Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2
BAB 30


__ADS_3

Perdebatan seru terjadi saat Anggun hendak berangkat mengajar. Adrian menawarkan diri untuk mengantar, namun dengan halus Anggun menolaknya. Dia tahu kalau Dion sebentar lagi akan datang. Karenanyalah Anggun bertahan pada pendiriannya. Akan tetapi Ratih yang memang sejak awal punya maksud terselubung, tak tinggal diam. Dia menekan Anggun sebisa mungkin agar wanita itu mau menurut untuk berangkat bersama putranya.


"Dengar Anggun, Adrian bukan orang asing bagimu. Kenapa kau seakan takut untuk duduk satu mobil dengannya?" Ratih berusaha memojokkan.


"Saya ndak merasa begitu, Bu," Anggun membantah.


"Lalu? Kenapa kau menolak berangkat bersamanya?"


"Apakah Ibu lupa kalau sekarang ini status saya sudah berbeda di rumah ini? Haruskah saya mengingatkan Ibu, kalau sekarang saya punya tunangan? Dan sebentar lagi calon suami saya itu akan kesini menjemput dan mengantarkan saya?"


Ibu Adrian tercekat. Tak menyangka kalau Anggun akan membantah kalimatnya setajam itu. Perempuan itu hanya bisa memalingkan muka menahan malu. Adrian yang ada disana juga tak bisa berfikir jernih. Mendengar pembelaan Anggun terhadap Dion, entah kenapa darahnya berdesir aneh. Sekali gejolak emosi dan cemburu menguasainya. Tak sadar ia mengepalkan tangannya.


"Sudahlah Bu, lebih baik saya berangkat sendiri. Lagi pula untuk apa saya berlama-lama disini? Saya juga punya urusan lain yang harus saya selesaikan dengan Andini," suara Adrian membelah keadaan. "Dan satu lagi, tolong jangan ganggu aku dulu selama seharian ini, Bu." Pria itu kemudian berlalu dengan wajah tegang menahan emosi.


Ratih diam tak bergeming. Anggunpun hanya berdiri terpaku di tempatnya. Sedikitpun tak ingin ia menoleh pada sosok Adrian yang berjalan melaluinya dengan muka di tekuk seribu. Wanita itu malah membuang pandangannya ke arah lain sembari mengeluarkan napas panjang.


Dan tak lama setelah berlalunya Adrian, muncul orang yang di tunggu. Wajah Dion sudah tersenyum dari jauh menawarkanΒ  sejuta kegembiraan yang siap menyambut Anggun melangkah bersamanya. Merekapun pergi setelah berpamitan pada pasangan keluarga Sujono.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Bagas berjalan perlahan mendekati ibunya yang tengah mengecek pembukuan di sebuah ruang kerja. Keluarga itu rupanya memiliki usaha di pasar besar. Dua buah toko pakaian. Dan kedua toko tersebut di urus oleh seorang anak buah kepercayaan keluarga Sujono.


Ratih tengah membolak-balik lembaran kertas pada buku tebal di tangannya. "Ehemmm." Terdengar suara Bagas berdehem.


Ratih hanya melirik sekilas pada putranya dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Katakan sama Ibu, Bagas. Ada perlu apa sebenarnya kamu kemari? Jangan bilang kalau kamu ada tugas di sini."


Bagas sedikit tersentak mendengar pertanyaan Ibunya. Namun dengan cepat dia menormalkan diri seperti sedia kala. "Kenapa Ibu bertanya demikian?" Pria itu mendudukkan tubuhnya pada sofa di seberang meja sang Ibu.


Ratih menghela napas sesaat lalu menutup buku yang ia pegang sembari mencopot kaca mata bacanya. Meletakkan semuanya di atas meja.


"Bapakmu sudah bilang sama Ibu. Kau kesini pasti karena suatu masalah bukan?"


"Bapak bilang sama Ibu? Tapi saya tidak mengatakan apapun sama--,"


"Kami orang tuamu, Bagas. Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari kami," potong Ratih cepat. "Jadi, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" Ratih kembali mendesak.


Bagas membungkam. Belum ingin menjawab secara langsung pertanyaan Ibunya.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Adrian berada di ruangannya dan sedang berdiri di dekat jendela sambil memandang ke luar. Sedang tangan kanannya sibuk memainkan ponsel. Hatinya ragu antara ingin menghubungi Andini atau tidak. Sejak semalam, nomor gadis itu tidak aktif.


Entah berapa kali Adrian membuang napas kasar. Sangat terlihat kalau saat ini dirinya sedang gundah. Kalau saja tidak sibuk karena pekerjaan, pria itu pasti sudah meluncur langsung ke tempat kekasihnya tersebut. Menemuinya secara langsung.


