Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 15


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu setelah perceraian Anggun dan Adrian. Dan sepertinya Anggun sudah mulai bisa menerima kenyataan itu. Apalagi kehadiran Dion yang selalu menghiburnya, tentu saja secara tidak sadar Anggun sudah bisa melupakan keberadaan Adrian perlahan-lahan.


Dilain pihak, hubungan Adrian dan Andinipun juga terlihat lebih serius. Meski hingga saat ini, Adrian belum berani mengajukan maksud keinginannya yang ingin melamar Andini pada orang tuanya, karena ia masih ingin menunggu suasana hati Bapak dan ibunya lebih tenang dari sebelumnya.


Anggun sedang berbelanja di pasar saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Neng Anggun." Wanita itu tersentak dan menoleh seketika.


"Mbok Inem." Anggun tertegun melihat wanita tua di hadapannya. Niatnya yang ingin membeli ikan jadi urung. "Apa kabar, Mbok?"


"Iya Neng, Alkhamdulillah simbok sehat." Suara wanita itu tampak bergetar. Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya. Bisa bertemu kembali dengan perempuan yang pernah menjadi menantu keluarga Sujono tersebut.


"Simbok sedang belanja? Dengan siapa?" Mata Anggun nampak mencari keberadaan seseorang. Dan sepertinya mbok Inem mengerti siapa yang sedang Anggun cari.


"Saya sendirian, Neng."


"Ndak bersama ibu?" Kali ini mbok Inem tertunduk lesu membuat sebuah kecurigaan pada Anggun. "Apa yang terjadi mbok?" Anggun mulai menelusur.


Tiba-tiba terdengar isakan kecil dari pembantu setia keluarga Sujono itu membuat Anggun terperanjat seketika. "Ada apa Mbok? Kenapa Simbok menangis? Apa telah terjadi sesuatu di rumah? Bapak dan Ibu baik-baik saja kan?" Wanita tua itu menggeleng perlahan.


"Tidak Neng. Semua tidak baik-baik saja sejak Ny dan Tuan mendengar kabar perceraian neng Anggun dan den Adrian."


"Jadi?"


"Ndoro putri....dia...dia...."


"Apa yang terjadi Mbok? Kenapa dengan Ibu?" Anggun semakin mendesak penasaran.


"Dia jatuh sakit hingga sekarang." Seketika itu juga Anggun merasa tubuhnya lemas begitu saja. Barang belanjaan yang di bawanyapun terjatuh ke tanah. Anggun tak menyangka kalau kejadiannya akan seserius ini. "Beliau sangat merindukan neng Anggun." Lanjut perempuan itu. Anggun mematung di tempatnya. Pikirannya serasa beku.


"Maaf Neng, Simbok harus segera pergi. Nyonya pasti sudah menunggu." Tak ada jawaban apapun dari Anggun selain tatapan nanar yang mengiringi perempuan tua itu pergi hingga dia menghilang di balik kerumunan orang-orang.


Hari ini adalah tanggal merah yang memperingati hari Nyepi bagi umat yang beragama Hindu. Dan itu berarti meski Anggun maupun Dion, mereka sama-sama dalam keadaan libur.ย 


Sejak pagi Dion melihat wajah Anggun nampak murung. Tak ada senyum sedikitpun yang terukir di bibir tipisnya. Dan itu membuat pria tampan tersebut bertanya-tanya. Perlahan di dekatinya Anggun yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Tanpa di minta, Dion ikut membantu wanita itu menggerai pakaian-pakaian itu pada tiang jemuran.


"Dion, apa yang kau lakukan? Pergilah, biar aku lakukan sendiri!" ujar Anggun terkejut.


"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu."


"Tapi..."


"Ssstttt, kau tak akan selesai-selesai kalau hanya memperdebatkan masalah sekecil ini," potong Dion cepat dan masih melanjutkan aksinya. Mau tak mau Anggunpun membiarkan pria itu membantunya. Dan semua sudah selesai dalam beberapa saat, tinggal pakaian dalam Anggun yang tersisa. Tanpa sengaja Dion mengambil sehelai celana dalam berwarna pink dari dalam bak.


Anggun yang melihat itu langsung menyambar benda tersebut dengan cepat dari tangan Dion. Matanya melotot tajam. Mukanya memerah seketika menahan malu. Dion hampir saja terkikik karenanya. "Pergilah!! Aku bisa menyelesaikannya sendiri," usir Anggun kemudian.

__ADS_1


Sambil menahan tawa, Dionpun menyingkir dari tempat itu. Ah, ini benar-benar lucu. Dia menggeleng-geleng pelan membuyarkan bayangan Anggun yang masih bertengger di kepalanya dengan wajah menahan malu. Dia lalu menuju dapur dan berniat mencari sesuatu disana. Dion kembali lagi dengan sepiring buah mangga setengah matang yang baru saja ia kupas dan ia potong sekaligus. Di lihatnya Anggun nampaknya sudah selesai juga dengan pekerjaannya.


