
Adrian dan Andini tengah menuju sebuah pusat perbelanjaan di kota itu. Sejak keluar rumah, Andini hanya membisu. Meski sesekali Adrian mengajaknya berbicara, namun perempuan itu acuh tak acuh menanggapinya.
"Kamu kenapa memangnya?" tanya Adrian sambil tetap fokus menyetir. Tak ada jawaban apapun dari mulut Andini. Hanya tatapan kosong saja yang di layangkan wanita itu pada jalanan lurus di depan. "Kau tidak enak badan?" Adrian refleks mengulurkan tangannya ke kening Andini guna melihat suhu tubuhnya.
"Apaan sih?" Andini menepis tangan tersebut dengan kasar. "Aku nggak apa-apa tau!"
"Lagian kamu diam saja sejak tadi. Ada apa sih memangnya?" Andini membeku kembali. Akhirnya Adrianpun ikut membisu. Hanya pikirannya saja yang terbang melayang bertanya-tanya tentang apa yang sedang di pikirkan Andini saat ini.
"Kenapa dia bisa ada di sana?" Tiba-tiba suara Andini membelah kesunyian.
"Apa?" Adrian terbata, "siapa?" telusurnya masih belum faham tentang orang yang di maksudkan.
"Siapa lagi kalau mantan istrimu itu." Jelas terdengar oleh Adrian kalau nada suara Andini penuh kecemburuan.
"Jadi kau tau." Gumam Adrian pelan. "Ehemmm...itu tak seperti yang kau pikirkan, Andini," imbuhnya kemudian.
"Jadi?" Andini menuntut. Kini pandangannya tertuju pada Adrian dengan sorot mata yang menatap tajam meminta penjelasan.
Adrian diam tak bergeming. Pikirannya mendadak buntu. Apa yang harus ia sampaikan? Haruskah dirinya jujur? Atau mencoba berbohong? Tapi kalau jalan pilihannya adalah bohong, akankah kebohongan itu akan bertahan lama? Cepat atau lambat, Andini pasti akan tahu kalau Anggun memang tinggal di rumah orang tuanya sekarang.
"Adrian!!!" Suara teguran itu membuyarkan lamunan Adrian dalam sekejap.
"Ah....iya,"
"Kenapa kau jadi diam?" Mata Andini menelusur. "Kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa Anggun bisa ada disana? Itu bukan sebuah kebetulan bukan?"
Adrian kelihatan gelisah. "Eh....sebenarnya aku tidak tahu apa-apa soal keberadaan Anggun di rumah," Adrian mencoba mengelak.
"Tidak tahu? Bagaimana kau bisa tidak tahu kalau kau sendiri saja ada di rumah itu?"
"Yah, karena saat aku ke sana dia sudah ada di sana."
"Oh...ya? Sejak kapan?"
"Ehmmm," Adrian enggan untuk jujur.
"Sejak kapan, Adrian?" Andini mendesak.
"Eh...tadi pagi." Andini tak menutupi rasa terkejutnya. Matanya membola penuh.
"Sepertinya aku tau kenapa ponselmu mati hampir seharian," gadis itu menggeram pelan. Adrian merasakan kemarahan di kalimat tersebut. Diapun menoleh seketika ke arah kekasihnya itu. Terlihat perubahan wajah gusar pada Andini saat ini.
"Ehhh...Andini, sungguh semua tak seperti yang kau pikirkan,"
"Cukup!!! Aku minta kita pulang sekarang!!!"
"Apa?" Adrian terbelalak sampai menginjak rem seketika. Mobil pun berhenti mendadak. "Bukankah kau mau berbelanja?"
"Pulang kataku, Adrian!!! Aku sudah tidak ingin pergi lagi."
"Ta-Tapi kenapa, Din?" Andini tak menjawab. Hanya wajahnya saja yang terlempar ke sisi luar jendela di sampingnya. "Apa karena keberadaan Anggun di sana?" Wanita itu masih membungkam. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Untuk sesaat suasana hening mencekam. Tak ada suara sedikitpun selain bisingnya kota dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.
"Ibu yang mengajak Anggun ke rumah itu. Beliau hanya ingin dekat dengan wanita yang sudah ia anggap sebagai anak perempuannya. Dan sungguh, awalnya aku memang tidak tahu kalau dia sekarang tinggal di sana." Terdengar hembusan napas kasar dari Andini.
