Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
bab 36 : Pernikahan mendadak?


__ADS_3

Reyes keluar dari lift dan memasuki resto outdoor, tetapi langkahnya terhenti. Jantungnya bergetar saat melihat Adi. Kenapa ada Adi? Pikirannya melayang ke hari di mana pesawat pribadi mereka membawa jenasah Raysha.


Suara bayi terus menggema di kabin pesawat. Dia berdiri dan tanpa bersuara, dua tangan Reyes mengambil alih Febi kecil dari gendongan baby sister. Dia mengelus punggung bayi perempuan yang menemplok di dadanya, biasanya ini cukup berhasil untuk Jordan, tetapi bayi ini tidak kunjung diam. Sepertinya Febi kecil gelisah dan merasakan kepergian sang ibu dari dunia ini.


Waktu berlalu lebih dari 18 jam, Reyes mengkhawatirkan ayahnya yang belum tidur. Padahal sebelum penusukan itu ayahnya bagun pagi jam empat pagi. Dia khawatir bila darah tinggi ayahnya kambuh. Sementara Febi kecil kini duduk di pangkuannya, sambil memegang botol susu formula. Febi kecil yang dari tadi terus mencelotehkan panggilan 'Ama Aiys' atau Mama Raysha.


Apakah aku akan terus berhutang budi atas kepergian Raysha yang menyelamatkan ayahku? Batin Reyes, menyeka susu yang mengalir ke pipi mungil Febi.


Pesawat pribadi mendarat di bandara setempat. Di ujung tangga Adi berdiri dengan beberapa keluarganya. Reyes di pintu pesawat, melihat Febi kecil, foto kopian Raysha untuk terakhir kali dan anak itu melihatnya seolah menunggu Reyes berbicara.


"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Ibumu." Reyes mengamati mata hazel itu yang membesar.


"Ama Asiys!" Febi kecil terus mencari sang mama sambil memegangi jempol Reyes.


Reyes mulai menuruni tangga dan tampang wajah Adi terpukul akan kehilangan Raysha. Dia menyerahkan Febi dan tangis Adi makin menjadi. Bibir Reyes saling memelintir dan kristal bening meleleh kembali di pipinya.


Prosesi sholat jenasah dan pemakaman selesai, Reyes dan ayahnya bahkan datang ke acara tahlilan, meski agamanya berbeda. Selepas kepergian pelayat, Reyes mewakili ayahnya untuk berbicara dan menyampaikan permintaan maaf pada Adi, bahkan ayahnya setiap menyebut nama Raysha langsung gemetar hingga tidak pernah sanggup bercerita.


Lamunan Reyes terpotong, oleh tatapan Adi. Hatinya kembali bergetar. 28 tahun terlewati tetapi rasanya itu seperti baru terjadi. Sakit sekali. Wahai waktu, bisakan kamu menghapus ingatanku tentang Raysha?


Reyes melihat ke arah lain dan mengelap genangan air mata. Sebenarnya, dia tak sanggup bertemu Adi, tetapi pas sekali dia ada janji di sini. Langkah Reyes terasa berat dan menatap lantai parket yang dilewatinya.


Sejak Raysha bekerja dengan ayahnya, dia sangat membenci dan marah akibat Raysha selalu membuat semua aktifitasnya seperti ditelanjangi di depan ayah. Seumur -umur dia baru mendapati seorang sekertaris semenyebalkan itu. Raysha sama sekali tak bisa disogok dan sangat patuh pada perintah ayahnya, membuatnya sering memarahi Raysha karena Raysha selalu ikut campur pada urusannya, ya walau itu suruhan ayah. Dia baru menyadari sekarang, kalau saat itu menjadi sesuatu yang berharga dan ingin dia mengulanginya.


"Kembali ke kamarmu, tunggu di sana dan jangan kemana-mana," kata Adi bergetar dan Martha mengangguk sambil menyeka air mata ketakutan.


Reyes melihat wanita itu yang baru lewat. Dia melirik ke arah Ayah Meyer yang menatapnya begitu dalam. Kemudian dia berlalu melewati Adi dengan hati bergetar.


"Tuan Reyes?" Adi tersenyum dengan penuh arti, apa orang itu melupakannya? Dia menghampiri karena mungkin suaranya tidak terdengar. Lalu menghalangi jalan. "Tuan Reyes, bagaimana dengan kabar Anda? Senang bisa berjumpa lagi."


