
Author POV
Entah merasa atau tidak, yang pasti sejak saat itu perubahan sikap Adrian mulai terlihat. Dia jadi sering beralasan pada Anggun. Seperti saat mengangkat telfon atau menerima pesan dari seseorang, atau bahkan saat akan menemui seseorang, dia akan membalikkan fakta yang ada. Yang sebenarnya tidak diketahui Anggun adalah, selama ini Adrian diam-diam berhubungan kembali dengan Andini.
Awalnya Adrian hanya sekedar memenuhi ajakan Andini untuk sekedar bertemu dan berbincang saja. Namun lama-kelamaan gadis itu mulai mengajak Adrian melakukan hal-hal yang berbau romantis seperti makan malam, nonton dan bahkan sempat mengajak Adrian pergi ke luar kota pada hari libur. Niatnya hanya sekedar berlibur untuk melepaskan penat karena sudah bekerja hampir seminggu penuh.
Dan gilanya, Adrian tak bisa menolak setiap keinginan gadis itu. Alhasil, diapun harus mencari alasan dan kalimat pembohongan pada Anggun. Adrian sendiri masih bingung dengan dirinya sendiri. Saat ini dia benar-benar di buat dalam keadaan yang sulit. Satu sisi adalah masa depannya, yakni Anggun istrinya. Dan di sisi lain adalah masa lalunya, dan yang pasti adalah cinta pertamanya, Andini. Ternyata memang benar kalau Andini tak main-main dengan perasaan yang ia katakan di rumah sakit kemarin. Kalau dia ingin Adrian kembali padanya. Jadi saat ini tujuannya adalah mendekati pria itu perlahan-lahan.
Andini tidak perduli kalau akhirnya dia akan di cap sebagai perebut suami orang. Kali ini dia tak mau melepaskan cintanya lagi. Dia tau, Adrian masih mencintainya. Itu terbukti dari pertanyaannya tempo hari yang menanyakan apakah Adrian mencintai istrinya, dan pria itu bukannya menjawab, dia malah diam membungkam. Itu menandakan kalau Adrian sendiri masih ragu pada perasaannya.
Andinipun berpikir, bukankah Adrian menikah dengan Anggun hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga karena saat itu Anggun hamil? Dan bahkan saat ini, anak tersebut tidak dalam pengasuhan Anggun dan juga Adrian. Lalu bukankah itu berarti tak ada alasan lagi bagi Adrian tetap tinggal bersama Anggun? Apalagi dia masih ragu apakah dia mencintai wanita itu. Lalu untuk apa bertahan hidup dengan wanita yang tidak ia cintai? Bukankah seharusnya dia mencari kebahagiaannya sendiri. Dan disinilah Andini berperan. Dia mulai memasuki kembali kehidupan Adrian. Mulai menggeser sedikit demi sedikit waktu dan ruang untuk Anggun.Β
"Adrian, besok Cinta datang. Maukah kau mengantarku ke rumah ibu?" tanya Anggun pada suatu hari saat mereka beranjak tidur.
"Maaf. Sepertinya besok aku tidak bisa menemanimu. Aku ada keperluan lain yang harus ku selesaikan," jawab Adrian tanpa menoleh sedikitpun pada Anggun. "Kau tidak keberatan bukan?"
Anggun hanya bisa mengulas senyum teduhnya. Hingga saat inipun ia masih belum ingin mencurigai suaminya meskipun hati kecilnya mulai bertanya-tanya. "Tentu saja tidak," jawabnya kemudian.
"Kalau begitu aku titip salam sama mas Bagas dan Niken saja," ujarnya kemudian lalu mulai membaringkan tubuhnya di ranjang.
Anggun tersenyum getir karenanya. Perubahan Adrianpun tak hanya dalam tindak tanduk kesehariannya. Saat di ranjangpun, pria itu juga sudah mulai berubah. Kalau sebelumnya dia selalu tidur dengan memeluk istrinya, tapi kini dia lebih sering tidur memunggunginya. Anggun tak keberatan soal itu. Meskipun demikian, dia berusaha untuk tidak berpikiran negatif pada Adrian.
Hingga pada suatu hari....
Sesuatu yang tak pernah Anggun alami setelah sekian lama kini terulang lagi.
__ADS_1
"Anggun....Anggun....kau taruh dimana kemejaku yang warna abu-abu?" tanya Adrian suatu pagi. Teriakannya hampir memenuhi seluruh ruangan. Anggun yang sedang sibuk menyiapkan sarapan jadi tergopoh-gopoh mendatanginya.
"Kemeja abu-abu? Aku belum mencucinya," jawab wanita itu polos.
"Apa? Bagaimana bisa kau belum mencucinya?" teriak Adrian dengan intonasi lebih besar dari biasanya dan itu membuat Anggun sempat terkejut. Namun dengan cepat wanita itu menghapus kegalauannya.
"Kamu kan masih bisa pakai kemeja yang lain, Adrian. Bukan harus yang itu kan? Lagi pula kemeja abu-abu itu juga baru kamu pakai dua hari yang lalu. Jadi aku belum sempat mencucinya."
Akhirnya Adrian mau juga menuruti perkataan Anggun meski itu ia lakukan dengan muka yang di tekuk seribu. Dan masih belum cukup di situ, Saat di meja makan pun lagi-lagi Adrian mengeluh.
