Anakku Bukan Anakku

Anakku Bukan Anakku
BAB 3 : ensefalomielitis diseminata akut atau ADEM


__ADS_3

"Dari pemindaian MRI ada kelainan pada otak Adam." Febi merinding hebat. "Dokter mengira itu kanker ...."


Wajah Oki langsung memucat. Dia menutup mulut dengan tangan merasa syok. "Bagaimana bisa anak sekecil itu terkena kanker," katanya tidak terima.


Ya, Oki sendiri belum pernah mendengar. Karena yang diketahuinya kanker kebanyakan dialami oleh orang-orang dengan gaya hidup tidak sehat.


Febi menggigit bibir bawah. Bibirnya bergetar menahan untuk tidak menimbulkan suara tangis, tetapi dadanya justru mengembang dan mengempis begitu terguncang.


"Innalilahi wainailaihi rojiun, kanker .... " Oki kehabisan kata-kata. Tubuhnya menjadi lemas. Adam si cerdas yang paling hobi membaca buku di sekolah, harus menghadapi cobaan seberat ini di usianya yang belum genap lima tahun.


"Sudah sholat Ashar?" Begitu mendapat gelengan Febi, Oki menarik tangan Febi. "Ayo sholat bareng, dan minta petunjuk sama Allah."


Perasaan tenang memenuhi hati Febi seusai menjalankan sholat. Dia menjadi punya kekuatan tambahan saat menggendong putrinya ke mobil. Tidak apa-apa semua dilakukan sendiri saat ini, karena dia masih memiliki Allah.


*


Sesampai di rumah, Febi mencoba menghubungi Mike. Harapan Febi kembali sia-sia karena Mike tidak menerima teleponnya. Teganya kamu, Mike.


Mengapa jiga dia ingin memberitahu Mike soal Adam yang berada di kondisi antara hidup dan mati. Tapi, apa Mike berniat menjauhinya sampai memutus semua akses komunikasi.


"Ma, Mia boleh ikut ke rumah sakit, ya?" Mia kembali merengek.


"Mia, dengar Mama. Di rumah sakit itu banyak penyakit, Mama takut bila Mia nanti jadi ikutan sakit." Febi menatap mata indah deep blue putrinya.


"Tapi, Mama bilang ke nenek, kalau Papa ada di sana. Mia mau ketemu Papa." Mia begitu jengkel pada papanya yang sudah menolak panggilan teleponnya.


"Papa itu sudah tidak di rumah sakit. Tadi, papa sudah balik kantor dan lembur lagi." Febi terpaksa berbohong soal Mike.

__ADS_1


"Kalau gitu Mia ke kantor sama tante. Mia mau ketemu papa!"


Febi membelai pipi chubby yang warna kulit itu seputih mentega. "Kalau kita sayang papa. Kita juga harus mengerti dengan kesibukan papa, kan? Kasian papa yang sedang kerja, kalau Mia kesana nanti kerjaan papa jadi tertunda, nah? Lalu papa dimarahin bos papa." Dia dengan wajah penuh ekspresi yang berubah-ubah untuk membuat putrinya mengerti.


"Bos papa adalah Kakek. Kakek sayang papa dan tidak akan memarahinya!" Anak itu dengan keyakinan kalau kali ini sang mama mengabulkan permintaannya.


Febi mengembuskan napas panjang dan pelan tanpa mengintimidasi. Dia membisu dan menatap begitu lama.


"Bos papa itu bukan cuma kakek. Papa punya tanggung jawab besar untuk semua orang." Febi mengucapkan pelan-pelan setiap kata. "Beberapa orang, juga jabatannya setinggi Kakek. Jadi, Mama mohon kamu bisa mengerti papa, ya? Mia di rumah aja dan tidur sama nenek, biar besok bisa bangun pagi, ya?"


Mia mengangguk dengan bibir tertekuk, sambil menahan tangisan. Dia mendapat pelukan lembut dari mama yang tampak kelelahan.


