
Di hari minggu, Febi memindahkan barang pribadinya dan dibantu Oki. Dia menyewa apartemen selama tiga bulan, karena apartemennya masih disewa. Tiba-tiba seseorang menyapanya dari belakang.
"Hi, apa itu kamu?" Suara pria yang terasa familiar bagi Febi.
Febi memutar tubuhnya 180 derajat dan itu pria yang di bandara. "Anda?"
"Eh, apa juga tinggal di lantai ini?" William dengan mata berseri-seri.
"Saya baru pindah hari ini."
William mengulurkan tangan, tetapi lalu sadar saat si pemilik Ferarri GTO kesulitan menurunkan sepuluh paper bag tas branded. "Perkenalkan saya William Hulwan. Biasa dipanggil Will."
Seakan sadar dengan tatapan lelaki itu, Febi langsung menurunkan lima paper bag dari tangan kanannya. Dia membalas jabatan tangan dengan ramah. "Febyan Ananta Bagaskara. Anda bisa memanggil Febi saja."
"Senang bertemu dengan Anda, Nona Febi. "Sini, biar aku bantu."
Sebelum Febi sempat menjawab, semua tas di tangan kanannya raib. Dia mengikuti pria itu. "Apa anda tinggal di sini?"
"Emh, iya." William menjawab cepat dan entah mengapa harus berbohong. Padahal, dia kemari karena mengambil barang milik Jordan.
"Feb, buku-bukumu memenuhi ruangan!" ucap Oki saat mendengar langkah kaki di belakang.
Pandangan OKI bergeser dari 28 dus buku berukuran sedang ke orang yang di belakang Febi. Dia mengalami keterkejutan sehingga lap di tangannya jatuh. "Kamu .... !"
"Hai, Nona. Kok bisa di sini!" Wiliam meringis seraya tertawa garing. Pada saat yang sama Febi menoleh ke arahnya.
"Jadi, kalian saling kenal?" Tanya Febi sambil menarik paper bag dari tangan William.
Pada saat yang sama dua kuli masuk ke kamar sambil mendorong dengan troli, yang totalnya empat dus. Setelah dua tukang itu meletakkan dus dan pergi, Febi kembali bertanya. "Kalian berteman, kah?"
"Ya, kami teman!" Jawab William dengan cepat kemudian bergeser ke arah Oki.
"Teman?" Oki menyeringai. Otak kreatifnya berubah ke mode aktif saat menyadari kecanggungan pria di samping, yang seperti memohon dengan tatapan itu. Cih!
Alhasil, William masih di situ karena Oki tidak mengijinkan pergi. Lelaki itu dipaksa Oki untuk membantu para perempuan.
William menghempaskan badan ke sofa. Keringat memenuhi wajah dan leher. Ditarik lima lembar tisu dengan lemas dan mulai menyeka. Lelah juga memindahkan 15 dus buku ke balkon.
"Dimana putrimu, Feb?" Tanya William mengalihkan kesibukan para wanita.
"Mia sedang tidur. Anakku kelelahan setelah banyak membungkus mainan." Febi melirik ke kamar anak yang pintu itu tertutup.
Hati Febi tersentuh karena Mia menepati janji sejak kejadian di dekat bandara itu. Terbukti sampai saat ini anak itu belum menangis, bahkan rajin ikut membantunya.
"Apa kalian cuma tinggal berdua?" Tanya William sambil memandangi Febi, tetapi dia mendapat tatapan tajam dari Oki.
"Febi hanya tinggal bertiga. Namun, putranya kini masih di rumah sakit," kata OKI sambil mengeluarkan peralatan mandi dari kantong plastik.
"Sakit apa?" Tanya William langsung duduk tegak.
"Kepo," jawab Oki cepat.
__ADS_1
"Sekarang tim medis berhasil membuat putraku stabil. Mereka juga melakukan biopsi pada sumsum tulang dan hati padanya. Jadi, kami belum tahu pasti apa yang dideritanya?" kata Febi sedikit lesu.
