayi. Dua orang itu berada di dekat keranjang bayi kembar yang dilahirkan malam itu. Sampai saya tak menyadari, orang yang di pintu telah berdiri di dekat saya dan berikutnya mulut saya dibius. Tapi aku melihat salah satu dari mereka mengambil si kembar yang masih memakai gelang bayi rumah sakit. Sementara pria lain meletakan bayi asing ke box bayi. Sampai situ pandangan saya mulai kabur."
Febi menutup mulut dengan tangan dan hatinya bergetar. Seseorang dengan sengaja menukar bayinya dengan anak Jordan.
"Begitu saya terbangun, saya disekap di sebuah terowongan air, yang gelap dan banyak tikus. Mereka juga tak memberi saya makan. Saya tidak tahu berapa hari disekap, kata suami saya bahwa saya hilang tiga hari." Mona bergidik. "Ketika saya sadar setelah pingsan, saya telah di mobil dan salah satu dari mereka bilang 'Tutup mulutmu selama hidupmu, kalau kamu sampai membukanya barang sedikit soal bayi-bayi itu, kami pastikan baik kamu dan keluargamu menderita lebih dari ini' ."
Sekertaris Li terdiam , tangannya memberikan kartu namanya. "Apa kamu mengundurkan diri dari rumah sakit karena ancaman mereka?"
"Tidak. Saya dipecat minggu itu setelah atasan saya memanggil, karena tiga hari saya tidak masuk. Padahal suami saya menelepon ke tempat kerja saya, dan mencari saya ke sana, tetapi manajement tidak mau tahu dengan alasan itu dan tetap memecat saya. Saya mencoba melamar ke rumah sakit lain beberapa kali, dan semua menolakku dengan alasan lowongan sudah berakhir, padahal beberapa orang datang setelahnya dan mereka menerima para pelamar lain." Mona menceritakan apa adanya. "Saya berpikir itu semua ada hubungannya dengan malam itu."
Sekertaris mengangguk-angguk sambil melirik jam, lalu beralih ke Febi. "Saya kira kita harus kembali sekarang, Nona."
"Tunggu, saya sepertinya memiliki sesuatu." Mona berlari ke lantai atas dan kembali membawa kantong plastik bening, berisi pisau lipat.
"Saya tidak tahu apa ini berguna atau tidak, tetapi saya mengambil ini di mobil saat terakhir kali dan menyimpan di celana saya, saat orang-orang itu akan mengantar saya kembali ke rumah. Hanya saja wajah mereka selalu tertutup, jadi saya tidak mengenali, lalu mungkin terdapat DNA saya di pisau ini."
Sekertaris Li memasukan plastik itu ke dalam jas. Mereka pun kembali ke LA dan langsung ke pelabuhan. Tidak lama kemudian tiga mobil sedan beriringan berhenti di dekat Febi. Dari pintu depan di ketiga mobil itu turun pengawal untuk membukakan pintu mobil.
Mobil pertama keluarlah Evan yang langsung berlari ke arah Febi, dan Jordan tersenyum pada Febi.
Mobil kedua, keluarlah Donna. Lalu, Mia dengan menggendong tas kecil di belakang, di depannya memeluk Winnie sweetie.
"Madam Febi!" Evan memeluk mantan gurunya yang baru berjongkok. "Evan rindu sekali."
"Madam juga sangat merindukan Evan. Dua bulan yang sangat lama." Febi masih memeluk Evan, matanya terpaku pada Mia yang langsung digendong Jordan.
__ADS_1
Kemudian muncul mobil Ambulance. Pengawal membantu Adam pindah ke kursi roda. Perawat khusus perwakilan dari rumah sakit lalu mendorongnya.
Mereka berhenti untuk check-in, Mia yang baru turun dari gendongan Jordan, langsung lari dengan menggendong boneka Winnie sweetie. Febi mengikuti ke arah Minnie dan Mickey.
Evan berlari menyusul Mia, diikuti pengawal.
Adam terus terpesona pada Mickey dan Minnie yang bertubuh besar. Namun, melihat banyak anak-anak naik kapal, sangat berisik, menjadi tidak nyaman.