Kakek Meyer mengatubkan bibir yang gemetar saat mendapati putranya membuang muka, tampak tidak nyaman di dekat Adi. Sebagai seorang ayah, dia bisa merasakan apa yang dirasakan Reyes walau putranya tak pernah mengakui perasaan pada mendiang sekretarisnya.


Kakek Meyer ingat sejak Reyes melihat Raysha di hari pertama bekerja, menjadi teralihkan dari berfoya-foya di club malam. Reyes yang sering bergonta-ganti perempuan, sudah tidak lagi melakukan kegiatan jelek sejak ada Raysha. Nampaknya, kekesalan Reyes pada Raysha selalu dilampiaskan pada satu perempuan bernama Rose-yang kini menjadi istri sah.


"Biarkan dia, Adi." Meyer menarik tangan Adi. "Kita bicarakan acara pernikahan Febi dengan cucuku saja."


"Ayah!" Reyes berbalik dengan kesal, dan dalam sekejap duduk di dekat ayahnya. "Berhenti mengatur masa depan putraku."


Adi menelan saliva dengan kasar sambil duduk di kursi. "Tuan Meyer, mungkin perkataan Tuan Reyes ada benarnya."


"Tidak, aku sudah mengatur waktu untuk pernikahan Jordan dan Febi." Kakek Meyer menyunggingkan senyuman.


"Ingat, Ayah. Aku sudah mengatur pernikahan Jordan dan Jeslyn, tiga minggu lagi." Reyes berbicara dengan tegas.


"Uwh, tetapi aku mengaturnya lebih cepat. Besok pagi mereka akan ijab kabul."


"Apa! Lelucon Ayah tidak lucu sama sekali!" Reyes langsung gemetar dan mual. "Nope!"


"Besok malam?" Adi begitu terkejut. "Tapi, terus terang, saya sedang ada masalah dengan Febi. Meskipun, saya tahu anak saya di California, saya belum tahu dia tinggal di mana. Lagipula tidak ada Febi di sini bagaimana bisa itu besok pagi?"


"Ayah macam apa kau sampai tidak tahu di mana keberadaan putrimu?" Reyes memarahi Adi. "Masa aku lebih tahu dimana tempat tinggal Febi daripada ayahnya sendiri? Lucu."


"Nah, karena itu, kau kan sering mengawasinya. Tinggal restui saja biar kau bisa lebih leluasa mengawasi di dekatmu?" Kakek Meyers berceloteh dan membuat wajah Reyes makin geram.

__ADS_1


Dari sudut resto, muncul Febi dan Jordan. Meyers langsung berdiri. "Nah, calon pengantinnya datang!"


Adi berdiri sambil berbalik, hatinya seperti teriris melihat wajah Febi dengan gaun musim panas bergambar potongan jeruk lemon dan bernuansa warna orange. Hatinya terasa meleleh dengan gaya rambut Febi yang dikepang dua, dia jadi ingat Raysha saat muda.


Reyes memegangi kursi di belakang dengan gemetaran. Dia syok bagai melihat hantu. Pemandangan di depannya seperti Raysha, topi bundar putih itu dengan pita orange, mengingatkan dia dengan Raysha di pantai Fukusima-Jepang, saat itu Raysha menenteng dua ikan besar dan mengejarnya agar dia mau memegang ikan! Sigh.


"Ayah? Ayah di sini!" Febi berteriak dan berjalan lebih cepat, tanpa sadar dia berlari hingga topi terhempas angin dan terlepas. Jordan mengambil topi putih berpita oranye.


"Eh?" Adi membalas pelukan putrinya. "Kakek Meyer mengundang ayah kemari." Adi mengusap hidungnya yang beringus dan merasakan suhu badan anaknya yang lebih panas dari biasanya.


"Ada bisnis, tetapi .... Justru ada hal lain," kata Adi lagi bergetar. Aroma mawar dari shampo yang dipakai putrinya menguar menyenangkan. "Ma'afkan Ayah, Sayang."


Febi mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Saya yang minta maaf, Ayah! itu, si kembar sangat ingin bertemu Ayah."


Jordan sudah memakai topi bundar milik Febi di kepalanya. Dia yang berdiri di belakang Kakek, sedikit melirik Papa Reyes yang terus melihat tajam ke arah Febi. Lalu, dia berdeham dan membuat Papa Reyes melihat ke arah lain.


"Sudah, ayo duduk dulu. Kita bicarakan acara pernikahan Febi dan Jordan." Kakek Meyer duduk lebih dulu.


"Terimakasih, Kek." Jordan duduk di samping Febi. Tidak sia-sia usahanya dalam merayu kakek agar mau memuluskan niat untuk bersatu dengan Febi.