"Coba bawa putramu ke Aurora Children's Hospital ." William dengan antusias. Dia tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini. Dia kira Febi orang dengan sikap tertutup, karena wanita itu selalu tampak misterius. Ternyata, wanita itu santai dan terbuka.
"Kan, Adam memang dirawat di Aurora," kata Oki dengan lirikan sinis sebelum hilang dibalik sekat kayu dengan membawa peralatan mandi di pelukan.
William mengangguk, walaupun dia tidak suka pada setiap penekanan Oki dalam berbicara padanya, tetapi berkat Oki dia menjadi lebih mengenal Febi.
Suara dering telepon milik William membuat lelaki itu bangkit dan meraih kunci mobil. "Aku ada kerjaan. Jadi, harus pergi."
"Terimakasih bantuannya, Will," kata Febi sambil tersenyum hangat. "
"Sama-sama, sesama tetangga harus saling bantu, kan." William balas tersenyum dengan ramah.
"Tetangga?" Alis Oki terangkat tinggi dan tidak mempercayai.
"Berisik!" gerutu William. Matanya menangkap perubahan raut wajah Oki yang akan mengamuk.
William lekas keluar demi menghindari tonjokan wanita itu. Tidak ingin kejadian tidak mengenakan terulang kembali, bisa jatuh martabatnya di depan Febi. "Sampai jumpa, Febi!"
"Ish, ish! Lelaki buaya ini," gerutu Oki. Lalu masuk ke dalam.
Febi menutup pintu dan melihat apartment dengan dua kamar, satu ruang tamu dan satu dapur mini yang berantakan. "Kamu kenal dia?"
"Waktu kita ada gathering di luar kota tiga bulan lalu dan saat kamu titip minyak telon. Kau ingat, kan?
"Ya, kamu pulang jam 11 malam itu, padahal alasannya cuma sebentar?"
"Hih, gemes deh. Gini, waktu dipuncak itu, aku tak sengaja melihat tetanggaku. Setelah aku tanya kenapa dia menangis seperti orang hilang, dia bilang habis dipermalukan. Kau tahu selanjutnya?"
"Aku mengajak anak itu masuk ke dalam restoran dan berdiri di depan pacarnya. Pacar dia itu sedang dinner dengan cewek SMA. Nah, si William lalu datang dan mulai membela pria kurang ajar itu. Padahal tetanggaku di sini yang dikhianati. Sumpah, aku kan, jadi sakit hati banged." Okie sambil meremas serbet putih di tangan.
"Aku jadi ikutan sebel," kata Febi, teringat Mike di bandara dengan seorang wanita.
"Nah, saat gue mau nonjok pria itu, tonjokanku tak sengaja mengenai William. Jadilah, sejak itu aku sering ribut sama William si bang-ke itu!" gerutu Oki dengan kesal.
"Oh, lalu kenapa kamu menyuruhnya membantu kita?"
"Febi, temannya William itu buaya darat. Aku yakin William sama seperti temennya. Coba cek kenapa dia bantuin kamu bawa barang? Padahal beratnya tak seberapa, pasti dia cuma modus mau deketin kamu!"
Febi menyengir melihat ekspresi kesal temannya. Dia baru kali ini menjumpai Oki serius sekali dalam menuangkan emosi. Padahal, Oki paling anti berurusan dengan orang rese, tetapi kenapa dari tadi Oki selalu mengusili William?
Ting!
Oko membuka notifikasi dan matanya langsung melotot. "Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Feby, tasmu ada yang membeli!"
"Apa?" Febi berpindah ke samping Oki yang kegirangan. "Ya, ampun sepuluh?"
"Ya, bukan cuma satu .... Tetapi semuanya!"
"Dua milyar?" Kepala Febi kliyengan.
__ADS_1
"Siapa yang membeli?" Tanya Febi lagi dengan wajah memucat setengah tidak percaya. Dia seperti mendapat secercah harapan di tengah kebingungan.
Febi melirik website online milik teman dari Oki, yang merupakan seorang penjual preloved.
