Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
Bab 24 : Berkuda dengan sang putri


__ADS_3

"Logan, kamu di sini!" kata Febi suaranya hampir meledak oleh kesenangan saat di depan Logan. "Kamu tidak marah lagi?"


Kemarahan lelaki itu mendadak pupus setelah memandang wajah Febi yang meneduhkan. Dia adalah api, sedangkan Febi seperti air atau bensin.


"Tidak, Febi, maafkan aku." Logan tersenyum lembut. Sulit menggambarkan hubungan mereka, Logan sendiri bingung dengan apa yang dirasakan.


"Mmm, terimakasih untuk tidak marah." Febi menyunggingkan senyum penuh arti.


"Ya, dong." Logan memiringkan kepala. "Apakah aku datang mengganggumu?"


"Tentu tidak! Kamu tahu. Kamu tidak perlu bertanya." Febi justru berhutang banyak karena sahabatnya selalu memberi tahu tentang dunia yang luas, mengingatkan untuk selalu bersemangat dan memiliki tekad kuat yang mengarah pada konsistensi dan kedisplinan.


"Apa kamu tidak enak badan?" Tanya Logan lalu mengambil sapu tangan dari saku celana dan menyeka keringat di wajah Febi yang pucat.


Febi meraih sapu tangan itu untuk menutup hidung. Aroma citrus menyegarkan perlahan menghilangkan stresnya. Dia bergidik tiap ingat keintiman dari pria selain Mike di dalam hidupnya.


"Kamu jadi karting hari ini? Sekarang aja, yok." Logan menegur lamunan Febi.


"Karting?" Febi tidak berani mengangkat wajah karena malu karena sahabatnya melihat hal yang tidak boleh dilihat untuk umum. "Aku beritahu Mia dulu."


"Akhirnya, Om Logan datang!" Mia berdiri satu meter di depan Logan dengan penuh perhatian. "Mia senang, Om datang. Kita bisa naik kuda sama-sama!"


"Kuda?" Tanya Logan sambil berjongkok. Dia terhipnotis oleh semangat gadis kecil bermata biru dan rambut yang keriting. Dia cantik, sama seperti saat ditemukan.


"Ya Kuda. Tadi, Jordan mau mengajaknya naik kuda. Tapi, ini udah terik banged," kata Febi sambil berjongkok. Dia menghapus keringat dari kening putrinya dengan menggunakan sapu tangan berwarna krem milik Logan.


Jordan meninju pagar beton. Anak perempuannya, benar-benar diseka dengan barang milik keluarga Howard! Dia melangkah dengan terus menarik napas dalam-dalam. Lalu berjongkok di samping Febi dengan berusaha tersenyum dengan cara berkelas walau di dalam hatinya gedek.


"Nggak mau, Mama! Mia kan, udah janji sama Paman mau main kudaaaaa!" Mia mengingatkan mama dengan suara unyu.


"Sekarang kan panas banged, loh. Noh, sapu tangan Om aja sampe basah. Main kudanya besok aja, ya?" Febi gereget pada bulu mata lentik putrinya yang mengepak dengan sangat indah, ditambah senyuman andalan membuat hati Febi meleleh.


Logan terpukau pada interaksi dua generasi itu, apalagi pandangan febi yang penuh kasih. Lalu, begitu pandangannya bergeser, melihat Jordan jadi kesal. "Ayo, Mia, pulang saja. Sekarang panas sekali. Besok Om ajak Mia ke perlombaan pacuan kuda, dengan Tante Dona, mau ya?"


"Really?" Mata belo Mia bersinar.


"Sure, Girl. Kita akan pergi ke Disneyland juga," kata Logan dengan mantap.


Jordan mengigit pipi bagian dalam, tidak terima saat Mia lompat-lompat kegirangan. Dia mencoba memanfaatkan kepolosan dari anakku, kan !


" Ayo pulang, Mama!" Mia mengalungkan tangan ke leher sang mama dan mendapat dekapan hangat di pinggang.


"Iya, Sayang, ayo!" Febi menghela merasa lega, kalau lebih lama di sini, dia bisa serangan jantung.


"Ayo, ajak dia naik kuda satu putaran saja." Jordan dengan tatapan lembut memohon pada Febi.


Febi menekuk bibir, rasanya sesak dekat-dekat Jordan, tetapi melihat wajah Jordan yang seperti ditolak itu jadi merasa kasian. "Sepertinya, satu putaran tidak masalah, ya, Mike?"


Febi melotot saat sadar dirinya salah dalam menyebutkan nama. Kini wajah sahabatnya itu menjadi garang. "Oh, ya, Logan, maksudku! " Wanita itu menghela napas kasar karena Logan langsung berdiri.


"Di mana kudanya?" Logan memunggungi Febi dan Jordan. Dia merasakan mereka ikut bangkit. Kepalanya terasa mendidih mendengar nama bajingan itu.


