
Jordan keluar dari lift saat cekikikan familiar membuat dia menajamkan telinganya. Lalu, suara itu hilang. Dia melihat ke samping pada 'lift lain' yang baru tertutup. "Aku kenapa jadi ingat Mia?"
Sementara itu, di dalam lift, Mia memutari tubuh mama saat Tante Oki terus mengejarnya dan bersiap akan menangkapnya.
"Mama, Tante nakal!" Mia cekikikan lagi saat teman mamanya menangkap lalu tidak melepaskan, melainkan mulai mengelitiki perut Mia. "Tante geli!"
Febi menyunggingkan senyuman, karena Oki selalu mengalihkan kesedihan Mia. "Ya, ampun Tante Oki, dia sampai menangis."
Febi menutupi wajah putrinya dan Oki baru melepaskan kelitikan. Sontak Mia membenamkan wajah sambil memeluk paha sang mama.
"Mama, bilang ke Tante supaya tidak nakal lagi! Mia takut, Mama pergi lalu tante nakal!" Mia dengan nada cemberut lalu melengking histeris karena membayangkan geli yang barusan dirasakan.
"Iya-iya, ini Mama cubit Tante, sudah berani-beraninya menganggu anak kesayangan Mama." Febi mencubit Oki dan temannya begitu lebai meringis seolah kesakitan sehingga Mia menoleh dan tertawa cekikikan.
Mengantarkan Febi sampai ke parkiran, lalu Mia melambaikan tangan untuk melepaskan kepergian mama yang akan ke rumah sakit.
Dari lantai lima, Jordan membuka pintu balkon. Dia menggelegak es kopi kalengan dan menikmati pemandangan sore. Suara cekikikan Mia kembali menari-nari di telinganya. Kenapa akhir-akhir ini aku terus terbayang anak kembar itu. Apa karena rambut mereka keriting sama denganku?
"Ahhhh! Hahahahah!"
Jordan melirik ke sudut kanan bawah, pada arena bermain basket. Bukan orang dewasa yang bermain basket, justru anak kecil yang memeluk bola basket, dan sedang berlari menghindari kejaran seorang perempuan dewasa. Sekilas postur anak kecil itu sekecil Mia.
Kenapa selalu Mia, Mia dan Mia dalam pikiranku? Apa aku perlu menelpon Mrs. Febi agar menyambungkan dengan Mia? Tapi, kalau begitu kan, terdengar aneh!
Apa yang dilihat Jordan sebenarnya tidak salah, tetapi mata Jordan sedikit minus, sehingga dia tidak bisa mengenali wajah seseorang bila terlalu jauh.
"Tante sudah janji tidak akan mengejar Mia!" Mia masih berlari-lari dengan ngos-ngosan karena tatapan Tante Oki yang seakan mau memakannya.
Oki tertawa lepas. "Lah, bukannya kita mau main basket? Kan, jadi harus kejar-kejaran, Sayang!"
Langkah Oki terhenti, matanya mengikuti seorang pria yang berjalan cepat ke arah lobi di blok yang sama dengan yang ditempati Febi. Itu si bajingan teman William itu! Huh, benar juga, pasti tuh orang mau ketemu Will!
"Ahhh!"
Oki menoleh ke asal suara. Dia melihat Mia sudah dalam posisi tersungkur. Dilihat bocil yang kini matanya memerah. Oki memeriksa kondisi lutut Mia yang lecet dengan bercak merah hati dan sedikit pasir. "Ayo, pulang."
Dalam menggendong Mia, Oki dibuat bingung. Anak itu biasanya saat jatuh meski tidak terluka, sudah langsung rewel. Kenapa kini bibir mungil itu terkatub sampai gemetar dan mata itu berkaca-kaca, tetapi tidak mengeluarkan suara?
Di dalam kamar, Oki membersihkan luka di lutut Mia lalu dibalut kain kasa. Oki memegangi pipi mungil yang mengembung karena bibir mungil itu terkatub rapat. "Sakit, ya?"
Mia menggelengkan kepala dengan pelan, ternyata menahan suaranya sangat sulit. Terlebih menahan sensasi panas di lututnya, walau sudah diobati.
"Kamu kenapa diam saja?" Tanya Oki, memeriksa lengan gadis itu yang tidak lecet.
