
Febi memandangi dua cincin emas putih berbeda ukuran, terukir nama Jordan&Febi. “Kok bisa! Kapan kamu buat ini?”
Jordan tersenyum ringan. “Kemarin."
“Ini bagus, Jo. Terimakasih.”
“Syukurlah kalau kamu suka."
“Namun, menikah tanpa perasaan ini konyol banged.” Febi tersenyum geli. "Ingat baik-baik ya, Jo. Kita menikah tanpa hati, aku berada pada level mati rasa. Aku justru nyaman seperti ini."
Suasana hening saat Jordan memandangi Febi yang entah memikirkan apa.
"Aku trauma, Jo. Aku, menutup rapat-rapat hati ini dan kukunci. Kuncinya kubuang ke lintasan balapan, agar semua orang melindasnya lalu aku tidak pernah melihat perasaan yang ada di dalamnya lagi."
Jordan tersenyum penuh kasih dan mengangguk. Dia belum pernah patah hati, jadi hanya sebatas menjadi pendengar. "Tidak apa, yang penting kita jalan saja. Sudah lihat ke depan. Maka dari itu kau dengar istilah kaca spion ada di depan, biar kita nggak menoleh ke belakang, seperti itu masa lalu tak perlu dipikirkan, ya!"
Febi mencubit hidung Jordan dengan gemas. "Terimakasih. Terimakasih sekali, aku beruntung mengenalmu." Pandangan Febi beralih dari hidung Jordan ke mata biru.
Jordan berdiri dan berjalan ke belakang Febi. Dia membungkuk dan pipinya menempel ke pipi Febi, lalu menarik cincin dari tangan mungil. "Aku bisa belajar untuk menyenangkanmu ke depan."
"Oh, ya? Semoga itu berhasil dan tidak merepotkanmu." Febi merasakan hangat pipi Jordan yang menempel di pipinya. Sentuhan pria itu sangat lembut saat memasukan cincin ke jarinya. “Ini pas.”
"Haaa. Apa yang terjadi selama dua bulan ini?" gumam Sekertaris Li, di kejauhan dan menahan diri untuk tidak menggangu mereka. Dia berharap pada kebahagiaan tuannya.
“Kok, kamu bisa tahu ukuranku?” Febi menjereng jarinya ke udara. Cincinnya cantik.
"Cincin pernikahanmu itu loh, masih di aku.”
“Buang saja, Jo. Aku tak mau melihatnya lagi.” Febi menahan untuk tidak jengkel. Kebencian pada Mike mulai terbentuk dan dia mulai muak dengan segala hal tentang sang mantan.
Sekertaris Li datang dengan membawa tas kerja. Dia duduk di depan tuannya. Cepat-cepat dua kertas dan pena diberikan kepada sang tuan
“Tulis perjanjian pra nikah yang kamu inginkan.” Jordan mulai mencatat di bukunya sendiri.
"Apa aku bisa merepotkan Sekertaris Li ke depan?" Febi tersenyum menantang dan Sekertaris Li langsung memasang tampang horor.
"Ya, boleh," kata Jordan tanpa beralih dari buku.
"Tapi, Tuan?" Sekertaris Li protes. Dia bisa membaca aura perintah-perintah dari calon majikan perempuannya.
"Hai, Mr. Li," suara Febi menggoda dengan tatapan mata yang menakut-nakuti. "Aku akan merepotkan Anda ke depannya, mohon dimaklumi, ya!"
Sekertaris Li pasrah setelah mendapat tatapan tajam dari Jordan. "Ba'ik, Nona."
"Apa bisa mulai hari ini, Jo?"
"Apanya?" protes Jordan yang merasa terganggu saat berpikir.
"Sekretaris Li."
"Iya, mulai sekarang milikku juga milikmu. Tapi, kenapa kamu menatapnya, ha? Kamu mau membuatku cemburu?"Jordan menatap dalam-dalam ke mata hazel yang bersemangat.
"Apa, sih? Awas, nanti Sekertaris Li jadi malu." Febi lalu menahan tawa karena Sekertaris Li akhirnya sadar dari melamun dan mulut yang ternganga itu lalu menutup.
"Jaga matamu." Jordan mengingatkan sekretarisnya, yang hari ini sering terlihat syok.
