
"Nah, ini untuk kita memahami mengapa ini adalah solusi teknologi fesyen yang sangat diminati oleh semua perusahaan fesyen kedepannya.
Solusi uji coba virtual seperti MineFit kami dapat menyederhanakan pengalaman berbelanja, melibatkan pelanggan dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan fesyen," kata Jordan sambil menunjuk laptop milik Kikan.
"Wah, saya yakin ini yang dicari oleh brand dan investor dalam investasi inovasi fesyen. Cuma .... Ini pasti mahal?"
Jordan menggelengkan kepala dan tersenyum ringan. "Jangan khawatir, tidak mahal, kok. Karena ini masih perdana kami akan memasang setengah harga, ini hanya berlaku untuk brand mu, nah!"
"Benarkah? Padahal, ruang uji coba virtual ini menarik perhatian band dan investor besar. Apa kamu benar-benar sebaik ini terhadap saya!" Kikan menyipitkan mata curiga.
"Tentu." Jordan mendorong kepalan tangan ke depan dan begitu juga Kikan, sebagai bentuk tos dan persetujuan.
"Kalau begitu showroom KA akan makin populer ke depannya. Terutama di kalangan anak muda, yang tak mau repot berbelanja karena ini mengusung teknologi tercanggih. Bahkan yang pertama di industri fashion." Kikan tersenyum puas dan menghempaskan diri ke belakang. "Dan itu semua karena Kakak yang keren!"
Jordan memberi kode pada Kikan agar diam dan dia menerima telepon. Lelaki itu berbicara dengan Evan dan anaknya itu sudah minta dijemput. Setelah mengakhiri telepon, dicabut usb dari laptop Kikan. "Aku pulang sekarang, ya. Kamu di sini saja."
"Apa Kakak tahu jalan keluar?" Kikan tertawa cengengesan.
"Tahulah, dasar, aku belum pikun! Ya sudah, pertemuan selanjutnya kita tentukan nanti, ya." Jordan berlalu dari ruang santai di lantai dua.
Setelah melewati dua kamar, Jordan berhenti. Suara bentakan menggelegar dari lantai satu. Dia memandang ke asal keributan dan batal menuruni tangga.
"Mereka bukan anak Michael!" Adi dalam posisi berdiri akhirnya tak bisa menahan kemarahan lagi, di depan putrinya yang masih terus membantah.
"Ayah, demi apapun Febi tidak selingkuh!"
Adi mengembuskan napas berat. "Sekarang, berikan saja mereka kepada bajingan itu! Atau kalau tidak, titipkan ke panti! Ya, benar panti!"
Hati Febi sakit mengapa ayah tega mengatakan itu, padahal si kembar cucunya sendiri? "Mereka anak-anakku dan cucu Papa! Sampai kapanpun aku tidak akan melepas si kembar!"
Tangan Adi melayang ke udara, dan berhenti di atas kepala Febi, lalu terkepal hingga berbunyi bergemeretuk, nyaris saja dirinya hilang kendali. Adi melirik Martha yang tengah menganggukkan kepala- seolah mengingatkan rencana terakhirnya.
"Aku tidak mau melihat mereka." Adi menarik tangan ke samping paha, dengan rasa sesal, dia sudah janji pada mendiang mama Febi untuk tidak ada kekerasan dalam mengurus Febi.
"Sebaiknya kau dengarkan Ayah kalau tidak, maka aku akan menghentikan semua bantuan untuk pengobatan Adam." Dada Adi turun-naik dalam menahan marah.
"Tidak, Febi tidak bisa terpisah dari mereka!" suara Febi melengking dan tenggorokannya terasa panas.
Di sisi lain, Febi ketakutan bila si kembar mendengarkan keributan ini dari kamar dan melukai hati mereka yang tidak bersalah.
"Sekarang pilih mana ... satu, ayah akan mendanai pengobatan Adam asal kamu jangan pernah menemui mereka lagi. Dua, kau bisa bersama si kembar, tapi jangan pernah temui ayah lagi!"
