Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 15 : Permintaan Adam


__ADS_3

Hari telah sore ketika Mia membawa kue sampai ke ujung lorong. Dia bingung tidak ada yang bisa membantunya menekan bel pintu. Setelah menaruh kue di lantai lalu dirinya meloncat-loncat berusaha meraih tombol bel di pintu kayu wood.


Merasa upayanya tidak membuahkan hasil, Mia menarik dan mendorong handle aluminium yang dingin. Masih tak berhasil, Mia menggebrak pintu dengan dua tangan mungilnya, tetapi tentu saja suara yang dihasilkan tidak terlalu keras, Mia justru kesakitan dan melihat permukaan telapak tangannya yang memerah.


"Om Will! Om Will! Di sini ada Mia cantik!" teriak Mia dengan suara unyunya. Dia kebingungan bagaimana cara membuat Om Will keluar.


Jordan yang tengah memakai sepatu dan akan pergi, bergegas membuka pintu, karena tidak mempercayai pendengarannya.


Begitu pintu terbuka, Jordan terkejut seraya menyentuh bahu kanan Mia, di bagian belakang. "Mia?"


"Hey, kamu dengan siapa?" Dia menoleh ke lorong dan bingung karena tidak menjumpai siapapun. Dia lantas berjongkok. "Apa kamu benar sendirian, sampai sini, naik apa?"


Jordan melemparkan pertanyaan beruntun, dia lebih bingung bagaimana Mia bisa tahu ini kamarnya. Dia melihat dus yang dipegang Mia. Kue bolen coklat?


Mia memerjapkan mata dengan bingung. Dia tertawa lepas setelah menyadari siapa yang didepannya. "Papanya Evan!" diulurkan dus ke depan, Mia memiringkan badan ke kiri dengan menjijit, tetapi ujung jari kaki tidak kuat dan nyaris jatuh dan ditangkap paman.


"Hati-hati, Sayang. Kamu mencari apa?"


"Mana Om Will, Paman?" Mia bergeser dua langkah ke kiri dan memiringkan kepala, melihat ke dalam pada sofa kosong lantas berteriak. "Om Will, ini Mia datang!"


"Om Will?" gumam Jordan sambil berpikir. "Eh, kamu di sini dengan siapa-"


"Aku mau memberi kue ini untuk Om Will, Paman."


"Iya, tapi om will siapa? Om tidak tahu, girl. Bagaimana kamu bisa sampai di sini tanpa memakai sandal pula? Aduh, kakimu bisa kedinginan," kata Jordan dengan ngeri saat melihat kaki mungil itu kontak langsung dengan lantai. Dia takut banyak kuman, tetapi anak itu terus melongok ke dalam dan meneriaki nama Will.


Wiliam yang baru membuka pintu dan membawa tas kerja, membeku melihat pemandangan di depan pintu.


Pada waktu bersamaan, Mia dan Jordan yang baru melihat ke arah pintu di sebelah-bari terbuka, sama-sama bengong.


"Will, bagaimana kau bisa di sebelahku?" Tanya Jodan bingung.


"Aku membayar ke si pemiliklah!" William terkekeh lalu beralih pada anak kecil yang menarik matanya. "Mia Cantik."


"Om!" Mia menarik dus dari tangan Jordan dan menyerahkan ke William. "Ini untuk Om Will karena sudah membantu mama."


"Membantu mama?" gumam Jordan bingung yang di dengar sahabatnya.


Di kamar, Febi tercengang pada pintu yang tidak tertutup rapat. Dia berlari dan memanggil Mia, langkahnya berhenti melihat Jordan di ujung lorong.


Apa Jordan ke mari untuk memberi perhitungan karena aku membatalkan kontrak untuk mengajar Evans? Atau karena surat resign ku di Montessori? (Febi)


"Mrs febi?" Jordan lebih bingung karena wanita itu muncul di ruangan di lantai yang sama dengan kamarnya.


William kebingungan sendiri. Mengapa Jordani bisa tahu Febi?


Febi mengangguk hormat pada Jordan . Dia beralih pada putrinya yang kini memeluk pahanya.


