
Anggun melangkah memasuki sebuah kamar. Dia masih ingat betul itu kamar siapa. Ya. Itu adalah kamar yang dulu dia tempati bersama putrinya, Cinta. Kalau benar semua sesuai dugaannya, pastinya kamar itu masih tetap sama dengan saat terakhir ia meninggalkannya.
Perlahan pintu itu terbuka. Anggun tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Ternyata benar dugaannya. Semua masih sama. Anggun melangkah memasuki ruangan tersebut. Membuka masker yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Matanya tiba-tiba berkaca saat melihat sebuah boneka Hello Kitty yang nampak berdebu tergeletak di atas tempat tidur. Di peluknya boneka itu erat seakan ia merindukan sesuatu yang lama hilang. Rasanya Anggun masih bisa mencium aroma bayi yang bertebaran di kamar tersebut.
Wanita itu tersentak saat sebuah tangan memegang pundaknya, pelan. "Kau merindukannya?" Dion bertanya lembut. Anggun meletakkan kembali boneka yang semula ia pegang kembali ke atas ranjang.
"Aku rindu baby Cinta." Suara wanita itu terdengar serak. Dia lalu menghapus setitik air yang hendak meluncur di pipinya.
"Sekarang, dia pasti sudah besar," Dion bergumam. Di sana masih ada sebuah foto kecil dimana Anggun sedang menggendong Cinta dan Dion yang bergaya dengan posisi mencium sang bayi dari samping. Sungguh mereka terlihat seperti keluarga.
"Seandainya kau melihatnya, aku yakin kau pasti ingin bersamanya terus. Dia benar-benar lucu dan menggemaskan," ujar Anggun kemudian. Dion tersenyum masam. Ya. Dan sesungguhnya dia sangat menyayangkan Anggun yang mengambil keputusan dengan memberikan Cinta pada Bagas, ayah kandungnya.
"Kalau saja kau tak memberikan dia pada ayahnya...." Kata-kata pria itu masih menunjukkan kekecewaan. Anggun tersenyum sesaat. Mengelus lengan Dion perlahan.
"Kau bisa menjenguknya kalau kau mau." Dion menoleh pada Anggun. "Percayalah, Cinta lebih membutuhkan Bagas dan Niken."
"Dan kau? Apakah kau tidak berarti untuknya?"
"Dion, tidakkah kau melihat kalau keluarga mereka lebih sempurna dan tidak sepertiku. Apakah Cinta akan tinggal dengan ibunya yang hanya menyandang status single parent seperti sekarang?" Kali ini Dion terdiam. Anggun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Namun harum kamar ini masih sama seperti satu tahun yang lalu. Ehm, bolehkah aku menempati kamar ini nantinya?"
"Sayangnya tidak!" jawab Dion cepat membuat Anggun mengerutkan keningnya. "Karena kamar ini khusus aku pakai untuk calon anakku nanti."
"Apa?" Anggun terbelalak. "Kau mau menikah? K-kau sudah punya calon istri? Si-siapa gadis itu? Apakah gadis dari negeri Jiran?" Anggun memberondong pertanyaan berturut-turut. Dion tertawa pelan. Di acaknya perlahan rambut Anggun yang terikat ke atas sehingga menampilkan leher jenjang wanita itu.
"Apa kau terkejut kalau aku katakan ya?" Pria itu lalu melangkah keluar masih sambil tersenyum-senyum sendiri. Anggun lalu mengikutinya dari belakang seakan masih belum terima jawaban dari pertanyaannya.
"Jadi benar, dia gadis Malaysia?" tanyanya penasaran. Sungguh Dion ingin sekali tertawa lebar. Namun dia menahan sekuat mungkin agar tawanya tidak meledak.
"Selesaikan bersih-bersihnya dan aku akan keluar sebentar," ujarnya kemudian lalu pergi meninggalkan Anggun yang masih nampak tertegun. Entah kenapa Anggun merasa hatinya bergejolak. Perasaan yang entah apa dia sendiri tidak tahu. Wanita itu mendengus untuk kemudian berlalu dan kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
π
π
π
π
Anggun POV
Akhirnya, selesai sudah pekerjaanku. Rumah sudah nampak bersih seperti sebelumnya. Hanya beberapa bagian saja yang memang belum tersentuh, seperti gudang dan garasi mobil. Mungkin lain hari bisa aku kerjakan. Lain hari? Memangnya sampai kapan aku akan bertahan di rumah ini terus? Dan satu jam sudah berlalu namun Dion masih belum menunjukkan batang hidungnya. Kemana sebenarnya pria itu? Benar-benar!! Dia sudah mengerjaiku hari ini. Dan aku mulai merasakan haus saat ini. Ah, tidak ada minuman di sini. Ada sebenarnya. Tapi itu air satu tahun yang lalu. Memangnya masih bisa di minum?
