
Pintu kayu wood di dorong Febi dengan menahan nafas. Tatapan tajam elang langsung menyambutnya.
Brian Hamilton, pria berusia 40 tahun, pemilik Hamilton Raceway Park sirkuit. Raceway itu terbesar nomer dua di Amerika, yang memiliki dua tipe sirkuit, jalur aspal dan jalur tanah.
Tubuh kekar, khas penduduk lokal yang memancarkan maskulinitas, tetapi tatapannya dingin dipenuhi aura menyeramkan. Pria itulah, satu-satunya orang paling tidak ingin dilihat Febi, dan dirinya paling tidak mau dalam jangkauan tatapan itu.
Dingin menyergap tengkuk Febi, lelaki itu tidak bersuara dan memilih terus menatapnya..
"Bos," kata Febi tak tahan dan sebenarnya ingin mati saja, dirinya bagai akan diterkam macan walau lelaki itu tak berbuat apa-apa!
Brian melempar pena yang dari tadi di pangkuannya sehingga mengenai kening Febi. "Aku tidak mengundangmu. Tidak pernah! Sejak kau merugikanku hingga berjuta-juta dollar!"
Febi menyusut. Dia sudah dikerjai Donna. "Donna bilang Anda menunggu saya?" lirih Febi dan mengabaikan sakit di keningnya.
Febi membungkuk dan meraih pena di ujung sepatu selopnya. Dia duduk dengan perasaan tertekan. "Bos ... "
"Bos?" Brian bangkit, berjalan ke lemari kayu tua dan membuka laci. "Saya tidak pernah menjadi bosmu. Bahkan, kamu tidak pernah menjadi penting untuk V84."
"Aku menyesal, Uncle!"
"Harusnya aku tidak pernah mengijinkan kamu ada di Hamilton.
Tidak ada anak buahku yang menomorduakan pertandingan di atas hal lain. Harusnya kau tahu syarat mutlak tidak boleh berhenti semaunya. Tapi kamu berhenti, sebelum aku menyuruhmu berhenti."
Febi menggigit bibir bawah.
"Kamu yang bukan berasal dari keluarga konglomerat, tidak juga membayar senilai jutaan dolar untuk bergabung tetapi mengandalkan keponakanku dan dengan mudahnya menjadi bintang V84? Kau kira siapa dirimu?" Brian dengan sarkasme merendahkan.
Lelaki itu berbalik dengan geram. "Dengar, sekalipun kau merentangkan dua pahamu itu, aku tidak bisa membiarkan manusia sepertimu yang cuma mengedepankan perasaan, balik ke team lagi."
Bria menutup buku tebal yang bersampul kulit merah hati di tangannya. "Kamu kehilangan segalanya sekarang, Febi!"
Kursi berderit akibat dorongan kaki Fabi saat dirinya bangkit. "Maaf jika Anda kecewa setelah tujuh tahun lalu saya datang kemari lalu memutuskan untuk mengundurkan diri. Itu salah saya, tetapi saya berharap Anda berbelas hati untuk mengijinkan saya balapan lagi?"
"Ti-dak." Bria mengangkat satu sudut bibirnya.
"Saya akan menjadi sponsor untuk diri saya sendiri."
Brian menanggap Febi seperti kotoran. "Kamu tidak pantas lagi di sana!"
"Saya pantas! Saya Dune Fox!"
"Dune Fox? Memangnya ada yang peduli dengan Dune Fox? Dia adalah produk yang kami buat sendiri." Brian dengan tawa kecewa.
"Dari dulu Anda memang begitu, tidak menganggap saya sebagai anak didik Anda! Sekalipun saya memenangkan pertandingan berturut-turut dan memasukan ke kantong Anda milyaran dollar, meski begitu tak mampu sekalipun menarik minat Anda kepada saya?" Febi berbicara keras.
"Cih, kau pikir hanya dirimu yang hebat di dunia balap ini?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa yang membuat Anda begitu membenci saya sejak awal Donna mengenalkan Anda pada saya, seakan saya telah melakukan kesalahan besar?"
