Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
Bab 26 : Menikahi


__ADS_3

Langit masih abu-abu di pagi hari yang terasa dingin, di kafe Febi dibuat terkejut, melihat sosok yang tidak ingin ditemui. Dia memesan kop lalu menunggu, sambil melirik ke arah Jordan yang wajahnya terbenam di meja.


"Dia benar tidur di sana?" gumamnya.


"Pemuda itu duduk di sana seperti banyak pikiran dari jam 2 pagi." Penjual wanita itu memberitahu sambil menyerahkan kopi.


Febi keluar dari kafetaria, tetapi kemudian balik lagi. Lalu mendekati Jordan. Dia mengambil foto Jordan dan dikirimkan ke Donna.


-Apa, Feb?- (Balasan Donna disertai foto Mia yang sedang sibuk dengan kompor mainan)


-Kalau Jordan di kafe rumah sakit dari jam 2 pagi dan tertidur di sini, itu karena apa?- (Feb)


-Menuggu keluarganya, ya, bisa jadi.- (Donna)


-Uh, sepertinya tidak.- ( Febi)


-Atau dia mau menemui kamu, tetapi dia malu? Entahlah, aku tidak tahu. (Donna)


Jordan menggerakkan leher untuk merubah posisi kepala. Matanya terbuka lalu terpaku pada sosok di depan. Dia tersenyum dan terpejam lagi sampai merasakan badannya pegal dan baru sadar dia sedang di mana. Begitu dia membuka mata, Febi sudah tidak melihat ponsel dan justru memandangnya.


"Jo?" Febi tidak mengerti kenapa wajah lelaki itu lesu dan masih menempel ke meja. "Kamu menunggu keluargamu?"


Jordan tidak menjawab. Hari ini dia tidak bertenaga setelah mendengar perkataan Mama Shioban. Bahwasanya, papa mempersiapkan pernikahan dia dengan Jeslyn.


"Kamu mau kopi?" Febi mengulurkan kopi, tetapi lelaki itu tetap diam. "Kamu kenapa diam terus, aku kan jadi bingung?"


"Ya sudahlah, aku balik saja." Febi bangkit membuat Jordan membuka mata. "Aku tinggalin kopinya di sini. Huh, Adam pasti menungguku."


Jordan bangkit dan memandangi kepergian Febi. Ponselnya berdering dari Sekertaris Li. Dia mengangkat dengan malas.


"Tuan, apa Anda sudah bangun? Maaf, saya baru tahu jika Nona Jeslyn memesan tiket ke Amerika dua hari lalu-"


"Mereka sudah di rumah." Jordan dengan begitu dingin. Ponsel lalu dimatikan. Dia meraih kopi lalu pergi ke kamar Adam.


Sebelum membuka pintu kamar, Jordan mengurungkan niat. Namun, pintu itu terbuka dari dalam oleh perawat. Febi dan Adam melihat ke arahnya membuat Jordan terpaksa masuk ke dalam.


"Pagi, Boy," kata sambil menaruh kopi di meja.


"Pagi, Paman."


Jordan menghampiri Adam yang sedang diseka Febi dengan air hangat sehingga menampakkan perut mungil itu. Papa akan membawa kalian pulang, Nak !

__ADS_1


"Apa Paman sedang sakit?" Tanya Adam sambil menatap curiga pada paman, dia membiarkan mama mengelap dengan handuk kering.


"Tidak, Boy." Jordan menggelengkan kepala.


Adam terpukau pada pria dewasa itu yang memakaikan baju pasien untuknya.


"Jo, minyak telon dulu." Febi menuangkan minyak telon ke telapak tangan, lalu menggosok rata di punggung sang putra.


Kehangatan memenuhi hati Adam pada perhatian dua orang dewasa yang kompak. Paman Jo memasukan impus darah ke lubang bagian lengan baju mini dan mama lalu melanjutkan proses memakaikan baju. Paman menggantungkan kantong darah ke tongkat. Namun, kenapa mereka terlalu diam?


Adam merengut saat wajah mereka sama-sama tak juga berubah dari murung. Dia mengirim chat pada kembarannya.


-Mia, apa ada yang terjadi kemarin? Kenapa wajah mama dan Paman sangat sedih? (Adam)


-Tidak tahu. Eh, Adam, tadi Evan memberitahu kalau Evan di LA. Aku belum membalas pesan Evan, takut mamanya Evan marah. (Mia)


-Ya, jangan dibalas. (Adam)


-Apa kamu ingin punya papa lagi? (Mia)


Adam menekuk bibir. Mamanya sedang di kamar mandi dan paman berdiri di dekat jendela dengan melamun. "Paman, apa yang membuat Paman sedih? Adam jadi ikut sedih."


