Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 14


__ADS_3

"Jadi, kapan kau akan menikahi Anggun?"


Pertanyaan itu terngiang-ngiang di telinga Dion, bahkan hingga saat ini dia tengah mengendarai mobilnya saat perjalanan pulang dari rumah orang tuanya.


Flash Back On


*Dion beranjak pergi saat Anggun terlibat pembicaraan seru dengan kedua adiknya. Bahkan Desta, si bungsu tak segan-segan minta di ajarkan olehnya, setelah mengetahui bahwa profesi Anggun adalah seorang guru. Setelah mengorek keterangan, kini Anggun tahu kalau remaja itu masih duduk di bangku kelas XI SMA. Sedang Rangga sendiri sudah bekerja di sebuah Bank Internasional sebagai marketing.


Pria yang merupakan anak sulung dari keluarga Mahendra itu datang mendekati sang ibu yang tengah sibuk membereskan dapur setelah makan malam barusan. Tentunya wanita itu tak sendiri, ada seorang pembantu yang menemaninya membereskan ruangan.


"Ma," Dion menyapa perlahan. Mayang Puspitarini yang merupakan nama panjang dari perempuan itu, menoleh seketika pada kehadiran putranya.


"Hei, kenapa kau disini? Tidak menemani Anggun mengobrol?" Ny Mayang lalu menghentikan pekerjaannya dan fokus pada sang anak.


"Ehm, dia sedang sibuk dengan Rangga dan Desta," jawab Dion sembari menuang jus jeruk pada sebuah gelas. "Sebenarnya, aku ingin bicara dengan mama sebentar." Ny Mayang mengerutkan keningnya.


"Kemarilah!" Wanita itu lalu mengajak putranya duduk di kursi meja makan. "Katakan Sayang! Apa yang kau risaukan?"


"Ma, aku sudah menceritakan semua tentang Anggun pada Mama lewat telfon. Dan sekarang, Mama sudah tahu siapa Anggun sebenarnya. Aku hanya ingin tahu pendapat Mama sekarang?" Wanita itu memandang putranya seksama.


"Sayang, apa yang sebenarnya kau takutkan dari pemikiran Mama?" Ny Mayang masih ingin mengetahui maksud sebenarnya pertanyaan Dion.


"Mama tau sendiri kalau dia...." Dion tak melanjutkan kalimatnya. "Ma....jujur, aku takut Mama punya persepsi buruk padanya." Ah, bukan itu yang sebenarnya ingin Dion katakan pada sang mama. Tapi kenapa lidahnya begitu sulit untuk di ajak berkomunikasi?


"Apa kau takut Mama tidak suka padanya?" Mata Dion membulat seketika. Itu dia yang ingin ia katakan.


"Hmmm....ya." Ny Mayang tersenyum lembut dan mengusap lengan putranya.


"Dion Sayang, atas dasar apa Mama tidak menyukai Anggun? Pada perempuan yang sudah mengubah hidup putraku? Tidakkah Mama harusnya bersyukur padanya, karenanyalah anak Mama bisa berubah?" Dion tertegun memandang mamanya. Matanya menelusuri wajah wanita paruh baya di sampingnya.


"Jadi, itu berarti Mama merestui hubungan kami?" Mata pria itu berbinar. Apalagi setelah mendapat sebuah anggukan kecil dari ibunya. "Meskipun Anggun pernah menikah dengan orang lain?" Sekali lagi Ny Mayang mengangguk. Namun Dion seperti belum terima. Dia masih melontarkan sebuah pertanyaan lagi.


"Meskipun Anggun pernah melahirkan seorang anak?"


"Iya, Sayang. Meski apapun alasan yang kau kemukakan, Mama tetap merestui kalian." Dion tak bisa menahan rasa harunya. Di peluknya seketika sang mama saat itu juga.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih. Aku sayang Mama." Dion mendekap erat sang ibu. Dan wanita itu membalas pelukan putranya dengan diiringi senyum yang mengembang. "Ta-tapi kenapa Ma? Kenapa Mama bisa suka sama Anggun?" tanyanya kemudian setelah melepas pelukannya.


Wanita paruh baya itu mengernyit, "Masihkah kau bertanya lagi? Bukankah tadi Mama sudah menjawabnya. Alasan kenapa Mama bisa menyukai Anggun."

__ADS_1


"Hmmm...ya...aku hanya ingin memastikan saja."


"Dion. Apakah kau sadar kalau sekarang kau sudah berubah. Dari anak yang hanya suka bersenang-senang tanpa tujuan yang jelas, dan sekarang nyatanya anak Mama itu sudah berubah menjadi seseorang yang bertanggung jawab. Mengerti akan tugas dan kewajibannya. Dan itu semua karena siapa?" Ny Mayang mengerdikkan kepalanya, bertanya. Dion tak menjawab meskipun sebenarnya dia tahu jawabannya.