Di koridor pendek dari lobi utama mereka berhenti dan menikmati pertunjukan selamat datang bersama anak-anak lainnya lalu antri berfoto.
"Apa Adam sangat menyukai Mickey?" Tanya Jordan.
"Mickey adalah satu karakter kesukaannya setelah donald bebek." Febi puas melihat kebahagiaan di wajah Adam dan Mia.
Jordan mengangguk. Dia terkesiap pada Mia yang mendekati Minnie lalu mencium hidung Minnie, saat karakter itu membungkuk.
"Bibi, aku mau foto dengan Mickey." Adam menarik-narik tangan Donna.
Mereka pun berfoto dalam satu barisan dengan Adam di tengah Minnie dan Mickey. Sementara Evan dan Mia di depan Minnie dan Mickey. Di samping kiri, Jordan. Sedangkan di sisi terkanan adalah Febi dan Donna.
Kemudian Jordan menjauh untuk menerima telepon dari Jeslyn.
"Sepertinya, aku dan Evan tidak pulang. Jangan khawatir. Kamu bersenang-senanglah dengan Mama," kata Jordan lalu mematikan telepon.
Mereka masuk lift dan menuju sebuah kamar, yang didalamnya terdapat empat kasur dalam satu ruangan yang luas.
"Semua pakaian sudah ditempatkan di lemari, Tuan." Sekretaris Li melapor saat tuannya duduk di sofa.
"Meeting akan dimulai 15 menit lagi, laptopnya sudah saya siapkan di ruang sebelah," kata Sekretaris Li lagi dan melirik tuannya yang sudah sibuk dengan tablet yang biasa untuk bekerja.
"Kau benar-benar perketat pengawasan anak-anak selama aku meeting, ya." Jordan menghela napas panjang karena meeting online memakan waktu hampir yatu jam.
"Baik, Tuan."
Adam mengangguk dan mendengarkan cerita Evan yang panjang kali lebar, sementara matanya sering melirik ke arah Mama dan Bibi yang mengobrol di kasur paling ujung kanan. Paman juga tampak sering mencuri pandang ke arah mama
Febi berjalan ke lemari saat Donna ke kamar mandi. Dia terkejut karena menemukan barang milik Jordan. Tiba-tiba Jordan sudah di sampingnya. "Ini kenapa baju-bajumu digantung di sini?" Wajah Febi langsung pucat.
"Ini kamar kita!"
"Ha? Kamu tidur di kamar ini?"
"Iya, Tiga dewasa dan tiga anak-anak. Empat kasur besar itu lebih dari cukup!" Jordan dengan wajah bersinar.
Febi menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak boleh! Nanti Donna risih!"
"Tapi, semua kamar telah dipesan, loh! Kamu tega mau mengusirku?" Jordan memasang wajah sedih.
"Pasti ada kamar kosong!" Febi sangat tidak mempercayai perkataan pria yang ingin dihindarinya.
"Cek saja sendiri, silahkan!" Jordan menyeringai.
Febi pergi mengambil ponsel dan langsung menelepon ke resepsionis. Sayangnya, apa yang dikatakan Jordan benar. Pantas saja tadi banyak yang naik kapal.
"Benarkan?" Jordan menyunggingkan senyuman dan gemas pada wajah tidak suka Febi.
"Kenapa cemberut, Feb?" Donna mengikat rambut sebahunya.
"Jordan tidur di sini, bersama kita. Semua kamar telah penuh." Febi dengan perasaan bersalah.
"Ya sudahlah, tidur saja kok repot. Kita juga sering melakukannya kalau balap di luar kota, kan? Satu kamar apa salahnya?" Donna menggendikkan bagu melewati dua orang itu.
__ADS_1
Donna bergabung dengan Mia yang sibuk melihat tanda tangan Mickey Minnie. "Ayo, lanjutin game kita!"
"Bibi, ayo cari Capten Jack Spallow dan minta tanda tangan!" Mia membolak-balik buku bersampul pink, masing-masing halaman sudah dinamai semua karakter Disney.
"Nanti, istirahat dulu, ya?"
"Bibi, Mia mau sekarang! Kalau tidak, Mia mau cari sendiri." Mia dengan kaki mungilnya turun dari kasur.