Febi akhirnya bisa bernapas lega. Kesabarannya diharapkan bisa sangat banyak dalam menghadapi kemauan Mia yang seringkali harus dituruti karena kebiasaan Mike yang selalu memberi apa saja yang Mia minta. Tanpa Mike, dia kewalahan menghadapi putrinya yang cerewet.


*


Wanita itu ikut mobil ambulance dan terus menggenggam tangan Adam. Dia mencoba memberi kehangatan agar putranya tidak takut. Padahal, dia sendiri diliputi ketakutan yang jauh lebih besar.


Dari tadi pagi Adam gelisah, Febi kira karena tidak ada kabar dari Michael. Jika menarik kesimpulan, sepertinya Adam sudah kesakitan dari pagi.


Kenapa kamu tidak jujur pada Mama kalau nggak enak badan? Sekarang jadinya parah begini ... Yang kuat, ya Nak. Mama selalu di sampingmu.


Adi dari kantor langsung ke rumah sakit. Suara monitor dan wajah pucat Adam membuat Adi mendadak lemas.Cepatlah sembuh, cucuku. Lihat mamamu itu sangat khawatir sampai belum mau makan dari siang.


"Di mana Mike?" Adi mendekati ke putrinya yang sibuk membuka jurnal kesehatan milik Adam.


"Ayah, barusan Ahli saraf yang memeriksa Adam bilang tidak setuju dengan diagnosis kanker." Febi mengalihkan obrolan ayahnya.

__ADS_1


"Lalu, mereka bilang kalau Adam terkena ensefalomielitis diseminata akut  atau ADEM. Katanya, itu penyakit autoimun jangka pendek yang kadang dipicu oleh infeksi." Febi mengambil ponsel dan mengetikkan nama penyakit itu. Dia benar-benar parno takut bila jiwa Adam terancam. Ibu mana yang kuat kalau melihat dokterpun kebingungan dalam mendiagnosa?


"Penyakit autoimun?" Adi berpikir sebentar. Sepengetahuan dia penyakit itu tidak terlalu berbahaya, tetapi dia tidak tahu pasti, kan dia bukan dokter.


"Febi, rumah sakit ini adalah yang terbaik di kota. Saya yakin mereka bekerja dengan maksimal, jangan terlalu khawatir, ya. Wajahmu itu sudah seperti orang kebelet pub."


"Ayah?" suara Febi sedikit meninggi dan ditaruh ponselnya di atas laci.


Dengan tidak sabar, Adi menepuk-nepuk sofa di samping. "Kemari, Anak Cantik."


Jantung Febi makin berdebar. Kalau sudah begini, dia yakin ayah mau mengatakan sesuatu yang sangat serius. Perempuan itu menoleh ke jendela, pura-pura tidak mendengar.


"Hp Mike kenapa tidak aktif?"


Febi tersentak dan otot di tubuhnya mendadak menegang. Dia menoleh gelisah karena suara tepukan tangan ayah di sofa. "Pasti hpnya mati ... "


"Saya merasa kamu membohongi Ayah sejak kemarin .... "


Sindiran ayahnya membuat wajah Febi berubah masam. Dia duduk di samping ayah dengan pasrah.


"Kan, seperti yang Ayah duga, kalian sedang ada masalah?"


Air mata mata Febi langsung mengalir ke pipi karena ucapan ayahnya yang bagaikan tembakan dan menghujam ke hati yang terdalam.


Adi menghela napas panjang. Dia memberikan waktu ke Febi- anak dari pernikahan pertamanya, untuk meluapkan kegundahan.


Dia pasti tertekan dan banyak pikiran. Sungguh aneh, menantuku tidak pulang ke rumah. Anakku juga berbohong dengan bilang Mike lembur di kantor. Padahal, orangku melapor kalau Mike pulang ke rumah orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2