
Suara ketukan jari-jari Febi ke kursi besi membuat dirinya makin gelisah. Dia menghentikan gerakannya saat suara pintu besi di sampingnya berdecit.
Seseorang lalu memanggil untuk masuk ke sebuah ruang, yang ternyata ada 15 orang termasuk spesialis di Rumah Sakit Anak Cincinnati dan dokter anak Dennis. Mereka duduk mengitari meja bundar dan mulai menjelaskan kondisi Adam yang makin memburuk.
“Saya orang yang ahli dalam bidang angka, tolong beri tahu saya secara langsung. Pada skala satu sampai sepuluh, satu dia sehat dan sepuluh dia mati, berapakah peluang untuk Adam?"
"9,5-” kata dokter anak Dennis.
Ruangan menjadi sunyi. Febi gemetaran dan mulai menangis. Rasanya seperti seseorang baru saja merobek inti tubuhnya dan tidak ada yang dapat dia lakukan untuk mengatasinya.
"Adam memerlukan terapi untuk mematikan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif yang terus berputar tanpa henti. Sebuah bom neutron untuk sistem kekebalan tubuh. Benar-benar kosongkan saja untuk mematikan HLH agar aman bahkan pikirkan tentang melakukan transplantasi," kata Dokter Dennis lagi.
Rebecca Marsh, MD, seorang wanita berambut keriting berkulit gelap menimpali. "Ini pada dasarnya seperti jika Anda membersihkan ruang untuk taman di halaman Anda. Anda memberikan KEMOTERAPI untuk membunuh apa yang sudah tumbuh di sana sehingga Anda memiliki tempat untuk menanam benih baru atau sel induk baru dari donor sumsum tulang."
Mereka menyebut istilah 'transplantasi sumsum tulang', dan Febi tidak tahu persis apa maksudnya, hanya saja ini terdengar akan menjadi jalan yang sangat panjang dan sulit dan dia semakin takut kehilangan Adam.
Langkah pertama bagi Adam adalah menjalani kemoterapi agar HLH mengalami remisi. Namun, tujuh minggu pun berlalu, terlihat jelas bahwa tubuh Adam tidak merespons. Faktanya, sumsum tulang Adam tidak berfungsi dengan baik, dan Adam harus menjalani transfusi darah dan trombosit sepanjang waktu, dan transplantasi sumsum tulang menjadi satu-satunya kesempatan Adam untuk bertahan hidup.
Febi menjalani pemeriksaan, sebuah usapan bukal (pipi) tanpa rasa sakit. Sampel sel kecil itu membantu menentukan apakah dirinya berpotensi cocok untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk putranya.
Keesokannya, Mia juga dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Sayangnya saat saat Febi menemui petugas lab, bahwa baik dia maupun Mia, keduanya tidak cocok untuk menjadi pendonor.
Sorenya, dokter anak Dennis memanggilnya ke ruangan. Lelaki paruh baya itu menatapnya begitu dalam, tetapi penuh kasih. "Nona Febi, saya ingin mendengar langsung jawaban Anda. Apa Adam adalah putra biologis Anda?"
Mata Febi melebar dan terkejut. "Kenapa Anda bertanya demikian, dia jelas putra kandung saya? Yang saya lahirkan dan besarkan sendiri?"
Suara gemeresek kertas putih yang baru diambil dan dijereng Dokter Dennis lalu diserahkan padanya. Moment de javu ini membuat Febi tidak nyaman. Lagi-lagi tes DNA. Kali ini namannya tertulis di dalam.
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa yang Anda alami dan sepertinya Anda sendiri belum tahu perihal ini," kata Dokter Dennis dan mengamati bibir Febi yang bergetar.
"Tapi sebenarnya, Nona Febi, bila kita mau mencoba, kita memiliki peluang pada kedua orang tua biologis Adam, salah satunya mungkin akan cocok. Termasuk keluarga besar Adam, kita tidak bisa menyingkirkan kemungkinan peluang itu demi keselamatan Adam. Apakah selama ini Anda belum melakukan pemeriksaan DNA?" Tanya Dokter Denis karena Febi terus menatapnya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Jadi, dia tidak yakin apa perkataannya dari tadi disimak.
Perlu waktu bagi Febi agar realitas situasi ini dapat dipahami. Dia menggelengkan kepala dengan tangan meremas hasil DNA. Dia berdiri tanpa menjawab karena sakit sekali mendengar pria itu menyebut 'Kedua orang tua Adam'.
Meskipun si kembar bukan anak Mike? Kini surat ini menunjukkan juga bukan anaknya? Sedangkan, dia dan Mike berpisah karena ini. Selama ini dia mencari tahu apakah di masa lalu dirinya tanpa sengaja mengkhianati Mike dan bukannya berpikir ke sini. Lututnya yang lemas tidak sanggup menahan beban tubuhnya.
"Anakku?" Febi menangis ingin sekali tahu di mana anak kandungnya.
Nada suara Dokter Dennis yang tulus menarik Febi kembali ke kenyataan yang mengerikan, “Ya ampun, saya minta maaf, Nona Febi!"
