Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 28 : KOTAK CINCIN


__ADS_3

Ketika membuka mata, dia mendapati badannya bersandar pada dada bidang berbau musk. Tangannya meraba perut Jordan dan menggeser tubuhnya, tetapi lemas.


"Aku ingin memberi tahu sesuatu. Meskipun keadaan itu menghalangimu, satu yang tidak boleh kamu lupa, Feb. DIRIMU." Jordan meremas bahu Febi dalam rangkulan. Matanya terpaku telapak tangan Febi yang terkulai di paha lelaki itu.


"Aku tidak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri. Walaupun dunia ini mengalahkanmu, dalam segala hal, tetapi kamu bisa mengandalkan dirimu. Ya, Dirimu. Kalahkan pikiran, pikiran buruk. Aku selalu melakukannya, kau percaya?"


Febi menggelengkan kepala.


"Dunia tidak akan memberimu sesuatu tanpa kamu maju dan mengambilnya sendiri di tanganmu," kata Jordan. Dia meremas tangan mungil yang dingin, pertanda Febi banyak pikiran.


"Bukannya, tidak masalah sekalipun Adam dan Mia adalah anak-anakku secara biologis, kita masih bisa loh, membesarkan mereka berdua? Bukankah itu ide hebat?" Jordan dengan jiwa yang bersemangat.


"Tenangkan dirimu, Nona. Jadilah wanita yang kuat, dengan begitu kamu pantas berdiri di sampingku." Nada lelaki itu penuh karisma membuat Febi menghela napas panjang pertanda tidak terima.


Febi pikir siapa juga yang peduli pantas tidaknya dia di samping Jordan, karena dia tidak berniat ada di sisi Jordan.


“Aku janji tidak akan mengambil si kembar darimu, Nona Febi. Tetapi, kita perlu menjadi suami dan istri untuk mewujudkan rencana tersebut.”


Sigh. Febi berada pada titik menyerah dalam segala hal. Rasanya, mau mati saja. "Aku lelah!"


"Apa yang membuatmu lelah?"


"Banyak! Mike tidak mau mempercayaiku dan menceraikan ku begitu saja, padahal aku menanggalkan mimpiku demi dia!"


"Memang apa Mimpimu?"


"Terbang di atas lintasan."


"Lintasan."


"V84."


Jordan duduk tegak berusaha melihat wajah Febi. Matanya melebar dengan tidak percaya. "Timnya Hamilton?"


Febi diam saja, membuat Jordan diam sesaat.


"Apa kamu tahu Dune Fox?"


"It's Me." Febi tidak berkedip, membaca banyak pertanyaan di mata Jordan. "Uncle Brian, menolakku masuk klasemen tahun ini.n Alasan menolakku karena tujuh tahun lalu, setelah aku mengalami kecelakaan bukannya aku balik balap, justru mengundurkan diri dan meninggalkan team V84."


"Jadi, karena itu aku tak pernah menemui pembalap misterius Dune Fox - di dalam kompetisi enam dan lima tahun lalu?"


"Ya, aku menikah di Indo, dan di sana selama tiga bulan. Lalu kembali ke sini, bukan untuk balap, tetapi mengikuti kursus mengajar. Sampai aku hamil bayi kembar. Kemudian saat melahirkan, Mike justru di Indo. Meski begitu, Uncle Brian tidak pernah tahu kalau sebenarnya aku stay di sini, karena sebelumnya aku mengaku tidak akan balik lagi ke sini."


"Oh .... Begitu .... " Jordan speechless. Dia tersenyum lebar. "Aku percaya itu kamu."


Jordan terdiam lama, kembali setengah percaya dna tidak. "Biar aku lebih percaya, bisa aku mengujimu dengan mobilku? Jika itu benar kamu, aku akan mengenalkanmu pada seseorang."


Febi mengangguk patuh. "Siapa yang kamu kenalkan?"


"Kamu bilang ingin terbang di atas lintasan?"


"Ya, aku sangat ingin." Febi dengan wajah lugu. "Kamu beneran papanya Adam?" Dia menyentuh pipi Jordan tanpa sadar. Jari-jarinya merambah ke rambut di belakang telinga Jordan.


