
Di luar, Febi menegakkan kepala dan melihat panggilan Jordan. Dia menyeka air matanya dengan lengan dan menjumpai sosok ayah Jordan? Pria itu melihatnya lalu berlalu menjauh. Sejak kapan ayah Jordan di sana?
"Halo, Jo?" Febi berusaha bersuara normal.
"Di mana kamu, Babe? Kenapa di toilet kosong?" suara Jordan terdengar khawatir.
"A-ku lihat pemandangan laut, tidak jauh dari toilet."
"Tunggu, jangan matikan telepon." Jordan berjalan ke ujung dan terkejut saat papasan dengan papa. "Pa, lihat Febi?"
Reyes menajamkan matanya dan mengangkat bahu. "Besok, ada pertemuan dengan keluarga Jesyln, datanglah jam sepuluh pagi."
Jordan nmengepalkan tangan. "Aku tidak mau!"
"Terserah atau pengawal mendobrak Kamarmu?" Reyes dengan aura tidak terbantahkan.
"Terserah!" Jordan berlari keluar dan mencari Febi di luar. Begitu Febi muncul dari belakangnya, dia langsung mendekat tubuh Febi. "Kamu ngapain di sini? Aku mencemaskanmu, Sayang!"
Febi tersenyum dan tidak mempercayai pendengarannya. "Pemandangan di sini bagus."
"Iya bagus, tapi jangan ulangi seperti ini lagi, kasih tahu dong mau kemana." Jordan melepas jas lalu memakaikan ke punggung Febi. "Jangan bikin aku cemas lagi, Babe, karena rasanya aku mau mati."
Wanita itu tersenyum penuh arti begitu mendapat pelukan lagi. Febi mendongak, tatapan Jordan yang dalam di bawah cahaya rembulan adalah tampilan epik. "Maaf, telah membuat kamu cemas."
"Kali ini aku memaafkanmu. Tapi, Kenapa kamu terlihat sedih? Apa aku melakukan kesalahan padamu, Sayangku?"
Perkataan yang langsung menembus hatinya membuat Febi justru menggeleng kepala. "Aku tidak sedih. Hahaha kamu apa, sih?"
"Oke?" Jordan pikir Febi enggan bercerita. Dia lebih menunduk dan menekuk kaki mendekati wajah Febi. "Kiss me, Babe? Aku mau menyalurkan banyak energi untuk kamu."
Febi tertawa lepas. "Memang boleh begitu?" Dia berjinjit dengan tangan merambah ke dada bidang dan mencengkeram kemeja di bahu kekar itu. Dipandangi Jordan yang memasang tampang sok keren walaupun memang keren.
Tatapan pria itu meredup, Febi mengecup pelan dagu itu dan melihat mata Jordan yang kini makin bersinar. Dia mengecup perlahan ke pipi hangat dan melakukan kontak mata.
"Lagi," suara Jordan serak, bau mawar memabukkan membuatnya terlena. "Sayangi aku lagi, Babe, aku nggak pernah merasa puas, loh!" Dia mendapat kecupan di hidung dan rasanya mau pingsan saking senangnya. "Kamu habis makan permen lagi?"
"Dari mana kamu tahu?" suara Febi parau.
"Aku tidak tahu, tapi aku mau mengkonfirmasi di sini," katanya dengan bibir menempel di bibir mungil.
"Enggak!" rengek Febi dengan geleng-geleng dan hampir menangis, tetapi Jordan memiringkan kepala dan menahan tengkuknya. Membuat nafas mereka makin tak beraturan, terutama Febi karena tangan lain Jordan mengusap punggungnya.
"Ini pertama kali dekat-dekat perempuan terasa menyenangkan untukku, Babe" bisik Jordan di telinga Febi. "Rasanya luar biasa. Kenapa tidak dari dulu aku mengenalmu?"
Febi kegelian mendapat tiupan dari Jordan di telinganya dan merinding menjalari ke seluruh tubuh. Dia menjauh dari kepala pria itu. Dia terkejut saat tubuhnya diputar lalu digendong dalam gerakan cepat. Tangan Jordan melingkar di perutnya dan membawanya berputar. "Oh! Oh! Jatuhh! Jatuh! Berhenti!" Angin menerpa wajah Febi dan bumi terasa berputar.
