
Besar keinginan Febi untuk melepaskan jeratan masa lalu dan berniat memanfaatkan Jordan. Seperti malam ini, setelah dinner berdua, Febi mencoba lebih dekat. Dia patuh saat Jordan membawanya ke ruang bilyar, yang berisi para orang dewasa.
Sementara itu, di sudut ruangan, Tuan Reyes menghela napas kasar. Dia melihat bola nomer dua di meja bilyar. Namun, pikirannya berlari ke masa lalu.
Raysha muncul di aula kosong yang gelap, setiap langkah sepatu pantofel itu terdengar jelas di telinga Reyes. Lelaki itu menoleh ke kanan, tampak siluet perempuan berpakaian ketat yang paling dia benci, dan kemudian berjongkok sambil menyebar selimut guling dan bantal.
"Tuan Reyes, saya berharap Anda bisa tidur sedikit lebih nyaman di sini."
Reyes menarik rokok yang diberikan Raysha tanpa pikir panjang dan wanita itu duduk di lantai dengan sopan. "Apa rencana ayah?"
"Tidak banyak." Raysha dengan suara penuh kehangatan. "Keluarga Hamilton dikatakan bangkrut karena tidak mengeluarkan obat jenis baru. Jadi Tuan Besar mengakuisisi dan tetap memperkejakan orang-orang yang sama.
Tidak lama setelah perusahaan berganti nama dengan nama MRJ. Lalu, sebuah formula obat ditemukan oleh cendekiawan muda. Sayangnya cendikiawan itu bermain curang, sudah menjual formula itu kepada Tuan Meyer tetapi diam-diam juga menjual formulanya ke farmasi milik keluarga hamilton. Tuan besar tidak mau mengalah, meski demikian itu tidak bisa dituntut pengadilan karena formula itu belum sempurna.
Ada yang bilang formula milik keluarga Tuan Hamilton disuntikkan pada seorang bayi. Sementara Tuan Hamilton sendiri mengaku formulanya dicuri."
"Lalu formula yang di ayah?"
"Benar-benar dicuri." Raysha menghela napas kasar. "Tuan sedang mencarinya, mengejar cendikiawan itu, yang diduga sengaja masuk ke perusahaan tuan besar, hanya demi menyempurnakan formula, lalu membawa kabur temuannya untuk mendapatkan uang lebih besar. Akhirnya, meninggalkan perselisihan baru antara Tuan Meyer dan Tuan Hamilton."
"Apa kau benar-benar jadi mengundurkan diri?"
"Ya," suara Raysha hangat. "Tugasku di sini selesai, aku menemukan seseorang sebagai penggantiku yang lebih baik. Tuan Felix sangat berkompeten untuk menggantikanku, dia mantan ajudan presiden."
"Bagaimana dengan anakmu? Dia baru berusia dua tahun, kan?" Reyes mendapati senyuman ramah Raysha dan anggukan. Anggukan yang terasa begitu aneh, karena biasanya sekertaris ayah itu selalu formal. "Lalu, mau kau beri makan apa dia?"
"Tuan Meyers menggajiku tinggi, setelah dua tahun aku yakin ini lebih dari cukup."
"Yah, sayang ya, hanya tersiksa satu bulan kau di rumah ini dan tak ada yang bisa kumarahi lagi?" Reyes tertegun pada tawa renyah Raysha.
"Kupikir Anda akan merindukan aku, Tuan Reyes?" Suara Raysha penuh penekanan.
"Kenapa kau percaya diri sekali ya, Raysha?" Alis Reyes terangkat tinggi.
"Karena tidak ada yang bisa membela Anda di depan ayah Anda yang keras kepala selain, pembelaan yang terdengar masu akal baginya."
"Si-aal." Reyes semakin murung, ada benarnya juga. Beda sekali bila ayahnya ada Raysha, yang selalu melihat ke arah Raysha kalau sedang marah dengannya, lalu memutuskan sesuatu hanya setelah melihat Raysha. Sedangkan bila tidak ada Raysha -seperti saat Raysha cuti hamil, ayahnya membebaninya dengan banyak hal tidak masuk akal, terutama mengakuisisi perusahaan-perusahaan pailit yang terlihat menguntungkan dengan harga serendah-rendahnya yang terdengar tidak manusiawi.
