Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 32 : Logan


__ADS_3

Kakek Meyer berjalan ke balkon di kamar Reyes. Dia memandang matahari terbenam dan ombak. Wajahnya begitu suram saat melamunkan nasib Raysha yang malang karena menolongnya dari serangan brutal seseorang dan berakhir sekretarisnya itu tidak tertolong.


Sebuah kalung milik Raysha dengan bandul kubus dan kunci, dilihatnya. Ini ditemukan di kamar Reyes. Langkah berderap di belakangnya. Kalung itu pun raib.


"Katakan mengapa ini bisa di Ayah!" Reyes dengan mata berkaca-kaca dan menjereng di depan Kakek Meyer. "Ayah, yang mencurinya?"


"Sudahi persaingan kita, ya? Raysha sudah beristirahat dengan tenang." Kakek Meyer geleng-geleng kepala dari anaknya kemudian berlalu pergi. "Jadi, berhentilah menunggunya."


*


Jordan senyum-senyum dengan membungkuk dengan pipi berpangku di pagar besi. "Bagaimana kalau kita makan malam pribadi? Anak-anak ada yang menjaga, mau ya?"


"Terserah kamu." Febi dengan gugup, tetapi matanya tidak mau beralih dari Jordan. "Ayo, pulang, aku perlu mandi."


"Sebentar lagi." Jordan menarik tangan Febi dan menempelkan telapak tangan mungil di pipi kanannya. "Aku mau bertanya mencintai seseorang seperti apa rasanya? Kamu sepertinya lebih berpengalaman dalam hal ini."


Febi mengerutkan kening dan tidak percaya. Punggungnya bersandar di pagar lalu terpejam dan merasakan angin yang berhembus sedang melewati telinga dan pipinya.


"Saat kelas 7 aku pernah pacaran. Tapi itu hambar." Jordan menceritakan hubungannya di masa lalu.


Febi menarik napas dalam-dalam. "Bagiku, sangat luar biasa bisa mencintai seseorang, Jo. Kamu akan rela melakukan apa saja, menanggalkan mimpimu, terkadang bahkan jiwa mereka sendiri, tetapi beberapa hal terasa begitu menyakitkan hingga membuatmu enggan memiliki cinta."


Jordan tersenyum, dia merogoh sesuatu di saku celana lalu menjepitkan di rambut hitam itu. "Tunggu. ini jepit rambut milik kamu saat vertigo di rumahku."

__ADS_1


"Kamu menyimpannya, ya." Febi masih terpejam dan terkejut saat selanjutnya mendapat kecupan tidak terduga. Dia melongo dan menyentuh kening. Wajahnya menghangat dan memandangi kepergian Jordan yang tampak buru-buru masuk ke dalam.


"Apa sih?" Febi mulai berjalan cepat dan Jordan melangkah semakin cepat. "Jo, tunggu!" Lelaki itu berbalik dan berjalan mundur. Lampu koridor menyala.


"Sudah jangan protes lagi," suara Jordan serak dengan gelisah.


"Aku tidak protes," jawab Febi yakin dan berjalan lebih cepat. Dia terkejut karena Jordan terjengkang. Dia menghampiri dan pria itu tak langsung bangun.


"Ayo, karpet ini kotor." Febi menarik tangan Jordan yang berat dan tubuh itu tak bergeser sedikitpun.


"Tiba-tiba aku ingin memiliki kamu dengan cara yang benar? Tiba-tiba aku juga ingin kamu melihatku dan memintaku untu melindungi mu. Tiba-tiba aku cemburu kalau kau melamun dan memikirkan mantanmu. Tiba-tiba aku juga membenci kamu karena kamu tidak menganggap aku juga punya perasaan dalam yang bisa terluka hanya karena pengabaian kecilmu."


Febi mengigit bibir bawah. Dia tersenyum getir. "Aku akan belajar memahamimu. Dengan harapan kita memiliki jalan tengah yang tidak saling merugikan, melainkan kehidupan lebih baik. Aku tidak akan lagi mengabaikan hal-hal kecil dari mu, okey?"


Di ujung koridor, Logan yang menggendong Orchid yang tertidur, menghentikan langkah. Hat bergetar menjumpai Febi berpelukan dengan Jordan.


Dengan jengkel nan mendalam, Logan kembali ke lorong yang dilewati. Dia mengelus punggung Orchid sambil berkata, "Febi kecilku, kau tidak boleh meninggalkan Daddy, ya. Selamanya hanya dengan Daddy."


Dia menekan bel kamar Ali- asistennya dan membaringkan Orchid di sana.


"Bos, apa ada masalah?" Tanya Ali saat bosnya lalu berjalan ke balkon dan duduk di bawah, bukan di kursi. Dia membulatkan mata saat bosnya mengeluarkan sekantong plastik kecil dan menjereng serbuk di meja.


"Bos, Anda tidak bisa seperti ini, sebentar lagi Tuan Howard meminta bertemu Anda! Beliau pasti akan marah kalau Anda memakai obat-obatan terlarang lagi." Sang asisten bingung dan mencoba ikut duduk di samping, tetapi dia diabaikan tuannya.

__ADS_1


Bagaimana bisa Logan lolos dari pemeriksaan dengan membawa obat terlarang. Ali menghela napas kasar begitu Logan menyedot serbuk lewat hidung dari serbuk yang dibagi menjadi tiga baris kecil.


Logan menggosok hidung dan terpejam, bersandar pada balkon. Dulu .... Masa-masa kuliah .... Hanya ada satu perempuan yang benar-benar mau membaca buku dengannya, menghabiskan banyak waktu dengannya, walau orang-orang menjauhinya.


Kembali Logan membungkuk dan mengendus baris ke dua. Perasaan euforia muncul menekan semua perasaan tidak nyaman dalam hidupnya. Bayang-bayang ketakutan semua lenyap begitu saja.


Ponsel Ali berdering dan dia bergidik. "Nah, Bos, tuan besar menelepon!"


"Yaaaaah, pria tua itu mau mengganggumu? Hahaha. Jadi, bilang aku sedang sibuk, ya."


Ali menghela napas kasar pada tuannya yang mulai tidak dalam keadaan baik.


"Bagaimana kalau nanti tuan besar mengajak Orchid makan malam?"


"Tidak boleh, kau bodoh? Sudah tahu lelaki tua itu hanya memanfaatkan Orchidku. Jangan pernah mengijinkan siapapun membawa anakku. Sudah kubilang hahaha! Sekalipun itu Febi tidak! Tidak boleh, ya, ingat, ingat." Logan menggerakkan telunjuk melarang dengan mata tidak fokus.


Ali batal mengangkat telepon tuan besar saat Logan mau mengendus obat untuk ke tiga kali. "Jantung Anda bisa meledak, Bos!" Ali terjengkang karena dorongan Logan.


Bos memang gila, aku tidak tahu ada masalah berat apa. Mengapa ini terulang? Gila apa kamu mau over dosis, Bos! Begitu bilangnya, mau menjaga Orchid sendiri?


...****************...


__ADS_1


Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.


__ADS_2