Jordan tertawa lepas dan makin mengencangkan putaran karena histeris Febi. Lelaki itu berhenti dan terhuyung, belum sempat menurunkan Febi dan berikutnya pantat mereka sama-sama mendarat di lantai parket.
Suara teriakan kesakitan mereka, tertangkap telinga Reyes. Hatinya, menjadi sakit dan kian tenggelam dalam lamunan.
"Maaf, Tuan Reyes," suara Raysha parau dan melepaskan pelukan. "Ma-af saya tidak sopan-"
"Sshhttt-" Reyes menaruh telunjuk di depan bibir Raysha. Wanita itu terbelalak begitu dia mendekatkan bibirnya dan berusaha meronta, melepaskan ciumannya dan wanita itu berlari meninggalkannya.
Reyes menghela napas kasar dan merutukik sikapnya sendiri. Selamat. Dia berbaring di selimut yang disiapkan Raysha. Tangannya terganjal sesuatu, diraihnya benda ditangannya yang adalah kalung berbandul kubus dan kunci.
__ADS_1
Berbaring, Reyes memeluk guling dan terus memandang kalung itu dalam kegelapan. Dia selalu melihat kalung ini dileher jenjang Raysha karena wanita itu selalu disanggul modern Updo. Hukuman malam ini dari ayahnya tampak tidak berarti karena dia mengingat bagaimana dirinya merasa lebih hidup begitu merasakan rasa leci dari bibir sekertaris ayahnya.
Paginya, Raysha muncul di sampingnya. "Tuan, saya diminta Tuan Meyer untuk membantu Anda bersiap. Hari ini Anda terbang ke Jerman."
"Sigh, bisakah aku tidur sebentar lagi." Reyes masih memeluk guling, aroma melati memanjakan hidungnya.
"Tuan Anda sudah memiliki anak, berhentilah kekanak-kanakan. Apa jadinya kalau Jordan kecil melihat ayahnya bermalas-malasan."
"Shut up!" Reyes langsung bangkit dan menggosok matanya yang berat. Begitu membuka mata di depannya bibir merah hati yang semalam diciumnya.
"Cepat, Tuan, Anda tidak memiliki waktu banyak, pesawatnya telah siap! Atau ayah Anda akan membuat Anda dikurung lagi di aula."
Dengan malas, Reyes kembali ke kamar untuk mandi. Semua pakaian telah disiapkan Raysha. Sekertaris pribadinya-Rose Smith, dipecat oleh ayah, setelah dia memacarinya hingga hamil, jadi ayah mengirim Raysha untuknya.
Di pesawat pribadi, Raysha membacakan jadwalnya. Namun, bibirnya terus menyunggingkan senyum melihat bibir itu. Awalnya, terlihat Raysha berusaha fokus berbicara soal pekerjaan, tetapi kemudian terlihat mulai salah tingkah dan berjalan menjauh.
Ketika Reyes akan ke toilet, dia merenggangkan tangan ke kanan. Begitu Raysha ke kiri, lelaki itu meregangkan tangan ke kiri.
"Tuan Reyes, saya memiliki suami yang saya cintai. Saya bukan sekertaris Anda yang bisa digoda. Saya bekerja pada ayah Anda jika Anda macam-macam-"
"Oh gitu? Kalau tadi malam kamu menyusup masuk memberiku selimut, bisakah dilaporkan pada pria tua itu, lalu kamu dimarahi sendiri." Reyes terkekeh melihat Raysha menyadari kesalahan sendiri. "Ternyata kamu cantik."
Raysha menggelengkan kepala dengan tegas. "Saya tidak tertarik pada Anda. Sayangnya, ciuman Anda tidak sehebat suami saya?"
Reyes menggeram karena nada merendahkan dari wanita itu, yang membuat kita harga dirinya sendiri tercabik-cabik. Dia berniat mencekal leher itu, tetapi Raysha membungkuk kemudian memelintir tangannya ke punggung hingga dia kesakitan. "Agghhh aggh! Lepas Raysha!"