"Kau tetap di kantor lah," gerutu Reyes. "Aku tidak tahu lagi bila tidak ada kau di sana. Ruang kerja kami bisa jadi kapal pecah karena kami tidak ada yang mau mengalah."
"Anda yang harus mengalah." Raysha dengan seruan penuh keyakinan. "Anda harus mulai dari sekarang 'memahaminya'. Suka atau tidak. Anda harus mengambil jalan kecil tak terlihat dan membuatnya terpesona. Bukan menentang tetapi merayunya."
Reyes tergelak tawa sampai air matanya keluar. "Kau menyuruhku merayu si tua keras kepala? Bercanda ya?"
Raysha menggelengkan kepala. "Beliau adalah sosok yang lembut. Kasihan, kesulitan tidur hingga berulang kali dokter meresepkan obat tidur. Sayangnya, dia tak bisa berhenti mengkhawatirkan masa depan untuk anak cucu. Bahkan, cicitnya yang belum ada."
Tercengang, Reyes tak bisa melihat ekspresi Raysha yang menunduk saat wanita itu membelakangi cahaya. Namun, suara itu membuat seolah mata hatinya terbuka.
"Jika Anda di posisi saya, dan melihat langsung seberapa besar cintanya untuk keluarganya. Anda mungkin tidak pernah bisa marah lagi padanya?" suara Raysha bergetar dan terdengar sangat terharu.
Reyes meraba ke pipi Raysha. Why ? Pipi itu terasa basah dan lengket. Memang apa yang salah? Tangan besar itu menghapus basah dari pipi yang sangat lembut. Belum pernah, Reyes merasakan pipi selembut ini.
"Ma'af Raysha? Apakah yang membuatmu menangisi ayahku? Kupikir dia lelaki yang sangat egois." Tangan Reyes mengusap ke area lain ke telinga kecil. Begitu tangan mungil meraih tangan besarnya dan menurunkan dari wajah itu, dia tercengang.
"Berbahagialah Anda masih memiliki ayah, apalagi sebuah perhatian yang belum tentu dimiliki semua anak di dunia ini. Saya bahkan memimpikan salah satu dari keduanya. Jangankan perhatian, ini saya justru tidak tahu sosok ayah atau ibu saya seperti apa?"
"Raysha aku tahu kau lahir di area perang." Reyes memegangi pipi lembut yang baru dialiri tetesan hangat, yang jelas air mata. "Tapi aku tidak tahu jika itu ternyata menyakitkan. Kini setelah aku mendengarmu. Aku tahu rasanya, aku menjadi sangat sakit. Maaf, Raysha, aku menyesal telah membuat kamu jadi merasa buruk."
Kesedihan Raysha seakan mengundang sesuatu dalam diri Reyes dan menarik bahu Raysha, berakhir dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
Bola nomer dua berwarna biru menggelinding dan masuk lubang. Tuan Reyes berdiri tegak dan terkejut sampai mundur ke belakang karena Jordan di depannya. "Bocah! Apa bisa tidak mengejutkanku?"
"Apa yang Papa lakukan di sini?" Jordan penuh curiga, mengabaikan napas papa yang ngos-ngosan sambil memegang dada seakan-akan jantung itu sedang tidak beres.
Pandangan Reyes bergeser lalu terus berkedip. Raysha? Itu kamu? Dia menggelengkan kepala. Raysha memiliki titik andeng-andeng yang tidak timbul di pipi dan ujung mulut.
Dada Reyes bergetar hebat. Dia menarik napas dalam-dalam baru ingat dengan foto yang ditunjukan ayahnya. Lalu, menatap nyalang pada putri Raysha yang sudah sebesar ini?
Jordan menempelkan kepalanya ke kepala Febi dan terkejut. Papanya menarik dengan kasar sehingga terlepas dari Febi.
Tuan Reyes menarik kerah putranya dengan geram. "Jadi, di mana calon istrimu?"
"Dia!" kata Jordan dengan seringai licik sambil menunjuk Febi yang gelisah. "Kenalan dulu, Pa!"