Dan hingga lima menit berlalu, Adrian masih teguh berdiri di tempatnya. Akhirnya sebuah keputusan pun ia ambil. Ya, dia harus menghubungi Andini.


Tuuuutttt....Tuuuutttt....Tuuuuutt


Suara nada telfon dari seberang menandakan kalau nomor yang di tuju sudah aktif kembali. Adrian merasa sedikit lega. Namun sepertinya dia harus menunggu sedikit lama karena wanita yang di tuju tak segera mengangkat telfon darinya. Adrian bahkan harus mengulang sampai tiga kali panggilan. Dan pada panggilan ke empat, barulah telfon tersebut terhubung.


"Aku sibuk, ada apa mencariku?" Suara tak bersahabat keluar dari mulut Andini di seberang.


"Tidak bisakah kita bicara baik-baik dulu? Semalam kau pergi begitu saja tanpa mau membahas masalah kita dengan hati terbuka."


"Huh, masalah apa lagi yang perlu kita bahas? Bukankah semua sudah jelas?"

__ADS_1


"Kau cemburu, Andini. Makanya kau berkata seperti ini."


"Dan memangnya kenapa kalau aku cemburu? Coba kau pikir, wanita mana yang tidak akan marah kalau melihat kekasihnya dekat kembali dengan mantannya?"


"Siapa yang bilang aku dekat dengan Anggun?"


"Dan nyatanya? Perempuan itu ada di sana kan?"


"Bukankah aku sudah bilang, kalau Ibu yang menginginkan dia tinggal di sana. Dan kau boleh percaya atau tidak, kalau aku tetap pulang ke rumahku sendiri."


"Cckkk, omong kosong!!!!"


"Kenapa kau tidak percaya padaku, Din? Kau seolah-olah meragukanku."


"Harusnya aku memang meragukanmu dari awal."


"Din, kita sudah berhubungan kembali. Dan bahkan sekarang ini kita sudah terjalin ikatan. Tinggal menetapkan hari maka kita akan melangkah ke pelaminan. Tapi kenapa sekarang kau jadi seperti ini? Kau bahkan meragukan calon suamimu sendiri. Aku benar-benar kecewa padamu,"


"Hei....a...."


Tuuuutttt.....Tuuuuuttt....


Adrian menutup telfon sebelah pihak. Dia bahkan me-nonaktifkan telfonnya seketika. Jengkel kini perasaannya.


Brengsek!!!!


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Anggun duduk merenung sendiri di kantor. Saat ini suasana ruangan di sana memang sepi. Hanya ada beberapa guru yang tampak duduk di meja kerjanya masing-masing. Sepertinya sebagian besar guru sudah keluar karena waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah sejak beberapa puluh menit yang lalu.


Wanita itu sedang tersenyum-senyum sendiri. Ingatannya terbang melayang pada aktifitas pagi hari tadi.


*Dion yang sejak awal selalu mengumbar senyum manisnya mendapat perhatian lebih dari Anggun.


"Kenapa sih, sejak tadi ku lihat kamu senyum-senyum sendiri? Baru menang lotre? Atau dapat jack pot?" Anggun menegur.


Tak ada jawaban apapun dari mulut Dion. Dia bahkan masih setia dengan senyum sumringahnya membuat Anggun semakin penasaran.


"Dion, kau mendengarku tidak?" Anggun mulai jengkel karena merasa di abaikan.


"Iya, Sayang. Aku dengar kok," ujar pria itu lembut.


"Terus? Kenapa tidak jawab pertanyaanku?" Dion kembali terdiam. Bahkan kali ini ekspresi wajahnya semakin jahil. Hanya cengar cengir tanpa dosa. "Nah....kan. Diem lagi? Nyebelin deh!" Anggun tak dapat menangguhkan rasa kesalnya. Dia melengos langsung keluar jendela.


Tanpa menunggu banyak waktu, Dion meraih tangan wanitanya seketika. "Siapa memang yang nyebelin?" ujar Dion lalu mengecup tangan Anggun singkat.


"Kamu ihhh, kura-kura dalam perahu!" Anggun menoleh kembali pada Dion dan bermaksud menarik tangannya yang ada dalam genggaman pria itu. Namun Dion tak memberi kesempatan tersebut. Dia malah semakin mempereratnya.


"Ingin tahu kenapa aku senyum-senyum sejak tadi?"


"Pakai tanya lagi!"


"Hmmm, kasih tau nggak ya?" Dion masih ingin menggoda kekasihnya. Melirik sekilas dengan diiringi senyum jahil.