"Ini peringatan pertama sekaligus terakhir untuk Anda, Anda tidak bisa menggangu saya, karena itu ayah Anda mengirimkan saya."
"Sigh!" Reyes tersungkur ke lantai parket pesawat. Tenaga wanita itu kuat juga dengan badan kecil seperti itu, sayangnya seksi! Sepertinya, dia baru menyadari ini.
Duduk di ruang tamu, Reyes tergugu saat bocah dua tahun itu berjalan ke arahnya dengan kaki mungil itu lalu memberikan bola.
"Aya! Aya!"
"Bukan, Nak, itu bukan Ayah." Raysha muncul kembali dan membawa dilokumen dan ditaruh di meja.
Reyes tahu suami Raysha di Indonesia. "Kamu beneran tidak bermaksud memperpanjang masa kerjamu? Atau kau mau menjadi sekretarisku?"
"Maaf, Tuan Reyes, saya sudah mengurus kepulangan saya." Raysha menggendong Febi kecil.
"Apalagi yang bisa membuatku menahan mu?"
"Tidak ada." Raysha tersenyum hangat. Saya dan Tuan Meyer memiliki perjanjian, kalau saya akan bekerja lagi, tetapi hanya dalam waktu dua tahun. Saya sudah menjelaskan pada Tuan Meyer kalau menyaksikan tumbuh kembang Febi langsung adalah hal terpenting bagiku."
"Keras kepala." Reyes berdecih. "Kamu kan bisa tinggal di sini?"
Raysha menggelengkan kepala. "Indonesian sangat cantik, Tuan. Saya tidka bisa meninggalkanny lagi."
Baby sister datang dan mengambil alih Febi kecil. Tidak perlu waktu lama, Reyes menunggu Raysha bersiap. Mereka menemui klient di suatu tempat. Namun, ada hal yang tidak terduga. Raysha bersikap aneh, klient itu hampir membawa Raysha yang sempat hilang dari pandangannya.
Di hotel, Reyes menunggu dokter menyuntikkan obat pada tubuh Raysha. Dia masuk ke dalam dan berdua dengan Raysha. Tidak tinggal diam, Reyes menelpon seseorang untuk menghancurkan bisnis pria kurang ajar itu. Lalu dia merangkak di atas tubuh Raysha yang memakai kemeja pria miliknya yang tadi dia simpan di mobil.
Teriakan Febi membuyarkan lamunan Reyes. Ya, hatinya begitu sakit, sakit tidak tertolong. Dia merindukan Raysha begitu dalam.
"Ahhhg, sakit taugh!" suara Febi melengking, sambil miring mengelus pantatnya yang sakit. Jordan bangkit dan membantu mengelus pantat dan mendapat teplakan keras. "Jangan coba-coba ambil kesempatan!"
__ADS_1
"Tadi kan, kamu bilang sakit?" suara Jordan jadi bingung padahal dia berniat menghilangkan rasa sakit tanpa berpikir macam-macam. "Aku hanya ingin membantu, Babe."
"Enggak!" Febi cepat berdiri dan melihat ke belakang pada Jordan yang akan meraihnya. Selamat Dia berlari menjauh, dan dikejar Jordan membuat Febi makin histeris.
Sayang seribu sayang, Febi harus menggigit jari saat pria itu masuk sebelum pintu lift tertutup. Nafas Mereka ngos-ngosan dan Febi penuh waspada saat Jordan berdiri di sampingnya.
"Kita balik?" Jordan bertanya sambil menyeka keringat di kening Febi. Febi mengangguk dalam kebisuan.
Di kamar, terlihat anak-anak, selamat Juga Donna tertidur. Jordan ingin tidur di samping anak-anaknya, tetapi tak kesampaian karena ada Donna. Dia kesal karena Febi ikut tidur di kasur anak-anak sementara tiga kasur berukuran Queen menganggur.
Febi berbalik dan kini menghadap Jordan. Kasur mereka selisih satu meter. Pria itu mengulurkan tangan dan Febi mengulurkan tangan juga, selamat saling menggenggam.
"Sini, " bisik Jordan dengan tatapan memohon, tetapi Febi justru menaikan selimut sampai menutupi wajah.
