
Keadaan Adam memburuk. Faktanya, Adam mengalami gagal hati. Setelah dirawat di rumah sakit selama hampir tiga minggu, Febi memutuskan untuk menghubungi Dr. Filipovich sendiri.
Febi bolak-balik tidak tenang di kamar rawat inap. Dia mencoba terpejam sampai suara pintu berderit membuat dia kebingungan terbangun.
Jordan masuk dan duduk di samping Febi. "Sepertinya masih sama?"
"Ya, belum ada perkembangan," kata Febi dengan berkedip pelan sambil melihat Adam.
Satu jam sudah Febi dan Jordan saling diam. Febi tidak tahu alasan yang membuat Jordan setiap hari menjenguk Adam. Dia mau melarangnya merasa sungkan karena ini rumah sakit pria itu.
Ponselnya bergetar dan sebuah ikon email bertulis Dr. Filipovich membuat Febi diliputi penasaran. Dia lalu tersenyum dengan penuh arti karena mendapat belas kasih dari Dr. Filipovich.
"Ya Tuhan," kata Febi setelah selesai membaca dengan mata berkaca-kaca. Dia berniat mengatur kunjungan seminggu ke California untuk menentukan rencana pengobatan terbaik.
"Apa?" Tanya Jordan penasaran.
"Aku akan membawa Adam ke California,.di pusat pengobatan penyakit langka."
"Ah, kabar bagus kalau begitu. Kebetulan aku juga ada kunjungan di sana. Jadi, apa mau kita pergi bersama?" Tanya Jordan refleks, padahal tidak ada kunjungan.
"Maksudnya?"
"Pakai pesawatku."
"Ya, kalau begitu saya akan menyewanya untuk-"
"Gratis."
"Apa?" Febi hampir mewek, tetapi ditahannya. Bukannya lelaki itu harusnya marah karena dia sudah membatalkan kontrak untuk mengajar Evan. " Tuan Jordan, padahal saya mengajukan resign-"
"Apa kepala sekolah itu belum memberitahumu? Kalau aku sudah menyetujuinya?"
"Benarkah? Bapak serius!?"
Jordan memelintir bibir. "Apa aku setua itu sampai dipanggil Bapak?"
"Ma'af Tuan Jordan, saya kelupaan saking senangnya."
"Oh, kamu senang?"
"Ya." Febi mengarahkan pandangan ke Adam. "Saya senang karena bisa melakukan yang lebih baik untuk putraku. Aku tidak bisa hidup tanpa melihatnya setiap hari."
Jordan menyodorkan sapu tangan. "Dengarkan, di luar sana ada banyak orang yang menangis ketika sedang sedih, begitu juga ketika mendapat kebahagiaan.
Jika saat sedih Anda tidak mau menangis, bahkan sebaliknya, saat bahagia pun masih malu-malu untuk menangis, lalu kapan kamu memberi waktu untuk dirimu sendiri?
Seandainya kamu mungkin bisa menangis dengan bersembunyi? Itu akan berbeda rasanya dibandingkan saat kamu menangis di depan seseorang yang peduli padamu."
"Apa kamu bermaksud mengatakan jika kamu peduli padaku, Tuan Jordan? Atau hanya aku yang salah sangka?"
Jordan menyunggingkan senyum sambil menarik dagu Febi sampai menghadapnya. "Ku beritahu, seseorang yang bahagia tidak dapat menahan rasa kebahagiannya sehingga emosinya terlampiaskan dengan cara menangis. Tapi di sini kau menahannya.
Hallo, Mrs Febi, menangis bukan pertanda kelemahan seseorang? Kamu juga bukan manusia sempurna yang tidak memiliki perasaan sedih. Jangan salah menilai, emosi sedih juga ada kebaikannya, loh? Jadi, ya benar, JANGAN hanya ditahan saja.
Gih, jatuhkan saja air matamu di depanku, tidak hanya saat kamu senang seperti sekarang, tetapi termasuk bila kamu sedih .... Kedepannya seperti itulah, menangislah di depanku. Menangislah Nona Febi, itu sungguh perlu." Jordan kembali tersenyum.
"Hahaha." Febi tertawa dengan penuh emosi, tetapi tanpa suara. Air matanya langsung berlinang tanpa putus dan membentuk aliran seperti sungai.
"Ya, bagus. Dan kali ini ada seorang yang baik hati menghapus kesedihanmu dengan gaya yang sedikit perhatian," kata Jordan sambil mengelap lelehan itu menggunakan sapu tangan biru. "Dan juga ingusmu ini kuhapus. Gimana rasanya?"
"Seperti anak kecil," kata Febi dengan suara bindeng karena jepitan sapu tangan di hidungnya.
__ADS_1
"Nah, gimana sesekali jadi seperti Mia, diperhatikan, enak, ya kan?"
Febi mengangguk dan menyentuh pergelangan tangan Jordan. Berusaha menariknya dengan pandangan tak pernah beralih dari Jordan.
"Lalu kenapa kau ingin me-le-pas-kan tanganku?"
"Ini tidak etis, Tuan."