"Sekarang Febinya sudah di sini, kan?" Tanya Kakek Meyer pada Adi dan mendapat anggukan. "Jordan juga tidak masalah lada status Febi yang pernah menikah sebelumnya."


Jordan menganggukkan kepala dengan bersemangat. Dia memegangi tangan Papa Reyes, menarik agar papa mau duduk.


"Saya tidak akan merestuinya!" Reyes mendorong kursi dengan kasar sampai membentur meja. Dia menjauh dari meja, meninggalkan mereka yang tercengang.


Orang tua Jeslyn datang. "Tuan Reyes, apakah saya datang terlambat? Bukannya Anda memundurkan waktu setengah jam?"


"Batal." Reyes menggeram. Suasana hatinya sedang tidak baik.


"Pernikahan mu dengan Jordan dibatalkan." Reyes dengan suara dingin. "Sekretarisku akan menghubungimu, Jeslyn."


"Tidak bisa, Om. Bagaimana bisa batal? Apa karena perempuan murahan itu yang menggoda Jordan."


"Jaga bahasamu. Kotor sekali!" Reyes mengeluarkan aura membunuhnya.


"Tapi, kenapa Om? Mama Sioban juga sudah memesan gaun pernikahan." Jeslyn menghubungi nomer calon mama mertua. Tidak lama kemudian Sioban muncul.


Jeslyn meremas ponsel ditangannya dengan kesal karena cara Febi dan Jordan yang saling memandang penuh kehangatan, membuatnya cemburu, padahal Jordan tidak pernah melihatnya selembut tatapan itu. "Tapi saya dan Jordan memiliki anak?" Jeslyn memotong cerita Kakek Meyer membuat semua orang terkejut.


Jordan mengembuskan napas panjang dan menceritakan soal si kembar yang ditukar dengan bayi Febi. Jeslyn merasakan dingin menghinggapi seluruh tubuhnya sampai hampir jatuh ke belakang dan dirangkul mamanya.


"Mau kemana, Tuan Reyes?" Shioban menghalangi jalan mantan suaminya dengan senyuman sinis.


Reyes menggedikan bahu dan melewati Shioban, tetapi lengannya dipeluk dan ditarik Shioban. Dia juga menyuruh rang tua Jeslyn ikut.


"Siapa kamu ? Eh saya baru ingat!" Shioban terus menatap perempuan yang kemarin disebut Jeslyn sebagai perebut Jordan.


"Tante." Febi tersenyum dan menganggukkan kepala. Tangannya digenggam Jordan. Sementara tangan yang lain mengenggam tangan sang ayah karena gugup.


"Kenapa kamu membiarkan perempuan ini masih di sini, Jordan? Ini pertemuan keluarga, loh?" Tanya Shioban pada Jordan sambil menarik mantan suaminya agar duduk di samping Jordan.


"Kakek mau menikahkan aku dengan Febi besok malam, Ma." Jordan dengan senyum malu-malu.

__ADS_1


"What the hell?" gumam Shioban. Dia beralih melirik ke mantan suaminya yang terus menatap Febi seperti tidak suka.


"Danuarta," kata Kakek Meyer sambil menoleh kiri pada ayah Jeslyn yang baru duduk. "Saya ingin memberitahu .... "


Semua orang terkejut mendengar cerita Kakek soal perjodohan Febi dan Jordan. Yang bersangkutan justru seperti mendapat durian runtuh, lalu saling senyum malu-malu membuat keluarga Jeslyn cemburu. Reyes dan Shioban tak bisa berkutik karena keputusan Tuan Meyer tak bisa diganggu gugat.


*


Sore terasa hangat dan menyenangkan bagi Febi saat melihat ayah bermain dengan si kembar setelah tadi menyaksikan prosesi saat Jordan masuk Islam dan berganti nama Jordan Reyes Muhammad.


Kakek Meyer bahkan sudah menyiapkan kyai dan penghulu, surat pernikahan dan kepindahan Febi ke Amerika dan membuat Tuan Reyes tampak paling terkejut.


Meskipun Tuan Reyes membeberkan bahwa si kembar anak kandung Jordan, si kembar tetap bersama Febi hingga kini. Dia masih tidak tahu apa yang terjadi pada Jeslyn yang terkejut, karena saat Jeslyn memarahinya dan menuduh sebagai penculik, selanjutnya Kakek Meyer memaksa Jeslyn agar mengikuti kakek.