"Mau?" Dion menyodorkan potongan buah itu pada Anggun. Mereka lalu duduk-duduk di serambi belakang rumah. Tempat itu memang sedikit luas. Ada beberapa tanaman pohon mangga dan rambutan yang tumbuh disana. Selain itu, sebuah kolam ikan yang cukup besar juga menghias halaman belakang rumah tersebut. Belakangan ini Dion membeli beberapa ekor burung dan ia taruh di tempat itu juga.


"Katakan padaku, kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanya Dion sambil mengunyah potongan buah mangganya. Anggun menoleh seketika pada Dion yang duduk tepat di sampingnya.


Lalu diapun mengalihkan pandangannya kembali ke depan dimana tiga ekor burung Betet bertengger di atas papan stainless dengan sebelah kaki terikat dengan rantai besi kecil pada bagian tiangnya sehingga membuat makhluk Aves tersebut tak mampu terbang ke mana-mana.


"Aku tau ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakanlah!!! Apa yang kau risaukan?" Dion mendesak.


Terdengar desahan panjang yang keluar dari napas Anggun. Ya. Sejak tadi dia memang menahan perasaannya. Pikirannya masih belum hilang dari kecemasan mengenai kabar buruk yang di terimanya dari Bi Inem tadi pagi saat bertemu dengannya di pasar besar.


"Sebenarnya," Anggun ragu akan bercerita. Namun dengan cepat ia mengambil keputusan untuk membagi masalahnya dengan Dion. "Aku mendengar Ibu jatuh sakit. Sepertinya dia terus-terusan memikirkanku sampai dia begitu." Wanita itu tertunduk lesu.


"Terus terang aku kepikiran padanya," lanjutnya kemudian.


"Baiklah. Kita akan kesana menjenguk mereka," putus Dion tiba-tiba membuat Anggun mendongakkan kepalanya seketika. Tak percaya akan reaksi Dion menanggapinya dengan baik secepat ini.


"Be-benarkah kita akan ke sana?" Mata wanita itu berbinar menunjukkan kelegaan. Dion tersenyum dan mengangguk perlahan. "Sungguh kau tak keberatan mengantarku ke sana?" Sekali lagi Anggun bertanya meyakinkan.


"Iya Cantik. Haruskah aku menciummu supaya kau percaya kata-kataku?" Dion kini mulai menggoda. Dan dengan cepat Anggun berdiri dari tempatnya, bermaksud menghindar.


"A-aku akan bersiap-siap," serunya sambil berlari menjauh. Dion tergelak karenanya. Ah, setakut itukah dia padaku untuk ku cium? Dion tersenyum-senyum sendiri dan menggeleng perlahan.


Mereka kini sudah sampai di tempat tujuan.


"Kau mau ikut turun?" tanya Anggun saat Dion menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dion tak langsung menjawab. Sepertinya dia masih berfikir apakah dia harus ikut masuk ataukah tidak.


"Hmmm, biar aku tunggu di mobil saja. Pergilah!" Akhirnya jatuh sudah keputusannya untuk tidak ikut masuk.


"Yakin kau tidak apa-apa disini sendirian?"


"Ya. Memangnya kenapa? Ah....aku tau, kau sudah mulai mencemaskan aku kan?" Anggun berdecak. Masih sempat-sempatnya pria ini menggoda disaat Anggun sendiri tengah serius.


Wanita itu lalu turun dari mobil dan tanpa berpamitan pada Dion lagi, dia kemudian menapakkan kakinya di halaman rumah keluarga Sujono. Terlihat olehnya pintu rumah itu terbuka.


"Assalamualaikum," serunya mengucap salam.


"Waalaikum salam." Suara perempuan tua menyambut kedatangannya. Mbok Inem datang tergopoh-gopoh menghampiri tamunya. "Neng Anggun?" ujarnya sedikit terkejut.


"Saya kesini mau menjenguk Ibu, Mbok."


"Ya...ya...mari, Neng. Ibu ada di dalam bersama Bapak." Anggun tersenyum tipis. Matanya mengedar ke seluruh ruangan. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya. Kapan terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah itu?

__ADS_1


Mbok Inem membuka sebuah ruangan dimana itu adalah kamar orang tua Adrian. Disana ternyata ada Pak Sujono yang duduk di tepi pembaringan sambil menunggui istrinya.


"Tuan, ada neng Anggun." Bi Inem bergumam pelan. Seketika Pak Sujono menoleh ke arah dua orang yang sudah berdiri di balik pintu.