"Mia, mau kemana?" Tanya Febi dan menghentak tangan Jordan yang barusan menggenggamnya, untung Donna pas tidak lihat kemari. "Makan siang dulu bareng-bareng."
"Mia mau ketemu Capten Jack, Mama!"
"Iya, sebentar lagi, ya." Febi menggendong Mia dan membawanya ke balkon dengan pemandangan laut dan pelabuhan.
Donna keluar dari kamar untuk menelpon. Dia melirik Jordan yang ikut keluar bersamanya. "Katakan Febby tadi darimana?"
"Coba tanya sendiri?" Jordan dengan nada serius. Dia masuk ke kamar sebelah.
Donna dengan kesal berlalu dan melanjutkan telepon, melewati beberapa kamar. Di lantai berbeda, Donna melakukan video call bisnis.
Tanpa sengaja matanya terpaku pada sosok familiar. Sonna beranjak dari kursi dan sedikit berlari sampai melewati sekat kaca. Di kejauhan tampak Logan dengan menggandeng anak kecil.
"Dengan siapa Logan? Apa dia mengikuti Febi?" Donna terkejut karena panggilan di video call. Dia melanjutkan obrolan dan kembali duduk.
Sementara di ujung lorong, Logan memasuki kamar dan segera membantu melepas sepatu, dan celana jeans yang dipakai Orchid. Lalu mengikat rambut panjang Orchid dan memakai plastik penutup kepala agar tidak basah.
"Tunggu di sini Daddy! Jangan pelgi, Ochid takut!"
"Iya sudah cepat, Daddy di sini." Logan meraih ponselnya dan melirik Orchid yang melepas celana inti lalu berlari ke kamar mandi dengan menyincing kaos ke atas.
"Gimana?" Tanya Logan begitu menerima telepon dari anak buahnya.
"Seseorang telah menanyakan soal kejadian lima tahun silam di rumah sakit itu. Lalu, admin rumah sakit terpaksa memberi alamat Mona di bawah tekanan."
Logan memeras ponsel. "Katakan orang suruhan siapa itu?"
"Belum tahu, dua orang itu adalah perempuan dan laki-laki yang tidak mau menyebutkan nama. Apa perlu kita menculik Mona untuk mencari tahu, Bos?"
"Tidak perlu. Kau kirim direktur rumah sakit itu ke luar negeri dalam tiga hari! Segera kirimkan foto dari dua orang itu." Logan mematikan telepon. Dia melirik Orchid yang memakai celana.
"Apa kamu sudah mengeringkan dengan handuk, Ochid?"
Orchid menggelengkan kepala dengan menyengir. "Lupa, Daddy!"
"Kenapa terus lupa?" Logan berjongkok dan putrinya hanya terkikik. Dia mengambil handuk dan menyeka kaki mungil yang basah. Lalu memakaikan celana jeans. "Ayo kita makan, Ranpunzelnya Daddy."
Orchid berlari lebih dulu dan duduk di sofa membiarkan Papa Logan memakaikan kaus kaki dan sepatu untuknya. "Dad, ayo cari Kapten Jack!"
"Habis makan, ya!" Logan menggendong Orchid dna berjalan ke arah restoran. Para pelayan berpakaian kostum khusus. Resto dipenuhi suara anak-anak yang menjerit kesenangan dan ada juga yang menangis karena ketakutan dengan karakter jahat.
Di daratan, Jeslyn berjalan buru-buru dengan Shioban, melewati jembatan kapal. Jesyln senang saat calon papa mertuanya memberi tahu bahwa Jordan membawa Evan ke mari.
"Kenapa Jordan tidak memberitahu kita, ya, Ma?" Tanya Jeslyn memasuki area lobi depan dan disambut Mickey.
"Mungkin putraku sedang ingin menghabiskan waktu berdua. Karena itu kita ke sini lalu kejutkan dia!" Shioban terus melangkah dengan elegan dengan meneteng tas branded
Tidak lama kemudian, jembatan penghubung kapal telah diangkat pertanda kapal siap berlayar. Dua orang itu segera menuju ke kamar dan menyuruh seorang pengawal yang menemani mereka untuk mencari tahu di mana kamar Jordan.
...****************...
__ADS_1
Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.