Jordan kesal lalu melepaskan tangan Febi. Dia berdiri, sementara yang dengan mulus menggendong Febi untuk memindahkan ke kasurnya. Pekikan Febi membuat Donna yang tadi tidur miring menjadi terlentang.
Jordan menekan tombol lampu di nakas samping, sehingga lampu tidur satu-satunya itu padam.
"Jordan, lepas tidak!" bisik Febi dengan bergidik. Dia menggerakkan kedua tangan dan berusaha untuk terbebas selamat dari yang dalam capitan satu tangan besar itu. Kini Jordan menarik tubuhnya sehingga dia membelakangi, kepala Febi berbantalan lengan kanan Jordan
"Jangan berisik, atau Donna akan bangun, Babe." Jordan menciumi rambut Febi. Sementara tangan lainnya, menelusup ke balik baju Febi, menangkup perut Febi yang hangat.
"Awas ya, kalau berani macam-macam, aku akan membatalkan semua," bisik febi dengan kesal dan seluruh badannya kesemutan menahan geli dari kecupan hangat yang kini merambah ke telinga. Bagian bawah tubuhnya berusaha menjauh dan tetap menjaga jarak dari paha lelaki itu.
"Aku takkan mengecewakanmu, Sayang."
Febi menghela napas lega saat kecupan itu tidak lagi intens dan napas Jordan di telinga belakangnya mulai melambat. Setelah menunggu lama, dia mencoba bergeser perlahan, sambil menyingkirkan tangan Jordan dari perutnya.
Dia berbalik dan meraba leher dan dada Jordan yang panas. Inilah yang paling sukai saat ini. Febi coba menempelkan telinganya di dada hangat itu, degub jantung teratur membuat dia tersenyum.
Mendengar Donna batuk-batuk, sepertinya mulut itu sangat kering. Febi bangkit dan berpindah kasur, lalu memeluk Mia. Benar saja, kasur bergetar, Donna bangkit dengan terus batuk-batuk.
Terdengar suara langkah kaki, lalu cahaya tampak dari kulkas yang dibuka. Febi mengintip saat Donna minum dari botol kaca dan memandang ke arahnya dalam cahaya lampu kulkas. Tampak Donna lalu memeriksa ponsel.
Febi diam-diam mengikuti Donna yang keluar dan berbicara di balkon demi menepis penasarannya. Dia menempelkan telinga ke celah pintu dalam kegelapan di kamar, cahaya terang di balkon menampakkan wajah khawatir Donna.
"Kau bilang apa, Li? Logan membuat ulah?"
Suara Donna mengejutkan Febi. Logan? Dia terus menguping. Ketika Donna berbalik, Febi berjalan cepat dan kembali ke tempat tidur. Berikutnya suara lemari berderit, Febi menangkap siluet Donna yang memakai mantel lalu keluar dari ruangan.
Febi berniat pergi, tetapi Mia justru merengek, bangun, dan minta susu. Aduh. Dia bergegas membuat susu formula dan mau tak mau menemani Mia agar terlelap kembali. Dia takut membangunkan Jordan yang baru istirahat.
Di dek atas, Donna menarik Logan yang menghina para pegawai di situ karena tempat itu tidak menyediakan permainan judi. Memanglah kalau di kapal pesiar lain ada, tetapi apakah Logan tidak berpikir ini adalah kapal dengan Konsep keluarga dan ditujukan untuk anak-anak.
Kemudian mereka pergi ke lantai bawah. Donna menemani Logan yang terus meminum alkohol. "Kamu tidak memberitahu Febi kalau kalau kamu di sini?"
Logan menggelengkan kepala dan mengelap hidungnya. Dia tidak bisa tidur karena obat-obatan itu.
"Kamu kemarin dengan seorang anak? Apa kamu datang bersama keluargamu?"
Logan menggelengkan kepala, dan menjatuhkan kepalanya yang berat di meja bar. Lalu menjawab dengan suara sengau dan mata nyaris tertutup. "Dia putriku dengan Febi."
...****************...
Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di bawah. Ceritanya bagus. Terimakasih.
__ADS_1