Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 22 : Orchid


__ADS_3

"Nona Febi, terimakasih." Jordan menatap Febi dengan penuh penghormatan.


Febi tertawa ringan sambil melihat ke luar jendela mobil. Dia memandangi kompleks apartemennya, tampak banyak para manula dan anak-anak yang sedang berjemur dan bermain.


"Aku yang berterima kasih padamu, Jo. Berkat kamu yang selalu menjenguk Adam, Adam menjadi lebih semangat. Tapi .... Kenapa kamu sangat perhatian pada putraku sampai menungguinya setiap malam?"


Penasaran memenuhi wajah Febi, tetapi Jordan tidak bisa jujur. Sekarang Adam menemukan pendonor, itu lebih dari cukup.... Itu adalah Jeslyn. Sekertaris Li mengirim sampel darah milik Jeslyn ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa, karena keluarga Jordan sendiri tidak ada yang cocok.


Memang biasanya, saudara kandung memiliki kecocokan yang paling sempurna, tetapi dalam kasus anaknya berbeda. Kata Dr. Denis, darah Mia cocok tetapi tidak sempurna, maka akan terjadi fenomena yang disebut penyakit graft versus host (GvHD), yang berarti bahwa sel-sel kekebalan dalam transplantasi menyerang sel-sel di tubuh penerima, yang ditakutkan bisa mengancam jiwa Adam.


"Aku hanya berharap Adam sembuh," kata Jordan begitu khawatir dan dapat ditangkap Febi.


Wanita itu tertegun, bahkan Mike yang sudah lima tahun merawat putranya juga tidak peduli. Mengapa orang asing ini wajahnya bisa begitu cemas bahkan sepertinya lebih tidak tenang daripada aku!


"Apa ... Kamu tidak ingin menceritakan tentang suatu hal?"


Febi mengerutkan kening. "Tentang apa?"


"Misal, pernikahanmu?" Jordan mendapati mata hazel itu berkedut. "Apa kamu tidak ingin berbagi beban agar punggung mu terasa ringan? Hanya itu .... Sepertinya, punggungmu sudah tidak bisa menampung beban lagi? Kau tahu kan apa yang aku maksud di sini?"


Febi tertawa menyembunyikan perasaan. "Jo, sulit bagiku untuk berbagi masalahku pada orang lain, yang dekat saja belum tentu aku bisa membukanya."


"Lalu, untuk bisa mendengarkan ceritamu, aku harus sedekat apa? Kita memang baru tiga bulan mencoba berteman, tetapi untuk aku ini tidak cukup dan aku menginginkan lebih dari sekadar berteman."


"Kemana arah pembicaraanmu, Jo?" Febi mencengkeram pegangan handle pintu. Dia waspada saat pria di samping menggaruk kepala dan tampak frustasi.


"Bisakah kita menjadi lebih dekat?" Jo terpejam sesaat, memikirkan apa yang diucapkannya. Dia serong kanan untuk menghadap Febi. "Maksudku, tidak ada salahnya .... Kita menjalin hubungan antara lelaki dan perempuan yang lebih intim."


Alis Febi semakin mengkerut melihat wajah Jordan yang kini semerah tomat. "Katakan saja dengan jelas."


"Misal kita .... Pacaran." Jordan mengigit bibirnya. Dengan penuh keyakinan. "Ya Pacaran, mungkin seperti itu cukup."


Pacaran? Hal gila apalagi ini ? "Apa selama ini kamu mendatangi Adam karena .... Ini?"


Jordan memiringkan kepala. Apa susahnya dengan pacaran kenapa wanita ini banyak bertanya! Aku tidak mungkin cerita kalau aku mendekati Adam murni karena naluri seorang ayah pada anaknya!


"Jo, aku tidak berniat untuk membangun romantic relationship dan Friendship itu sudah lebih dari cukup dari pada acquaintanceship." Febi ingin menceritakan soal anak kandungnya yang entah hilang di mana. "Tapi, kamu membuatku semakin canggung." Pandangan Febi meredup.


"Apa salahnya dengan pacaran? Kita hanya bersenang-senang, maksudku hanya dalam hal positif dan saling mensuport." Jordan bersikeras dengan tatapan menuntut.