Lelaki itu terpejam dengan sendirinya, merasakan sentuhan lembut yang menyebabkan mabuk.


"Rambutmu sangat Curly. Apa kamu tahu, rambut Adam juga seperti ini saat aku melihatnya di ruang bayi, itu sangat luar biasa. Mungkinkah seseorang menukar bayiku dengan bayimu?" Febi menebak-nebak.


"Dimana kamu melahirkan?" Jordan membuka mata dan menahan keenakan pada permainan lembut tangan Febi. Dia tahu wanita itu tak menggodanya, tetapi hatinya jadi tersentuh.


"Sacramento. Aku ingin ke sana, tetapi sejujurnya aku memiliki ketakutan tanpa seseorang di sampingku. Hanya Logan yang tahu masalah ini, Donna masih belum karena aku takut Donna semakin membenciku jika tahu aku diceraikan Mike karena masalah anak."


"Sebelum itu, aku punya masalah yang ingin kubagikan karena ini menyangkut kamu." Jordan duduk tegak dan membiarkan Febi bersandar di jok dan tidak lagi padanya.


"Tidak ada lagi yang aku takutkan sekarang!" Febi terbakar semangat karena pengaruh Jordan yang positif.


"Nona Febi, aku masih belum tahu detailnya. Kita perlu waspada karena papaku akan menikahkan aku dengan Jeslyn."


Jordan terdiam sejenak dengan tatapan mata misterius. "Evan, yang dibawa Jeslyn ke rumah, bukanlah anak biologisku. Justru si kembar - adalah anak biologisku yang hidup bersamamu."


"Jeslyn bilang, tidak melahirkan di Sacramento. Jeslyn baru membawa Evans ke rumahku, saat anak itu hampir berumur satu tahun."


Febi berkedip pelan. "Apa bayi kalian diculik? Atau penculik itu juga mengambil bayiku? Memang siapa yang mau menculik bayiku?"


"Aku pusing karena tidak pernah menemukan pandangan apapun." Jordan memijat kening.


"Kamu bisa langsung bertanya pada Jeslyn?"


"Aku masih belum tahu motifnya, kenapa bukan si kembar yang dia bawa ke rumah? Kenapa saat kamu mengajar di rumah, Jeslyn terlihat membenci si kembar, seakan dia tidak tahu kalau itu anaknya sendiri."

__ADS_1


"Lah, bisa jadi bayinya memang diculik. Jangan-jangan selama ini Jeslyn mencari anaknya!" Febi merasa iba. "Kenapa kita tidak beritahu dia yang sebenarnya? Lalu misteri ini terpecahkan dan penculik itu mungkin ada hubungannya dengan bayiku yang hilang?"


"Jika sampai kita memberitahu Jeslyn, dia menjauhkan si kembar darimu! Meski, aku bisa memenangkan si kembar di pengadilan. Lalu, ada papaku masalahnya.” Jordan menyentuh punggung tangan Febi yang lemas. “Untuk menghalangi papa, kita perlu-"


Lelaki itu menggosok jari manis Febi. “Memasang cincin perkawinan dengan nama Jordan & Febi di sini.”


“Aku tidak memiliki perasaan terhadapmu,” suara Febi bergetar.


“Kita hanya perlu menjadi suami dan istri,” kata Jordan tanpa beban.


“Keluarga kita kemungkinan menolak?”


“Itu, tidak penting, kita harus memberontak. Yang penting, kita harus kompak? Kita juga perlu merahasiakan si kembar dari Jeslyn.”


“I –tu terdengar tidak adil,” suara Febi mengecil. “Bagaimanapun Adam dan Mia berhak tahu siapa ibunya? Aku tidak mau menjadi orang paling jahat lalu saat mereka besar nanti lalu membenciku!“


“Ssssttt! kita akan beritahu mereka semua di waktu yang tepat.”


“Apa kamu sungguhan?” Febi bersungguh-sungguh dalam menatap mata Jordan.


“Aku tidak pernah bercanda. Kita bisa belajar memulai kehidupan baru dan fokus pada anak-anak. Apa kamu setuju?”