*


Ketika matahari mulai terbenam, Logan yang mulai kecanduan dan membutuhkan obat segera kembali ke kamar. Ketika dia kembali berpapasan dengan seseorang berpakaian formal yang baru keluar lift sedang menggendong seorang wanita yang wajah itu ditutupi sapu tangan.


Logam keluar dari lift dan mengikuti orang itu keluar dari deck. Setelah diamati dari lantai dua, sepatu dan jam tangan itu mirip punya Febi, terutama cat kukunmerah hati. Dengan limbung dia jalan dan berbelok ke sebuah lorong. Logan menelpon Donna dan menanyakan keberadaan Febi.


Reyes yang mendengar dari anak buahnya kalau Jeslyn membius Febi, bergegas menuju ke kamar dari salah satu krue kapal. Dia mendapati anak buahnya melumpuhkan dua orang lelaki di mana di lantai terdapat genangan minyak. "Apa ini?" Wajah Reyes berubah merah padam melihat seseorang bertubuh perempuan telah digunduli di lantai.


"Kami membekuk target satu yang baru memotong rambut Nona Febi, lalu berikutnya target dua kembali membawa sewajan minyak yang masih mendidih. Mereka bilang seorang wanita telah menyuruh mereka menyiram minyak panas itu ke kepala Nona Febi. Bahkan nanti malam mereka berenva membuang nona ke laut."


Reyes mengepalkan tangan, hampir teledor dan membuat putri kesayangan Raysha kehilangan nyawanya. Dia membungkuk dan menggendong Febi di depan.


Ketika melewati lorong, Reyes dihalangi Logan yang baru datang. Dia hampir diserang Logan, tetapi diselamatkan dua pengawal yang dari tadi berdiri di belakangnya.


"Jadi, apa niatmu pada perempuan ini?" Logan tertawa jijik. "Apa Anda berniat menjebak lalu memacarinya seperti kebiasaanmu, Tuan Reyes?"


Reyes sedikit ternganga. Apa dia barusan dituduh anak ingusan ini? Reyes menggelengkan kepala dan melewati Logan yang tengah berkelahi dengan dua pengawalnya.


Di kamarnya, Rose merawat Febi sesuai perintah suaminya. "Sungguh, gila sekali yang melakukan ini padanya. Jordan pasti akan marah dan membuat ulah suamiku, apalagi besok mereka akan menikah."


"Kita sembunyikan kondisi Febi dulu sampai hari pernikahan besok. Aku tidak mau Jordan membuat semakin ruwet. Sementara itu aku akan membiarkan Jeslyn dulu." Reyes menatap ke luar kapal dengan pandangan membunuh.


Rose mencoba menghubungi tukang tata rias yang akan bekerja untuk pernikahan anak tirinya besok. Dia meminta tim tata rias agar mencari kain yang senada dengan gaun pernikahan yang telah disiapkan Kakek Meyer, yang berfungsi sebagai hijab untuk dikenakan pada Febi demi menutupi kegundulan wanita itu.


Di kamar lain, keluarga Jeslyn mondar-mandir di kamar menunggu kabar dari orang suruhan mereka. Ibunya Jeslyn sudah menyetor cincin berliannya sebagai DP. Kalau orang itu berhasil membuang Febi tanpa ketahuan cctv, maka bayaran lainnya akan menyusul.


"Papa, aku sudah tidak sabar! Gara-gara Febi aku diancam Kakek Meyer bahwa kakek akan membeberkan tentang usaha Papa saat membuang si kembar ke panti. Bagaimana Kakek Meyer bisa tahu, Papa teledor sekali!"


"Jangan bentak Papa, anak nakal!" Danuarta duduk mencoba tenang. "Kamu sendiri yang bilang saat itu kalau si kembaritu anak dari mantan mu yang hobi berjudi dan menipu kita!"


"Wah, Papa, kalau aku tahu itu anak Jordan aku pasti tidak akan setuju dengan rencana Papa untuk membuang mereka!" Jeslyn menghempaskan diri ke kasur, alu guling-guling dengan gelisah.


"Sudah-sudah kita harus tenang." Dina, ibu Jeslyn, mencoba berpikir. "Pokoknya, kita tidak boleh keluar kamar! Jangan sampai Tuan Meyer mencurigai kita. Karena satu-satunya penghalang kau menikahi Jordan hanya Febi!"


...****************...



Hai guys, sambil nunggu bab selanjutnya. Yuk, mampir ke novel temen aku di atas. Ceritanya bagus. Terimakasih.

__ADS_1


*


__ADS_2