Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
Bab 6. Tatapan 3 detik


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu ....


Febi rutin mengajar Evan Reyes di rumah mewah bergaya Amerika. Seperti sekarang saat Febi menyodorkan kertas yang sudah diberikan lem yang telah mengering. Lem bening yang membentuk huruf dan Evan bertugas mewarnai kertas itu. Nanti saat diwarnai Evan, akan menunjukkan huruf yang disebut Febi.


Evan mengalami keterlambatan dalam pelajaran, dibandingkan anak seusianya sehingga Febi dituntut untuk lebih bersabar dalam memberi pemahaman dengan menggunakan teknik yang berbeda.


Di waktu yang sama, Jordan yang baru pulang melihat mobil yaris tipe lama di halaman. "Mobil siapa?" tanyanya sambil melirik Sekertaris Li.


"Itu milik Mrs. Febi, Tuan."


Jordan mengangguk dan masuk ke dalam. Matanya terpaku pada dua bocah berambut keriting hitam yang sulit dibedakan. Rok dan celana, yang membedakan mereka.


Bocah laki-laki itu mendongak seolah sadar sedang diamati sampai membuat Jordan dan Mike melakukan kontak mata, secara harafiah dua puluh detik. Jordan meraba dadanya yang mendadak sakit. Apa ini efek rasa kasihannya karena tahu kondisi anak laki-laki itu yang rentan terinfeksi.


Jordan beralih pada bocah perempuan yang berhenti di depannya dalam keadaan mendongak. Mata biru yang terus mengamatinya .... tajam dan menusuk. Seolah dari sana terlihat betapa aktifnya anak perempuan ini. Dia terperangah pada dua sudut bibir mungil itu yang terangkat ke atas sehingga membentuk senyuman indah dan ... sangat manis.


"Paman adalah papanya Evans, ya?" Mia terkagum-kagum. "Iya, benar! Mia melihatnya di foto hape milik Evan! Paman lebih tampan dari yang di foto. Lebih tampan dari papaku! Anda sangat tampan, yaaaa!"


Jordan mengerutkan kening, satu sudut bibirnya terangkat sedikit. Kenapa dia jadi malu dirayu oleh anak kecil. Apa jadinya anak ini kalau sudah dewasa? Mungkin pacarnya banyak!


Ketertarikan bocah itu sungguh berhasil menarik perhatian Jordan. Dia sampai tidak berkedip dan tahu-tahu sosok dewasa yang menggunakan rok krem dan stocking hitam telah berdiri di samping bocah itu sambil memegangi dagu si bocil.


"Adam kemari beri salam," panggil Febi pada putranya yang sudah berdiri.


Rasanya, Jordan dengan enggan beralih dari wajah bocah perempuan itu ke suara lembut seorang wanita yang menarik perhatiannya. Di melihat ke atas dan terlihat tatapan sopan itu, rambut sanggul rapi, dengan jepit hitam di sisi kanan dan kiri. Kening yang sangat cerah mulus, pasti juga menjalani perawatan seperti Jesslyn,yang sampai ratusan juta.


Tatapan dua orang dewasa itu sama-sama terkunci, seolah sama-sama memindai. Mata hazel perempuan itu begitu santai, tetapi aura di dalamnya terasa begitu kuat. Mungkin tak ada orang yang menyadari hal ini, tetapi bagi Jordan, wanita itu menutupi sesuatu dengan sikap kesederhanaan.


"Ada sesuatu dengan perempuan ini," batin Jordan was-was. Sejuta perkiraan muncul dalam benak pikirannya. Jangan-jangan dirinya justru memasukan mata-mata ke dalam rumahnya, atau didepannya adalah seorang pembunuh yang menargetkan putranya.


"Eh!" Jordan terkejut saat tangan disamping paha merasakan sentuhan tangan mungil yang panas. Dia menunduk karena hatinya merasakan hal berbeda.


Tenyata, kening anak laki-laki berambut keriting itu menempel di punggung tangan diikuti kecupan mungi. Jordan menggerakkan tangan dan mengelus sampai kebelakang kepala mungil. Tekstur rambut keriting itu memanjakan kulitnya. Mungkin seperti ini rasanya saat Kakek Meyer dulu menyentuh rambut keritingnya, sangat menenangkan.