"Kau boleh bertanya pada orang tuaku kalau kau tak percaya," imbuh Adrian kemudian.
"Dan rupanya karena kehadiran mantanmu itu, sampai kau betah berlama-lama juga disana?" Andini kembali melempar tatapan tajam.
"Itu rumah orang tuaku, Din. Tentu saja aku betah tinggal disana,"
"Cih!!! Omong kosong!!!" Kembali lagi perempuan itu membuang wajah.
"Kau tak percaya, terserah!!!!" Adrian mulai jengkel. Tak ada sahutan apapun dari Andini. "Kau ingin pulang kan? Baik, kita pulang sekarang!!!" Tanpa menunggu waktu lagi Adrian memutar mobilnya menuju ke arah jalan pulang.
π
π
π
Dion ingin mengajak Anggun makan malam di sebuah rumah makan berkelas, namun nyatanya Anggun menolak halus ajakan tersebut. Nyatanya memang sebelumnya dia sudah makan malam di rumah orang tua Adrian. Dan jujur saat ini dia masih jauh dari kata lapar.
Akhirnya mereka berhenti di pinggir jalan di mana ada seorang tukang siomay yang sedang mangkal di sana. Hanya beberapa pembeli yang tengah asik memakan siomay mereka dan ada juga di antaranya yang masihΒ setia mengantri.
"Mas, siomay nya dua ya," Dion memesan.
__ADS_1
"Makan sini atau di bungkus?" tanya si abang siomay.
"Makan di sini saja."
"Baik, silahkan duduk dulu," tukang siomay itu mempersilahkan.
Dion dan Anggun lalu mengambil tempat duduk pada bangku panjang dimana di sana juga sudah tersedia sebuah meja panjang. Keduanya duduk berseberangan. Di sampingnya ada juga sepasang kekasih yang tengah duduk sambil menikmati pesanan siomay mereka yang hampir tandas.
Anggun hanya melirik sekilas pada pasangan muda itu. Terlihat mereka seperti anak kuliahan. Sedangkan Dion hanya acuh tak acuh saja. Tentu perhatiannya hanya terfokus pada Anggun dan tak ingin beralih darinya.
"Kenapa kau memilih tempat ini? Bukankah aku bisa mengajakmu makan di restoran mahal?" Dion membuka suara.
"Sudah aku bilang, Dion. Aku masih kenyang. Ini pun aku tidak yakin apa aku bisa menghabiskannya atau tidak." Anggun memberi alasan yang sebelumnya sudah ia jelaskan.
"Kalau tidak habis, aku bisa bantu memakannya."
"Ya, asal kamu tidak jijik saja dengan makanan bekasku."
"Aku bahkan dengan senang hati makan sisa makanan yang keluar langsung dari mulutmu."
"Ih....Apa-apaan sih? Jijik tau." Anggun menepuk pelan pundak Dion. Dan pria itu hanya tersenyum menggoda sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Tiba-tiba percakapan mereka terpotong oleh seruan dari kedua anak muda di sampingnya.
"Kapan kamu mengajakku menikah, Rio? Apa kau benar-benar serius denganku?" tanya sang cewek sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Kau tau sendiri kan kalau aku masih harus selesaikan kuliahku dulu, dan lagi pula menikah itu gak segampang yang kamu pikirkan. Permasalahan yang utama bukan pada saat menikahnya, tapi justru setelah menikah. Memangnya kamu mau aku kasih makan batu? Tentunya aku harus kerja dulu kan?"
Si cewek nampak cemberut, "Jadi aku harus nunggu sampai kapan? Sampai rambutku memutih?"
Si pemuda meraih tangan kekasihnya, "Sabar dong, Sayang. Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti akan menungguku." Tampak dia mengerling nakal. "Sudah ah...pulang yuk," ajaknya kemudian dan si wanita mengangguk perlahan. Dan keduanya pun berlalu dari tempat itu meninggalkan Anggun dan Dion dalam keterdiaman mereka.
Tiba-tiba Dion meraih tangan Anggun dan menggenggamnya erat. Wanita itu mendongak seketika. "Pernikahan kita tinggal beberapa waktu lagi, Anggun. Rasanya aku tidak sabar untuk mengesahkanmu jadi istriku." Mata Dion menatap Anggun penuh makna.
"Bersabarlah. Tiga minggu kurang dari sekarang."