"Mama, Mia kasih hadiah untuk Om Will." Anak kecil itu menunjuk ke sisi kiri sambil berkata, "Mia ketuk pintu kamar Om Will. Tapi Ma, yang keluar Paman Jordan."


"Lalu Om Will malah keluar dari pintu ini," kata Mia lagi sambil menunjuk ke kamar di kanannya. "Tapi Mia sudah memberikan kuenya pada Om Will, kok Mah!" jelas Mia dengan sangat senang.


"Terimakasih kuenya," ucap William dengan tatapan kagum pada Febi. Lelaki itu mengira bahwa Febi diam-diam melancarkan aksi pendekatan lewat kue dan si kecil.


Febi melirik kue yang tadi diminta Mia, tak tahunya kue itu bukannya dimakan sendiri melainkan untuk William. Aduh, anaknya kok sudah mulai berbohong?


"Kenapa Paman keluar dari situ? Tanya mia dengan antusias kembali menunjuk ke kamar di sisi kanannya -yang ada Om Will.


"Hehehe. Paman kan, sekarang sudah pindah ke kamar ini." William beralasan dengan wajah memerah, dia takut Febi akan salah sangka padanya.


"Lalu sekarang ini kamar siapa kalau bukan milik Om?" Mia menatap mata Om Will dengan penasaran.


Febi tertekan karena putrinya sangat ingin tahu.

__ADS_1


"Kamar saya."


Mata febi mendelik. Dia langsung mendongak dan bersitatap dengan Jordan.


"Dari awal ini kamar saya," kata Jordan dengan suara rendah sambil terus menatap mata hazel Febi, seolah memberitahu Febi daripada menjawab pertanyaan Mia.


Febi membuang muka dan otomatis pandangannya bertemu dengan William. Alis wanita itu terangkat.


"Kamar Jo itu juga kamarku. Kami teman, kami biasa berbagi kamar."


"Teman?" Febi memotong ucapan William dengan tidak percaya.


"Ya, kami teman," kata Jordan dengan tidak ramah. Dia kembali ke kamar dan membanting pintu.


Mia tersentak dan kebingungan. Dia membuat gerakan minta digendong karena takut dan Febi menggendongnya. Febi berpikir dia tidak perlu mengenal William setelah tahu jika pria ini adalah teman Jordan, orang yang paling ingin dia hindari.


"Permisi," Febi berbalik dan akan kembali ke kamarnya.


"Feb, apa kamu marah?"


Febi berbalik lagi dan tersenyum dengan hangat. "Tidak. Untuk apa marah? Aku harus bersiap ke rumah sakit. Sudah dulu, ya?"


"Huh," William mendengus, dia tahu Febi marah. Tapi dia tidak tahu apa alasan wanita itu marah? Apa karena aku mengaku-ngaku tinggal di kamar Jordan? Apa dia perempuan yang sangat sensitif ?


Jordan bersandar pada pintu menelaah setiap percakapan mereka. Sejak kapan William mengenal Mrs.Febi? Apa dia tahu banyak soal Mrs.Febi? Kalau aku bertanya apa dia akan mencurigaiku?


Tong!


Jordan membuka pintu sambil melepas sepatu. Kemudian William masuk dengan memandangi dus kue.


"Jo, katakan kenapa kamu mengenal Febi?" Tanya William dengan penasaran.


"Gurunya Evans itu maksudmu?"


"Apanya yang lupa?"


"Tidak ada."


"Jadi, kenapa anak kecil itu bisa mencarimu di tempatku?" Suara jordan berubah dimirip-miripkan Mia: "Om Will! Om Will bukakan pintu untuk Mia!'"


Suara Jordan berubah lagi normal, "Kenapa dia mencarimu ke kamarku?"


William tertawa dan mulai menceritakan secara jujur kronologi berpapasan tak sengaja saat Febi pindahan.


"Dia cantik, kan?"


"Biasa," balas Jordan acuh tak acuh.


"Dia jelas cantik."


"Semua wanita ... kau bilang cantik."


"Ini benar cantik .... hatinya," kata William dalam mode serius.


"Oh."


"he, cuma 'oh' doang!"


Jordan menghempaskan diri ke kasur. Kenapa si William terus membahas Febi ?


"Dia akan menjual mobilnya dan aku akan membelinya!"