__ADS_1
Pada saat itulah ku dengar suara deru mesin mobil di depan rumah. Ah, itu pasti Dion. Dan ternyata memang benar dugaannku kalau yang datang adalah dia. Namun betapa terkejutnya aku saat dia masuk rumah dengan satu container penuh bahan-bahan makanan. Aku melongo di tempatku.
"Kenapa kau masih diam disitu. Ayo, cepat bantu aku!!" Aku tersentak dari lamunan saat mendengar instruksi darinya.
"Eh, ya. Baiklah." Dan aku bergegas membantunya mengangkat container tersebut.
"Hei, bukan yang ini, Cantik. Tuh, di mobil masih banyak. Kau bantu ambil yang disana saja, biar ini ku bawa sendiri ke dapur." Belum sampai aku mengucap satu patah kata, dia sudah mendahului pergi. Ih....apa-apaan sih dia?
Aku secepatnya menuju mobil Dion berada. Mataku melotot ketika melihat kondisi mobil yang sudah mirip seperti mobil buat angkut sayur. Aku berdecak. Memangnya semua barang di pasar ia angkut ke rumah? Memangnya dia mau jualan? Lihatlah, segala macam sayur-mayur, buah, ikan, minuman, dan entah apa lagi karena masih banyak sekali macamnya.Β Aissshh, aku tak bisa merenung dan menggerutu terus atau pekerjaan ini tak akan kelar-kelar.
"Kau bawa yang ringan saja. Biar aku bawa yang berat." Suara Dion tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Ya. Tentu saja. Kau pikir aku mau mengangkat galon-galon itu?" Aku memutar bola mataku. Dan kami lalu memindahkan semua bahan-bahan dapur itu ke tempatnya. Untungnya lemari es Dion berukuran besar dengan fasilitas dua pintu, jadi semua sayuran bisa kami simpan di lemari pendingin tersebut. Dan itu belum freezer khusus daging dan ikan yang terpisah tempatnya. Untuk buah-buahan sudah aku tata di piring khusus buah di meja makan.
"Jadi...ruangan mana yang masih belum kau bersihkan?" tanya Dion lalu memberikan sebuah minuman kaleng padaku. Aku tersenyum berterima kasih padanya.
"Tinggal gudang dan garasi," jawabku sambil membuka minumanku dan meneguknya.
"Baiklah. Jadi sementara kau memasak, maka aku akan membersihkan tempat itu." Apa? Aku terbelalak seketika. Minuman yang ada di mulutkupun hampir tersembur keluar.
"Kau menyuruhku memasak? Apakah kau bercanda?" Bukannya menjawab dia malah mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Dion, katakan padaku, apakah kau punya dendam terselubung padaku sampai mau mengerjaiku habis-habisan?"
"Mengerjai?" tanyanya berlagak tak mengerti. Aku berdecak karenanya.
"Jadi kau tak ingin makan?"
"Kita bisa memesan makanan bukan?"
"Dan sayangnya aku lebih merindukan masakanmu dari pada makanan-makanan di luar sana. Jadi, tunggu apa lagi? Masaklah!!! Aku janji akan menghabiskan masakanmu." Dion mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku dengan mulut terngaga. Sungguh aku tak percaya dengan manusia satu ini. Kenapa dia jadi diktator dan penyuruh seperti ini? Kali ini aku benar-benar yakin kalau pria itu sebenarnya punya dendam kesumat padaku sampai sengaja membuatku bekerja rodi untuknya.
Dan akhirnya, hanya inilah pilihanku satu-satunya. Memasak. Semoga semua sudah selesai sebelum senja hari tiba. Ahhh, kenapa aku jadi lupa dengan niatku sebelumnya. Hmmm...baiklah. Kalau kau saja bisa mengerjaiku, tentu aku juga bisa, Dion. Lihat saja nanti. Aku akan balik mengerjaimu. Aku menyeringai lebar. Memainkan pisau yang ada di tanganku seperti gerakan orang ingin menguliti musuhnya.
π
π
π
π
Author POV
__ADS_1
Kali ini Adrian hendak keluar saat tiba-tiba seseorang datang dengan ketukan pintu yang ia buat sekeras mungkin.
Ah....siapa sih tuh orang? Apa tidak bisa memencet bel?
Adrian lalu berjalan dengan cepat ke arah pintu, karena ketukan terdengar hampir seperti gedoran.