“Demi anak-anak, kedengarannya bagus.” Febi berpikir dalam lalu tiba-tiba mendapat kecupan di kening, rasanya jantungnya mau meloncat. "Ih, kamu tidak bisa asal seperti ini!"


"Kamu harus belajar, bagaimana nanti di depan anak-ana!" gerutu Jordan kembali dalam wajah cemberutnya, setelah obrolan panjang yang penuh keseriusan.


Bibir Febi berkedut tidak terima. Dia menggosok keningnya sebanyak mungkin. "Jangan-jangan ini membawa virus!"


"Febi?" geram Jordan dengan tersinggung.


"Apa!" Febi mengejek dengan pandangannya. Dia melotot begitu Jordan menggenggamnya. "Lepas, enggak?"


"Berlatih!" Jordan memasang tampang lebih galak tetapi sayang.


Sampai satu jam berlalu, Febi menarik tangannya sendiri saat Jordan tertidur. Dia bergeser menjauh dan melihat awan.


Semoga keberadaan kalian akan cepat ditemukan, Nak. Mama akan mulai mencarimu. Semoga Tuhan selalu menjagamu di manapun kalian berada.


*


Mereka tiba di panti asuhan. Jordan mengenalkan Febi sebagai kekasihnya pada pemilik panti.


“Tunggu!” Febi membalik lembar album ke halaman sebelumnya. Dia membawa album itu untuk dirinya dan mengamati betul-betul wajah si kembar. “Jo, ini Mia dan Adam?”


Febi menoleh bingung dan menatap mata Jordan yang terkejut. “Apa ini tujuanmu ke mari? Untuk mencari penculik si kembar?”


“Bukan!” suara Jordan serak. "Tetapi, aku ke sini karena mencari tahu asal-usul Evan."


Jordan terganggu pada tatapan Febi pada album itu. "Kau bilang ini Adam dan Mia?"


“Aku melihatnya sejak hari pertama operasi sesar, Meski melihatnya di ruang bayi. Tapi aku yakin ini Adam dan Mia." Febi menatap tajam Jordan yang terlihat tidak percaya.


Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan menjulurkan foto bayi ke ibu panti. “Anda mengenal bayi ini? Tolong jawab dengan jujur. Ini adalah foto putra saya saat ibunya membawa ke rumah saya di usia hampir satu tahun."


Pemilik panti tampak kebingungan. Lalu menggelengkan kepala. “Saya .... Beneran tidak tahu. Wajah bayi ini asing."


Ketukan pintu terdengar dari luar. Febi terkejut melihat Sekertaris Li masuk diantar oleh anggota keluarga panti dengan membawa map.


“Maaf, Tuan, saya terlambat.” Sekertaris Li memberi hormat lalu duduk di samping ibu kepala panti.


Sekertaris Li membuka map dan menunjukkan sebuah foto bayi pada ibu panti. "Ini adalah putra tuan saya bernama Evan, kemungkinan foto ini diambil saat berumur dua mingguan."


“Ini saya tahu!" Ibu panti dengan tatapan penuh arti. "Bayi laki-laki ini yang anda namai Evan, saya ingat dia diantar oleh pihak kepolisian karena ayah kandungnya meninggal oleh over dosis."


Jordan mengelus bibirnya yang kering. Kasihan sekali putra angkatnya.


"Dia yatim piatu. Lalu bayi ini diadopsi oleh seorang wanita dari California Selatan, tepatnya satu bulan sejak kami merawatnya." Ibu panti menghela napas panjang dan sedikit lega bisa menjawab.


Sekertaris Li menunjukkan foto Jeslyn saat lima tahun lalu dengan rambut sebahu, ke ibu panti. "Apa wanita ini yang mengadopsi?"


"Bukan! Saya ingat wanita yang mengadopsi itu orang lokal berambut pirang," jawab ibu panti. "Namanya, Nona Clare."


"Clare?" Jordan menghela napas berat, tidak tahu siapa itu.