"Shut up!" Brian melirik ke Febi dengan gigi bergemeretuk. "Kau hanya mengandalkan Donna."
"Keahlian mu tidak ada gunanya walau sehebat apapun, karena kamu itu sombong!" Brian melihat keputusasaan dari mata hazel Febi menyebabkan dia senang bukan main. "Andaikan kamu menjadi sponsor untuk dirimu sendiri, kau pikir aku mau memberikan slot? Menyedihkan!"
"Berlagak membuang uang yang tidak seberapa untuk mendapat yang lebih besar?" Brian tertawa dengan keras. "Kau datang ke mari setelah kau butuh uang, jadi di mana pangeranmu? atau dia sudah meninggalkanmu, Febi?"
"Saya, saya hanya ingin kembali ke sini," suara Febi memelas.
"Dengan sikap kamu yang tidak bisa menghargai timmu? Kamu meninggalkannya sesukamu sendiri. Tidakkah kamu ingat, mereka menaruh semua harapan dan kerja keras di bawah kakimu! Mereka siapkan mobil, sesuai pengaturanmu, dengan harapan kamu akan memenangkannya lagi!
Mereka berusaha keras lalu senyum mereka berubah horor enam tahun lalu. Meskipun pembalapku yang lainnya juga tak kalah bagus, tetapi semua itu telah berubah sejak saat itu.
Kau mengkhianati mereka- V48, yang membesarkamu dari enol!"
Febi tersentak, dia tak mengira akan mendengar kemarahan orang yang dia kagumi. Andai waktu berputar dia tidak ingin mengecewakan mereka semua.
"Kau sekarang mengerti, kan? Kau bukan siapa-siapa tanpa V84, kau bukan Dune Fox tanpa Hamilton!” Brian mengepalkan tangan. “Get out!”
“Please, Uncle Brian! Hamilton Racing satu-satunya yang kupunya!" Febi gemetar dan berlutut.
Lelaki itu meludahi Febi dengan jijik, dia pergi melewati Febi lalu membanting pintu kayu.
Febi benar-benar membuat Brian marah. Wanita itu terduduk tidak berdaya dari berlututnya. Dingin menyelimuti tubuh Febi saat tangannya mengelap air liur Brian dengan kaos putih.
Kepala Febi yang tertunduk lesu dengan langkah tanpa tenaga itu bisa menggambarkan segalanya.
Bergegas Donna mengarahkan Febi ke ruang santai. "Sepertinya, berjalan tidak baik. Maaf, Febi, Uncle memang keras kepala. Atau dia terlalu sakit hati karena kamu sudah meninggalkan teamnya ....”
Febi duduk di kursi lounge yang tinggi, di depannya kaca luas dengan view sirkuit tanah. "Aku tahu kesalahanku kali ini tidak bisa dimaafkan."
"Jangan bilang begitu." Donna jadi ikut tidak tenang..
"Aku salah tidak menghargai bagaimana susahnya mencapai titik tertinggi itu.” Febi teringat pada masa kejayaannya di atas podium, melihat pancaran kebahagiaan dari wajah-wajah teamnya yang bersorak-sorak meneriaki nama 'Dune Fox."
Febi sesenggukan hingga tubuhnya terguncang dan perutnya sakit karena stress. “Latihan keras lari maraton untuk menjaga kebugaran fisik, terus berusaha mendapat ijin pamanmu tahap demi tahap sampai mendapat ijin itu, kesusahan itu kini bahkan tidak ada apa-apanya. Aku sangat ingin kembali ke sana, walaupun harus berlari mengelilingi 1000 lintasan."
"Febi, kumohon percayalah! Aku yakin satu orang yang paling peduli di dunia ini padamu, itu Uncle Brian!" Donna memberikan semangat pada keloyoan sahabatnya. "Jangan menyerah!"
"Tidak, Na! Tatapannya seperti menertawakan kesulitanku! Kenapa dia selalu membenciku?"