"Cckkk, bagiku itu waktu yang lama. Apalagi melihatmu tinggal di rumah itu, dan yang pasti Adrian akan selalu ada di sana, kau tau bagaimana perasaanku sebenarnya," Dion terlihat gusar.
Anggun tersenyum, "Kau ingat kesepakatan kita bukan? Kau sendiri yang percaya padaku. Dan kenapa sekarang kau jadi ragu?"
Dia menggeleng perlahan, "Buang pikiran negatifmu itu. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak mau hubungan kita menjadi kacau hanya karena sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Dan satu lagi, tolong percaya padaku."
Dion menatap Anggun seksama. "Di hadapanku saat ini hanya ada seorang pria. Yaitu Dion Putra Mahendra. Dan aku tak akan mungkin berpaling pada pria lain meski pria itu menjanjikan dunianya padaku. Karena aku tahu, kebahagiaanku hanya ada padamu."
Dion tak mampu berkata apapun. Sungguh, rasa haru sedang menghinggapinya saat ini. Dia hanya mampu menggenggam kembali tangan Anggun dan menciumnya berkali-kali.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih."
Sebuah suara mengejutkan keduanya, "Siomay nya Mas, Mbak."
π
π
π
π
Adrian dan Andini yang sudah sampai di rumah segera turun dari mobil. Tanpa banyak bicara, Andini langsung berpindah menuju mobilnya sendiri. Adrian setengah berlari mencoba mengejarnya.
"Dini....Dini...tunggu!!!" teriaknya dan mencoba mencegah saat wanita itu hendak menutup pintu mobilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Andini ketus.
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Hanya karena masalah Anggun tinggal di rumah ini, kau tiba-tiba marah padaku."
"Hah? Kau pikir saja sendiri! Haruskah aku menjelaskan semuanya?"
"Sungguh aku tidak mengerti, Andini."
"Adrian, dengar!!! Siapapun wanitanya akan merasa tersinggung dan kecewa kalau ada wanita lain yang tinggal serumah dengan calon suaminya apalagi dia adalah mantan kamu."
"Aku tidak bilang kalau aku akan tinggal disini."
"Oh...ya? Siapa yang percaya? Kenyataan bahwa kau berada di sini seharian bahkan sampai mematikan ponselmu. Benarkan? Mengakulah kalau kau memang sengaja me non-aktifkan ponselmu." Adrian kali ini tak mampu menjawab. Sebagian apa yang di sampaikan Andini memang tidak bohong.
Andini yang merasa kalimatnya memang benar justru semakin kesal karena kediaman Adrian. Bukannya membela diri dan berusaha meyakinkan dirinya, pria itu malah membungkam. Bukankah itu berarti dia mengakui pernyataan tersebut?
__ADS_1
Andini lalu menarik paksa pintu mobil dan menutupnya rapat. Adrian sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat mobil itupun berputar dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Adrian mengacak rambutnya, kesal. Dia melangkah gontai menuju rumah.
"Ada apa, Le?" Sebuah suara berat mengejutkannya. Rupanya sang ayah tengah duduk di serambi rumah. Maklum, tempat itu tampak gelap tanpa sedikitpun cahaya penerangan sehingga tak nampak kelihatan jika ada orang duduk di sana.
"Bapak?" Adrian tertegun. Dia lalu menghampiri sang ayah dan ikut mendudukkan dirinya di salah satu bangku.
"Ada masalah?" Pak Sujono mengulangi pertanyaannya.
"Yah....hanya masalah kecil, Pak."
"Hmmm, apakah ini ada hubungannya dengan keberadaan Anggun di rumah ini?" Adrian terkejut mendengar tebakan ayahnya yang sudah pasti benar. Namun sedetik kemudian hilang rasa terkejutnya karena mengetahui sesuatu.
"Bapak tentu tau kalau Andini sudah melihat Anggun disini," ujarnya kemudian.
"Hmmm." Hanya suara itu yang keluar dari mulut pria paruh baya tersebut.
"Dan semua jadi kacau sekarang Pak."
"Ini semua kesalahan ibumu. Kalau saja dia tidak keras pada pendiriannya, tentu semua tak akan serunyam ini," pak Sujono mulai membuka suara.
"Dan saya harus bagaimana sekarang, Pak?" Adrian mengusap-usap wajahnya, frustasi.
"Mungkin sebaiknya kau jelaskan semuanya besok."