"Papanya Evans, perkenalan saya Mia Callista Argantara," suara Mia sangat renyah hingga Jordan kembali menoleh ke depan.


"Mia Calista Argantara?" Jordan terkesiap pada suara bocah perempuan itu yang membuat hatinya menjadi hangat dan berbuah semangat.


"Mama dan teman-teman biasa memanggil saya Mia. Senang sekali bertemu Paman Jordan!" Dengan semangat Mia ingin terus mendapat perhatian pria dewasa yang warna matanya sama dengan dia dan Adam. Dia semakin senang mendengar tawa Pamn Jordan yang ringan.


Sekertaris Li terkejut, untuk pertamakali tuannya bisa tertawa seperti ini selain dengan Evan. Dia melirik wanita itu, masih santai dalam memperhatikan anak-anaknya.


Sikap wanita itu pada tuannya dianggap tidak wajar, padahal biasanya wanita manapun walau sudah menikah saja bisa kesulitan untuk tidak memandang takjub pada ketampanan dan kekuasaan yang dimiliki sang tuan.


"Kamu pasti Adam Argantara, benar?" Satu sudut bibir Jordan terangkat dan beralih ke kanan lagi. Dia melihat keterkejutan saat mata Adam sedikit melebar dan bibir kecil yang menegang. Jadi, dia gatal dan mencubit sedikit pipi Adam sampai membuat Adam melongo dan terperangah.

__ADS_1


Lihat, betapa menarik ekspresinya. "Apa kau tidak berniat berbicara dengan Paman?" tanya Jordan dengan nada bijaksana.


Mata Adam menyipit seolah mendengar kata-kata itu memiliki arti indah tersendiri. Jantungnya berdebar, dia menjadi merindukan sosok papa. Namun, dia benci Papa Mike.


Bibir Adam mengkerut dan dia mengangguk, lalu menjadi murung. Tatapan Adam terpaku pada pinggang pria dewasa di depan. Bahkan dia sangat merindukan gendongan papa.


"Kenapa kamu sedih, apa kamu sakit?" Jordan memegang kening itu hingga Adam kembali mendongak dan menggelengkan kepala seolah berpikir dalam.


Apa yang ada dalam pikiran bocah kecil ini, bikin penasaran. Yang satu cerewet, yang satu enggan bersuara. Seperti apa suara Adam? (Jordan)


"Tuan Jordan, Adam belum ada seminggu keluar dari rumah sakit, dan masih belum sembuh. Dia memang banyak diam belakangan ini. Jadi, tolong dimaklumi."


Jordan melirik Febi sesaat dan mengangguk. Dia kemudian mengacak-ngacak rambut Adam, kembali dia tertegun pada sudut bibir Adam yang terangkat sedikit seolah ini sangat menyenangkan hati anak laki-laki itu. Dia lebih terkejut saat tangan Mia menyentuhnya.


"Paman Jordan, Mia juga mau di puk-puk di kepala, boleh?"


Jordan langsung tertawa ringan. Sesuatu lolos dari mata, Jordan memegang pipi sendiri dan melihat jarinya yang sedikit basah. Hatinya begitu tersentuh. Benar embun bening baru menetes begitu saja, pertanda seolah ini kebahagiaan yang datang tanpa disangka-sangka. Dia berjongkok membuat Sekertaris Li di belakangnya terkejut.


Pipi chubby itu dihimpit dengan dua tangan besarnya. Dia melihat ke arah mata kiri dan kanan yang berwarna biru. Tatapan kekaguman yang indah. "Mia, kamu ingin di puk-puk, begini?" Kata Jordan sambil mengelus rambut Mia dari atas ke arah tengkuk, beberapakali dengan jari membelah rambut Mia yang keriting.


Mia tertawa kecil kegelian dengan genit saat jari Paman Jordan menyentuh cuping telinganya, sontak Jordan hanyut dalam tawa yang lepas.