"Tapi ..... "Donna menyunggingkan senyuman. "Feb, aku pernah memergoki pada dua balap terakhirmu, Uncle tersenyum tipis, matanya bersinar saat kau menyentuh garis finish. Semua tim berpelukan dalam perayaan dan dia memilih pergi, tetapi aku tahu dalam langkah itu tersirat kebanggaan atas pencapaianmu."
Dari sisi belakang, ada Logan yang menghentikan langkahnya tepat di balik sekat kaca. Mia dia tinggalkan bersama team Febi. Mereka menanyakan Febi, jadi dia bermaksud untuk memanggil Febi, tetapi sekarang jadi tahu situasinya.
Kemudian, Logan mencari Brian dan menemukannnya di sebuah ruangan golf. Brian Hamilton mengayunkan stik dan memukul bola golf sehingga bola putih itu terlempar jauh ke dinding khusus dengan tampilan lapangan golf.
__ADS_1
“Tidak ada sponsor, tidak ada Dune Fox, tidak ada apapun tentang Febi!" Bentak Brian tanpa berpaling, dia mengenali aroma citrus di belakangnya.
“Uncle .... “ Logan memelintir bibir. “Aku mau ikut balapan kalau Febi diizinkan ikut.”
Brian menoleh ke belakang. “Bagaimana kondisi penglihatanmu?”
“Aku sehat setelah operasi ....”
Brian melirik Logan yang membetulkan kacamata dan ingin tahu kenapa anak bungsu Keluarga Howard itu terus menyokong Febi. "Sorry, aku tidak akan membantumu.”
“Tapi, Uncle apa kau yakin? Padahal, aku akan mengajak teman-temanku untuk menjadi sponsor juga. Asal Febi mendapat slot khusus.”
Brian langsung menggelengkan kepala setelah sadar kemana obrolan ini. “Tidak! TIDAK! Jangan sebut nama setan kecil itu!"
"Uncle?" Logan makin mendekat. "Haruskah, aku memohon pada Kakakku agar kamu mau menerima Febi."
Brian berpikir sebentar lalu menghela napas. "Kau bisa ikut dalam balapan kali ini. Kalau menang, aku bisa mempertimbangkan Dune Fox mu untuk tahun depan."
Logan tersenyum ringan. "Aku tahu Uncle terbaik."
"Bagaimana,kabar Orchid dan Lili?"
Logan memiringkan kepala. "Kenapa? Uncle mulai tertarik pada putriku?"
Brian menghela napas lagi. "Bawa mereka ke rumahku."
*
Hari telah malam, Febi tidur di ranjang pasien, sambil memeluk Adam yang bau parfum anak-anak. Dia membayangkan anaknya kalau sudah besar mungkin akan memarahinya saat dia dilarang ini itu, lalu dia menurut karena tatapan tajam mata belo biru Adam.
‘Mama takut kelucuanmu menghilang lalu yang tersisa tatapan dingin itu, Sayang. Kuharap kamu terus menjadi teman Mama ... dalam mengarungi hidup berat ini. Juga, tetap menjadi putra Mama .... bila nanti Kamu akhirnya tahu siapa orang tua kandungmu. Tolong, jangan lupakan Mama.'
Lagi-lagi ini terasa mengganjal di hati Febi. ‘Tidak mungkin, kan. Meskipun rambut mereka sama-sama keriting, tetapi Jordan pirang, sedangkan Adam hitam. Namun, kenapa cara mereka membuat rumah dalam aquarium juga nyaris sama’
Febi merasa pusing karena kesamaan dua generasi itu, dalam gerakan makan dan mengunyah, tatapan dingin itu, juga saat menguap, dan bentuk hidung ... bibir ..... ‘
Kenapa jadi bibir! Febi terbayang bibir Jordan.
*
Di kamar tidurnya, Jordan berguling kesana-kemari. Bayangkan kelakuannya yang tidak terkontrol kembali memborbardir pikiran. Tetapi bibir itu lembut dan rasa mangga.
"Mangga .... " Mata Jordan tampak redup di pantulan cermin. "Sial, sepertinya, aku suka ...."
...----------------...
__ADS_1