
"Kamu ... Adam, kan? Perkenalkan, aku Logan Howard." Seorang pria dewasa berkacamata minus dengan suara bas mengulurkan tangan ke depan. "Aku teman terdekat mamamu saat kuliah."
Adam mengerutkan alis, menjulurkan tangan mungilnya untuk membalas jabatan tangan besar itu. Namun, Logan langsung menggoyangkan tangannya ke kanan dan kiri. "Apa Paman Logan tinggal di sini?"
"Wah," kata Logan terpesona pada mata di depannya yang belo. Dia beralihlah memandang Febi yang memperhatikannya, seperti tengah menunggu jawaban.
"Iya dong, aku tinggal di sini! Sayangnya, tiga hari lalu aku sedang di Roma saat mamamu itu mengabari bahwa kalian telah berminggu-minggu di sini? Nah ... Jadi, Aku terlambat menemuimu karena urusan bisnis."
Logan mengeluarkan sebuah hadiah dari balik punggung. "Nah ini khusus untuk Adam, silahkan buka hadiahnya!"
Penutup dus berwarna coklat itu dibuka oleh tangan mungil yang cekatan walaupun punggung tangannya diinfus. Mata biru Adam berseri-seri dengan apa yang disentuh, sebuah permukaan sampul yang gambarnya timbul dan terasa halus.Karakter bebek putih berbaju biru dan paruh kuning sungguh penuh bersemangat. "Paman .... Ini Donald Bebek?"
Disingkirkan dus itu ke samping begitu mendapat anggukan. Adam menaruh buku ke pangkuan. Diraba judul bertulis 'TOPOLINO. "Ini keren!"
Logan mengangguk-angguk dengan senyuman yang mengejek Febi. "Pangeran Logan adalah penakluk pangeran kecil," bisiknya dengan bangga di telinga Febi saat Adam membuka halaman demi halaman comic berwarna.
"Terimakasih, Logan. " Febi senang dengan kegembiraan Adam. Dia jadi terbebas dari Adam yang terus menanyakan soal Pria pirang keriting yang sudah seminggu tak ada kabar setelah apa yang terakhir kali Jordan lakukan, yang membuatnya kesal.
Ah, sebenarnya, ini salahnya sendiri karena memblokir nomer Jordan. Apa mungkin lelaki itu menghubunginya lalu marah karena tahu diblokir? Jadi, mungkin karena itu Jordan tidak datang untuk mengetes kecocokan sebagai pendonor? Apa dia begitu kekanak+kanakan hanya karena diblokir lalu batal menjadi pendonor?
'Kali ini aku benar-benar impulsif. Aku menyesal! Haruskah aku minta maaf agar dia mau mencoba melakukan tes? " batin Febi mendadak gelisah.
Febi mengelus lengan Logan sampai jarinya berhenti pada sesuatu menonjol di lenga itu yang kencang dan terasa lebih lebar dan kokoh. Semua itu tersamarkan oleh jaket yang kedodoran.
Dengan gugup, wanita itu mendongak dan bersitatap dengan Logan selama lima detik. Sontak Febi mengitari tempat tidur dan duduk di samping Adam. Dielus rambut keriting putranya sambil tersenyum hangat pada Logan, mencoba tetap normal setelah kecanggungan barusan.
Seumur-umur dia belum pernah semali ini terhadap Logan. Sekilas bila diamati dari kejauhan, penampilan pria itu kini lebih santai dan berubah misterius.
"Paman Logan .... ?" Adam mendongak lagi dan jadi teringat saat dirinya bertanya kepada Papa Mike soal siapa 'Logan' ? Lalu dia dimarahi Papa Mike dan tidak boleh menyebut nama itu lagi, baik di depan Papa Mike ataupun Mama Febi. Tapi dia yakin Paman Logan ini bukanlah Logan yang dimaksud oleh Papa Mike.
"Ya? Eh, please, panggil aku Logan saja! Aku merasa aneh ... jika dipanggil seperti ini." Logan bergidik. "Aku masih muda, loh!" Logan dengan suara bassnya masih tidak terima sontak Febi tertawa.
"Tidak! Tidak boleh seperti itu," kata Feby pada Logan berubah mode serius
__ADS_1
"Tetap panggil Paman Logan, ya, Sayang!" kata Febi dengan tegas pada putranya.
"Kita sudah bicarakan ini, kan?" Logan menatap tajam mata hazel dengan tidak terima. "Aku baru 32! Panggilan itu membuatku semakin tua-"
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mencoba .... Ya, kan, 'Logan' ?" Adam dengan tampang dewasa. Logan pun tertawa dan melirik infus darah yang sudah mau habis.
Sementara, Adam memandang tidak suka pada tatapan paman itu yang sedikit mendominasi jauh berbeda dibanding Paman Jo yang melihat mama dengan pandangan lembut.
Belum apa-apa dada Adam terasa terbakar karena cemburu. Perasaan tidak suka kembali menyelimuti kepalanya atas sikap Logan yang terlalu mengambil perhatian mama. Namun, sebelum itu ... dia harus membaca komik ini dulu.
"Paman, komiknya terimakasih, ya!" Adam dengan wajah polos lalu tersenyum senang. Dia bermaksud akan melanjutkan ketidaksukaannya pada Logan nanti kalau bacaan buku ini sudah selesai.
"Oke, anak manis! Kamu harus jadi anak kuat seperti mamamu yang pantang menyerah," kata Logan dengan bersemangat sampai membuat kacamata itu melorot dan lelaki itu cepat-cepat membenarkan kacamata.