"Masa bodoh dengan etika," katanya dengan lirih. "Apa yang di ruang ganti itu masih di anggap etis? Panggil aku Jordan mulai sekarang dan lupakan semua etika saat bersamaku."
"Aku tidak mengerti maksud Anda, Tuan Jordan?" Febi menarik tangan Jordan, tetapi pria itu masih dengan kuat menahan rahang bagian bawahnya.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan." Jordan kembali bersuara normal tetapi tetap dengan tatapan yang lembut.
"?" Febi melirik ke bawah pada sapu tangan yang ditaruh di telapak tangannya.
Dia melihat kepergian Jordan. Loh, barusan apa? Otaknya secepat kilat mencerna. Siapa yang memulai? Sejak kapan Jordan mulai memegang? Otak Febi terasa membeku, tetapi lalu tersenyum lepas karena perhatian yang baginya penuh arti. Ada orang sebaik itu, ya, pikirnya menjadi ada semangat lagi.
Setelah menarik handle pintu dengan tangan kirinya sampai pintu di belakangnya tertutup. Jordan sedikit membungkuk dan menutup mulut dengan syok. Apa yang aku lakukan? Ini hal paling gila, gila, gila, gila .....
Jordan meraup wajahnya. Sejenak dia melihat sekitar dan beruntung past tidak ada orang yang melihat kearahnya, di lorong.
Lelaki itu menghembuskan napas lega, meski demikian senang bisa berbicara dengan Mra.Febi seperti tadi. Dia kembali bersikap elegan dan berjalan dengan santai.
Ting!
Jordan membuka pesan dari Febi saat dia masuk mobil Toyota Camry.
-Tuan Jordan, saya pikir harus membayar biaya charter pesawat. Kalau Anda menolak, saya lebih baik mencharter pesawat lain!-
"Wah, apa dia mau pamer dengan uangnya? Setelah aku membeli mobilnya tanpa sepengetahuan dia dan atas nama orang lain. Bagaimana kalau aku jawab seperti ini .... " gumam Jordan sambil membalas pesan dengan penuh antusias.
-Aku takut, Anda tidak mampu membayarnya? Jadi, aku bermaksud menjadi dermawan. Tapi kalau kamu mau membalas, ya, kamu mungkin bisa menjadi .... - (Jordan)
-Misal, menjadi istriku.- Jordan dengan penuh penasaran sekaligus ngeri karena apa yang baru diketiknya.
-Oh, sungguh bermurah sekali hati Anda, ya Tuan? Tapi saya tidak berminat- ( Febi)
-Hohoho-(Jordan)
"Kenapa candaannya kelewatan sekali, ya," gerutu Febi risih. "Benar-benar tidak lucu, emang siapa mau yang menjadi istrinya? Dilihat saja tidak menantang!"
Sementara itu Jordan, kini menggetok keningnya dengan gereget tetapi tidak keras. "Sejak kapan aku se cringe ini!"
Jordan menganga dengan kesal dan menjerit tanpa suara. Kenapa aku harus kehilangan muka di depannya? Oh, please Jordan jangan melakukan kebodohan ini lagi !
Rasa malu atau jijik yang tengah dirasakan Jordan membuat lelaki itu memutar pinggang ke samping dan wajahnya terbenam di jok-sandaran kepala.
Dia merinding seperti sedang melihat sesuatu yang memalukan atau menjijikan bagi standarnya, yang terus menari-nari di otaknya. Kembali bayangan sikapnya saat memegangi dagu Mrs Febi, membuatnya ingin muntah. Ini bukan aku, demi apapun, apa aku kesurupan!
*
Setelah menukar dollar di Mall. Febi membeli keperluan untuk ke luar negeri. Tiba-tiba dia ditarik dari belakang dan terkejut saat tahu orang itu adalah Jeslyn, dia menepis tangan wanita itu yang berusaha mencengkeram bahunya.
"Ada apa Nyonya Jeslyn?"
"Hei, apa kau keluar dari sekolah karena mencoba menggoda suamiku?" Tanya Jeslyn dengan tatapan mengintimidasi.
"Jangan asal berbicara, Nyonya Jesslyn." Febi jadi berpikir apa karena Jordan selalu menjenguk Adam, jadi wanita di depannya tahu lalu menuduhnya?
"Hahaha, aku tahu akal licikmu. Mau menggunakan Adam untuk merayu Jordan, kan?" Jesslyn menyenggol teman perempuannya, lalu wanita yang bersama Jessylin itu menarik belanjaan Febi dan membuang sejauh-jauhnya.
__ADS_1
"Apa ini?" Kikan dengan napas ngos-ngosan baru muncul langsung mendorong Jeslyn sampai wanita itu terdorong dan berpegangan pada tempat baju yang terbuat dari kayu.
"Oh, jadi kalian berdua saling mengenal rupanya? Pantas sama-sama centil! Hobinya mengganggu suami orang!" suara Jeslyn meninggi sambil menahan ngilu di punggungnya.
"Suami? Oh, apa maksudmu itu Ka Jordan!" Kikan tertawa dan berhasil membuat Febi kebingungan.