Lima belas menit berlalu.


Di Istal-kandang kuda.Jordan dan Febi membantu persiapan Mia dengan memakaikan pelindung oada kepala dan lutut Mia.


Kenapa dia tidak menjauh saja! Batin Febi dan teringat ciuman Jordan. Wanita itu bangkit dan kepalanya hampir membentur dada Jordan. Lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Pipi Jordan memerah, napas Febi meningkat. Mereka berdua refleks menjauh dalam kecanggungan.

__ADS_1


"Hati-hati," kata Jordan dengan malu.


Alih-alih menjawab perkataan Jordan, Febi menarik tangan Mia. "Mia naik dengan, Mama, ya?"


Logan menoleh karena suara Febi yang gugup, apa yang barusan terlewat? Dia baru memilih kuda, dan merasakan ada yang aneh di antara mereka.


"Apa kamu bisa mengendarai kuda?" Tanya Jordan dengan canggung lalu mundur tiga langkah. Rasanya, sulit bernapas karena ketidaknyamanan di wajah Febi.


"Ya." Febi menjawab tanpa melihat Jordan dan pura-pura memeriksa apa yang dikenakan Mia. Dia kaget saat menerima pelindung kepala dari arah belakang, siapa lagi kalau bukan dari Mike.


"Mama, bisakah Mia naik kuda dengan Paman?" Mia menyentuh tangan Paman Jordan.


"Apa ada alasan tidak boleh?" Tanya Jordan dan terpaku pada mata hazel yang tajam seperti akan menerkam. Lalu, mengambil pelindung kepala untuk dipakai sendiri.


"Ya, boleh, Nak." Febi berpaling dari Jordan ke Donna. "Ayo, kamu ikutan, Na!"


"Ayo, ceptt!" Logan melempar topi pelindung yang mau dipake dan ditangkap Donna dengan sigap.


*


"Lihat mamahmu keren." Jordan terpanah saat kaki Febi menaruh kaki ke cantelan dan melompat ke atas pelana di punggung kuda setinggi 1,65 meter, tanpa bantuan pemandu.


"Paman, mama dan papa sering naik kuda," kata Mia dengan mata berbinar dan senang karena menempel dengan perut paman.


"Mamamu sangat menikmati waktunya tuh. " Jordan memperhatikan Logan yang baru naik kuda, kemudian disusul Donna. Diapun menarik tali kekang ke kanan dan kuda ikut berbelok ke kanan dan berusaha memimpin di depan.


Tangan Jordan satunya memegangi tubuh Mia yang akan oleng ke kanan dan kiri. Dengan jantung berdebar, Jordan sering melirik ke rambut sang putri yang berkilau karena terik matahari. Huh, aku menyukai rambut keriting ini.


"Paman Jo, apa mama bisa memiliki suami lagi?" Tanya Mia takut-takut.


"Bisa, Sayang," kata Jordan lembut.


"Kalau kamu mau, Mia boleh kok, panggil Paman dengan sebutan 'ayah'". Sekarang pikiran Jordan berkecamuk karena ingin dipanggil ayah. "Tapi nanti mamamu marah?"


Mia langsung loyo dan merasakan langkah kuda yang semakin melambat.


Jordan mendekatkan tali ke depan Mia. "Coba sekarang pegang talinya."


"Mia takut. Nanti kudanya marah!" Mata Mia membulat.


"Kan, ada Paman!" Jordan menempatkan tangan mungil itu di tali dan menangkapnya . "Kamu mau tahu caranya agar tidak takut dengan kuda, Sayang?"


"Paman, Iya beritahu Mia caranya!" Mia cekikikan, kagum pada sensasi tangan yang terjebak tali bergerak-gerak dan telapak tangan besar yang hangat.


Mia merasa seperti mau terseret oleh gerakan kepala kuda akibat memegangi tali. "Ini bergerak-gerak, Paman!"


Jordan tertawa ringan pada kesenangan putrinya. "Mia pernah dengar kata 'Pemimpin' belum?"


"Pimimpin. Apa itu, Paman?" Mia melepaskan tali dari genggaman. Dia menggaruk kepala yang gatal, tetapi terhalang topi keras.


Jordan mengajari Mia mengucapakan kata pemimpin dengan benar, rasanya lebih menyenangkan daripada mengajar Evan -yang bukan anaknya. Dia menahan senyum karena sang putri menatapnya dengan tajam dengan mata yang belo! Dia risih setiap melihat mata belo Jeslyn, tetapi mata putrinya seperti permata langka.


"Benarkan, Paman?"


"Sedikit lagi, Mia. 'Pemimpin' bukan pim pim pim." Jordan mengelap keringat di alis Mia.


"Apa itu pnim-pim-pin, Paman?"