Otomatis Febi tertawa geli. Sesungguhnya, dia merindukan kebersamaan seperti ini dengan sahabatnya. Tidak bertemu bertahun-tahun setelah hal kurang menyenangkan di pertemuan terakhir adalah sangat menganggu pikirannya.
Hari mulai larut malam. Adam tertidur setelah kantong darah baru diganti dengan ditunggu oleh seorang baby sister yang baru bekerja beberapa hari ini.
"Okeh, sepertinya kita perlu meluruskan sedikit masalah di antara kita." Logan sambil membenarkan kaca mata yang melorot, setelah pria itu menarik napas dalam-dalam seperti orang tertekan.
"Bukan sedikit, Logan. Itu banyak seperti benang kusut!" suara Febi meninggi lalu menjatuhkan pandangan ke jari manisnya.
Febi menjauhkan tangan dari cangkir dan melepas cincin pernikahannya. Dipandangi lekat-lekat cincin bermata tiga berlian mini. "Hubungan kami ... berakhir. Kurasa sepenuhnya berakhir ..... Aku begitu sakit hati sampai tidak berniat membicarakan soal anak kami yang kemungkinan masih hidup dan entah dimana?"
Harinya berdenyut, sangat perih. Febi memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak dan panas.
"BAGUS." Logan dengan mantap. Dia masih membenci Febi gara-gara Mike.
Febi mengangkat dagu dan bibitnya mengkerut. Dia menghela napas berat dan menaruh cincinnya di meja. "Tapi aku masih tidak percaya. Oh, teganya dia meninggalkanku begini saja?" kata Febi nyaris menjerit. "Aku kesal, Logan!"
"Seperti yang aku bilang!" Logan mengayunkan kepalanya dan menatap Febi dengan tatapan membodohi. "Kau cuma kucing kecil, dan dia anjing tak waras yang menggigitmu lalu membuangmu saat tidak berselera lagi."
"Benar kamu Logan." Febi menyetujui pemikiran Logan. Jadi, mengingatkan dia pada semua semua peringatan Logan enam tahun lalu. Wanita itu membuang pandangan lebih jauh ke cahaya-cahaya jendela kamar di gedung yang berbeda.
__ADS_1
"Andai dia barang sedikit mau bertanya padaku dan tidak langsung mempercayai tuduhan mertuaku. Andai, di juga bertanya siapa yang menghamiliku? Mungkin, aku tidak akan seseekecewa ini." Febi merasakan tenggorokannya tercekat, seperti ada sesuatu besar yang mengganjal di tenggorokan.
"Atau dia tidak mencintaiku dari awal karena itu dia tak peduli pada pernikahan kami?" Febi mengambil napas panjang setelah melepaskan semua pertanyaan yang selama ini mencokol dalam pikirannya.
Dengan putus asa, Febi menjatuhkan kepala ke belakang. Dia menatap langit-langit kafe saat kristal bening terbentuk di sudut matanya dan mengaburkan pandangan. "Apa sesakit ini rasanya, Logan? Apa seperti ini sakitmu saat wanita yang kau cintai memutuskanmu?"
"Sudah ya , Febyku, Manisku, kau lupakan bajingan itu! Waktu terlalu berharga untuk mempertanyakan perasaanmu yang dangkal ini!"
"Kuharap justru begitu, kuharap perasaanku sedangkal yang kau maksud. Jika sedangkal itu ... Ini akan terasa mudah." Febi mengelap cairan yang baru keluar dari hidungnya. Kini dia memejamkan mata dengan getir, membiarkan lelehan hangat melewati sudut mata dan jatuh di pelipisnya.
"Lihat ambil hikmahnya! Dia memang sudah brengsek dari dulu, kamu saja yang terlalu terlena sampai kau teganya meninggalkanku dan Donna, hanya demi orang asia!"
"Aku juga orang Asia, dasar!" gerutu Febi, temannya satu ini selalu mengungkit ras setiap kali marah.
Logan tertawa dengan puas. "Sekarang kamu akhirnya terbebas dari lelaki itu! Jadi, sudah-sudah, masih ada aku yang akan menyediakan banyak lelaki tampan yang setia, Febyan!"
Febi menegakkan duduk dengan terharu, bersamaan air matanya yang jatuh ke pipi. Dua sudut bibirnya terangkat saat Logan mendekatinya dengan tatapan nanar. Dia menghambur ke dalam pelukan sahabatnya.
Di kejauhan, Jordan yang baru memasuki arena kafe mendapati punggung Febi yang dielus dengan mesra oleh pria berambut cepak yang sedang terpejam seakan menikmati pelukan itu. Ciri-cirinya seperti yang disebutkan Adam. Tidak salah lagi berkaca mata.
Tangan Jordan terkepal. Dia buru-buru ke sini sejak mendarat dari pesawat. Tak tahunya ada pemandangan seperti ini. Tapi aku harus mencari tahu dulu kebenarannya, kan?
Siapa itu Febi? Mengapa dia sendiri tidak tahu kalau anaknya bukan anak biologisnya? Mengapa Adam justru adalah darah dagingku? Mengapa anakku bisa bersama Febi?
Langkah Jordan terhenti saat pria berkacamata membuka mata dan melepaskan pelukan Febi. Pria itu mendongak dan menatapnya. Wanita itu juga berbalik dengan wajah sembab. Kenapa kau tidak menangis di depanku dan malah di depan pria aneh ini? Apa ini alasan kamu memblokirku selama seminggu?
"Jordan?" lirih Febi, bingung mendapati perubahan wajah Jordan yang kini memerah dengan aura menyeramkan. Apa aku melakukan kesalahan?
Bersambung. ....
...****************...
__ADS_1