"Ya, Tuan, Maaf. Tapi, Nyonya besar sebaiknya, cepat-cepat tahu perihal ini. Saya takut Anda jadi kesulitan, karena Tuan Besar sudah mengatur janji dengan butik langganan kita, untuk gaun pernikahan Anda. Saya dengar itu seminggu lagi."
Febi berdeham ringan. "Sekertaris Li, tolong pesankan gaun pernikahan untukku di tempat yang sama dengan Nona Jeslyn."
"Apa?" Sekertaris Li melongo, tetapi lalu mematuhi. "Ba-ik."
"Apa yang kamu rencanakan?" Jordan mengernyitkan kening pada kekasihnya.
"Aku hanya ingin memesannya, jadi apa salahnya? Siapa tahu bukan kupakai denganmu?"
"Hussh!" Jordan mendekati wajah Febi dengan penuh peringatan. "Pesan semaumu. Lalu pakainya hanya dengan aku!"
Febi tersenyum hangat dan mengangguk. Dia kembali menulis. Sebenarnya, dia tidak ada niatan untuk menyakiti Jeslyn, tetapi secara tidak langsung semua ini jadi mengarah kalau dia yang mendzolimi mamanya si kembar. Dia pasti akan kecewa setelah tahu aku menyembunyikan anak kandungnya, ya, apalagi menikahi Jordan.
Febi mengembuskan napas panjang pusing deh. "Sekertaris Li. Tolong, besok pagi temani saya ke Rumah Sakit di wilayah Sacramento."
Jordan menghentikan tulisan lalu menoleh. "Tidak! Kalau itu, kita berdua saja."
"Tidak mau." Febi menggelengkan kepala. "Biar besok pagi-pagi sekali aku berangkat dengan Sekertaris Li. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Lagipula, aku tidak nyaman, jika terus berpergian denganmu."
__ADS_1
"Febi?" Jordan mengerutkan dua alis dengan tatapan sedih. Pandangannya meredup begitu ujung jari Febi menyentuh dengan lembut di pipinya.
"Kamu harus istirahat, kan, Pangeran Tampan?"
Jordan meleleh walau tahu apa yang diucapkan Febi tidak tulus, dia berharap suatu hari kalau Febi memujinya dari hati. Jarinya mengelus punggung tangan mungil, di pipinya, lalu mencium ujung jemari itu.
Ya ampun, Tuan. Itu bukan Anda! Sekretaris Li merinding pada sikap tuannya yang bikin geli. Dia ingin muntah.
"Jam berapa kita berangkat, Nona?" Tanya Sekertaris Li.
"Jam empat pagi." Febi menarik tangannya dari bibir Jordan dan menyembunyikan kesal pada Jordan yang main ambil kesempatan, tetapi karena ada Sekertaris Li dia harus menjaga kata-katanya.
Makanan pun datang. Febi menatap Sekertaris Li. "Bisakah Anda mulai sekarang dan kedepannya, mulai bergabung makan dengan kami?"
"Febi?"
"Apa, Pangeranku Sayang?" Suara Febi meninggi dan Jordan menghela napas panjang tampak frustasi. "Aku harus terbiasa, jadi apa tidak boleh Sekertaris Li bergabung dengan kita?"
"Iyaaaa, boleh." Jordan sudah seperti mau menangis. Dia kembali menatap tajam sekretarisnya. "Cepat, pesan makanan."
"Baik, Tuan " Sekertaris Li memanggil pelayan dengan kode tangan. Dia keselek liurnya sendiri saat Nona Febi mendorong potongan daging stek pertama ke mulut Jordan dan wajahnya tuannya ya ampun seperti dimabuk kasmaran.
Jordan menunjuk ujung mulut sendiri pada lelehan saos yang meleleh ke dagu.
"Ah, bayi kecilku ini, ya? Manis sekali!" Febi tersenyum lebar, tetapi dalam hati gedek.
Sekertaris Li menelan saliva kasar sambil menunduk. Mulutnya ditutupi dengan tangan demi menahan tawa karena geli.
Jordan mengikuti lirikan Febi. Lalu, berdeham karena sekertaris Li diam-diam menertawakannya.
"Nah, dagumu jadi lengket, kan?" Febi tersenyum tipis. Kelakuan Jordan mengingatkan pada Adam.
Serbet putih itu digunakan hati-hati untuk menyeka saos di ujung mulut Jordan dan pria itu mencium jemari mungil lagi. Sumpah demi apa, kalau bukan karena omongan Jordan yang bilang mungkin ada mata-mata ayah Jordan, Febi enggan melakukan seperti ini.