"Awalnya, Nona Clare bilang kesulitan dalam memiliki anak, 'lalu dia bertanya apa cuma ini bayi yang ada di panti?' Lalu dia pulang. Tiga hari setelahnya datang lagi dan melihat semua bayi dan tampak tertarik dengan Evan," kata Ibu panti lalu diam sejenak.


"Tiga hari datang lagi dan bertanya 'apa memiliki anak berambut hitam lainnya?' karena rata-rata anak-anak kami berambut pirang. Tapi kami cuma punya Evan yang berambut hitam. Jadilah, dia mengadopsi Evans," kata Ibu panti sambil mengangguk-angguk.


Jordan menatap Sekertaris Li. "Dari mana kamu mendapat foto Evans kecil?"

__ADS_1


“Itu dari lamaan media sosial teman Nona Jeslyn yang bernama Mita Lionel. Nona Mita itu teman Tuan Roys saat kuliah.” Sekertaris Li memberitahu dengan mantap.


Jordan terkejut, dia jadi ingat nama Mita yang disebut saudara tirinya. Suasana hening begitu lama. Jordan melirik ke arah Febi yang masih memegangi album. “Itu benar wajah Adam dan Mia saat bayi?”


"Lah, nggak percaya?" Febi mengambil ponsel dari tas. Dia membuka Cloude dan menggulir foto-foto ke penyimpanan file lima tahun lalu.


Pandangan Jordan meredup melihat apa yang ditunjukkan Febi. Foto demi Foto, bayi kembar bermata biru yang sangat lucu, sedang dalam gendongan pria lain, siapa lagi kalau bukan Mike.


Menghela napas kasar, Jordan lalu fokus mengamati bayi itu. Dia mencoba membandingkan dengan foto di album. Rambut tipis hitam dengan ujung melengkung. Febi tidak berbohong. Di ponsel febi ada banyak foto si kembar.


Jordan menatap tajam ke ibu panti. “Tolong ceritakan bayi kembar ini, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Saya adalah ayah biologisnya.”


"Ha!" Sekretaris kelepasan berteriak saking terkejutnya, sampai mendapat tatapan membunuh dari tuannya. Kenapa bosnya belum memberitahu soal anak biologis!


“Lima tahun lalu .... "Ibu panti sambil mengingat-ingat. "Aku ingat di minggu ke dua bulan Agustus. Tukang kebun kami, dini hari menemukan bayi kembar di pinggir pagar."


"What?" Jordan mengatubkan bibir. Otot-otot di wajahnya terasa menegang.


Febi mendelik tidak mengira si kembar akan melalui hidup seberat itu.


Jantung Sekertaris Li nyaris copot melihat wajah sang tuan yang berubah menjadi merah padam. Dia dapat menebak seperti apa kemurkaan tuannya. Seorang anak angkat saja, disayangi betul-betul, dan over protektif. Ini, apalagi anak kandung sendiri!


"Kami langsung membawanya ke fasilitas terdekat. Keadaan mulut dan kuku mereka telah membiru karena hipoterma tingkat berat." Ibu panti mengelap air mata yang jatuh ke pipi. "Bayi laki-laki itu nyaris tidak tertolong," suaranya esek. Dia dapat melihat pria di depannya syok, lalu wajah itu makin mengerikan.


Sekertaris Li mengelap kening yang berkeringat karena takut. Dia gemetar mendengar suara gigi Jordan yang bergemertuk. Lebih terkejut, karena tangan Jordan yang terkepal dielus nona Febi!


Eh ? Sekertaris Li baru menyadari apa yang diucapkan Nona Febi. Kenapa anak kembar Nona Febi disebut-sebut. Kenapa tuannya menyebut anak nona febi menjadi anak tuan sendiri? Ada yang aku lewatkan, kah!


"Selama tiga hari, bayi kembar itu menjalani perawatan di rumah sakit. Kemudian dibawa pulang. Nah, jadi, misal hari ini, bayi itu dipulangkan. Besoknya, seorang pria berniat mengadopsi bayi, tetapi saat melihat si kembar, jadi mengadopsi dua-duanya!" Ibu panti mengakhiri cerita.


Jordan sudah seperti benteng mengamuk. Ini pertama kali, Febi melihat emosi Jordan pada tingkat maksimal.


