Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 35 : pertolongan


__ADS_3

Ketika turun dari kendaraan, Tuan Meyer hanya berdua dengan Raysha untuk makan siang dan sang putra bilang akan menyusul, tetapi mobil Reyes belum terlihat.Tiba-tiba Raysha menyentak tangan seorang pria di depan perutnya. Raysha meringis dan pisau menancap kuat di telapak tangan wanita itu yang langsung berlumuran darah. Meyer tercengang dan baru sadar tadi Raysha menangkap ujung pisau sambil menyentak dengan tangan lain hingga tidak sampai mengenai perutnya. Apa jadinya kalau Raysha tidak sigap tadi?


Meyer mulai panik karena penjahat tampak mudah menarik pisau dari telapak tangan Raysha. Dia memanggil bantuan dengan jantung berdebar, biasanya Raysha mampu menangani hal semacam itu dengan mudah. Namun, kini perasannya tidak enak karena hari ini Raysha dalam kondisi kurang fit.


Suara pisau menembus tubuh membuat Meyers tercengang, saat berikutnya melihat tangan penjahat menikam dada Raysha. Meyer gemetar melihat wanita itu melotot menahan kesakitan dan berusaha melawan.


"Raysha!" Tangan Meyer yang bergetar karena parkinson semakin sulit menekan nomor darurat. Penjahat berlari mendekatinya, sementara noda darah memenuhi baju Raysha, tetapi wanita itu bangkit dan berjalan terhuyung-huyung dan menangkap penjahat sehingga berhasil menjatuhkan si penjahat.


Meyer berhasil menelepon bantuan, tetapi penjahat itu menusuk tulang rusuk Raysha dengan gerakan cepat. Meyer berlari bermaksud menolong, tetapi waktu terasa melambat saat matanya dapat merekam seperti gerakan slow motion pada pisau tajam itu merobek, membelah dada Raysha lalu memasuki lebih dalam ke bagian jantung.


Setiap yang dilakukan pembunuh itu terukur dalam waktu kurang dari 15 detik. Meyer yakin pria itu memiliki jam terbang tinggi dalam hal ini. Mata Meyer memanas, sekertaris yang ahli dalam segala hal termasuk bertarung kini batuk-batuk dan mengeluarkan darah dan tampak tak berdaya.


Suara berdecit akibat gesekan ban dan aspal terdengar dari mobil pontiac hitam yang berhenti mendadak. Reyes dari dalam mobil melihat ayah menendang kepala seseorang. Kenapa ayah sampai turun tangan sendiri? Mata Reyes terkejut melihat Raysha tergeletak di paving dengan bersimbah darah, tetapi berusaha bangkit.


Langsung Reyes berlari, saat penjahat itu menikam mata Raysha. Dia berlari dengan lompatan besar sambil meminta bantuan pada sekertaris baru di ear piece. Tampak ayahnya ditendang hingga terpental oleh penjahat itu hingga terkapar, ayah akan ditikam di leher! Tetapi berhasil menghindar. Reyes menendang ke arah tangan penjahat itu.


Orang di sekeliling hanya melihat tanpa berani mendekat atau membantu Reyes. Sirine polisi terdengar di kejauhan. Reyes menjatuhkan pisau si penjahat lalu bertarung tangan kosong, dia tak ingin penjahat itu bila melukai ayahnya.


"Raysha, ambulance akan datang, jaga kesadaranmu!" kata Meyers sambil menghentikan darah yang terus mengalir dari perut Raysha dengan jas miliknya yang telah basah.


"Formula MRJ," kata Raysha samar didengar Kakek Meyers. "Laptopku."


"Kamu harus bertahan Raysha," kata Kakek Meyers. Pentingkan dirimu dulu!" Dia melihat dengan nanar ke sisi kiri mata Raysha berlumuran darah. Padahal tiga hari lagi Raysha pulang ke Indonesia.


"Formula ada di putriku," lirih Raysha dengan badan menggigil, dan didengar Reyes. Kemudian petugas medis yang baru datang memindahkan Raysha ke dalam ambulance.


Ambulance melaju dalam kecepatan tinggi. Reyes gemetar memegangi pipi Raysha yang berlumuran darah dan bau amis menyengat. Petugas medis bekerja menghentikan pendarahan.


Wajah cantik itu kini pucat, basah oleh keringat dan darah. Reyes berpikir Raysha tengah berada di ambang antara hidup dan mati. "Bertahan, ku mohon bertahan!" suara Reyes dengan lembut.