Benar, seperti dugaan Jordan. Dari kejauhan seseorang memotretnya.
*
Di Indonesia,
"Berapa hari kita di California, Sayang?" Tanya Martha dengan mata berbinar.
"Satu - dua minggu."
"Perjalanan bisnis apa, toh, Pa? Klien Papa kan di Indo semua." Kikan dengan penasaran karena papanya sangat misterius.
"Loh, Papa itu temannya banyak, linknya banyak. Hanya Papa terlalu mencintai Indonesia, Sayang. Jadi maunya, berputar-putar di negara kita saja."
Kikan mengangguk-angguk.
"Kamu, juga, harusnya beli semua produk negara kita, kenapa jadi ikut-ikutan mamamu, ha?" Tanya Adi dengan penuh ketegasan.
"Papa, kita membeli karena kenyamanan atau juga persepsi internal dan eksternal tentang bagaimana merek tersebut mencerminkan diri kita," kata Kikan.
"Kami tidak selalu membeli produk termurah atau terbaik. Kita membeli produk yang paling mudah kita pahami, yang kita kenal, yang memiliki rasa otoritas, dan terbukti 'layak' di mata kita," katanya lagi.
Martha mengelus lengan suaminya lalu menimpali. "Membeli barang mewah membantu kita merasa 'mewah'. Membeli barang mewah membantu kita merasa 'kita telah sampai'."
"Sampai apa? Hu, kalian bisanya membeli, ya?" Adi geleng-geleng kepala.
"Kan, memang Papa yang mencari dan kami yang menghabiskannya." Martha tersenyum menggoda.
"Orang membeli karena merasa telah bekerja keras dan sekarang kami pantas mendapatkan hal ini. Atau mungkin, ini adalah pembelian satu kali dan memberi kita gambaran sekilas tentang kehidupan orang-orang yang selalu membeli barang ini." Kikan mengerucutkan bibir. "Kalau Papa mah beda, kenapa selalu beli barang murah."
"Loh, sayang? Lalu, siapa yang beli produk UMKM kita kalau bukan kita sendiri? " Adi mengacak-acak rambut putrinya.
"Dulu, saat Papa menjadi pegawai di industri Berlian. Semua merek di kota itu mendapat berliannya dari tempat yang sama. Begitu mencantumkan 'nama', maka harga ecerannya naik. Markup ritel setidaknya 200% untuk perhiasan."
"Ah, Papa, kenapa si nggak mau kalah!" Kikan mengerucutkan bibir. "Papa terlalu hidup sederhana dan orang bisa mengira papa adalah orang biasa karena semua yang papa kenakan bukan barang bermerek."
"Betul." Martha menyetujui.
"Kebanggaan tidak diatur oleh merk. Sudahlah, kalian tuh sama saja, gila belanja. Kalau Febi ada di sini, pasti dia membela Papa." Tatapan Adi meredup.
Martha dan Kikan saling pandang.
__ADS_1
"Papa, aku bela papa kok! Aku bangga punya papa yang luar biasa." Kikan memeluk lengan sang papa dengan menyesak. "Jangan sedih, dong."
"Aku ingin cerita ke Papa. Industri fashion, memiliki struktur yang sangat kompleks dan sia-sia. Karena memiliki status yang sangat didambakan beberapa dekade lalu, dengan pengikut yang sangat khusus dan sangat kaya.
Ada kelompok rahasia eksklusif yang terdiri dari sekitar 200 orang di Paris tempat para desainer haute couture menunjukkan desain mereka terlebih dahulu bahkan sebelum mereka mempresentasikannya di jalan!
Lalu itu ke bawah atau orang bisa menyebutnya trickle down effect, dari runway fashion adalah apa yang dieksploitasi oleh fashion massal.
Ini pertanyaan yang ditanyakan sama Kikan sejak menjadi mahasiswa di NIFT Hyderabad , dan setelah membaca dan menelitinya, dengan kata sederhana, ini hanya untuk menarik perhatian media. Benar-benar! Kikan akan menjelaskan mengapa hal ini perlu, Yah! Karena itu trik kami."
"Ya, ya, kalau tidak begitu, semua sia-sia. Berbeda dengan trik marketing para UMKM di negara kita masih belum digiatkan, sangat disayangkan. Kalau bukan pemerintah yang menyediakan, mereka yang dibawah akan selalu mengalami ketinggalan. Tetapi pemerintah, kurang care, huft." Adi semakin sedih. Dia melanjutkan bacaan di buku halaman 56.