Mia menggelengkan kepala lagi.
__ADS_1
"Kamu marah sama Tante? Kenapa diam terus?"
"Mia tidak menangis ...." suara Mia yang kecil bergetar membuat Oki ternganga. Padahal, mata biru itu berkaca-kaca.
Oki berpikir sebentar saat satu embun bening jatuh dari ekor mata gadis kecil itu dan membuatnya semakin khawatir. "Iya, iya, Mia tidak menangis."
"Kalau sakit, katakan saja. Ini pasti sakit," kata Oki sambil menunjuk lutut Mia yang diperban. Namun, anak Febi itu menggelengkan kepala membuat dirinya menjadi serba salah. Sia menghembuskan napas panjang mencoba mengikuti kemauan Mia. "Ya sudah, mau tante bikinin es krim, nggak?"
"Tante bisa memang?" suara Mia yang kecil sedikit tersentak.
"Ya, bisa dong."
"Mia mau, Mia mau, Tante!"
Oki mengangkat dua sudut bibirnya. Dia mendekatkan menyodorkan pipi. "Cium dulu."
CUP!
"Ya sudah, kamu tunggu sini." Oki menyerahkan tablet milik Mia. "Teruskan game mu, ya?"
"Baik, Tante 'Ki Cantik." Mia menekan layar tablet.
Oki barusan melihat air mata Mia yang menetes ke layar tablet. Kenapa anak kecil itu menjadi lebih terlihat dewasa? Apa ini seperti cerita Febi gara-gara Mike yang menolak pelukan Mia? Kasian sekali Mia ku.
*
"Laris manis!" Oki menjereng semua uang kertas berbagai pecahan dalam genggaman. Tidak sia-sia otak pintarnya. Para ibu-ibu ada yang memberi tips sampai tiga ratus ribu.
"Yeh, itu namanya kamu menjual ketampananku," cibir William seraya mengelapi tangannya yang bekas pelukan tangan emak-emak dengan handuk putih.
Oki melirik sebentar ke pria berkemeja pendek-putih dan celana panjang krem. Dada lengan yang berotot dan tidak berlebihan itu memancing minat emak-emak untuk membeli buku, tetapi dia yakin mak-mak sepertinya lebih fokus pada ketampanan dan kulit bening pria itu.
"Sabar, sebentar lagi Febi datang." Oki cekikikan dan langsung deh wajah William berubah segar lagi. Hahaha. Tepat rombongan emak-emak akhirnya berhenti dan melihat foto William di plang dengan memegang buku dan bertuliskan:
'Beli 10 buku, bisa gratis 1x foto bersama pangeran tampan. Hasil penjualan buku akan didonasikan pada panti asuhan. Masih tidak berminat?'
Mata William langsung lesu, melihat lima emak-emak yang membeli masing-masing 20 buku. Hahaha, sialan, Oki !
Kesedihan William berkurang begitu melihat Febi yang datang dengan menggendong Mia. Asik, makanan buatan Febi lagi! Tidak sia-sia tiga hari ini dirinya membantu Oki, demi bisa menyantap masakan buatan Febi, yang membuatnya kecanduan.
"Luar biasa, terimakasih teman-teman." Febi memeriksa tumpukan dus telah kosong, padahal masih jam tujuh malam. Setelah dia dan Oki mematok harga buku-buku itu setengah dari harga aslinya. Ternyata semuanya ludes.
"Om Will, apa Om memiliki pacar?" celetuk Mia.
Ha? William melongo, matanya berkedip pelan dan akan menjawab, tetapi.
__ADS_1
Febi berhenti menulis laporan penjualan. Dia beralih memegang lengan Mia yang duduk di sampingnya. Dengan lemah lembut tetapi tatapan yang tegas, dia lalu berkata, "Mia, jangan lagi bertanya seperti itu pada orang yang lebih tua. Itu tidak sopan, Sayang."
Mia mendongak ke arah kiri, melihat Om Will dan Tante Oki, mereka sedang berdiri.
Oki memilih diam dna tidak mau ikut campur pada larangan Febi. William yang akan bersuara, mengurungkan niat karena gelengan Oki yang melarangnya ikut campur.
