Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
Bab 9 : Bioskop


__ADS_3

Tetesan air hujan diluar dipandangi Febi dan jam menunjuk pukul empat sore di layar televisi mini market. Tidak tahu apa jadinya kalau putra-putrinya kehujanan lebih lama. Anaknya bisa sakit, terutama Adam yang masih terlalu beresiko dengan segala macam infeksi


"Mrs. Febi, coklatnya." Jordan menaruh baki di meja. Dia terpaku pada wanita yang baru menoleh dan menghanduki rambut yang setengah basah.


"Terimakasih." Febi dengan wajah bingung melihat empat gelas cairan berwarna gelap yang mengepul dan tercium bau manis di atas meja. Dia mendongak dan melihat lelaki berambut keriting yang sekilas mengingatkannya pada seseorang.


Baju polo putih berkerah yang dipakai Jordan mengekspos lengan kokoh. Biasanya, dia melihat Jordan memakai lengan panjang atau jas.


"Tuan Jordan, kami sudah merepotkan anda." Febi menundukkan kepala sebentar setelah Jordan duduk di sampingnya, dia melihat si kembar yang ada di arena bermain. "Bahkan, anda menghibur Mia dan mengajaknya bermain sampai dia tidak lagi menangis."


"Sebagai manusia kita harus saling membantu, kan?" Jordan menyodorkan satu cup cokelat hangat di depan febi. "Hangatkan badanmu selagi menunggu makanan datang."


"Terimakasih." Febi menunduk dengan pikiran buntu. Siapa ayah Adam?


Jordan menyesap coklat hangat, mengecap rasa manis dan aroma pahit dark Chocolate. Dia melirik poni yang lumayan basah itu dengan penuh pertanyaan. Poni itu, kalau dilihat dari dekat sangat mirip si poni. Benar bukan sih, dia wanita itu?


"Saya akan memanggil mereka." Febi berjalan setelah mendapat anggukan Jordan.


"Papa!" panggil Evan sambil berlari dengan seragam bela diri. Di belakangnya, ada seorang pengawal melangkah lebih cepat untuk mengimbangi.


Jordan menoleh dan mengukir senyum. Kemudian, mata putranya melihat ke area bermain dan tampak terkejut.


"Papa, ada si kembar! Kenapa Papa tidak bilang kalau mereka ada di sini?" Evan dengan mata berseri-seri dan akan mengambil kentang goreng, tetapi tangannya ditahan sang papa.


"Oh tadi, Papa tidak sengaja bertemu dengan mereka, Boy!" Jordan menjauhkan tangan Evan sambil menyodorkan sesendok coklat hangat yang langsung diseruput anaknya. "Pergi, bersihkan tanganmu dulu!"


Evans mengangguk dengan malas. Lalu pergi ke wastafel diikuti pengawal. Jordan meraih ponsel yang bergetar di atas meja.


"Aku sudah menjemputnya," jawab Jordan dengan dingin di telepon.


"Ini sudah sore, kemana kalian pergi! Mengapa belum kembali?"


"Iya, sebentar lagi kami sampai. Ya sudah!" kata Jordan lalu mendengar celotehan Mia di dekatnya.


"Kok ada suara anak perempuan? Suara siapa itu?" Tanya Jeslyn dengan nada meninggi.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Jordan memilih mengakhiri panggilan. Segala urusan hidupnya, tidak perlu diketahui Jeslyn yang bukan siapa-siapa.


“Silahkan, kalian cuci tangan lalu kita makan bersama, ya.” Jordan berbicara lembut pada Mia dan Adam yang masih memandangi sosis bakar dengan tatapan berseri-seri. Bau sedap dan tampilan yang masih panas dengan sedikit asap terkepul, menggoda lidah mereka untuk segera ingin menyantapnya.


“Kalian dengar apa kata Paman Jordan?” Tanya Febi pada si kembar yang melamun. Mereka mengangguk bersamaan lalu pergi ke westafel dan bergabung dengan Evan.


“Lihat, mereka!” Jordan melihat si kembar yang masih melamun saat Evan terus mengajak berbicara. “Setelah ini apa Anda berniat pulang, Mrs.Febi? Melihat anak-anak Anda murung membuat saya yang pada dasarnya menyukai anak-anak, jadi gatal dan ingin menghiburnya. Setelah ini kita pergi ke bioskop. Tolong jangan tolak demi kebahagiaan mereka, ya?”


“Bioskop?” Febi memiringkan kepala dan berpikir serius. Berhari-hari Mike tidak menghubungi anak-anaknya dan peristiwa diusir barusan pasti menjadi pukulan si kembar.


Febi mengembuskan napas panjang karena ide Jordan sangat baik untuk menghibur anak-anaknya, dia tidak ingin jadi orang tua yang egois karena memikirkan kesedihannya sendiri.


“Boleh, Tuan Jordan. Saya berterimakasih lagi.” Febi tersenyum hangat dan mengangguk, menyembunyikan kesedihannya.


Anak-anak pun lahap makan. Jordan melihat boneka Winnie the Pooh yang dipeluk Mia. Gadis itu tak pernah melepaskan boneka itu sejak Jordan membelikannya.


“Taruh dulu bonekanya. Mia makan dulu, nih jadi belepotan?” Febi menyeka dagu Mia yang terdapat lelehan kecap dan mayones menggunakan tisu.


“Mama, ‘Winnie sweetie’ rewel kalau ditaruh.” Mia meletakkan boneka di meja dan imajinasinya langsung bekerja saat terbayang adik kecil menangis seperti di video-video.


Adam menggelengkan kepala pada tingkah kembarannya yang kanak-kanakan. Sedangkan, Evans asik menghabiskan kentangnya sambil melirik papa yang banyak senyum, sepertinya papa sedang senang.