Adi fokus membaca buku Misbehaving: The Making of Behavioral Economics oleh Richard Thaler, dn terpaku pada bacaan:
'Pengaruh non-rasional, kurangnya pengendalian diri, mengakibatkan kegagalan umum dalam menabung secara memadai untuk masa pensiun.
Adi terdiam dan teringat 30 tahun silam saat tabungannya ludes demi membayar hutang,
Setelah dipecat dari pabrik berlian. Dia membuka usaha berlian sendiri, tetapi bangkrut karena temannya membawa kabur uangnya. Itu fase tergelap dalam hidupnya.
Raysha-istri pertamanya, mengandung FEBI di usia 8 bulan. Barang-barang dan rumahnya, termasuk barang branded dijual demi menutup utang, tetapi masih tidak tertutup. Yang terpahit, Raysha melahirkan secara cesar saat dia tidak memegang uang sepeserpun. Bahkan, ibu kos juga sudah menagih.
Febi kecil ditahan pihak rumah sakit dan tak diijinkan pulang. Dua minggu Febi di rumah sakit, Raysha menghubungi bosnya. Tiga hari setelah itu, Tuan Meyer datang.
"Di mana dia?" Meyer dengan asistennya berjalan dengan langkah sedikit terburu-buru dalam balutan mantel mahal.
"Di ruang bayi, Tuan." Raysha berjalan di belakang bosnya.
"Mereka berani menahan bayimu?" Meyer mendorong perawat pria yang menghalanginya dari ranjang bayi. Lalu, berbisik pada asisten pria barunya.
"Dia cantik sepertimu, Raysha." Meyer memandangi Febi kecil lalu menggendongnya.
"Terimakasih, Tuan." Raysha tersenyum saat Febi justru bangun dan menangis, membuat bosnya tertawa. Dia terkejut saat bosnya melangkah ke luar.
"Tuan?" Raysha mengikutinya bahkan dibawa ke parkiran. Tanpa ada security yang menghalangi, beda dari sebelumnya.
"Masuk Raysha." Meyer masuk ke jok belakang dan diikuti Raysha. "Mana suamimu suruh duduk depan, kami akan mengantarmu pulang."
"Baik." Raysha keluar dan kembali lagi, dengan Adi duduk di jok depan.
Bayi itu ditengkurabkan di atas lengan Tuan Meyers laku Febi mulai berhenti menangis
"Tuan Meyers, tetapi saya belum membayarnya, kenapa mobilnya sudah jalan?" Raysha melihat ke belakang pada rumah sakit yang ditinggalkannya malam itu.
"Rumah sakit itu telah kubeli. Kau senang?" Meyer tertawa saat Raysha terkejut.
"Anda serius, Tuan? Ini sedikit berlebihan, bukan?"
"Tidak, aku akan merambah ke dunia kesehatan."
"A ..... Ide bagus, dunia kesehatan adalah dunia yang tidak pernah lekang oleh jaman dan sangat menjanjikan, Tuan." Raysha setuju.
"Tapi, Raysha, kalau begitu kamu tidak menolak, bayi ini akan menjadi pasangan cucuku, Nah?"
"Apa?" suara Raysha retak. "Apa yang anda maksud putra Tuan Reyes?"
"Memang ada cucuku yang lain?"
Adi menoleh ke belakang. "Maaf? Tetapi ini terdengar sedikit berlebihan? Saya hanya akan membiarkan putri saya bebas memilih."
"Maaf, Tuan. Maksud suami saya, mungkin, ini terlalu terburu-buru." Raysha menimpali. "Maksud saya, maaf, tetapi kami sadar siapa kami dan bahkan untuk mencapai titik terbawah lingkaran Anda, itu sudah tidak mungkin."
"Raysha .... "
"Tuan Reyes bisa memarahi saya habis-habisan." Raysha dengan tegas.
Meyer menatap tajam mata Raysha. "Berani kamu menolak?"
"Ampun, Tuan. Itu sangat tidak mungkin, saya tidak ingin Tuan Reyes melempar kemarahannya pada putri saya. Bahkan, beliau sangat memusuhi saya."
Meyer tertawa terbahak-bahak. "Raysha Ananta ..... !"
...----------------...
__ADS_1
Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.