"Ckkk, kau menambahkan banyak garam dalam masakan ini ya?" tanyanya gusar sambil menjauhkan piring yang masih penuh dengan makanan di hadapannya.
"Hah? Nggak kok. Ini bahkan seperti biasa aku memasak, Adrian." Anggun terbengong sendiri.
Dan sejak saat itu, Adrian jadi sering sekali mencari anak permasalahan. Sesuatu yang kecil ia ributkan menjadi besar. Dia bahkan mulai sering terlambat pulang dari kantor. Bahkan pernah pulang hingga larut malam. Alhasil, Anggun harus menunggu sambil terkantuk-kantuk di ruang tamu.
"Kamu sudah pulang? Jam berapa ini?" tanya Anggun saat dirinya terbangun oleh suara pintu yang di buka.
"Kenapa kau menungguku? Harusnya kau pergi tidur lebih dulu."
"Hmmm, aku hanya ingin memastikan kau sudah makan malam atau belum."
"Sayangnya aku sudah makan malam di luar. Dan sekarang, sebaiknya kau pergi ke kamar untuk tidur." Anggun hanya bisa tertegun. Sebenarnya, hari ini dia memang sedang menunggu Adrian makan malam karena hari ini adalah hari spesial bagi pria itu. Ini adalah hari ulang tahunnya. Dan sudah bisa di pastikan kalau Anggun juga belum makan malam karena menunggunya.
Apakah Adrian lupa kalau hari ini ulang tahunnya?
__ADS_1
Adrian tak berpikir apa-apa. Dia bahkan melintas begitu saja melewati Anggun dan langsung menuju kamarnya. Anggun berjalan gontai ke ruang makan. Disana, semua kejutan yang ia siapkan jadi sia-sia belaka. Kue, makan malam romantis, kado, semua seperti tak berarti apa-apa. Anggun bahkan merasa laparnya hilang seketika karena menerima keacuhan suaminya.
Akhirnya Anggun menyimpan semuanya di lemari es. Dia tak mungkin akan membuangnya begitu saja. Biarlah. Mungkin dia akan mencoba mengingatkannya sekali lagi di kamar nanti. Ya. Akhirnya diapun segera menyusul Adrian ke dalam kamar.
Pria itu sudah selesai dari kamar mandi dengan tubuh yang masih nampak basah oleh air. Dengan cepat dikenakannya piyama biru yang tergantung di lemari pakaian. Anggun mendekati suaminya perlahan.
"Adrian, apakah kau tidak merindukanku?" Wanita itu mencoba memeluk suaminya dari belakang. Tangannya merayap menyusuri dada bidang pria itu. "Apakah kau tidak menginginkan sesuatu? Ku rasa malam ini adalah malam indah untuk kita menciptakan sebuah kebahagiaan." Sungguh kalimat kiasan romantis yang dinyatakan Anggun untuk menarik perhatian pria itu. Namun sungguh di luar dugaan kalau tiba-tiba Adrian melepaskan tangan Anggun dari tubuhnya.
"Maaf. Malam ini aku sangat lelah, Anggun. Dan kau, sebaiknya cepat tidur." Adrian lalu berjalan memutari ranjang dan berbaring di sisi ranjang yang lain. Anggun hanya menggigit bibirnya. Baiklah. Di akuinya, ini sudah ke tiga kalinya Adrian menolaknya. Sengaja menghindar dari wanita itu saat Anggun mulai merayu di atas ranjang.
Kini Anggun hanya bisa terdiam membeku. Pikirannya sudah tidak bisa dibiarkan positif lagi. Dia harus mau mengakui kalau Adrian memang sudah berubah. Dan Anggun harus mencari tahu, apa alasan dari perubahan itu.
Keesokan harinya....
Anggun sudah memutuskan akan melakukan penyelidikan pada Adrian. Semua dia mulai dari pengecekan telfon. Sebelumnya, dia tak pernah sekalipun melakukan hal itu. Namun kini, Anggun harus mengabaikan prinsipnya tersebut.
Saat Adrian pergi mandi, saat itulah Anggun mulai beraksi. Memeriksa ponsel pria itu. Untunglah Adrian tak pernah memakai sandi dalam ponselnya sehingga itu memudahkan Anggun membukanya. Dan betapa terkejutnya wanita itu saat mengetahui banyak sekali notifikasi pesan dari seseorang yang tak asing baginya. Siapa lagi kalau bukan Andini.
Anggun mencoba membuka satu persatu isi dari pesan itu. Dan hasilnyapun mencengangkan. Jadi, selama ini Adrian sering beralasan bahkan sampai pulang terlambat, karena wanita ini?
Anggun kini berpindah ke galeri telfon. Sesuai dugaannya. Ternyata disana tersimpan banyak foto Andini dan Adrian. Dan mereka terlihat mesra. Anggun merasakan kepedihan hatinya terkikis kembali. Sesuatu yang tajam mencoba merajam-rajamnya.
Tidak. Adrian tidak bisa melakukan ini padaku. Baiklah, dulu aku memang membiarkannya, tapi tidak sekarang. Aku harus berbuat sesuatu. Ya. Itu harus ku lakukan kalau aku ingin menyelamatkan pernikahanku. Rupanya Andini memang tidak main-main dengan ucapannya. Mungkin sebaiknya aku menemuinya dan mengajaknya bicara empat mata.
πΊππΊππΊππΊππΊ
__ADS_1