"Apalagi memang, selain kau kegatalan! Nemplok ke sana dan kemari mengikuti Jordan, dengan alasan bisnis!"
Febi memperhatikan percakapan mereka, jadi Jordan dan Kikan saling mengenal?
"Suka-suka, dong, Kak Jordan mau dengan siapa! Haha jangan-jangan Evan itu bukan anak dari Kak Jordan? Kamu mengaku-ngaku saja, kan? itu hanya untuk menjerat Kak Jo!" Kikan menarik tas Jeslyn lalu melempar sejauh-jauhnya seperti apa tadi yang dilakukan teman Jeslyn.
Semua orang terkejut. Selanjutnya, keributan tak terhindarkan lagi. Febi berusaha menolong adik tirinya. Sampai kemudian tangan kekar dan aroma parfum khas seorang pria, menghentikan aksi saling tarik-menarik.
"Kakak!" Kikan dengan mata berbinar saat Jordan melepas tangan Jeslyn darinya.
"Jordan," kata Jeslyn lalu berusaha memanfaatkan keadaan untuk mengambil hati Jordan. "Dia menyakitiku."
"Kak, dia mengaku-ngaku menjadi istrimu. Nah, tetapi sebelum itu, aku melihat dia dulu yang melempar barang-barang milik Kak Febi," katanya sambil menunjuk barang-barang Febi yang tercecer keluar dari kantong.
"Tidak, Jordan. Guru tidak tahu diri itu, yang mulai menggangguku," suara Jeslyn dengan sedikit mengecil.
"Hey, tapi kau bukan istri Kak Jordan, enak saja mengaku-ngaku." Kikan beralih menatap Jordan. "Namamu itu sudah dicatut, Kak. Berulangkali, tidak cuma ini, aku tidak terima!"
Febi mengunci bibirnya, ingin sekali tertawa melihat ekspresi malu Jeslyn. Jadi, Febi terus menunduk. Namun, ada yang menyadari hal itu.
Jordan tidak terima, sepertinya, bukannya Febi terganggu atau merasa sakit hati, justru mentertawakan kebodohan Jesylin.
Jesslyn merangkul lengan kanan Jordan dan semakin melancarkan aksinya. "Jordan adalah ayah dari anakku dan sebentar lagi kami menikah, sama saja aku tetap menjadi istrinya."
"Sudah selesai ributnya?" Tanya Jordan menatap mata Kikan dan Jeslyn bergantian. "Kalau begitu kalian sekarang bubar. Coba lihat ke sekitar, apa kalian tidak malu?"
Mendengar hal demikian, Jeslyn melebarkan mata belonya dan melihat sekitar pada orang-orang yang menonton.
Kikan melengkungkan bibir ke bawah dengan pandangan sinis.
Febi menghentikan tawa dan melihat ke arah lain.
"Ih, apa si, Kak? Tidak bisa gitu aja dong! Dia harus meminta maaf pada kakakku dulu!" Kikan menarik lengan Jordan.
"Sudah Kikan, aku tidak apa-apa!" Febi dengan nada dewasa. Dia mencoba menebak sedekat apa hubungan Kikan dengan Jordan.
Di kejauhan, Martha semakin melangkah cepat, melihat anaknya dengan pria tampan itu. Hu, kenapa pas ada anak tiri?
Febi terkejut melihat ibu tiri yang berjalan mendekat, dia berbalik dan akan pergi dan hampir melupakan barang belanjaan.
"Febi ...."
Febi membeku, tetapi semua orang melihat ke arah Martha.
"Kamu dipanggil-panggil tidak menjawab, apa telingamu bermasalah?" Tanya Martha saat di samping Febi.
Martha menunggu jawaban, sampai tidak sengaja bersitatap dengan pria tampan yang beberapakali ke rumahnya. Pria itu barusan menepis tangan wanita yang sedang menggelayut. Sedangkan, tangan pria itu tak menolak genggaman tangan Kikan-putrinya. Wah, apa ini?
Jeslyn penasaran pada wanita tua ini yang seperti dihindari Febi. Akan tetapi dia terkejut saat Kikan memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan 'Mama' . Ah, dia pikir wanita ini juga menjadi musuhnya.
Jordan dapat melihat perubahan ekspresi Febi yang kian gelap. Terutama saat Martha memutar bahu Febi. Dapat dirasakan Jordan, ada sesuatu di balik tatapan Martha yang dia tahu sok perhatian.
Dengan gerakan elegan, Jordan meraih tangan Febi dan membuat semua orang terkesiap.
"Jordan?" Jesslyn tercengang saat Jordan berjongkok dan mengumpulkan barang tercecer untuk dimasukkan ke dalam kantong belanjaan Febi.
__ADS_1
Martha mendekat Ke Kikan sambil memperhatikan kepedulian pria itu. "Apa Febi punya pacar baru? Kenapa mereka dekat?" Tanya Martha nada sinis pada Kikan. Di dalam hati Martha dongkol karena kedekatan Febi dengan pria berpenampilan ekslusif.
Kikan cuma diam, melihat kakaknya membantu Jordan. Dia diliputi penasaran dan jadi teringat, saat Jordan pernah menanyakan soal Febi padanya.