"Tau ah....." Dion tak dapat menahan tawanya lagi. Merasa lucu karena sikap Anggun yang kekanak-kanakan. "Kenapa sih tertawa?"


"Kau lucu."


"Ishhhh, aku bukan Doraemon atau Sinchan."

__ADS_1


"Sudah ku bilang, kau itu Bidadariku, Sayang." Anggun tertegun. Dia selalu melambung tinggi kalau Dion sudah mulai menggombal demikian. Dan kini ekspresi Dion berubah serius. "Tadi aku bertemu Adrian di jalan. Jadi, semalam dia menginap di sana?"


"Hah? Eh....aku tidak tahu. Cuma tadi Dinda bilang kalau dia pulang ke rumahnya."


"Hmmm, jadi rupanya dia kembali lagi pagi ini?"


"Sepertinya begitu."


"Dan biar coba ku tebak, dia bermaksud memberi tumpangan sama kamu kan? Dan kamu menolaknya?" Dion menoleh sekilas ke arah Anggun.


Anggun tak menjawab. Dia justru asik memperhatikan ekspresi Dion yang berubah-ubah itu. Pria itu kini menyeringai lagi dan kembali pada senyumnya semula. "Jadi karena ini kau senyum-senyum sendiri?"


"Hah? Apa memangnya?"


"Iya, karena kamu tahu aku menolak Adrian kan?" Bibir Dion semakin melebar. Dia lalu merentangkan tangan kirinya dan meraih pundak Anggun untuk bergeser ke arahnya.


"Hei Bidadari, tak ada yang lebih membahagiakanku selain kehadiranmu dalam hidupku. Dan terima kasih untuk pagi ini karena kau sudah menolak Adrian. Aku sayang kamu." Dion membubuhkan satu kecupan di pipi Anggun membuat wanita itu merona karenanya.*


Flash Back Off


"Bu Anggun, anda tidak pulang?" Suara halus itu membuyarkan lamunan Anggun seketika.


Seorang guru setengah baya sudah berdiri di depan meja kerjanya. Dan Anggun yang sejak tadi asik melamun tak menyadari kehadiran guru itu. Anggun cepat-cepat menoleh ke arah jam.


"Oh....ya. Saya juga mau pulang, Bu Ida," katanya dengan wajah sedikit menahan malu.


"Baiklah, kalau begitu saya duluan ya, mari...."


"Silahkan."


Anggun segera mengemasi barang-barangnya. Dia sempat menoleh ke seluruh ruangan, dan rupanya hanya tinggal dirinya sendiri di ruangan itu. Secepatnya dia segera berlalu dari kantor guru tersebut. Namun Anggun tak lupa berpamitan pada pak Kasmin selaku TU disana.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Anggun sampai di rumah keluarga Sujono saat Bagas sedang mencuci mobilnya.


"Kau pulang sendirian?" Pria itu menghentikan aktifitasnya sejenak. Mendekat dimana tempat wanita itu berada.


"Ya," jawab Anggun singkat.


"Kalau tahu kamu pulang sendiri, aku pasti akan dengan senang hati menjemputmu."


Keduanya lalu duduk di teras rumah. Menghadap ke pelataran rumah yang banyak di tumbuhi pepohonan. Ya, halaman rumah itu cukup luas dengan beberapa pohon buah-buahan yang tertanam disana. Membuat tempat itu semakin nyaman karena teduh.


"Kau tidak mengajak Niken dan Cinta? Gimana kabar mereka?" Anggun mulai menelusur.


"Hmmm, mereka sehat semua." Tatapan Bagas menerawang ke depan. Anggun merasa ada sesuatu yang ganjil pada diri pria itu. Tangannya terulur dan menyentuh pundak Bagas. Pria itu terkejut dan menoleh seketika.


"Ada apa?" tanyanya heran.


"Kau, tidak sedang dalam masalah kan?" Anggun tertegun memandang Bagas penuh selidik.


"Ah, kamu pikir aku ada masalah apa memangnya?" Bagas mencoba mengelak.


Anggun berdiri dari tempatnya. Memandang secara dalam ke arah pria di sampingnya. Bagas yang di tatap demikian tak mampu berkutik apapun. "Lima tahun, bukan waktu yang singkat buat aku mengenalmu, Bagas. Aku tahu kapan kamu berbohong dan kapan kamu jujur." Setelah berkata demikian, Anggun segera angkat kaki dari sana.


Bagas menarik napas panjang. Menengadahkan kepalanya ke langit luas. Mencari sebuah bayangan di sana.

__ADS_1


Ahhh, rupanya dia masih sama. Masih sangat mengenalku.


πŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸŒΊ


__ADS_2