
*Katur
Bapak lan Ibu
Ing dalem.
Assalamualaikum Wr. Wb
Sembah sungkem pangabekti kulo katur Bapak saha Ibu.
Sebelumnya, Anggun minta maaf kalau dengan adanya sepucuk surat ini akan mengejutkan keberadaan Bapak dan Ibu sekalian. Anggun hanya ingin menyampaikan sebuah kabar penting, yang pastinya tak sanggup untuk Anggun sampaikan langsung melalui tatap mata. Dan memang harus dengan jalan inilah, Anggun menyampaikannya.
Bapak, Ibu. Saya dan mas Adrian sudah memutuskan untuk berpisah. Dan hari ini adalah sidang keputusan perceraian kami. Sebelumnya, kami minta maaf karena tidak memberitahukan keputusan ini pada Bapak dan Ibu. Itu karena kami tak ingin kalian bersedih.
Dan untuk apa yang sudah Bapak dan Ibu berikan pada Anggun sebelum ini, Anggun hanya bisa menyampaikan banyak-banyak terima kasih. Kasih sayang dan perhatian kalian, adalah yang terindah dan terbaik yang Anggun miliki selama ini.
Dan semoga apa yang Anggun sampaikan ini tidak menjadikan Bapak, Ibu kecewa. Setidaknya, Anggun meminta kesabaran dan keikhlasan Bapak dan Ibu menerima keputusan ini. Sepindah malih, kawula ngaturaken agunging panuwun ugi kalepatan dateng panjenengan sekalian.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Anggun*Β Β
Adrian meremas surat itu setelah selesai membacanya. Pria itu menggigit bibirnya, bimbang.
"Jadi, penjelasan apa yang akan kau berikan pada kami, Adrian?" Suara berat itu menginterupsi kembali.
"Jelaskan pada kami Adrian? Apa maksud dari surat yang di tulis Anggun ini?!" Kini Ny. Sujono melempar pertanyaan yang sama. Perempuan itu berdiri seketika dan menghampiri putranya dengan wajah yang sedemikian gusar.
"Pak....Bu....sebenarnya...." Sejujurnya Adrian belum ingin orang tuanya mengetahui kebenaran ini sekarang.
"Katakan!! Apa benar kalau kalian memang bercerai?" Pak Sujono menekan. Kepala Adrian tertunduk semakin dalam. "Jawab Adrian!! Kenapa kau hanya diam saja?"
"Katakan, Le! Katakan kalau itu tidak benar. Anggun pasti cuma bercanda bukan? Ayo!! Katakan dimana istrimu sekarang!! Dimana dia?" Ny. Sujono seperti orang yang kehilangan dan berusaha mencari-cari di mana orang yang dimaksud berada.
Dan meskipun ia tau kalau sejak kedatangannya di rumah Adrian, memang tak di jumpainya menantu perempuannya tersebut. Namun nyatanya dia tetap ingin mencarinya. Air mata perempuan itu meleleh kemana-mana seakan menyiratkan ketidak terimaan tindakan anaknya. Yakni menjalani perceraian bahkan tanpa minta pertimbangan dari orang tua terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ibu, apa yang Ibu cari? Anggun tidak ada disini!" Adrian berusaha menghentikan ibunya yang memeriksa isi rumah itu satu-persatu. Namun sang Ibu tetap tak mengindahkan perkataan sang anak. Dia masih mencari dan mencari sambil sesekali memanggil nama menantunya.
"Anggun....Anggun...." teriak wanita itu dengan wajah yang bersimbah air mata. "Anggun....keluarlah Nak. Keluarlah! Ini Ibu datang, Ngger." Tangis pilu itu semakin mengiris hati pak Sujono dan putranya.
"Ibu. Kenapa Ibu tidak mengerti? Anggun tidak ada disini, Bu. Dia sudah pergi." Suara Adrian mulai meninggi.
"Tidaaaakkkk! Diam kau Adrian!!" Suara Ny. Sujono berteriak histeris membantah perkataan Adrian. Dan tiba-tiba saja tubuh perempuan itu melemas. Dia menjatuhkan tubuhnya di pelukan Adrian. Menangis sejadinya di dada putranya.
Adrian berusaha menenangkan hati sang ibu. "Ibu, Ibu harus terima kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku dan Anggun memang sudah berpisah."
"Tidak! Tidak, Nak. Kami tidak bisa menerima semuanya. Kenapa? Kenapa? Bukankah tidak ada permasalahan dalam rumah tangga kalian?" Ny. Sujono menjauhkan diri dari tubuh Adrian dan menatap pria itu tidak terima.
"Bu. Dengarlah, semua memang tidak seperti apa yang Ibu perkirakan. Tapi, sayangnya kami baru menyadari bahwa ada ketidak cocokan antara kami berdua sehingga kami memilih jalan perpisahan ini," Adrian mencoba menjelaskan.
"Ketidak cocokan apa yang kau maksud? Bukankah hampir dua tahun ini Ibu lihat kalian baik-baik saja dan tidak ada kesalah pahaman? Tidak. Ibu tidak bisa menerima apapun alasanmu, Adrian," Ny. Sujono bertahan.
Tiba-tiba pak Sujono melangkah mendekati keduanya. Tatapannya tajam ke arah sang anak. "Katakan! Alasan apa yang mendasari kalian bercerai?!" Pria paruh baya itu menekankan pertanyaannya.Β Β
Dan Adrian kini membeku. Haruskah dia mengatakan kalau dia menceraikan Anggun karena dia tidak mencintainya?