Febi terkejut bukan main dqn wajahnya berubah pucat seperti melihat hantu. "Papa membuat pilihan untuk Febi?" Dia mengangguk-angguk dengan perasaan tertekan.
Tombak kasat mata seperti baru menghunus punggung hingga menembus ke depan, menyebabkan rasa sakit sampai dia menekan dada sendiri. Benarkah, yang di depannya adalah orang yang bilang mencintainya selama ini?
"Apa aku harus membuang putraku yang sudah dibesarkan sejak lahir? Bahkan, aku lebih mencintai mereka daripada diri aku sendiri, Yah!“ Wanita itu mengambil napas dengan terseret menahan untuk tidak menangis.
Siapa lagi yang kini bisa diharapkan, setelah Febi kira ayah akan menjadi penolong dan merupakan penghibur hatinya saat diceraikan oleh Mike, justru memberikan pilihan yang sulit? Baik, kalau begitu sekalian saja.
__ADS_1
"Aku akan hidup dengan anak-anak ku, Yah! Aku takkan minta pendanaan ayah lagi! Febi akan berdiri dia atas kaki Febi sendiri. Aku bersumpah takkan pernah memintanya!" Febi dengan suara serak dan tekad yang bulat, melihat dalam-dalam wajah ayah untuk terakhir kali.
"Febi!" Adi menghentakkan sepatu. Dia melihat kepergian anaknya ke arah kamar. "Febi kembali!" Adi melangkah cepat dan ingin mengejar anak tercintanya, tetapi Martha menariknya ke arah lain.
"Mas sudah biarkan dia pergi, aku yakin dia nanti kembali." Martha mengelus-elus lengan Adi. Dia sendiri tertawa di dalam hati, menikmati pertengkaran bapak dan anak.
"Apa kau masih tidak tahu? Dia akan marah!" Adi berasa dirinya mau gila, mengingat jelas kalau anaknya menahan embun bening di pelupuk mata agar tidak jatuh! Hatinya tersayat karena itu.
"Kalau tidak begini, nanti ayah dari si kembar akan memanfaatkan Febi. Sudah ditahan dulu, Mas masih bisa menemui Febi kapan saja, kan?" Martha meyakinkan suaminya. Padahal, setelah ini dia akan membuat anak tirinya semakin menjauh sehingga kedua orang itu tidak akan bertemu lagi!
"Tapi ... si kembar sedang sakit. Mereka cucu pertamaku? Febi baru diceraikan, aku harus memberikan dana yang cukup."
"Mas sudah!" Martha mengarahkan Adi ke tangga. "Febi kan, dapat bagian dari Mike. Dia takkan kekurangan uang. Kalau kekurangan dia akan minta padamu. Kalau dia nanti meminta uang, berikan uang tetapi dengan syarat febi harus meninggalkan anaknya. Ayo, jangan sampai Febi melihatmu sedih."
Adi melangkah dengan berat. Ya, ayah dari si kembar, mungkin memiliki asal usul yang tidak jelas.
Jordan menjauh dari tangga, kunci mobilnya ketinggalan. Lagipula dia enggan bertemu dua orang tua yang akan naik tangga lalu membuatnya canggung. Kenapa aku harus melihat pertengkaran barusan. Itu Mrs. Febi, kan?
Adi berhenti di lantai dua. Martha berbalik dan memanggil dua pengawal. Adi mulai mendengar tangisan menyayat hati dari Mia di sela petir dan hujan deras.
Dengan matanya sendiri, Adi melihat lengan Febi ditarik dua pengawalnya. Dia akan bergerak, tetapi Martha sudah mewanti-wanti agar sedikit tegas.
"Apa kalian tidak dengar, aku pergi setelah hujan reda!" Febi berusaha merebut putrinya yang menangis karena digendong paksa oleh pengawal ayah. Tanpa sengaja, Febi melihat ke lantai dua ke ayah yang selama ini dihormatinya.