Sekertaris Li terpesona dan tergagap mengambil ponsel pada suara tawa tuannya yang ramah. Dia tidak pernah mendengar ini sejak tuannya menginjak usia lima tahun.


Febi mengembuskan napas lega. Dia takut si kembar membuat tidak nyaman bos dari segala bos. Dia melirik Sekertaris Li yang tampak terkejut dan ponsel itu nyaris jatuh. Febi sebetulnya sering mendengar sosok Jordan yang selama ini terkenal dingin, tetapi sepertinya itu hanya berita bohong. Faktanya, lelaki itu berhati sangat lembut, bahkan mata biru itu sampai berkaca-kaca saat tertawa.


Febi memegangi dada yang sakit pada ekspresi dua anaknya yang langsung sedih saat Jordan beralih mengelus punggung Evan. Kebahagiaan si kembar lenyap begitu saja, dua anaknya bahkan tampak iri saat Jordan menggendong Evan dan melewati mereka.


"Papa, bolehkah Evans mengajak mereka berkunjung ke musium milik Papa?"


"Apa?" Sebenarnya, Jordan tidak setuju bila ada orang asing masuk ke ruang pribadi. Namun, dia kembali berpikir melihat tatapan memohon Evans lalu tatapan dua anak itu yang terlihat penasaran. Dia jadi enggan menolak. Apalagi Mrs. Febi sudah memperbaiki pola pikir putranya. "Asal, selesaikan tugasmu dulu, Jagoan."


"Baik, Papa Jo!" Evan mencium dengan gemas pipi Jordan.


Si kembar saling tatap dengan wajah murung, jelas mereka merindukan moment seperti itu. Kemurungan itu tertangkap Jordan saat menurunkan anaknya dari gendongan. Seharusnya, Jordan sudah terbiasa melihat tatapan iri seperti itu, tetapi ini jadi membuatnya sungkan pada si kembar, seolah dia enggan menyakiti hati mereka.


"Ayo, kembali kerjakan soalmu, Evan." Febi dengan lembut menarik bahu Evan agar meneruskan tugas menulisnya. Dia memanggil si kembar menggunakan kode tangan.


Sekertaris Li masih mengamati sampai si kembar duduk mengapit Febi. Dia jadi sedih melihat wajah tidak semangat si kembar saat Febi mengelus rambut mereka dengan mencium pucuk kepala mereka, dengan mata hazel itu mengawasi apa yang dikerjakan Evans.


Jordan telah selesai ganti baju. Lantas dia memperhatikan anaknya dari di lantai dua. Sekilas melihat dari cara menatap Mrs. Febi itu, dia merasa pernah melihatnya?


Jordan sama sekali tidak tahu bahwa wanita itu yang dicarinya selama ini. Cara berpakaian Febi saat mengajar sangat berbeda jauh dengan hari biasa. Terlebih Jordan lebih ingat mobil merah itu daripada wajah pemiliknya.


*

__ADS_1


"Wah, mobil ini keren, Evans!" Mia menyentuh dengan jarinya ke body mobil berwarna ungu kebiruan yang sangat kinclong. Dia menatap pria dewasa dengan kekaguman. "Paman Jordan, saya sangat ingin naik mobil ini!"


Mata Jordan berkedut. Dia tak pernah mengijinkan siapapun naik ke mobilnya.


"Mobil itu tak boleh dinaiki, Mia," suara Evan meninggi. Dia melirik tatapan dingin papanya. "Apa kali ini saja, juga tidak boleh Papa?"


Febi melirik ketegangan di ruangan. Putrinya hanya anak kecil yang polos dan selalu penasaran. "Mia, tidak boleh-"


"Boleh, kali ini boleh." Jordan langsung menatap Febi, dia menabrak perkataan Febi.


"Aku bilang, kan! Papaku keren!" Evan menyanjung papanya. Dia dibantu papa membuka pintu mobil tanpa ata. Mereka berdua naik dibantu Jordan. Mia memegangi stir memperagakan sedang balap.


Jordan melirik Adam yang melihat miniatur rumah di dalam aquarium. Seolah bocah itu tengah mempelajari dengan mata kagum, tapi wajah mungil itu tetap datar, membuatnya semakin penasaran. Apa dia tertarik dengan itu?