"Hai, Om." Febi tersenyum tipis, ayah Jordan terus menggelengkan kepala. Lalu, Jordan merangkul bahunya membuat gugup. Febi mengulurkan tangan ke dapan. "Perkenalkan saya Febyan Ananta Bagaskara, Om."
Reyes menunjuk ke depan wajah wanita itu dan berkata, "dengar baik-baik ya, Jordan akan menikah dengan Jeslyn!"
Bertahun-tahun Reyes berusaha melupakan Raysha. Lalu ayahnya dengan tiba-tiba memberitahu jika Jordan akan dijodohkan dengan putri Raysha. Bagaimana ayahnya setega itu padanya?
Kini perempuan yang mirip dengan Raysha berdiri di depannya membuat terpukul! Apa jadinya, kalau Febi jadi menantunya dan itu hanya membuat dia semakin gila. Dia tak punya pilihan kecuali menjadikan Jeslyn menantunya.
"Om?" Febi menarik tangannya kembali.
"Tidak ingatkah Papa, soal kebebasanku dalam memilih pasangan hidup?" Jordan dengan nada serius. "Biarkan Febi yang menjadi istriku."
"Nope!" Tangan Reyes bersilang di depan dada dan tatapan yang kuat yang tidak dapat terbantahkan.
"Tidak bisa?" Sebuah pertanyaan dengan nada hangat mengalihkan pandangan semua orang.
"Kakek?" Jordan terkejut. "Kenapa pada di sini sih?"
"Pura-pura tidak tahu!" Tuan Reyes berdecih, lalu membidik bola nomer 3 dan bolanya masuk. Bola nomer 4 dipukul dengan keras sampai bola itu keluar dari meja, barulah percakapan mereka terhenti. Ya, dia sengaja karena ayahnya asik sendiri dengan Febi.
Melihat kekesalan Papa Reyes, Jordan mengambil stick lalu membungkuk untuk membidik dengan gaya yang sok keren bagi Reyes.
Reyes menatap tajam Febi saat duduk di samping ayah, lalu mengambil sebuah rokok dari wadah.
"Paru-parumu sudah bermasalah!" Meyer merebut rokok dan membuangnya. "Kamu mau cepat mati? Masuk mesin pemecah es saja sana."
Febi ternganga pada kasih sayang Kakek Meyer. Uh seperti apa keluarga mereka? Ayahku juga sangat baik padaku dahulu ..... Sekarang? Seandainya masih begitu.
Setiap sodokan tongkat Jordan tepat mengenai bola dan masuk lubang. Kemudian bola nomor 7 membentur pembatas papan dan bergulir menjauh dari lubang. Tuan Reyes tertawa dengan cara merendahkan.
"Apa ini, Om?" Tanya Febi dengan otot-otot menegang setelah mendapat stik dari ayah Jordan. "Febi tidak bisa main bilyar."
"Ayo Febi, belajar dulu, biar cucuku menunjukkan padamu." Kakek Meyer memberi semangat.
"Konyol." Tuan Reyes dengan tatapan malas.
"Kemari, Babe." Jordan menarik tangan Febi sekaligus tongkat dari tangan papa.
"Percuma mengajari." Tuan Reyes terkekeh. "Dia sama dengan bapaknya yang pecundang."
Febi menoleh tajam dengan tatapan kebencian.
"Apa?" Reyes menyipitkan mata dengan garang.
"Anda tidak boleh menyebut ayah saya 'pecundang'! Anda tidak mengenalnya!" Dada Febi terasa mendidih. Tidak boleh ada yang merendahkan ayah.
__ADS_1
"Oh, lihat! Putri kecil ini merengek." Tuan Reyes kembali terkekeh. "Ibumu pasti malu punya anak yang hobi merajuk hahaha!"
"Papa?" Suara Jordan dengan penekanan dan tatapan protes pada perkataan barusan yang membuat wajah Febi murung.
"Sudah, tunjukan saja." Reyes meremehkan Febi. Wanita itu membungkuk dengan keraguan.