"Ah, Kalau kita buka bisnis preloved saja, pasti menjanjikan. Padahal, baru dua hari kita menitipkan barang mu." Oki dengan mata berbinar lalu melirik ke tas Febi yang tersisa.
"Hih, itu tidak dijual! " Febi dengan mode merengek seakan membaca ide jahat Oki.
Febi menjual ke sepuluh tas yang baru laku saja, dengan terpaksa. Dia sampai tidak bisa tidur saat menimbang-nimbang menjual tas branded yang tidak pernah dipakai. Eh, siapa sangka semua tas itu kini memiliki tuan baru?
Oki tertawa terbahak-bahak. "Apa kamu tidak berniat menyumbangkan satu untukku?"
Dengan wajah memelas Febi menggelengkan kepala. "I'm so sorry."
"Dasar, pelit!" Oki merangkul leher Febi.
"Aku nggak pelit, itu barang penuh sejarah semua, Oki." Walau diakui beberapa tasnya yang tersisa tidak terlalu mahal, tetapi ada kenangan tersendiri yang tidak bisa dilupakan.
"Iya-iya, aku bercanda, kok! Kalau betulan juga enggak apa!" Oki kembali tertawa.
Sejujurnya, Oki mengharapakan karena tidak mampu membeli sendiri. Kapan lagi dia bisa memiliki teman yang backgroundnya keluarga kaya seperti Febi? Siapa tahu Febi akan berubah pikiran dan memberinya satu. Masa tas paling murah harganya85 juta!
"Ish, nanti ya, kalau mobilku laku, aku beliin kamu yang baru."
"Serius?" Oki menoleh dan mendapati anggukan wanita itu. Lantas dia mencium pipi Febi dengan gemas. "Makasih, Sayang. Lalu buku-bukumu mau gimana?"
"Gimana kalau kita lelang, lalu kita sumbangkan dengan minta doa-doa anak yatim agar mendoakan kesembuhan untuk Adam?"
Oki memegangi hatinya yang terasa hangat karena tatapan ketulusan Febi. Dia sering diajak Febi ke beberapa panti. Bulan ini saja, yang belum karena masalah rumah tangga sahabatnya. "Ide bagus, aku akan membantumu!"
*
Di perjalanan, Jordan baru berpapasan dengan mobil Buggati Williams. Diteleponlah William. "Kenapa kamu membohongiku? bilangnya di rumah!" Padahal, baru lewat.
"Iya, tadi aku di rumah. Ini baru keluar dari garasi," jawab William, lalu bersenandung.
"Hey, aku tahu kamu berbohong! Aku punya banyak mata-mata dan barusan melihat mobilmu lewat depan apartemenku?" Padahal, Jordan melihatnya sendiri.
"Jordan, kau enggak asik!" William protes dengan nada kekanak-kanakan.
"Jangan bilang kamu membawa pacarmu ke kamar ku, ha!"
"Tidak-tidak! Pikiranmu kotor sekali. Em, aku hanya meminjam laptopmu, aku mau lihat desain mesin yang kau buat.... " William terdengar menahan suara.
"Yakin, cuma itu?"
"Iya, memang apa lagi?" Wiliam terdiam cukup lama. Dia harus merahasiakan soal Febi. " Kamu, kan, jarang datang ke apartemen. Gimana kalau kamarmu itu aku sewa, ya?"
"Ha, untuk apa? Rumahmu cuma 10 menit dari apartemen?" Tanya Jordan dengan penasaran.
"Aku pengen suasana baru. Kalau kamu tidak mau, carikan aku kamar kosong di lantai yang sama denganmu."
__ADS_1
"Enggak maulah." Jordan memutar mata dengan malas. Dia tidak mau bila dekat-dekat William yang usil.
Jordan berbelok ke kompleks apartemen. Daripada pulang bertemu Jeslyn, lebih baik dia memenangkan diri di sini. Ketika keluar dari lift di lantai lima, langkah Jordan terhenti ...