"Kamu manusia tidak punya hati, Ayah!" teriak Febi dengan marah. Tanpa Febi ketahui Adi menitihkan air mata.
Febi mengerahkan seluruh tenaga, memukul, menendang dengan keras, tetapi pengawal itu tidak mau melepaskan Mia yang menjerit-jerit ketakutan. Adam juga dicengkeweng.
Ketika sampai di depan pintu depan , Febi berhasil menarik Mia ke gendongan.
"Mia takut Mamaah! Mia takut Aaaaaahhh!" suara Mia semakin melengking, tetapi derasnya hujan mengalahkan suara Mia.
Dalam situasi memusingkan seperti ini, bahkan Adam sampai sesenggukan menyebabkan wanita itu semakin sulit untuk berpikir karena ponselnya mati. Dia tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa saat keluarganya sendiri justru mengusirnya.
Tangisan Mia melengking tak terkendali, dengan tangan mengarah ke pintu karena petir menyambar di kejauhan. "Kakeek Mia takut, Kakek tolongin Mia!"
"Tolong pinjamkan saya telepon untuk menghubungi taksi!"
"Maaf, Nona." Pengawal pria berambut keriting mendorong Febi sehingga terjungkal ke paving. Pria itu menyeringai, melihat Mia menyedihkan setelah ikut terbentur ke dada Febi.
Air dingin membasahi badan Febi dan sang putri, tajamnya terasa menumbuk wajah dan di seluruh kulitnya.
Febi bangkit dengan sakit hati. Dia syok melihat Adam putra tercintanya tak luput dari kekasaran. Dengan engan cepat Febi bangkit, tetapi terlambat, dia dapat melihat dalam mode flow motion saat wajah sang putra yang kaget itu mendarat terlebih dulu di paving.
Tulang-tulang ditubuhnya seperti dicabut, dia menggeser pantatnya dan menarik cepat bahu Adam.
Kini Febi memeluk dua anaknya, berusaha melindungi dari hujan dengan tas dan jaketnya yang baru dilepas.
Matanya melirik tajam pada pengawal yang akan dia ingat seumur hidupnya. Dia takkan memaafkan wajah pengawal itu yang berani kasar pada putranya.
__ADS_1
Dari lantai dua kamarnya, Adi menunggu sekian lama di pinggir jendela sampai akhirnya muncul Febi dan si kembar melewati halaman di bawah guyuran hujan deras Dia berbalik dan Martha sudah di samping. "Kenapa kamu tak membiarkan dia membawa mobil Yarisnya! Aku belikan itu untuk dia dan bukan hak kita lagi!"
"Mas, percayalah, ini demi kebaikan Febi!" Martha setengah takut, dia merasa pandangan Adi seperti mau membunuhnya.
"Setidaknya, berilah mereka payung! Biar aku suruh pelayan!"
"Mas iya!" Martha keluar kamar dengan berlari sebelum suaminya lebih marah.
"Mereka bisa sakit!" bentak Adi dengan nafas berat. Dia membesarkan Febi dengan penuh cinta, dirinya tidak pernah rela untuk melihat putrinya kesusahan.
"Apa aku terlalu kejam!" batin Adi frustasi. Dia menjauh dari jendela kamar, tidak berani melihat kepergian Febi. Setidaknya, dia lega karena Martha akan memberikan payung.
Adi jelas tidak tahu perlakuan dua pengawal yang sudah disuruh Martha untuk mendorong Febi dan si kembar dengan sekeras-kerasnya.
Di lantai satu, Martha justru membuat kopi. Enak saja, biar saja mereka kehujanan! Aku tidak peduli. Selama ini aku terlalu baik!
Di ruangan lain, Jordan mengambil kunci dari meja. Dia bertanya pada Kikan yang masih terpejam. "Hey Kikan, apa kamu punya saudara perempuan?"
Kikan mengangkat satu alis lalu beralih menatap Jordan. "Ya, punya. Kenapa?"