Tangan kiri Jordan menempatkan tangan kiri Febi di meja bilyard. Kemudian memutari Febi, mengajari cara memegang gagang stik di tangan kanan.
Kakek Meyer merasa puas pada kedekatan mereka. Namun, dia kasihan pada pria- di samping, yang frustasi. Tampak Reyes memandangi Febi begitu dalam, lalu membuang muka dengan kesal.
Wangi musk dari tubuh Jordan menenangkan, membuat wanita itu fokus pada ujung tongkat, bola putih, dan sasaran lubang. Dia menepis kejengkelan pada hinaan ayah Jordan.
"Sekarang pukul!" kata Jordan dengan bersemangat.
TAK TAK!
Meski sempat membentur sisi meja, bola nomor 7 itu menggelinding pelan dan semua orang memelototi bola warna maroon itu, menebak-nebak masuk atau tidak.
"Pasti tidak masuk," batin Tuan Reyes jadi cemas.
"Masuk?" batin Kakek Meyer sambil berdiri dengan berharap.
"Ayo masuk, masuk!" batin Jordan dengan wajah antusias
Febi melongo bola itu, ya, ya, ya, akhirnya masuk ke lubang! "Yahhhhh! Hahahaha!" Febi tos dengan Jordan. Kakek Meyers dengan alis terangkat sebelah melirik geli ke putranya yang langsung memasang tampang dingin. "Dia keren, kan?"
"Beruntung," kata Tuan Reyes dengan malas.
"Dia banyak beruntung." Kakek Meyer menekankan.
"Heleh, padahal Ayah yang mengatur semua, cih beruntung apa!" Tuan Reyes jadi kehilangan mood dan meninggalkan tempat bilyar.
Febi terus memandangi kepergian ayah Jordan, hatinya tiba-tiba sakit karena ayahnya dikatakan sebagai pecundang. Dia pamit ke Jordan untuk ke toilet.
Di kamar mandi Febi membasuh muka, berharap kesedihan itu segera menghilang. Tidak peduli wajah yang masih basah, Febi mengelap tangan yang basah itu ke baju dan mengambil ponsel dari tas.
Kontak demi kontak di gulir dan menemukan tulisan 'Malaikat Pelindung' yang adalah nomer papanya. Dia menatap lekat-lekat sambil menarik tas dan keluar dari toilet.
Area di sekitar gelap. Febi semakin mempercepat langkah dan celingak-celinguk. Tidak ada orang. Dia duduk di parket kayu yang dingin lalu menekan foto profil ayah. Ayah tidak memasang foto berempat lagi, foto sekarang bertiga tanpanya. Jahat sekali.
"Yah, Febi ingin mendengar suara ayah! Febi juga kangen Ibu." Febi menangis dengan air mata yang menjadi teman sepi. "Kenapa ini sakit?"
"Memang sesakit ini ?" Febi menendang-nendang tas. Dia berteriak justru membuat tenggorokan kering jadi gatal lalu batuk-batuk . Meski begitu, hati yang merana mungkin takkan sembuh tanpa adanya pelukan yang tulus.
Kristal-kristal bening berjatuhan dengan nafas tak terkendali. Febi membenturkan kepala dengan keras ke dinding besi. Bintang-bintang di langit seolah menertawakan.
Apa yang dulu adalah hal kesukaannya bersama ayah untuk menyapa ibu di atas sana. Kini sebaliknya, terasa menyakitkan. Konyol. "Aaa! Aaa Aaaaaaaahhhhhhhhh .... !"
Dari balkon Tuan Reyes yang sedang meredakan kejengkelannya dengan merokok, seperti tak mempercayai penglihatannya pada perempuan yang kini duduk meringkuk dan memeluk lutut.
Gatal untuk tidak mendekat, Reyes berpikir akan menemukan celah kesalahan Febi di sana. Lalu, membuktikan pada Jordan, bahwa Febi tidak pantas menjadi kandidat istri!
Rokok yang masih setengah, lalu dipadamkan di deck kayu. Dia bersandar di dinding dekat Febi. Angin hangat menerpa kepalanya. Sementara tangisan pilu seperti anak kecil yang didengarnya membuat hati mendadak pilu.
...****************...
Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.
__ADS_1