"Kamu tidak mencoba memaksa 'ku, kan?" Febi menganga begitu Jordan mengeluarkan sesuatu dari saku celana yang adalah cincin pernikahan miliknya. "Kenapa bisa di kamu!" suara Febi naik satu oktaf sambil merebut cincin itu, tetapi Jordan menjauhkan, sementara tangan lain lelaki itu, memegang tangannya.


"Febi, dengar dulu." Jordan dengan napas ngos-ngosan, dia berkeringat walau AC dalam keadaan menyala dan Febi juga tampak berkeringat ikut bernafas berat mungkin karena menahan kesal. "Ini ketinggalan di kafe saat kita bertemu Logan, kau ingat sekarang?"

__ADS_1


"Ya, aku barusan ingat," kata Febi lalu duduk dengan lemas dan bersandar pada jok karena jadi terbayang wajah Logan.


"Tolong, mau ya jadi pacarku?"


Febi menggelengkan kepala dengan malas.


"Kamu tidak mau mendengar alasanku?"Jordan menghadap depan dan bersandar dengan lemas. "Aku merasa cemburu melihat kamu dan Logan, aku jujur loh ini?"


Febi menoleh ke samping mendapat wajah Jordan yang kini cemberut. "Kenapa?"


"Dia bisa leluasa memelukmu tanpa kamu marah."


Febi mengernyitkan kening.


"Aku juga .... Memiliki keinginan besar yang belum terwujud seperti ketika kamu dan Logan berpelukan tanpa beban seakan tidak ada yang bisa memisahkan kalian. Aku betulan iri!"


"Ah, aku jadi ingat William." Febi sedikit tersenyum. "Saat Mia memberi roti ke William, dia bilang sering berbagi denganmu, kan? Kan, kamu ada William!"


"Dia itu seorang pria, Febi. Sangat berbeda. Misal, saat aku memeluk William itu tidak terasa empuk dan hangat. Agh!" Jordan mengelus kepala bagian kirinya yang sakit akibat getokan keras dari tinjauan Febi. "Sakit, Feb!"


"Kalau kamu mau yang empuk, ada Nyonya Jeslyn! Begitu saja repot." Febi menghadap semi ke belakang untuk mengambil tas dari jok belakang. Dia jadi kesal karena teringat pelukan Jordan di kamar rumah sakit. Matanya terpejam saat kehangatan telapak tangan Jordan menutup bagian kanan telinganya.


"Tahan .... Uh, aku merasa nyaman saat denganmu. Sayangnya itu hanya denganmu, loh .... Aku juga ingin seperti ini, kamu menutup telingaku menggunakan tanganmu."


"Aku serius."


"Aku juga serius," kata Febi sambil memasukan ponsel dari dashboard ke dalam tas.


"Febi, aku yakin sejak di ruang ganti itu kalau kita sefrekuensi." Jordan menyengir begitu melihat perubahan di pipi dan telinga Febi yang merona. Bahkan, Febi tak mau melihatnya dna gugup. Matanya terkejut saat Febi membuka pintu mobil lalu meninggalkannya.


Lelaki itu menyusul mencoba mengimbangi. Begitu sampai apartemen, Jordan melirik tidak suka saat teman Febi itu membuka pintu. "Pagi, Nona Donna!"


"Paman!" Mia melewati Tante Donna dan memeluk kaki pria dewasa yang hangat. "Gendong!"


"Tumben siang banged, Feb." Donna masuk ke dalam saat Mia sudah sibuk dengan Jordan. Dia terpaku pada wajah Febi yang terlihat senang.


"Iya, tadi ada kunjungan pagi. Dokter memberitahu kalau Adam harus berada dalam kondisi yang tepat untuk menerima transplantasi, jadi dia akan menerima perawatan untuk mencapai titik tersebut."


"Akhirnya, ya .... Apa nanti kamu sudah siap mengajar lagi? Lebih baik kamu mengajar di sini? Kalau kamu balik ke Indo hanya mengingatkanmu dengan bajingan itu."