"Semua karena satu alasan. Dan alasan itu adalah....Anggun." wanita itu berhenti sejenak. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Dan bagaimana Mama tidak akan menyukainya kalau wanita itu sendiri tanpa sengaja sudah merubah sikap dan gaya hidup putraku yang kurang baik menjadi seseorang yang lebih baik. Apalagi, kau sangat mencintainya."


"Mama tahu itu?" Dion nampak tersipu.


"Tentu Sayang. Mama bisa melihat jelas dari matamu. Cara bicaramu. Bagaimana kau menatapnya. Mama tahu kau sangat mencintainya." Dionpun tertunduk malu karenanya. "Hanya saja, pertanyaannya sekarang, apakah dia mencintaimu?"


Dion mendongak kembali dan menatap mamanya lagi. "Itu yang harus ku lakukan sekarang, Ma. Membuat Anggun mencintaiku." Ny Mayang tersenyum dengan lembut.


"Ya. Kau benar. Berusahalah untuk mendapatkan hati wanita yang kau cintai. Mama yakin, kau bisa. Doa Mama, semoga kalian akan hidup bahagia nantinya."


"Terima kasih, Ma. Mama memang yang terbaik."


"Jadi, kapan kau akan menikahi Anggun?"*


Flash Back Off


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Suara Anggun menginterupsi bayangan percakapan dia dan mamanya beberapa saat lalu. Seketika Dion seperti terhempas dari mimpi dan kembali ke dunia nyata.


"Pria aneh," desis Anggun pelan sambil membuang muka ke arah jendela kaca disampingnya.


"Ya. Aku memang aneh. Apalagi kalau bersamamu. Aku merasa bukan diriku sendiri," ujar Dion apa adanya. Anggun tak menyanggah. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dan selalu menjalar dalam dirinya jika Dion sudah membahas sesuatu lebih dalam. "Jadi, apa tadi yang kau bicarakan dengan Mama?" Kini Dion mencoba menginterogasi.


"Apa? Tidak ada." Kini Anggun yang berusaha menutupi.


"Jangan membohongiku. Aku tahu, kalian pasti membicarakan aku kan?"


"Ihhhh, sok tau kamu." Anggun merenung kemudian. Giliran dia yang terseret kembali pada kejadian beberapa saat lalu di rumah orang tua Dion, dimana dia sedang berbincang bincang dengan Ny Mayang saat Dion di panggil sang ayah untuk membahas sebuah bisnis.


Flash Back On


*Ny Mayang mengajak Anggun berkeliling rumah untuk melihat-lihat. Memperkenalkan rumah itu sudut demi sudut. Terakhir, wanita itu mengajak Anggun untuk menengok ruangan yang dulu pernah menjadi markas Dion dalam segala hal, saat pemuda itu belum punya keinginan untuk tinggal sendiri. Ya, ini adalah kamar Dion.


"Kemarilah Anggun Sayang, tante akan menunjukkan sesuatu padamu." Anggun tertegun melihat kamar Dion yang memang berukuran besar. Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah, kamar itu memang rapi tanpa ada satu pun tempelan atau aksesoris yang umumnya di pasang anak muda di dinding dan setiap sudut kamar mereka. Kamar itu terlalu rapi menurut ukuran kamar seorang laki-laki.


Ataukah sebenarnya awalnya tidak seperti ini? Dan sepertinya Ny Mayang mengerti pertanyaan yang tersembul di celah hati Anggun. Perempuan paruh baya itupun berujar, "Dion memang anakku yang paling rapi diantara kedua saudaranya." Ny Mayang mulai bercerita. "Meski memang sesungguhnya dia suka bermain wanita, tapi sifat play boynya itu tak mencerminkan pribadinya."

__ADS_1


Ny Mayang lalu menunjukkan beberapa benda berharga yang merupakan koleksi-koleksi dari Dion. Di kamar itu berjejer beberapa jenis gitar yang tersimpan di sebuah lemari besar. Selain itu ada lagi beberapa souvenir cantik seperti gelas-gelas kecil dan juga rumah-rumahan mini serta boneka-boneka lucu yang terbuat dari keramik yang terjejer di balik bufet kecil disana. Ya, dia memang pria aneh yang suka mengoleksi benda-benda seperti itu.


"Dion memang seseorang yang menyukai seni dan keindahan. Itulah kenapa dia mengoleksi barang-barang ini." Sang ibu kembali melanjutkan.


"Ini, benar-benar indah dan menarik," gumam Anggun perlahan. Matanya lalu menangkap beberapa lukisan di dinding. Anggun mendekati sebuah lukisan yang terlihat misteri baginya. Mengamatinya dengan seksama. Ny Mayang berjalan mendekat ke arah Anggun dan ikut memandang lukisan tersebut.