Setelah sekian lama William berceloteh, Jordan langsung menajamkan pendengaran karena kata mobil.

__ADS_1


"Kau bilang mobil?" Jordan dengan nada serius.


"Mobil Ferrari GTO Tahun 1962!"


Jordan langsung duduk tegak.


"Hahaha kau kaget, kan? Kaget pasti! Aku takkan melepaskan dua-duanya!" William membayangkan mobil itu akan dinaiki dengan Febi.


"Mobilnya ada dua?"


"Bukan! Maksudku mobil dan pemiliknya!"


"Oh." Jordan menguap dengan malas.


Benarkah? Jordan tanpa perlu memastikan lagi, justru mendapat fakta ini dari temannya. Dia langsung tertuju pada ponsel William yang tengah memutar video di depannya. Itu video Mia memetik bunga lalu disodorkan pada Febi.


"So sweet, kan? Cocok pasti jadi ibu untuk Amira. Kau bilang dia guru kan? Ah, sempurna!"


Jordan berdiri. "Dia punya anak, artinya sudah bersuami."


"Janda."


Jordan berkedip pelan saat perkataan William terakhir samar di dengarnya karena suara benturan jendela ke tembok yang terkena angin. Dia mengirim pesan pada asisten agar detik ini memproses pembayaran mobil Ferarri GTO yang dijual di Indonesia.


Walau sempat kebingungan, sang sekretaris lalu mengiyakan. Di kantor, Sekertaris Li langsung melakukan panggilan video pada ke-sepuluh ahli IT nya : untuk melacak mobil Ferarri GTO yang dijual. Dalam dua menit, benar saja memang ada.


"Sekarang bayar!" titah Sekertaris Li tanpa ragu walau melihat angka nyaris 400 milyar. Sudah biasa, tuannya membeli lalu menjual kalau sudah bosan.


Sekertaris Li mengirimkan bukti pembayaran yang sukses dilakukan pada rekening pihak ke tiga, ke nomor Jordan.


Dua sudut bibir sang majikan terangkat. Jordan menyandarkan tangan kanan di sofa, lebih tepatnya di sandaran kepala. William masih sibuk menjelaskan betapa menariknya mobil langka itu.


Ma'af Will, aku sejak lama mengincarnya. Lalu saat melihat Febi, aku masih tidak yakin dia pemiliknya. Aku juga kebingungan apa si pemilik mau menjualnya? Eh, kamu memberiku jalan secara tidak langsung. Tapi kenapa Mrs Febi menjualnya? Apa dia butuh uang? (Jordan)


"Hei kenapa kau diam saja! Bagaimana progres mesinnya? Kau harus ikut balapan!"


"Iya, aku sedang siapkan itu semua, cerewet!"


*


Sepulang dari rumah William, Jordan kini sudah di rumah sakit. Dia bingung karena entah sejak kapan Adam sudah membuka mata setelah dia menunggu ada satu jam. Entah, kenapa aku harus ke sini?


"Paman," suara anak kecil itu sangat pelan, sudah seperti desisan ular sehingga Jordan mendekatkan telinga ke bibir putih anak itu. Wajah Adam masih bercak gelap.


"Ya?"


"Jagain mama Adam."


"Apa?" Dia mendengar kata-kata terbata itu walau tidak keras tetapi jelas.


"Papa tidak lagi menjaga mama."


"Adam?" Jordan dengan bingung dan entah hatinya menjadi terasa sakit dengan tanpa alasan.


"Adam sakit dan tidak bisa menjaga mama," suara Adam makin seperti bisikan.


"Jagain mama, untuk Adam," suara Adam lagi samar dan kemudian anak itu kejang-kejang.


Nit-nit!


Jordan kebingungan pada suara mesin monitor yang kian inten. Dia memanggil dokter dengan cara menekan tombol. Eh apa yang dikatakan anak kecil itu tadi!


Keluar dari ruangan saat dokter memeriksa, Jordan berniat mencari udara segar untuk melegakan hatinya yang syok. Dia semakin terkejut karena Febi yang baru datang juga dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


Febi melewatinya dan Jordan masuk lagi ke dalam kamar.


__ADS_2