Jordan ingin sekali bertanya, tetapi diurungkan. "Tidak apa, sih. Bye-bye!"
"Kak Jo, tolong ajak Evans di pertemuan selanjutnya, ya! Tapi jangan ajak nenek lampir itu!" teriak Kikan dengan dibalas tawa Jordan.
Jordan melewati ruang keluarga. Lalu berpapasan dengan seorang wanita yang mungkin berusia 50, sedang menikmati kopi. Dia menganggukkan kepala dan mendapat tatapan penasaran dari wanita- yang mungkin mamanya Kikan, karena mereka sangat mirip.
Mobil sedan Toyota Camry keluar dari halaman dengan menerobos hujan. Jordan, cukup kewalahan setiap berpergian di musim hujan, tetapi ada untungnya, karena rumah sakitnya justru mengalami peningkatan pasien.
Ketika Jordan melewati jalan perumahan, matanya menangkap tiga sosok menyedihkan dibawah guyuran hujan deras. Setelah melewati hingga sejauh 60 meter, mobil itu melambat dan berhenti.
Jordan mengoper tuas ke R lalu menginjak gas, sehingga mobil mulai mundur perlahan. Jordan membeku, tatapan mata perempuan itu yang kosong membuatnya teringat dengan si poni.
Begitu Jordan tersadar, tangannya segera mengoper tuas ke P. Dia keluar dari mobil, melepaskan jas sambil berlari. "Mrs. Febi? Benarkah, itu Anda?"
Febi menatap nanar pada ayah dari Evan Reyes, yang barusan berjongkok dan menggendong Adam, dimana Adam justru terbengong dan memandang ke arah Jordan dengan pandangan khusus yang tak bisa dijelaskan, di mana air dingin terus mengguyur wajah mereka. Jordan kini memayungi kepala Adam dengan jas. "Ayo, masuk dulu. Kenapa hujan-hujanan?"
Tanpa pikir panjang, Febi yang dalam posisi menggendong Mia, lekas berlari dan duduk di jok bagian belakang. Semoga anaknya tidak batuk pilek, terutama Adam.
Sungguh malang putra-putrinya karena dari tadi tidak ada tempat untuk berteduh atau semacam eperan. Jadi, Febi bermaksud mencapai jalan raya untuk naik angkot atau taksi. Kalau tahu akan seperti ini, dia takkan membawa si kembar dari sekolah langsung ke rumah ayah.
Air menetes dari baju dan membentuk sedikit genangan yang menyebabkan sensasi terbenam di pantat mereka. Febi merapat, mendekap tubuh Adam saat Mia di pangkuan. Matanya nanar melihat dua buat hatinya yang ketakutan. Jadi, benar dua anaknya bukanlah anak dari Mike!
"Pantas saja Mike sampai tidak mau berbicara dengan ku," batin Febi yang mulai menggigil.
Dalam kesedihan yang menguras jiwanya. Febi harus memikirkan masa depan mereka. Dia membiarkan lelehan air mata yang hangat dan jatuh melewati pipi, setelah terus menahannya.
Toh tidak akan ada yang tahu. Sekalipun Tuan Jordan melihat, dia yakin lelaki itu mengira ini tetesan air dari rambut.
Suara gigi bergemeretuk Jordan yang kedinginan juga terdengar sampai ke belakang di sela rintihan Mia. Gadis kecil itu yang biasa menangis keras, sekarang seperti menahan suara akibat ketakutan setelah dorongan kasar si pengawal dan mungkin menyebabkan trauma jangka panjang.
__ADS_1
"Aku akan mencari toko baju. Tahan dinginnya ya, sebentar." Jordan dengan suara gemetar, rasanya tubuh ini seperti direndam dalam kolam es. Dia merasa dirinya saja kewalahan dengan dingin ini, apalagi anak-anak kecil itu.
Jordan mengemudi lebih cepat, karena ingin menghilangkan segera ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Matanya terpaku ke spion tengah pada rambut basah Febi yang tak beraturan .... Poni itu .... ?