Gila nih orang. Tidak bisakah dia mengetuk pintu dengan pelan? Apakah dia rentenir atau seorang debt collector? Seperti aku punya hutang saja padanya.
Dengan kesal Adrian membuka pintu tersebut. Dan hampir saja mulutnya mengeluarkan seribu cercaan pada orang di balik pintu tersebut, namun mulut dan tubuhnya membeku seketika saat tau siapa orang di hadapannya kini.
"Mas....kau?" Ah, Adrian tersenyum kecut kemudian. Ya, dia bisa menebak kalau berita perceraiannya dengan Anggun akan terdengar juga ke telinga saudaranya itu. Tapi...haruskah secepat ini? "Masuklah, Mas!" Pria itu seperti sudah tau kalau sebentar lagi dirinya akan di hujani berbagai tuduhan. Ah...tidak. Lebih tepatnya cercaan atau makian.Β
"Aku tau apa yang membawamu kesini, Mas. Jadi, langsung saja. Katakan apa yang ingin kau katakan!" Bagas yang baru duduk di sebuah kursi tunggal hanya memandang adiknya dengan sorot mata kebencian.
"Aku tidak mengerti apa yang ada di otakmu, Adrian. Ku kira kau adalah pria berhati mulia. Namun nyatanya kaupun tak lebih baik dariku," Bagas mulai mengecam.
"Mas, apapun yang kuputuskan, itu sudah kupertimbangkan baik-baik. Aku memang ragu dengan perasaanku pada Anggun, dan karena itulah aku menceraikannya."
"Cinta? Ciihhh, hanya karena itu kau melepaskan wanita berhati mulia sepertinya? Ku harap kau takkan menyesal dengan keputusanmu itu."
"Dan bagaimana denganmu? Apa kau juga tidak menyesal dulu telah meninggalkannya? Dia bahkan sangat mencintaimu lebih dari padaku."
"Seharusnya tanpa bertanyapun kau sudah tau, Adrian. Penyesalanku karena melepaskan Anggun dan menikahi wanita lain seakan mengambil seluruh kebahagiaanku. Tapi sayangnya alasanku berbeda denganmu. Dan karena niatku tak seburuk dirimu, itu tidak terlalu membuatku gila karena penyesalan yang mengungkung seumur hidupku."
"Jadi menurut Mas, niatku tidak benar? Memang apanya yang salah? Aku hanya mengikuti kata hatiku. Bukankah lebih tidak adil bagiku jika aku meneruskan pernikahan ini sementara aku sendiri tak pernah mencintainya?" Adrian mulai beranjak dari duduknya. "Apakah mas juga lupa kalau mas Bagas juga pernah di posisiku?"
"Ya. Kau benar. Aku memang pernah ada di posisimu."
"Nah...."
"Tapi sayangnya aku bisa membuka pikiranku, Adrian. Aku berusaha untuk menerima Niken dalam hidupku dan mulai belajar mencintainya. Jika kita tulus, aku yakin perasaan itu akan datang dengan sendirinya pada kita. Dan sayangnya kau masih belum bersabar untuk mencapai tahap itu."
"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa mencintainya dengan tulus. Nyatanya yang ada di pikiranku hanyalah satu wanita. Yaitu Andini."
Dan pembicaraan itupun terhenti. Bagas bangkit dan berjalan mendekati adiknya perlahan. Sesungguhnya dia sangat geram akan keputusan Adrian. Namun bagaimanapun juga, semua sudah terlanjur. Kalau saja dia mendengar kabar perceraian itu sebelum-sebelumnya, pasti dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkannya.
"Adrian, kita sama-sama sudah melakukan kesalahan dengan melepaskan seseorang yang berharga dalam hidup kita. Ku harap, penyesalan yang ku rasakan juga tidak akan pernah terjadi padamu." Bagas menepuk pundak adiknya pelan lalu beranjak pergi.
"Itu tidak akan terjadi, Mas. Percayalah! Aku tidak akan menyesal!" seru Adrian mendahului sebelum kakaknya melangkah lebih jauh.
Bagas berhenti sejenak dan menoleh kembali pada Adrian. "Kau akan tau saat itu, ketika ada seseorang yang sudah masuk dalam kehidupan Anggun. Dan pada saat itulah kau akan menyesal seumur hidupmu karena wanita yang kau cintai takkan pernah bisa kau dapatkan kembali." Bagas tersenyum miring lalu melangkah kembali meninggalkan rumah Adrian. Dan tinggallah pria itu dengan posisi masih berdiri terpaku dalam kebisuannya.
__ADS_1
Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi.
πΊππΊππΊππΊππΊππΊπ