"Laptop-Maurent," suara Raysha kecil dan terus menatap ke arah Reyes.


Lelaki itu mengabaikan perkataan Raysha yang masih meributkan pekerjaan. Tanpa terasa air matanya meleleh di pipinya bercampur noda darah Raysha.


"Laptopku. Tolong anakku, Tuan Reyes."


Reyes membungkuk dan bersuara serak. "Ayo, putrimu masih kecil, bertahanlah Raysha. Bertahanlah, kalau kamu tidak mau aku akan membuatmu bekerja seumur hidupmu !"


Reyes memeluk dada Raysha dengan getir karena Raysha makin menggigil. "Nope! Tidak , jangan, jangan berani kau menutup mata, Raysha!"


"Dia terlalu banyak kehilangan darah," kata petugas dengan cemas.


"Tidak Raysha!" Reyes berlutut dan berteriak di telinga wanita itu yang mengejang dan tatapan Raysha semakin tajam.


"Mas A-di, Fey-bi, ma'a," suara Raysha mulai tidak terdengar. "Ma-af."


Reyes meremas getir ke rambut panjang yang berlumuran darah. "Raysha! Kau dengar aku! Awas, kalau kau pergi!" suara Reyes serak dan dadanya bergemuruh.


Ambulance sampai rumah sakit. Reyes berlari mengikuti Raysha yang didorong dan dipindahkan ke meja operasi untuk operasi darurat. Rumah sakit ini hadiah dari Ayah Meyer untuknya. Jadi, dia merangsak masuk dan berdiri di sudut ruangan, tanpa berpaling dari wajah Raysha.


Suara monitor terdengar makin intens membuat semua orang panik, suara teriakan dokter bedah dan perawat bersahutan. Reyes berlinangan air mata.


Pendengarannya mendadak tuli. Matanya kabur oleh genangan bening yang terus meleleh. Dia mendapat lirikan dari perawat dan dokter bedah yang seolah menunjukkan hal yang tidak diinginkannya.


Hati bergetar dan dadanya yang turun naik bergemuruh saat melihat monitor itu menampilkan garis lurus. Apa monitornya bermasalah? Di mana angka-angkanya!


Pandangannya semakin kabur oleh air mata. Reyes jatuh terduduk. Rasanya begitu lemas, seakan jiwanya ikut hilang saat pendengarannya mulai bekerja dan mendengar dokter menyebutkan waktu kematian Raysha.


Lamunan Reyes terhenti. Dia dapat membayangkan apa yang diceritakan ayahnya soal penjahat yang mendadak muncul dan menikam ayah, dan menyebabkan Raysha pergi selama-lamanya. Dia menangis tanpa suara dan kembali terbenam dalam rasa sakitnya.


Rose terbangun berniat buang air kecil, ketika melihat suaminya membalik botol alkohol yang telah kosong. Meski mata itu melihat ke arah tivi, tetapi tampaknya pikiran itu tidak di sini.


Sekembali dari toilet, didekati suaminya yang murung. Bibir, hidung dan kelopak mata itu tampak bengkak sepertinya habis menangis. "Apa kamu ada masalah, Schatz?"


Schatz: panggilan sayang orang Jerman.


Reyes menggelengkan kepala. Dia berjalan limbung, lalu dibantu istrinya berbaring di kasur.


Rose Smith menutupi tubuh suaminya dengan selimut dengan perasaan cemas. Dia adalah wanita asli Jerman dan bertemu Reyes saat bekerja sebagai sekertaris di perusahaan teknologi di Jerman. Pimpinannya itu jarang menceritakan kehidupan pribadi dan sebatas masalah kantor. Reyes adalah pria yang sangat dingin saat di. Kantor, bahkan sekalipun menjadi kekasihnya.


Kemudian Rose hamil. Begitu mengabari Reyes soal kehamilannya, Reyes justru kembali ke Amerika tanpa memberi kejelasan akan nasib anaknya.

__ADS_1


Sampai Rose diboyong ke Amerika. Dia baru sadar kalau dirinya menjadi penyebab perceraian Reyes dengan Shioban-yang saat itu tengah hamil muda.


Kemudian Rose mulai merawat Jordan-anak tirinya yang berusia empat tahun saat dia juga merawat anaknya sendiri yang berumur satu bulan. Hal itu terjadi karena kondisi Shioban yang stres dan tidak memungkinkan membesarkan Jordan apalagi dengan kondisi kehamilan Shioban. Setahun kemudian Shioban melahirkan Roman Reyes, mereka pun resmi bercerai. Dan tanpa menunggu waku lama Reyes menikahinya.