"Saya tidak yakin dia bisa menerima penjelasan saya selama Anggun masih tinggal di rumah ini, Pak." Dan pembicaraan itupun mati seketika. Pak Sujono tak mau bertanya lebih lagi. Dan Adrian sendiri memilih masuk ke dalam rumah.
π
π
π
Sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit Dion mengantar Anggun pulang. Suasana di sana sudah nampak sepi meski masih ada beberapa orang yang berada di luar rumah hanya untuk duduk-duduk mencari angin.
Rumah keluarga Sujono sendiri juga sudah nampak lengang. Namun sorot lampu yang masih berpendar dari dalam rumah menandakan kalau si tuan rumah masih terjaga. Dion mengantar Anggun sampai halaman rumah.
"Bye Sayang. Besok pagi aku menjemputmu seperti biasa," kata Dion mengucap kalimat perpisahan.
"Hmmm." Anggun hanya tersenyum sambil mengangguk.
Dion mendekat ke arah Anggun dan dalam tempo yang singkat pria itu mengecup kening calon istrinya, "Good night, Have a nice dream, Baby," bisiknya pelan.
"Night too," balas Anggun dengan wajah merona. Meski bukan pertama kali Dion menciumnya, namun perasaan berdebar itu selalu menubruk jantungnya sehingga membuat gemuruh dalam dadanya. Berdebar.
Dion lalu melangkah pergi sambil melambaikan tangannya dan di balas hal serupa oleh Anggun. Wanita itu masih diam berdiri di tempatnya sampai mobil Dion benar-benar menghilang dari pandangan mata. Namun saat Anggun berbalik, betapa terkejutnya ia manakala menjumpai sosok pria tinggi tegap tengah menjulang di depannya dengan wajah masam tanda tak bersahabat.
"Hah? Adrian?" desis Anggun tersentak. Tak ada kalimat apapun yang terlontar dari mulut pria itu selain tatapan tajam menusuk pada Anggun.
Kenapa dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu?
Anggun serasa anak kemarin sore yang kedapatan keluar bersama kekasihnya dan sekarang sedang mendapat protes tajam dari orang tuanya. Ah....setidaknya itu perumpamaan yang tepat. Merasa tak di tanggapi, Anggun lalu mencoba melangkah masuk dan menerobos keberadaan Adrian.
Namun betapa terkejutnya ia saat tangan laki-laki itu menarik lengannya dan menghimpitnya pada sudut tembok yang gelap. Hampir saja Anggun menjerit kalau tidak ingat itu rumah siapa.
"Adrian, apa yang kamu lakukan?" jeritnya tertahan. Mata pria itu serasa ingin mengulitinya. Ada apa sebenarnya dengan dia?
"Harusnya kau tau dimana saat ini kamu tinggal, Anggun," Adrian menggeram.
"Apa maksud ucapanmu? Dan kenapa pula kamu seperti ini? Lepaskan aku sekarang!!!!" Adrian mengabaikan perintah Anggun.
"Ini bukan tempat tinggal Dion ataupun rumah kamu sendiri. Di sini ada orang tuaku yang sudah menganggapmu sebagai putrinya sendiri. Jadi tidak bisakah kau menjaga etikamu, hah? Pantaskah kau berciuman dengan seorang pria yang bukan siapa-siapa kamu di sini?"
Anggun tersentak mendengar kalimat teguran itu. Jadi dia melihat Dion menciumku? Anggun tertunduk seketika.
"Jadi, pembelaan apa yang mau kau katakan?"
"Aku tidak akan melakukan pembelaan. Maaf, aku memang salah. Tapi jangan memperlakukanku seperti ini. Kau membuatku sakit," Anggun mendorong tubuh Adrian dan untung saja pria itu melunak dan membiarkan tubuhnya mundur seketika.
"Aku tau kesalahanku, dan aku janji ini tidak akan terulang lagi." Anggun melangkah kasar melewati Adrian yang masih berdiri dengan perasaan bercampur aduk. Pria itu meraup wajahnya dengan kasar.
Ada apa denganku ini? Kenapa aku seperti ini? Benar-benar tidak masuk akal kalau aku marah-marah pada Anggun hanya karena melihat Dion menciumnya.
Adrian mengepalkan tangannya dan menumbukkannya pada dinding. Ingatan mengenai kejadian beberapa saat lalu pada Dion dan Anggun membuat darahnya panas kembali.
Arrrrggghhhhh.....
πΊππΊππΊππΊππΊππΊ
__ADS_1