"Katakan Adrian!!" teriak pak Sujono penuh wibawa.
Benarlah. Pak Sujono menggeram seketika. Matanya semakin tajam menghunjam pada Adrian. "Dan ini pertanyaan Bapak terakhir kalinya. Ku minta kau jawab jujur, Adrian!!" Pak Sujono berhenti sejenak. "Ide dari siapa perceraian ini? Kau, atau Anggun?" Kalimatnya sedikit halus tapi sangat menusuk. Dan Adrian merasa napasnya menjadi sesak.
Tidak. Aku harus menghadapi konsekuensinya. Apapun itu.
Dengan berani di tatapnya sang ayah. "Saya yang meminta bercerai darinya."
Dan cukup. Pak Sujono tak bisa mentolerir lagi kesalahan putranya. Terlalu murkanya sampai ia mengepalkan kedua tangannya.
"Bapak tidak tahu harus berkata apa dengan tindakan bodohmu ini, Adrian. Bapak harap kau takkan pernah menyesal suatu hari nanti." Geram pria paruh baya itu dengan rahang mengetat keras. "Ayo Bu. Kita tinggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya kita berlama-lama disini." Pak Sujono meraih tangan istrinya dan langsung mengajaknya keluar.
Adrian tak dapat mencegah keduanya pergi. Dia tau, kalau cepat atau lambat, berita ini pasti akan diketahui orang tuanya. Meskipun ia tak menyangka kalau Anggun akan membocorkannya lebih dulu. Adrian menghempaskan tubuhnya di ujung sofa dengan kasar. Ini baru awal perang dingin dia dengan keluarganya. Belum nanti dengan Bagas. Sudah pasti pria itu juga akan memprotes tindakannya. Lalu keluarganya yang lain?
Ahhh....entahlah. Biarlah, semua akan ku hadapi nanti.
__ADS_1
π
π
π
π
Anggun memasuki rumah Dion dengan ragu-ragu. Tampak dia menutup hidungnya saat memasuki bangunan mewah tersebut.
"Kenapa banyak debu disini, Dion? Apa kau tidak pernah membersihkannya?" tanyanya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Sungguh, semua sangat kotor dan bukan hanya debu. Namun sarang laba-laba juga bertengger dimana-mana.
"Bagaimana aku bisa membersihkannya? Kau tau sendiri kalau aku tidak ada disini," jawab Dion lalu menaruh koper-koper milik Anggun di sudut ruangan.
"Memang kau selama ini di mana?"
"Negeri Jiran," jawab Dion singkat lalu masuk ke dapur.
Anggun melepas sepatunya. Sungguh dia menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa Dion mengajaknya kemari sedangkan rumahnya saja masih dalam keadaan kotor. Yang benar saja. Apakah dia harus membersihkannya? Disaat hatinya remuk redam oleh kasus perceraiannya. Sungguh saat ini dia hanya ingin meringkuk di atas kasur dan bukannya menyibukkan diri dengan membersihkan rumah.
Sesaat kemudian Dion datang dengan membawa peralatan tempur untuk bersih-bersih. "Ayo! Kita mulai pekerjaan kita," katanya kemudian lalu menyerahkan sebuah sapu dan kemoceng pada Anggun. Wanita itu hanya melotot tajam.
Benar-benar ya pria ini, geramnya dalam hati.
"Jangan memandangiku seperti itu. Siapa yang membuatku harus pergi dari kota ini dan sampai harus meninggalkan rumahku?" Dion melirik sekilas lalu mulai memakai celemek ke tubuhnya.
"Kau bicara seperti itu seakan aku yang sudah mengusirmu pergi." Anggun melengos. Dia meminta celemek satunya pada Dion. Dan sayangnya, pria itu tak menanggapi. Dia malah memutar tubuh Anggun, membelakanginya. Awalnya Anggun bingung. Namun sesaat kemudian dia tersenyum saat tangan Dion terulur dan memakaikan celemek itu padanya.
Ahhh, pria ini memang perhatian.
"Memang bukan kau yang menyuruhku. Tapi aku terpaksa pergi dari sini itu karenamu. Dan sekarang, kau harus menebus kesalahanmu untuk ikut membersihkan tempat ini." Dion lalu memberikan sebuah masker pada Anggun dan memakai satu untuk dirinya sendiri.
Anggun hanya bisa mendengus saja. Tidak ada gunanya berdebat dengan seorang Dion. Dari dulu dia selalu pintar menjawab dan berdebat. Sebaiknya dia cepat bekerja agar cepat bisa mengistirahatkan tubuhnya. Tentu saja itu akan ia lakukan dengan sedikit perjuangan. Anggun melihat ke arah Dion yang mulai membersihkan jendela kaca dan perabot rumah. Dan seperti mengerti kalau dirinya di perhatikan, Dionpun menoleh seketika ke arah Anggun berada. Pria itu tiba-tiba mengedipkan sebelah matanya, jahil. Sekali lagi Anggun mendengus.
Awas kau Dion. Kau sudah mengerjaiku di hari pertama kita bertemu. Aku pasti akan membalasmu nanti. Tunggulah !!! Dan jangan sebut namaku Anggun kalau itu tidak terjadi.
__ADS_1
Anggun menyeringai kecil karena sebuah ide jahil masuk ke otaknya.
πΊππΊππΊππΊππΊπ