Seiring waktu, Rose selalu melihat perubahan Reyes sejak kembali ke Amerika menjadi murung dan kian tertutup. Sampai sekarang, Rose tidak pernah tahu kesedihan apa yang dialami suaminya.


...****************...


Febi terjaga dari tidur dengan berkeringat dingin. Mimpi buruk itu mengerikan. Padahal, dia sudah tahu orang tua si kembar, tetapi perasaan takut akan kehilangan si kembar selalu meneror mimpinya. Sehabis mandi, dia baru menyadari kalau tidak ada Donna. "Apa Donna bertemu Logan?"


"Selamat pagi, Babe."


"Eh, sudah bangun, ya." Febi duduk di pinggir kasur dan memandangi Jordan yang menggosok mata. "Selamat pagi juga, kekasihku."


Jordan tersenyum lembut sambil menyingkirkan selimut. Dia pindah ke kasur sebelah mencium pipi si kembar yang masih tertidur, lalu dia membaringkan kepalanya di paha Febi. "Apakah aku sudah menjadi kekasihmu, Babe?"


"Iya, tetapi aku tidak mendapat restu dari papamu, kan?"


"Belummmmm, Sayang. Kita harusnya menyakinkan mereka sama-sama."


"Iyah, sepertinya akan sulit." Febi diam begitu lama lalu berkata. "Bukankah lebih baik kita beritahu soal si kembar pada ke keluargamu sebelum kita menikah?"


"Apa kamu siap bila Jeslyn diberitahu papa, kemudian dia melarangmu menemui si kembar?"


"Pasti ada jalan untuk aku bisa menemui si kembar, apalagi kalau benar kita jadi menikah, benar tidak?"


"Tentu." Jordan mencium punggung tangan Febi. "Aku tidak sabar menikah, Sayang."


Mereka berdua tersenyum hangat dengan harapan semua berjalan mulus.


.


Saat anak-anak fokus menonton pertunjukan Broadway di kapal, Febi tertegun pada Donna yang menyenggol lengannya. "Kenapa?"


"Feb, apa yang kamu sembunyikan dariku soal perceraian kamu dan Mike?"


Febi menghela napas panjang pada tatapan sahabatnya yang menuntut. Dia langsung membuka semuanya soal si kembar yang adalah anak Jordan, termasuk usahanya dalam mencari anak kandungnya.


"Eh, sorry, aku penasaran, apa kamu menjalin backstreet dengan Logan di kampus? Atau kalian pernah berkencan tanpa sengaja sebelum kamu pulang ke Indo?"


"Permisi?" Febi mengerutkan alis lalu terkikik. "Enggaklah! Lagipula Logan kan, memiliki pacar."


"Pacar?" Donna mendapat pesan dari Logan tetapi diabaikan."Logan tidak pernah pacaran. Boro-boro pacaran. Kakakku adalah psikiater yang menangani Logan. Dia mengalami pelecehan saat kecil yang dilakukan oleh seorang wanita dewasa-yang adalah tetangganya, dan membuat dia anti dengan para perempuan," bisik Donna membuat Febi terkejut. "Tapi jangan beritahu ke Logan kalau aku yang memberitahumu."


"Tapi, saat aku kuliah di semester dua, dan bertemu dengannya di perpustakaan, saat aku mengajaknya kenalan dia bilang agar aku menjaga jarak sebab katanya dia memiliki pacar yang prosessif? Bahkan dia baru cerita putus sebelum aku kembali ke Indo."


Donna menunjukan sebuah foto di ponselnya. "Ini keluarga Hamilton, ayahnya, ibunya, kakak laki-lakinya," kata Donna sambil menunjukkan satu persatu orang di foto. "Kau bilang meski kalian kenal dekat, dia tidak pernah menunjukkan siapa keluarganya dan kehidupan pribadinya, kan?"


Febi mengangguk. "Dia sangat tertutup."


"Ya, karena traumanya itu mungkin dia menjadikan alasan memiliki pacar agar kamu tak mendekatinya." Donna menarik napas dalam-dalam. "Febi, kakaknya Logan seorang ilmuwan farmasi klinis. Ada yang bilang, belakangan kalau kakaknya itu terus mengembangkan obat dengan bahan psikoaktif dan jamur ajaib untuk kesembuhan kecanduan Logan. Tapi juga ada yang bilang kalau kakaknya itu terlibat dalam proyek berbahaya atas misi lanjutan ayahnya. Entahlah, aku juga ingin tahu proyek apa yang sudah bertahun-tahun menjadi penyebab hubungan Keluarga Reyes dan Hamilton merenggang."