Jordan menghela napas berat. Kepalanya sakit dan beralih dari jendela lalu duduk di samping Adam.


"Sepertinya, Paman kurang tidur." Jordan mengusap kening Adam dan memainkan rambutnya.


"Paman, kenapa Mia bilang kalau Papa Mike tidak menyayangi kami? Apa benar yang dikatakan Mia?"


Jordan mengernyitkan kening, moodnya jadi buruk seketika. Dia malas mendengar apapun soal pria lain yang keluar dari mulut anaknya. "Mungkin, papamu sedang sibuk."


Adam mengangguk dengan penuh harap. "Aku pikir begitu, Paman." Dia kembali ke ponselnya dan menghubungi nomer papa. Matanya melotot karena ada bunyi tut, tut, tut.


"Hallo .... "


"Papa!" Adam hampir berteriak karena senang. Dia mendongak dan pas mamanya keluar dari kamar mandi. "Papa!"


"Adam?" suara Mike terdengar berat.


Jordan terkejut dan matanya membulat ke tulisan di layar ponsel yang terhubung panggilan.


"Bagaimana keadaanmu?"

__ADS_1


Mata Febi langsung berkaca-kaca, dan bibirnya tersenyum. Kepalanya menjulur ke ponsel. "Adam mau operasi, Mas."


"Febi?" suara lirih itu diikuti suara gaduh benda jatuh. TUT. Panggilan terputus.


Febi dan Adam saling tatap. Mereka beralih ke ke layar ponsel. Wanita itu meraih hp Adam lalu menelpon balik.


"Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar jangkauan."


Air mata menggenang di mata Febi saat mencoba menghubungi Mike berulangkali. Namun, jawaban panggilan itu tetap sama. Seketika hati Febi seperti jatuh ke bumi. Sekeras apapun dia menahan kesedihan, air matanya tetap berjatuhan.


Jordan mengelus bahu mungil sang putra. Pandangannya bergeser ke Febi yang berjalan cepat ke kamar mandi, dengan membawa ponsel itu. Dia menarik dagu putranya dan mendapati pipi Adam telah basah. Dia seketika menarik tubuh mungil itu ke pangkuan.


Sang putra kini memeluk perutnya. Kenapa bisa anakku menahan tangisan?


"Adam tidak boleh sedih lagi, ya? Ada Paman. Kamu harus fokus pada kesembuhanmu. Okey?" Jordan mengelap air mata di pipi putranya. Tatapan terluka itu terasa menghunus ke dadanya, dengan menyakitkan.


"Apa Paman bisa memiliki istri dua?"


Jordan batuk-batuk karena keselek air liurnya sendiri. "Apa maksudmu?"


"Paman sudah menikah dengan mamanya Evan, kan? Apa boleh juga menikah dengan mamaku? Tapi Adam pernah seorang pria memiliki dua istri."


"Ha?" Jordan langsung lemas. Menikahi Febi? Dia bahkan tidak pernah memikirkan itu. "Seandainya, Paman menikah dengan mamamu, apa kalian setuju?"


Adam melebarkan mata dan justru bingung sendiri. "Apakah Paman menyukai Mama?"


Jordan semakin melebarkan mata. Dia menggaruk tengkuk dengan tidak yakin lalu menjawab, "Paman .... Ya menyukai mamamu."


Febi menghentikan langkah dan mendengar perkataan Jordan. Dia mengembalikan ponsel Adam. "Mama ambil obat untuk kamu. Ya, Nak."


Wanita itu melirik curiga ke Jordan dan segera berlalu dengan ucapan Jordan menari-nari di pikirannya. Apa yang coba lelaki itu katakan pada putraku?


"Paman, bisa menghibur Mama, kan?" Tanya Adam dengan penuh harap.


"Aku menyusul mamamu, jangan khawatir. Paman juga mau ke kantor setelahnya. Kamu ingat harus apa? Kamu tidak boleh sedih dan harus semangat, ya?"


Adam mengangguk-angguk. Dia berusaha berdiri lalu mencium pipi Jordan. Membuat Jordan terperangah. "Terimakasih Paman, Adam sayang Paman Jo."


...****************...


__ADS_1


...****************...


Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.


__ADS_2