"Minta ma'af ke Om dulu," kata Febi, walau anaknya itu mulai cemberut. Lagi, mata Mia mulai merah.
"Om, Mia barusan tidak sopan, ya? Om mau maafin Mia, kan? Mia minta maaf," suara Mia serak dan tersentak saat mendapat usapan dari tangan besar Om Will dan terasa tidak nyaman, dia langsung menjauhkan kepala.
William tertegun, Mia seperti menghindari usapannya. Dia menarik tangannya kembali dan memegang pena untuk menahan malu. "Om Will memaafkan Mia, kok."
*
Dua hari kemudian di halaman panti asuhan saat matahari hampir terbenam. Wiliam menjauh dari serambi rumah untuk menerima telepon. .
"Will? .... lihat rancangan mesinku, seperti ada yang kurang pas."
William terlonjak, melihat Febi menciumi pucuk rambut anak-anak perempuan satu persatu sambil memeluknya. Apa wanita itu tidak jijik? Dia sangat mengagumkan! Sepertinya, cocok jadi ibu untuk Amira?
Eh. Cantik baik memang. Namun, aku harus lebih dulu mengenal. Seperti apa sifat aslinya, jangan-jangan cara dia melihatku seperti perempuan lain ?
William menatap teleponnya dan terkejut mendengar umpatan Jordan. Langsung dia bertanya. "Jo, kau bilang apa tadi?"
"Oh God ! Aku berbicara banyak dan kau tidak mendengarkanku? Setelah panjang kali lebar? 'Kancil' memang kamu!"
"Iya, iya aku di jalan ini. Sudah, biar aku ke situ saja," kata William dengan malas setelah Jordan mengejeknya dengan sebutan 'Kancil. Dia mematikan telepon, terpaksa pamit dengan Febi.
*
Seminggu kemudian .... Febi menghadap dokter lagi dengan harap-harap cemas setelah sebelumnya dokter memulai ulang seluruh proses. Sang dokter menatapnya begitu lama seolah berpikir, dia tidak bisa menebak apa ini berita baik atau buruk?
Yang jelas dia berharap ada jalan keluar atas penyakit putranya. Nyatanya, dokter itu berkata bahwa anaknya didiagnosis dengan limfohistiositosis hemofagositik (HLH). Apa itu ?
Tes ekstensif di rumah sakit menunjukkan bahwa putranya kemungkinan besar memiliki kecenderungan genetik terhadap HLH.
Dr. Janneta, MD berkata, "HLH adalah gangguan regulasi imun ... ketika sistem imun aktif, sistem imun tidak tahu cara mematikannya. Dan jika tidak dimatikan, hal ini membuat Adam sangat sakit. Bagaimanapun, HLH berakibat fatal tanpa pengobatan yang tepat.
Febi menutup mulut dengan dua tangan, menahan sensasi mual yang datang tiba-tiba. Dia mengusap kedua alis lalu mengigit ibu jari.
Dokter memperhatikan reaksi Febi yamg kini duduk lebih tegak dan mengembus napas panjang seakan siap mendengar kan lagi. "Setelah menelusuri, tidak ada satu pun spesialis di wilayah ini, yang mengetahui cara menangani HLH. Jadi, kami mengandalkan keahlian Dr. Alexandra."
Lengan Febi gemetaran. Kristal-kristal bening menggenang di matanya. Dia memegangi kepala, sulit mempercayai apa yang barusan didengarnya. Ini adalah rumah sakit terbaik, tetapi dokter saja sampai berkata demikian?
Lubang besar bagai terbentuk di dalam dadanya. Di tengah pikirannya muncul satu kata. CALIFORNIA ? Setelah mendengar ucapan dokter itu yang terdengar samar.
__ADS_1
"Namun, kita baru terhubung dengan Dr. Filipovich, yang adalah direktur Program Defisiensi Imun dan Histiocytosis di California, dalam merawat anak-anak dengan HLH. Melalui tes, panggilan telepon, dan email, Dr. Filipovich membantu dokter kami mendiagnosis Adam."
Aghhh. Febi menggigit bibir bawah. Itu artinya pengalaman dan pelatihan para medis di rumah sakit ini belum cukup untuk menangani penyakit anaknya? Dia mulai dilanda cemas.