"Nduk," seru pria paruh baya itu senang.


"Assalamualaikum, Pak." Anggun menyalami pria yang pernah jadi mertuanya itu. Sementara mbok Inem pergi kedapur untuk menyiapkan minum untuk Anggun.


"Waalaikum salam."


"Apa yang terjadi pada Ibu, Pak?" tanya Anggun kemudian mendekati pembaringan. Pak Sujono segera berdiri dan memberikan kesempatan pada Anggun untuk duduk di tepi ranjang.


Hati Anggun tertohok mendapati Ibu mertuanya terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajah wanita itu pucat dan tak bercahaya. Ada lingkaran hitam di tepian kedua matanya. Dan itu menunjukkan kalau sang ibu berhari-hari menangis.


Setitik air bening mengalir di pipi Anggun. "Bu....." ujarnya lirih dengan suara yang hampir serak. "Bu, ini Anggun. Tolong buka mata Ibu." Sekali lagi Anggun memanggil. Dan ajaib, mata wanita paruh baya itu terbuka perlahan.


Samar-samar Ny Sujono melihat sosok wanita yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya itu. "A-Anggun?" Wanita itu mendesis lirih. Anggun tersenyumย  getir. Tangannya meraih tangan ibunya yang terulur padanya. "Kapan kau datang, Nduk?"


"Baru saja, Bu," jawab Anggun sehalus mungkin. Melihat sosok putrinya itu, seperti menumbuhkan semangat baru pada Ny Sujono. Wanita itu berusaha mendudukkan dirinya. Anggun yang tahu niat sang ibu dengan tanggap ikut membantunya.


"Kenapa Ibu jadi begini?" Anggun mulai mengoreksi.


"Ibumu selalu memikirkanmu, Nduk," Pak Sujono menyela dari belakang. Anggun tertegun. "Dia jadi gak mau makan dan hanya menangis memikirkanmu," imbuhnya kemudian.


Anggun menatap ibunya seksama. Wajah sendu penuh kekhawatiran. "Baiklah. Karena Anggun sudah disini, maka sekarang Ibu harus makan. Anggun akan menyuapi Ibu." Ny Sujono hanya tersenyum saja mendapat perlakuan istimewa dari Anggun. "Ibu tunggu dulu, saya akan mengambilkan makanan untuk Ibu."


Hanya beberapa saat saja dan Anggun kembali dengan semangkuk bubur di tangannya. Dokter memang menyarankan agar Ny Sujono memakan makanan yang halus. Ternyata setelah diperiksa beberapa hari yang lalu, sakit magh Ny Sujono kambuh. Dengan sabar Anggun menyuapi wanita itu sendok demi sendok.


Dan disaat yang bersamaan, sebuah mobil Suzuki Ertiga memasuki halaman rumah. Tentu itu tak lain adalah mobil Adrian. Bagaimana bisa kebetulan sekali dia juga datang ke rumah ini? Adrian sempat melihat sosok Dion yang sedang bersandar di pintu mobil dan tengah menunggu Anggun disana. Batinnya pun bertanya, kenapa Dion bisa ada disini? Apakah....Apakah....Anggun juga ada disini?


Dinda yang mengetahui kedatangan sang kakak segera menyongsong ke depan. "Mas Rian." Gadis itu langsung menyalami kakaknya yang baru turun dari mobil.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Oh, rupanya dia datang dengan tujuan yang sama.


"Ibu sangat memprihatinkan, Mas. Beliau bahkan tak mau makan sama sekali," cerita Dinda pilu.


"Sudahlah! Ayo, kita masuk ke dalam. Dan terima kasih karena kau sudah memberitahuku, Dinda." Gadis remaja itu tersenyum masam. Yach, ternyata Dinda menghubungi kakaknya kalau sang Ibu tengah jatuh sakit.


"Oh...iya Mas..." Dinda menahan Adrian sejenak. Pria itupun menghentikan langkahnya seketika. "Hmmm, di dalam ada mbak Anggun," kata Dinda ragu-ragu dan sedikit takut.


Adrian menarik napas panjang. "Aku tahu. Tidak masalah Dinda. Aku yakin tujuan kami sama, yakni menjenguk Ibu." Adrian lalu berjalan terus melangkah masuk.


Anggun sudah selesai dalam menyuapi ibunya saat Adrian datang memecah kesunyian. "Assalamualaikum," ujarnya memberi salam. Tak ada yang bersikap biasa. Semua dibuat terkejut melihat kedatangan Adrian, terutama Anggun. Wanita itu menelan ludahnya, pahit. Sesak kembali menyerangnya. Dia bingung harus bersikap seperti apa?

__ADS_1


๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ


__ADS_2