"Apa kau percaya kalau semua lukisan ini, dia yang membuat?"


"Hah? Benarkah?" Anggun tertegun. Ya. Pastinya dia takkan percaya kalau semua itu adalah hasil karya seorang Dion Putra Mahendra. Ini bahkan terlalu indah. "Tante tau, apa arti lukisan yang satu ini?" tanya Anggun penasaran.


"Itu...." sang Ibu mengamati sejenak gambar abstrak di hadapannya. "Dia sebenarnya ingin menggambar seorang wanita. Tapi dia tidak tahu wanita seperti apa yang ingin ia lukiskan, sehingga hanya bayangan abstrak yang dapat ia gambarkan." Cerita wanita itu sambil mengingat-ingat saat dimana Dion mulai melukis karya tersebut.


"Kemarilah! Tante ingin menunjukkan sesuatu padamu." Wanita paruh baya itu lalu berjalan ke sebuah rak kecil. Disana tersimpan beberapa album foto Dion mulai yang masih bayi, hingga dia menginjak remaja bahkan mulai dewasa.


Anggun membuka halaman foto itu satu persatu. Matanya tertegun saat melihat sebuah foto yang menampilkan gambar Dion sedang memakai seragam SMA dengan seorang pemuda lain. Mereka tertawa sambil merangkul satu sama lain. Ya, itu adalah foto Dion dan Adrian. Dan setelahnya Anggun melihat banyak sekali gambar mereka berbaris rapi di album foto tersebut. Kelihatan sekali kalau persahabatan mereka sangat kental. Anggun merasakan sesak kembali dalam dadanya. Sepertinya dia ingin menangis. Adrian, wajah itu muncul kembali dalam ingatannya.


Anggun cepat-cepat menutup album tersebut sebelum air matanya runtuh saat itu juga. "Dion memang tidak seperti dugaan saya."


"Maksudmu?" Ny Mayang mengernyit.


"Anda benar jika pribadinya tidak sesuai dengan perilakunya selama ini. Ya...lagi pula, itu karena saya juga belum mengenal dia terlalu jauh." Ny Mayang tersenyum tipis.


"Kau tau, meski Dion pada kenyataannya suka bermain wanita, tapi tak sekalipun dia melampaui batas hubungan. Kau mengerti maksud tante?" Anggun terdiam mencoba mencerna kalimat wanita di sampingnya. "Ya, kau bisa percaya atau tidak. Tapi sesungguhnya, Dion tak pernah menyentuh wanita-wanitanya selama ini. Dan sekalipun tak pernah ada perempuan yang di bawanya ke rumah ini selain dirimu, Anggun."


Anggun tertegun untuk beberapa saat. Ini memang tak pernah terbayangkan dalam benaknya. Sungguh awalnya dia memang menganggap sifat Casanova Dion itu murni luar dan dalam. Namun nyatanya tidak. Anggun tersenyum sendiri saat mengetahui kebenaran itu. Jadi, dia tidak pernah menyentuh kekasih-kekasihnya? Sungguhkah itu?


"Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu, Anggun," Ny Mayang kembali berujar. "Selama yang tante tau, baru kali ini dia tertarik pada seorang wanita dan dia berniat serius dengan wanita itu. Tante juga tahu bahwa semua perubahan sifatnyapun tak lepas dari perempuan itu." Anggun menatap wanita di sampingnya dengan seksama dan penuh tanya.


"Kau tau siapa wanita tersebut?" Anggun menggeleng perlahan. Ny Mayang mengukir senyum teduhnya. Senyum ramah dan penuh sayang yang tergambar dari raut wajah seorang ibu. Wanita itu lalu menangkup wajah Anggun. "Wanita istimewa itu adalah dirimu, Sayang. Ya. Kau adalah orangnya, Anggun. Yang membuat putraku tergila-gila bahkan rela mengorbankan apapun hanya untukmu."*


Flash Back Off


"Dan sekarang aku yang melihat kau senyum-senyum sendiri." Kini suara bariton Dion membuyarkan lamunan Anggun. Perempuan itu menjadi gugup karenanya. Ada semburat merah tercetak jelas di wajahnya. "Kau merona?" Dion menggoda.


"Apaan sih? Sudahlah! Menyetirlah dengan benar dan jangan hiraukan aku." Anggun semakin tersipu karena Dion memergoki ekspresi wajahnya.


Dion tak membantah apapun. Waktu hanya mereka habiskan dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang tau bahwa sesungguhnya pikiran mereka tertuju satu sama lain. Dion, Anggun, akankah mereka menjalin ikatan lebih dari sekedar teman?


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2