"Kau bilang Logan kecanduan? Kecanduan apa?" Febi tercengang pada bisikan Donna selanjutnya yang menyebutkan kalau Logan memakai obat-obatan terlarang, bahkan sejak Febi pacaran dengan Mike.


Ponsel Febi berdering. "Aduh, aku sudah ditelpon Jordan." Dia melirik jam menunjukkan pukul sepuluh. "Aku harus menemui Jordan, titip anak-anak, ya?"


Donna mengangguk pelan dan sahabatnya buru-buru berpamitan pada si kembar kemudian keluar dari bioskop. Dia baru sadar belum dapat jawaban yang jelas soal hubungan masa lalu Febi dan Logan! Apa anak Febi yang hilang dibawa Logan? Dilihat dari mata Febi, Febi sepertinya tidak pernah bercinta dengan Logan. Apa Logan cuma melantur?


Tidak lama kemudian Logan duduk di dekatnya. Donna mendadak diliputi kesenangan, tetapi berusaha terlihat cuek.


"Apapun yang aku katakan semalam karena mabuk, kamu jangan percaya." Logan membenarkan kaca mata.


"Memang kamu semalam bilang apa?" Donna dengan suara dibuat judes.


"Entahlah." Logan menoleh dan berpikir dalam, dia sendiri tidak yakin apa yang dikatakan semalam.


"Apa soal anak kamu dan Febi?"


Mata Logan berkedut. "Apa aku bilang begitu? Konyol."


Donna menoleh ke kanan dan menyelidik ke mata Logan, bingkai kaca mata itu membuat Logan semakin manis, tetapi wajah itu berkeringat dan seperti sedikit sakau. "Logan, kau yang jelas-jelas bilang memiliki anak dengan Febi. Kenapa aku baru tahu kalau anak Febi ditukar orang yang tidak bertanggung jawab, sementara anaknya sendiri tidak diketahui di mana keberadaannya?"

__ADS_1


Logan mengelus hidung, sedikit flu dan menggigil. "Aku sedang mencari anak Febi juga, kok."


Donna meneplak lengan Logan. "Di mana anak kecil yang bersamamu kemarin? Siapa dia?"


"Dia kan anak temannku." Logan melihat ke arah lain.


"Teman yang mana? Kau bikin aku bingung!"


"Sudahlah." Logan berdiri dan pindah duduk ke samping di kembar.


Aneh banget si sikap Logan. Apa dia menghindariku? (Donna).


*


Kakek Meyer mempersilahkan Adi dan Martha duduk dan menikmati kudapan di atas meja. Dia memakai celana pendek putih dan kemeja santai, sementara Adi celana jeans panjang dengan kemeja batik berlengan pendek. Atap tenda berwarna putih yang menghalau sinar matahari, dan angin hangat terus berhembus menyenangkan. Kakek Meyer menanyakan kabar Adi sambil menikmati pemandangan laut.


Martha menyimak dan baru ingat kalau pria tua itu adalah bos dari Raysha, yang datang mengantar jenasah Raysha. Saat itu Martha menjadi kepala asisten rumah tangga di rumah itu, dan menikmati waktu enam bulan melayani majikan prianya saat Raysha di Amerika, tetapi Adi sangat cuek. Dia mendengar tangisan keras di suatu sore dari kamar tuannya dan senang bukan main saat mendengar berita kematian istri dari majikannya.


"Jadi, bagaimana soal tawaranku 30 tahun lalu?" Kakek Meyer sambil bermain kartu dengan Adi.


"Tapi Febi sudah menikah." Adi merasa tidak enak karena dia memiliki usaha tambang batu bara berkata modal pinjaman dari bos Raysha itu, ya, kemudian 20 tahun lalu sudah lunas.


"Febi sudah bercerai kan, Sayang?" Martha menjelaskan dan Adi mengangguk-angguk.


"Saya tetap tidak yakin." Adi mengelus dagu.


"Kenapa tidak yakin?" Kakek Meyer meminum mojito.