Febi lebih sering menangis, dengan lembut dibantu berdiri kembali oleh Dokter Dennis yang baik hati. Segalanya menjadi kabur bagi Febi. Lelaki itu membawa ke kantor pribadi di ruangan sebelah.
Mencoba tenang, yang terpikirkan kini adalah ayah mantan mertua. Sekiranya Tuan Xander mau membantunya mencari anak kandungnya, pasti mau karena itu cucunya. Namun, lelaki yang sudah dicintainya selama ini seperti ayah sendiri itu mereject panggilannya. Begitu, juga saat menelpon Mike. Wanita itu berduka dan merasa terbakar. Apakah Mike masih mau menerimanya jika tahu si kembar bukan anaknya?
Dunia dan semua warna di dalamnya terkuras habis. Febi tidak dapat mengatur napas karena keterkejutan menguasai hatinya. Kemudian rasa sakit yang mendalam bergema dari satu pertanyaan yang belum terjawab dengan putus asa dan memohon solusi. DI MANA SI ANAK BAYI YANG SEMBILAN BULAN DIKANDUNGNYA.
Tidak ada yang masuk akal. Kebingungan merajalela. Tidak ada yang tahu bagaimana membantu bagian yang sakit, namun dia tahu bagian mana yang sakit. Tidak, dia berpikir lebih baik tidak akan memberitahu Mike. Febi menghapus pesan yang baru dikirimnya.
Wanita itu keluar dari kantor dan duduk di dekat taman, menangkup wajahnya dengan tubuh gemetar. Sementara, Dokter Denis menelpon Jordan sambil mengamati Febi dari kejauhan.
*
Langit kemerahan telah berganti abu-abu saat Matahari terbenam seluruhnya di ufuk barat. Jordan setengah berlari melewati lorong berdinding putih. Di dalam kamar perawatan, dia menjumpai Febi sedang membelai rambut Adam sambil membacakan buku.
"Teruskan," kata Jordan, enggan mengganggu fokus mereka. Dia melirik judul buku 'A Dogs Promise'.
__ADS_1
Adam mengamati wajah Jordan di sisi kanannya. Satu sudut bibirnya terangkat karena pandangan Jordan, tampak seperti ikut menyimak cerita sang mama.
"Kali ini, Bailey bergabung dengan anjing lain yang sangat istimewa, yang membantu Bailey memenuhi janjinya selama beberapa kehidupan," kata Febi dan menutup buku. Kedua manusia berbeda generasi, mengulas senyum bersamaan dengan gerakan yang mirip sampai membuat Febi tertegun karena kekompakan mereka. Jika saja rambut keriting Adam itu pirang, maka orang mengira, mereka adalah ayah dan anak.
"Jiwa anjing yang menawan dan bijaksana, membawa kegembiraan, tawa, dan kenyamanan saat ia berhasil menyatukan keluarga yang terpecah karena rintangan hidup yang tak terhindarkan," kata Jordan gatal untuk tidak berkomentar.
"Cinta dan kesetiaan kedua anjing yang berkesan. Ini menunjukkan kepada kita kekuatan harapan, kebenaran, dan pengabdian tanpa akhir yang luar biasa." Febi mengelus rambut Adam. Tak terasa sudah satu jam Jordan ikut menimbrung dengan mereka.
Febi mengatur ketinggian sandaran kepala tempat tidur agar sang putra dapat beristirahat dengan nyaman. Dia menyibak rambut keriting hitam milik Adam dengan jarinya dan berpikir soal ikatan emosional yang dimiliki dengam sang putra.
Jika aku membesarkanmu maka dalam segala hal yang penting kamu adalah milikku. Kurasa aku masih tidak terima dengan ini, tetapi itu tidak akan mengubah rasa cintaku pada kamu dan Mia sedikit pun. Mama juga takut dan tidak ingin memberitahu kebenaran ini pada siapapun. Bagaimana kalau kedua orang tuamu tahu dan mengambil kalian dariku. Mama tidak akan mau!(Febi)
"Ayo, makan," kata Jordan sambil menyentuh lengan Febi setelah Adam tertidur.
Mereka keluar dari ruangan dan melangkah beriringan.
"Kamu," kata Jordan.
"Adam," kata Febi.
Mereka berbicara bertabrakan, kini keduanya saling tatap sampai akhirnya Jordan meminta Febi berbicara lebih awal. Lelaki itu sendiri bingung apa harus menanyakan perihal si kembar yang bukan anak Febi.
"Adam membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang. Tanpa itu, peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil," kata Febi lalu menatap Jordan dengan mata sendu. Otomatis air matanya jatuh.
"Aku akan melakukan tes juga siapa tahu milikku cocok," kata Jordan dan mendapatkan anggukan penuh arti. Sebesit kerinduan muncul di hatinya, Jordan tidak mengerti mengapa ada perasaan seperti ini. Tangannya akan menggenggam Febi tetapi diurungkan.
"Tadi kamu mau bilang apa?"
__ADS_1