Jordan menajamkan pendengaran pada percakapan para wanita di sebelah, yang terhalang sekat kayu. Sementara, dia memangku Mia. Untung saja Febi bisa dikelabuhi sehingga dia memiliki kesempatan dekat-dekat dengan anak kembarnya.


Lelaki itu berpikir dalam, jika Adam berhasil di operasi, selanjutnya, bagaimana cara dia untuk terus dekat si kembar? Lamunan Jordan terganggu oleh panggilan Donna. Mereka lalu berkumpul di meja makan.

__ADS_1


"Anda sepertinya, punya banyak waktu setiap hari. Padahal, saya yakin pekerjaan Anda begitu banyak , ya?" Donna berbicara asal karena setiap pagi lelaki itu terus mengantar Febi ke apartemen.


Jordan tertawa garing lalu menatap putrinya. "Habis, ada Tuan Putri ini yang minta aku untuk menjenguk 'Winnie sweetie'nya. Iya kan, Mia?" Jordan menyebutkan nama boneka kesayangan Mia.


"Ya Paman memang benar." Mia menaruh potongan sandwich. " Dedek 'Winnie sweetie' selalu minta bertemu dengan Paman, kalau tidak di akan menangis. Bibi Donna, kan, kasian Winnie sweetie terus menangis seharian lalu tidak mau minum susu atau makan biskuitnya."


Febi menahan tawa melihat wajah lucu putrinya.


"Bukannya kamu yang menangis, ya Mia?" Donna mengejek anak sahabatnya yang begitu percaya diri dan dia selalu gagal membuat anak ini menangis.


"Bibi Donna, Mia kan sudah besar dan tidak menangis! Ya, kan, Mama?" Mia dengan mata berbinar karena merasa dia tidak pernah menangis lagi.


"Iya, anak Mama sudah besar kok dan tidak pernah menangis lagi. Terimakasih, ya Sayang." Febi mengelus bahu mungil itu dengan gemas. Hal itu terus diamati Jordan, sejujurnya lelaki itu sedikit cemburu pada kedekatan mereka.


"Ya, Mia tidak menangis lagi, jadi Mama tidak boleh menangis karena Papa Mike lagi."


Otot-otot di wajah tiga orang dewasa itu langsung memegang. Mereka menunduk karena nama Mike disebut, lalu sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Perasaan aku menangis di depannya cuma di bandara saat Mike pergi. Kenapa dia terus mengingatnya?" batin Febi bergidik. Dia menyayangkan Mia yang mengucapkan itu di depan Jordan.


"Jadi, saat itu Febi menangis di depan Logan karena Mike? Ya, tidak salah lagi sampai Febi melepas cincin pernikahannya. Tapi kenapa juga masih dipakai kalau sudah bercerai?" batin Jordan. Dia jadi ingin membahagiakan Febi sebagai bentuk balas budinya.


"Feb, kau tidak akan kembali lagi dengan Mike, kan? Coba kamu lihat Logan .... Seandainya kau tahu, pria yang aku cintai itu justru menolak ku karena dia terus memusatkan perhatiannya padamu. Setidaknya, kamu harus membalas cinta Logan? Kenapa kau begitu bodoh, meninggalkan Logan hanya karena bajingan itu," batin Donna sambil memakan sandwichnya.


*


Logan mengantar Orchid ke sekolah pre school. Dia berjongkok di depan kelas saat seorang anak perempuan mencium pipi kanan-kiri lalu kiss di bibirnya. Cintanya terbentuk begitu besar, sampai dia takut kehilangan Orchid.


"Daddy, I Love You! Orchid akan jadi anak kebanggaan, Daddy, ya!"


Logan mengangguk dan melambaikan tangan merasa terharu. Rambut sepinggang Orchid yang diikat menjadi dua itu bergoyang-goyang seiring loncatan kaki mungil yang ceria.


Rambut Orchid panjang sepinggang. Seperti tas yang dikenakannya yang bergambar 'Rapunzel' Orchid bilang tidak mau dipotong rambutnya agar seperti Rapunzel.


Dia ingat setiap rambut Orchid dipotong pasti anak itu demam. Memang tidak masuk di akal ....


Bersambung ....


...****************...


Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku, ini blurbnya. Ceritanya bagus. Terimakasih.


__ADS_1


__ADS_2