"Ma, ini mirip dengan milik Adam," katanya sambil menarik rok span milik mama yang selutut.


""Oh, ya?" Febi menjauh dari mesin kopi unik ke arah Adam. Dia sedikit membungkuk dan mengamati miniatur rumah di dalam akuarium yang berisi air. Lalu berbisik. "Tapi lebih bagus milikmu, Sayang? Ini masih kalah."


Adam tertawa kecil dengan mamanya. Mereka mengangguk setuju dan saling melempar senyuman.


Wajah Jordan memerah, dia malu sendiri saat melihat bagian bawah tubuh ahli pengajar itu, lalu membuang muka, tetapi melihat lagi. Tanpa sadar dia menilai bentuknya, di matanya dalam keadaan membungkuk seperti itu SEMPURNA. Dia bahkan sudah lama tak memiliki hasrat, mendadak dadanya berdebar. Syukurlah tenaga ahli pengajar itu seolah menyadari tatapannya, hingga dia reflek melihat ke arah lain dan Mrs. Febi pun reflek berdiri.


Febi melihat daftar piala balapan. California? Bibirnya mengejang pada logo balapan paling bergengsi di Amerika yang diadakan di California. Terus diteliti tanggal dari tanggal kemenangan.


"Anda sepertinya tertarik dengan ini dibanding yang lain?" Jordan merasa kesepuluh mobil kerennya sama sekali tidak menarik minat tenaga ahli itu maupun Adam. Biasanya, padahal perempuan langsung berubah seperti ular yang siap menggoda begitu melihat mobil-mobilnya saat di lintasan balap. Ah, maklumlah pasti wanita ini tidak tahu mana yang mobil bagus. Namun, sampai detik ini wanita itu terus melihat lebih antusias pada arah tulisan juaranya.


"Anda sering menjuarai lomba." Febi berkomentar datar membuat Jordan makin terkejut.


Apa cuma segitu, mana sanjungannya? (Jordan)


"Sampai California ..... " kata Febi dengan nada menggantung. "Ini ada dua balapan di California dan semuanya anda juara satu."


"Ya .... " Jordan menggigit bibir bawah. Dia ke sana karena mengejar pembalap yang dijuluki Dune Fox. Namun, dia seperti kehilangan minat segera setelah menunggu hingga dua pertandingan dan mendengar bahwa Dune Fox takkan main lagi di lintas balap tersebut.


Jordan dan Febi menoleh bersamaan hingga bersitatap -sama-sama dalam, seolah mengambil pikiran satu sama lain selama tiga detik, sebelum akhirnya bersamaan membuang muka.


Jordan mendadak melipat tangan di depan dada. Febi berjalan ke arah lain. Mereka sadar pada tatapan dalam itu. Seolah ada sesuatu kasat mata yang menahan mereka, tetapi mereka jelas sangat penasaran pada arti yang sesungguhnya dari tatapan 3 detik itu.


Langkah kaki Febi semakin ringan, seakan melayang, dia merasa kehilangan beban tubuhnya. Seakan dirinya tengah mabuk laut. Matanya terpejam, dia justru seperti naik rollercoaster-tubuhnya seperti diputar-putar dan mual.


"Mrs Febi!" Jordan dengan tangkas menahan wanita di depannya yang terhuyung ke depan sebelum mendarat di lantai. Mata wanita itu terpejam meski dia menepuk-nepuk pipi wanita itu, yang mana kedua tangan dan kaki itu terkulai.


"Mama!"Mia turun dari mobil pajangan, lalu mengikuti Paman Jordan yang menggendong Mama di depan sambil berlari.


Begitu juga, dengan Adam yang tidak kalah khawatir, mengikuti Evan. Dari kemarin mama memang sering memegangi kening dan terpejam, sesekali bersandar panda tembok. "Darah rendah mama kambuh, kah?"

__ADS_1


Jordan melirik Adam menangkap kalimatnya. Dibaringkan Febi di kamar tamu saat Sekertaris Li yang baru muncul lalu menelpon dokter keluarga.


__ADS_2