Febi mau berbicara lagi, tetapi jadi teralihkan pada Jordan yang menutup mulut seakan-akan sedang menahan tawa.


"hkk." Padahal, dia sendiri mau diam setelah mendapatkan bonekanya! Kalau tadi aku tidak berinisiatif membeli itu, mungkin Mrs. Febi sampai sekarang masih kewalahan tangisan Mia yang bikin pusing. Tapi, apa yang membuat mereka tidak membawa mobil dan hujan-hujanan? (Jordan)


Mereka selesai makan dan satu persatu beranjak dari kursi. Jordan gatal saat melihat Febi membawa kantong besar di kedua tangan. Akhirnya, Jordan dan Febi tarik-menarik pegangan kantong belanja, yang berisi pakaian basah. Lelaki itu merasakan kurusnya tangan wanita itu, tetapi tenaga benar-benar kuat.


“Biar, saya saja, Mister!” Febi memicingkan mata dan melirik tangannya yang memerah saking eratnya mencengkeram plastik di ujung tangan Jordan yang juga memerah, gesekan plastik membuat tangannya panas.


“Mereka hanya membawa ke mobil dan tidak akan membukanya,” kata Jordan dengan mata melebar dan seakan tahu dengan pikiran Febi yang pasti was-was, kemungkinan karena pakaian inti. Jelas sekali itu tergambar dari wajah Febi yang terlalu curiga.


Lalu dengan tidak rela, Febi melepaskan pegangan dari kantong. “Apa yang lucu?” gerutu Febi saat Jordan terkekeh. Dia berjalan lebih dulu menyusul anak-anak, yang sudah keluar dari area food court.


“Santai saja Mrs. Febi. Ah, soal kejadian di ruang ganti itu jangan membuat kamu malu, ya?” Jordan langsung mendapati Febi berbalik dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


“Jangan bahas ini lagi, ya Tuan Jordan! Itu tidak ada apa-apanya.” Febi menyipitkan mata karena Jordan masih menahan tawa sehingga membuat tangan Febi terkepal.


Adam memperhatikan sikap dua orang dewasa. Dia teringat pada hangatnya gendongan pria dewasa itu di bawah guyuran air hujan. Sebesit keinginan muncul di hati Adam, untuk merasakan gendongan Paman lagi.


Kepala Adam miring kanan, pada ekspresi mama barusan yang malu. Eh? Mama sudah tidak sedih seperti saat diusir dari rumah kakek. Apa itu karena papanya Evan? Sebaiknya, dia harus mencari cara supaya mama jadi sering bertemu dengan Paman Jordan.


“Kamu melihat apa?” Tanya Febi sambil mengelus kepala Adam. Namun, anaknya justru menengok ke belakang.


“Hai,” kata Jordan seraya melambaikan tangan. Detak jantung Jordan berdebar lagi saat melihat dua sudut bibir bocah itu terangkat hingga membentuk senyuman.


Ah, aku jadi punya ide. Kalau gitu tanyakan pada Adam saja soal Febi memiliki mobil merah Ferarri atau tidak. Anak kecil kan jujur! (Jordan)


“Mama aku mau popcorn! Dua! Dua! Dua!” Mia dengan tidak sabar sambil memeluk bonekanya, dia terus lompat-lompat kegirangan.


Oh, Ya Tuhan! Jordan mengusap telinganya yang seperti tersengat dan sakit akibat teriakan Mia yang berkali-kali.


“Iya-iya, sabar, baru juga sampai, harus antri dulu.” Febi mengelus rambut putrinya saat dia mendapat lirikan ketidaksukaan orang-orang di sekeliling, akibat suara putrinya.


“Adam, kamu suka membaca buku, ya?” Tanya Evan pada Adam. Dia menggeser duduk untuk lebih merapat.


“Iya, aku suka sekali.”


“Maukan, kalau Adam mengajari aku menulis? Aku ingin buat papa bangga!” Evan sambil melihat papanya di kejauhan yang sedang memesan tiket.


“Kalau kamu mau, aku ajak kamu ke perpustakaan milik papaku di rumah!” kata Evan lagi.


“Wah!” Mata Adam membesar dengan takjub. Dia langsung membayangkan rak-rak tinggi berjajar. Bau buku-buku tua, buku baru, serta kesenyapan di perpustakaan.


Apalagi papanya Evan adalah pebisnis top. Bisa dibayangkan semenarik apa buku-buku yang dimiliki, lalu dia akan memberi makan otak dengan banyak gambaran dunia,p yang sangat menggoda.


“Tapi .... “ Adam jadi ragu karena mamanya Evan galak. Bahkan, mendorong mama sampai jatuh dan berdarah. Dia menolak dan menggelengkan kepala cepat-cepat. “Aku tidak mau ke sana. Tapi, aku tetap mengajarimu di sekolah, gimana?”


Evan mengangguk-angguk dengan polosnya dengan wajah menggemaskan. “Iya, aku mau, Adam!”


Ketika kasir menyebutkan total belanja, Febi dan Jordan menaruh pembayaran mereka secara bersamaan. Bedanya, Febi menyodorkan uang cash seratusan sejumlah 300 ribu. Sedangkan Jordan dengan Black Card. Keduanya lalu bersitatap dengan keterkejutan di wajah Febi.

__ADS_1


Sedangkan, Mia yang makan popcorn melihat reaksi dua orang dewasa itu lalu tertawa cekikikan dengan mata genit, seperti film-film yang pernah ditontonnya. Dua orang dewasa itu serentak menatap matanya dengan tajam.


__ADS_2