“Jo, aku melahirkan di minggu ke tiga agustus.” Pandangan Febi meredup. Dadanya mendadak mendidih. “Pasti ada sesuatu terjadi di rumah sakit itu.” Febi membiarkan Jordan merangkul dan mengelus bahunya. Eh, tatapan Jordan berubah lembut.


Sekertaris Li berasa terhempas ke inti bumi. Mulutnya menganga. Kenapa bisa tuannya berubah ekspresi secepat itu. Lah, bukankah posisi mereka terlalu dekat?


Jordan berpikir dalam lalu berkata. "Jadi si kembar ditemukan di minggu ke-2 Agustus di sekitar panti, lalu di rumah sakit tiga hari dan satu hari di panti. Artinya, hari ke 5,6 kemungkinan si kembar bersama si pengadopsi. Dan di hari ke-7 si kembar sudah di Sacramento bersamamu, Feb."


Febi mengangguk. "Ah, pengadopsi itu!" Dia beralih memandang ke ibu panti dengan wajah sendu. "Berikan kami identitas si pengadopsi bayi kembar itu, tolong."


Ooooooh ........ Sekertaris Li baru sadar posisinya. Jadi, tuan memiliki anak biologis. Anaknya adalah si kembar. Si kembar pula, yang menjadi akar masalah perceraian Nona Febi.


“Bisakah Anda bekerjasama dengan saya? Saya dalam posisi rumit karena perbuatan orang tidak bertanggung jawab.” Jordan dengan nada sopan pada ibu panti.


“Saya mengerti. Sebisa mungkin saya akan membantu.”


“Bisakah Anda menyembunyikan bayi kembar ini dari semua orang ke depannya?”


Mata Ibu panti melebar. “Maaf?”


"Ini soal keamanan anak kembar saya, jadi juga sembunyikan perihal kedatangan saya." Jordan berubah dingin dan diangguki ibu panti yang mengerti.


Sekertaris Li mengeluarkan chek kosong yang kemudian ditandangani Jordan. Ibu panti itu gemetar memegangi chek kosong.


“Tulis saja, sebanyak yang Anda inginkan,” kata Jordan sambil tersenyum ringan. “Selanjutnya, Anda masih akan berhubungan dengan sekertaris saya.”


Jordan berdiri dan menjabat tangan ibu pemilik panti, diikuti Febi.


Sekertaris Li terus memandangi tuannya yang menggandeng tangan Febi sejak di ruangan sampai masuk mobil. Dia jadi penasaran pada hubungan di antara mereka.


Mobil yang ditumpangi tuannya, keluar dari halaman panti. Sementara Sekretaris Li, kembali menemui pemilik panti. Ingin segera menyusul tuannya!


Di sebuah resort, Jordan berdiri di ruang privat dengan view kesibukan kota. “Juli yang sangat panas.”


Dia termenung.


Awalnya, Jordan ingin mencari bukti kalau Evan bukan anak kandungnya. Menggunakan bukti itu, dia akan minta dukungan Kakek Meyer, lalu dukungan mama, untuk melawan Jeslyn.


Kemudian Jordan mendapat petunjuk besar. Bahwasanya, sebelum ke tangan Febi, si kembar telah DIBUANG DI DEPAN PAGAR PANTI. Jika, pelaku itu memang Jeslyn sendiri yang membuang anaknya, Jordan bersumpah akan membuat hidup Jeslyn menderita sampai mati.


“Jo .... !“ Febi ternganga pada Jordan yang baru berbalik dengan memegangi kotak biru di depan perut dan berjalan mendekatinya.


Pria itu berlutut dan membuka kotak cincin. Dia merasakan dingin tangan Febi di ujung jarinya. "Periksalah, sendiri! Sebelum saya memakaikan ini ke jari Anda, Wahai, Dewi Balap Dune Fox." Jordan dengan tatapan merayu dan senyuman yang sangat menawan.


Cincin yang lebih kecil mendarat di telapak tangan Febi, wanita itu tersenyum dengan terharu. Susah dijelaskan, dikala dirinya patah hati.



Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2