"Ya, kami sedih mengetahui bahwa putri kami melakukan perbuatan tidak terpuji." Martha siap dengan akting sedih dan mendapat lirikan tidak suka suaminya. "Saya sangat sedih, Sayang. Sepertinya, aku kurang mendidiknya."


Alis Kakek Meyer terangkat tinggi, di dada dan perutnya seperti ada batu mengganjal yang terasa panas. Mengapa mendadak dia ingin marah mendengar anak sekertaris dikatakan tidk terpuji.


"Pasti karena pergaulan bebasnya di sini. Ya, itu tanpa pengawasan kami karena terpisah jarak yang jauh. Pasti hidupnya terlalu bebas apalagi sering ditinggal Mike." Bibir Martha makin menekuk. Air mata buayanya mulai berlinang.


"Excuse me?" Meyer menyipitkan mata dan terasa sesuatu panas mengganjal di tenggorokannya dan bibir itu terkatub.


"Kenapa kau bilang begitu?" suara Adi berat, seharusnya sang istri tidak mengatakan hal demikian saat di depan siapapun, mengapa dia merasa marwah putrinya dijatuhkan.


"Maaf, Sayang. Sebetulnya, saya kecewa pada diri saya, kalau saya benar-benar menjaganya pasti Febi tidak hidup sebebas itu, entah teman-temannya itu mungkin orang yang tidak benar lalu mempengaruhi putri kita dan-"


"Apa maksud Anda Nona Martha?" Kakek Meyer dengan dada turun naik dan menekan amarah dalam dirinya.


"Ya, maksud saya selama di California pasti putri saya terlena pada pergaulan bebas anak muda termasuk **** bebas yang tidak bertanggungjawab sampai berselingkuh dari suaminya."


"Martha," geram Adi dengan kepala terasa mendidih. Nafasnya sudah seperti banteng yang siap mengamuk.


"Aku mengatakan sebenarnya." Martha menggigit bibir bawah dan takut pada perubahan wajah suaminya yang menjadi merah gelap.


"Febi di sini selalu mendapat pengawasan Tuan Meyers langsung. Berhati-hatilah saat berbicara," suara dan tatapan Adi menjadi garang.


"Lagi pula itu bukan putri Anda kan, NyonA Martha?" Meyer menegaskan dengan suara dingin. "Dia bahkan sudah seperti putri saya sendiri sejak keluar dari rumah sakit pasca dilahirkan "


Meyer tertawa merendahkan. "Lalu, obat yang anda pesan untuk diberikan pada Febi apa mencerminkan sikap ibu yang menyayangi putrinya?"


Marta menyipitkan mata. "Obat? Obat apa, Tuan?" Dia beralih ke suaminya yang kebingungan.


"Apa kamu pikir bebas dari jangkauan saya, Nyonya Martha? Saat Anda mencoba memesan obat pengering kandungan apa itu ditujukan kepada putri kandung Anda? Tidak masuk akal, kan? Atau itu untuk Anda sendiri padahal rahim Anda sudah diangkat?"


Otot-otot hijau di kening Adi menonjol dan menatap tajam istrinya seakan dia bisa membaca apa yang dibicarakan Tuan Meyer, terlebih keterkejutan di mata Martha seperti jawaban konfirmasi.


"Martha? Biar kuberi tahu, Tuan Meyer adalah pemain besar dalam industri Farmasi. Sebaiknya, kau katakan dengan jujur, apaa yang kau lakukan sebenarnya?" suara Adi tidak ramah.


Martha menelan saliva kasar. "Tidak, tidak suamiku, itu adalah pesanan ... milik teman, jangan berpikir kalau aku memberikannya pada Febi! Aku sangat mencintainya bahkan sejak dia pulang dari Amerika di usia dua tahunnya, aku langsung jatuh cinta."


Meyer terkekeh sambil menekan video call di ponselnya dan suara perempuan membuat Martha makin kebakaran jenggot. Ponsel itu diberikan pada Adi. Berikutnya Mbok Mar menceritakan sejak pindah ke rumah Mike, pembantu itu disuruh selalu menyertakan obat-obat pengering kandungan ke dalam makanan Febi.


Lemparan gelas melayang ke lantai di dekat Martha dari tangan Adi yang kini terkepal di atas meja. Marta memohon ampun dan merangkul paha suaminya dengan wajah berlinangan air mata. Tentu saja hal itu menjadi tontonan tiga rombongan keluarga yang sedang bersantai, tetapi mereka tidak ada yng mengerti bahasa Indonesia.


...****************...


__ADS_1


Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.


__ADS_2