__ADS_1


"Pemimpin itu orang yang bertanggung jawab. Dia adalah Bos. Mia pernah dengar apa itu 'Bos' ?"


"Bos itu Kakek. Bosnya papa adalah Kakek Xandel. Bos punya uang banyak."


"Bisa dibilang begitu. Pemimpin itu yang memberi perintah. Perintah yang baik untuk mengerjakan sesuatu. Begitu juga kalau Mia yakin bahwa Mia adalah pemimpin atau bos saat mengendarai kuda, nanti kudanya juga akan mematuhimu.."


Mia terbengong-bengong karena Paman membiarkan dia memegangi tali seorang diri, sedangkan tangan besar itu sedikit tidak jauh darinya.


"Karena kamu pemimpinya, kamu bisa memerintahkan kuda dengan gerakan tanganmu begini." Jordan menggerakkan lengan Mia untuk terayun.


"Paman, Mia adalah bos kuda!" Mia cekikikan dan menarik-narik tali dengan asal.


Jordan mengajari Mia dalam mengendalikan kuda lewat tali. Dia berusaha memotivasi anaknya agar bisa mengontrol mental dan emosional, serta berkonsentrasi dan bersabar.


"Ayah juga ingin mengajarimu banyak hal, Putri kecil ayah, tidak hanya mengajari kamu sebagai pemimpin. Namun, kapan kesempatan lebih bebas itu datang?" batin Jordan.


*


Sore itu ketika langit masih kuning keemasan, Febi turun dari mobil balap. Keringatnya bercucuran di dalam baju khusus balap. Dia melepas helm dan mengibas rambut ke samping dan tidak tahan dengan panas di lehernya.


Logan dengan menggendong Mia menghampiri Febi. "TIDAK BURUK, walau kelihatan sekali kamu maih kaku."


"Terimakasih, Bud." Febi dengan panggilan kesayangan yang artinya kawan. Dia tertawa malu. "Aku akan berlatih, lebih sering ke depannya."


"Gimana? Adrenalinmu meningkat, kah?" Logan mengulurkan sebuah tali rambut dan Febi menerimanya.


Ya, Logan adalah sahabat paling baik dan pengertian di mata Febi. Dia mengendus tali iikat rambut yang masih baru. Wanita itu mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda sambil tertawa memamerkan gigi kelinci putih yang membuat Logan tersenyum. "Belum sepenuhnya keluar. Adrenalinku hanya meningkat saat balap denganmu!"


Logan melempar pandangan lebih jauh pada go kart yang menyelip go kart lain. Ekor matanya menangkap bulir keringat di rambut halus di tengkuk putih Febi, membuat mulut pria itu mendadak terasa kering dan dia menjilat bibirnya.


"Apa matamu sudah membaik?" Tanya Febi seraya meneliti mata coklat itu.


"Sudah, jangan khawatir." Meskipun Logan sebenarnya, masih merasakan pandangannya doble jika mengemudi dengan kencang.


"Mama, naik," kata Mia dengan wajah penasaran.


Logan memasukan Mia ke kokpit, yang tadi duduki Febi. Tentunya setelah mesin dimatikan. "Ayo, kapan-kapan tes drive bersama. Aku pasti mengalahkan mu."


Lelaki itu menepuk bahu Febi dan menggoyangkan, membawanya ke dada hingga bau keringat Febi yang bercampur wangi shampo menguar dan memanjakan hidungnya. Dia melirik Febi yang memperhatikan Mia.


Donna sedikit berlari dan berhenti tepat di belakang mereka. Di meneplak tangan Logan sehingga menyingkir dari Febi.


"Feb, Uncle Brian, baru datang dan ingin sekali bertemu kamu. Cepat, gih," kata Donna ngos-ngosan.


"Biar Mia dengan kami saja." Logan mendekati wajah Febi dengan tatapan peringatan akan bahaya.


"Cepat sebelum Godzila itu memakanmu hidup-hidup." Logan menyeringai dan mendapati mata Febi yang bergidik.


Pintu kayu wood di dorong Febi dengan menahan nafas. Tatapan tajam mata elang langsung menyambutnya.


Brian Hamilton, pria berusia 40 tahun pemilik Hamilton Raceway Park yamg adalah sirkuit terbesar nomer dua di Amerika. Ada dua tipe sirkuit, jalur aspal dan jalur tanah dengan ribuan kursi penonton di sekitarnya.


Tubuh kekar khas penduduk lokal yang memancarkan maskulinitas, tetapi tatapannya dingin dipenuhi aura menyeramkan. Pria itulah, satu-satunya orang paling tidak ingin dilihat Febi, ataupun dirinya paling tidak mau dalam jangkauan tatapan itu. Rasanya jadi .... Nano-nano.


...****************...


.

__ADS_1



__ADS_2